
Tahun 2025 menjadi catatan panjang berbagai peristiwa di Bali. Sepanjang tahun 2025 Bali diselimuti berbagai hal, mulai dari festival besar, peristiwa tak terlupakan, perubahan kebijakan, dan hal-hal menarik lainnya. Dalam sejumlah peristiwa yang terjadi, BaleBengong menemani dan menjadi ruang bagi warga yang ingin menuangkan opini dan gagasannya.
Hingga tengah Desember 2025, BaleBengong telah mempublikasikan lebih dari 400 artikel, baik itu dari meja redaksi maupun pewarta warga. Dari ratusan artikel tersebut, kategori yang paling banyak dipublikasikan adalah opini. Hal ini menandakan bahwa BaleBengong secara konsisten menjadi ruang bagi warga.
Kategori opini paling banyak datang dari topik bertema lingkungan. Kolom Matan Ai dari Ngurah Suryawan kerap mengangkat berbagai masalah di Bali terkait budaya dan lingkungan, salah satunya artikel Bali dan Rasisme yang Mengakar. BaleBengong juga menerima banyak opini dari warga tentan lingkungan ketika bencana banjir terjadi September lalu, beberapa di antaranya adalah Banjir Bandang Bali: Ketika Krisis Kebijakan Daerah Bertemu Krisis Iklim serta Banjir Bali 2025: Faktor Alam, Tata Kelola, dan Kesadaran Masyarakat Bali.
Seiring dengan banyaknya opini lingkungan, isu kedua yang paling banyak dipublikasikan juga isu lingkungan, sebanyak 82 artikel. Artikel dengan kategori ini tak hanya datang dari meja redaksi, tapi juga dari pewarta warga. Ketika disebarluaskan melalui Instagram, tulisan isu lingkungan memberikan dampak signifikan pada pembaca. Misalnya tulisan Konsep Banten Makin Luntur, Limbah Tidak Terurai Makin Banyak yang memicu perdebatan di kolom komentar.
Hingga tengah Desember 2025 ini, lebih dari 100 warga terdaftar sebagai penulis di BaleBengong dan aktif mengirimkan tulisan. Di antaranya ada kontributor yang secara konsisten berkontribusi mempublikasikan karyanya. Dari ratusan kontributor tersebut, Ngurah Suryawan menjadi kontributor teraktif dengan mengirimkan 21 tulisan, didominasi oleh tulisan Kolom Matan Ai. Pada pertengahan tahun, Oka Agastya, seorang ahli Geologi secara aktif mengirimkan karyanya ke BaleBengong. Karya Oka lebih banyak fokus pada isu lingkungan, terutama terkait mitigasi bencana. Salah satu karya yang membawa dampak besar adalah Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing. Di tengah keterbatasan data terkait banjir, Oka berusaha memetakan titik banjir melalui media sosial.
Artikel berdampak diketahui melalui pemetaan respons warga di Instagram. Sejumlah artikel yang dipublikasikan di Instagram BaleBengong memicu komentar dari warga, baik berupa opini maupun perdebatan. Artikel pertama adalah Konsep Banten Makin Luntur, Limbah Tidak Terurai Makin Banyak. Artikel ini memunculkan perdebatan bahwa penggunaan bahan-bahan tak terurai pada banten disebabkan oleh beban perempuan. Limbah tak terurai yang bertahan lama mengurangi beban perempuan membuat banten. Artikel ini juga memicu munculnya beberapa tulisan lain, yaitu Banten bukan Beban Perempuan, Laki-Laki Juga Punya Peran, Menghitung Perkiraan Sampah yang Sulit Dikompos dari Sisa Banten, dan Inilah Sarana Banten yang Mencemari Lingkungan.
Pada bencana beberapa waktu lalu, BaleBengong juga memetakan penyebab meninggalnya korban banjir di beberapa wilayah melalui tulisan Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali. Tulisan ini beberapa kali dijadikan referensi. Hal ini disampaikan oleh salah satu peserta diskusi Analisis Sosial.
Di website BaleBengong, artikel publikasi tahun 2025 yang paling banyak dibaca adalah Eh ada yang Motret di Jalan, Datanya Diapakan? Sebanyak 278 clicks. Data ini didapatkan melalui Google Search Console (GSC). Jumlah yang ditampilkan GSC diperoleh melalui hasil pencarian Google. Artikel teratas membahas tentang praktik Fotoyu yang semakin marak dan dampaknya terhadap keamanan data pribadi.
Artikel teratas kedua adalah Konsep Banten Makin Luntur, Limbah tidak Terurai Makin Banyak. Artikel ini membahas tentang masifnya penggunaan bahan-bahan yang sulit terurai pada banten. Padahal, konsep banten sejatinya adalah dibuat dari bahan alami agar bisa kembali lagi ke alam. Dari 10 artikel teratas, ada satu artikel dari kontributor berjudul Menemukan Kembali Pura Ulun Danu Batur Lama: Warisan di Balik Lava. Artikel yang ditulis oleh Hanif Sulaeman tersebut membahas tentang jejak penemuan Pura Ulun Danu Batur lama. Pura ini terkubur oleh lava letusan Gunung Batur pada tahun 1926. Penemuannya dilakukan melalui penelusuran jejak geologi, peta, foto lama, serta ingatan kolektif masyarakat.
Berikut daftar 10 artikel yang paling banyak diklik di mesin pencari Google:
BaleBengong tanpa pewarta warga bukan siapa-siapa. Selama tahun 2025, kami juga menerima banyak laporan warga yang selanjutnya diverifikasi maupun diteruskan ke pihak berwenang. Hingga kini, BaleBengong masih menjadi media independen yang hadir dengan dukungan warga.
sangkarbet






