
Bencana yang terjadi di Bali pada 10 September lalu menyisakan duka mendalam. Pembersihan, pemulihan korban, evakuasi, dan pencarian orang hilang masih dilakukan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali per 12 September menyebutkan 17 orang meninggal akibat bencana di seluruh Bali, sedangkan 5 orang hilang lainnya masih dalam pencarian. Dari 17 korban yang meninggal, 11 di antaranya ditemukan di Denpasar, 3 di Kabupaten Gianyar, 2 di Kabupaten Jembrana, dan 1 di Kabupaten Badung.
Kematian akibat bencana di Bali tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. BaleBengong mencoba mengulik cerita-cerita korban bencana dari berbagai media pemberitaan. Dari cerita-cerita tersebut, kami menemukan empat penyebab meninggalnya beberapa korban.
Lansia terjebak di rumah
Di Kabupaten Gianyar, 2 lansia meninggal karena terjebak di dalam rumah yang roboh. Ni Made Latif (70) ditemukan meninggal setelah berusaha menyelamatkan dua anak tetangganya yang terjebak di rumah. Naasnya, Latif tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri. Tembok rumah pun roboh dan menimpa dirinya.
Hal yang sama terjadi pada Ni Made Rupet (87) asal Desa Temesi. Rupet ditemukan meninggal saat sedang tidur lelap di rumahnya. Tembok rumahnya roboh karena tidak kuat menahan longsor.
Bangunan roboh di bantaran sungai
Dengan catatan korban terbanyak, bencana di Kota Denpasar juga menjadi yang terparah. Kawasan cagar budaya Jalan Gajah Mada, Pasar Badung, dan Jalan Sulawesi dihantam banjir hingga merobohkan sejumlah bangunan. Deretan bangunan yang berada di bantaran Tukad Badung ambrol dihantam hujan dan angin kencang.
Pada 11 September 2025, 6 deret bangunan di Jalan Sulawesi dihancurkan karena mengalami kerusakan parah. Saat itu pula masih dilakukan pencarian terhadap 2 orang yang dilaporkan hilang. Hajah Maimunah (75) ditemukan malam hari pukul 21:33 WITA (11/9) di bawah reruntuhan bangunan. Ia ditemukan sekitar 50 meter dari reruntuhan di belakang ruko. Jasadnya ditemukan dengan tangan menghadap ke atas.
Beberapa korban di Jalan Sulawesi juga ditemukan di Dam Tanah Kilap, yaitu Nadira (48) dan Taslim (54). Para korban diduga terseret arus Tukad Badung yang saat itu meluap.
Menurut keterangan seorang penjual di Jalan Sulawesi, deretan bangunan di bantaran Tukad Badung tersebut sudah ada sejak lama. Penjual tersebut mengatakan kerusakan parah terjadi di Jalan Sulawesi bagian selatan karena aliran air mengalir dari utara ke selatan. Selain itu, bangunan di bagian utara dibangun lebih tinggi dari jalan, sehingga air yang masuk ke toko tidak terlalu tinggi dibandingkan bangunan bagian selatan.
Bangunan perumahan roboh
Bangunan roboh juga terjadi di Perumahan Permata Residences, Lingkungan Gadon, Mengwitani. Perumahan tersebut berada di jalur aliran sungai yang berhilir hingga Pantai Mengening, Cemagi.
Salah satu bangunan yang roboh ditinggali 3 anggota keluarga, yaitu Hadnar Boelan (56), Dewi Ratnawati Saoenarjo (57), dan Riviere Timothy George Wicaksono Boelan (23). Hingga berita ini ditulis, ketiga korban masih dalam pencarian.
Robohnya bangunan diperkirakan terjadi sekitar pukul 02.20 WITA. Debit air sungai yang kecil mendadak besar hingga mencapai 3,5 meter. Ketika debit air tinggi, penghuni perumahan berusaha menyelamatkan diri dengan berpindah ke hulu. Sayangnya, satu anggota keluarga tidak bisa menyelamatkan diri hingga bangunan roboh dan terseret arus banjir.
Warga menerobos banjir
Banjir yang datang tiba-tiba membuat warga terpaksa menerobos, terutama yang sedang berada di jalanan. Nita Kumalasari (23) saat itu tengah dibonceng suaminya pada dini hari (10/9) menuju Dusun Kumbading dari Dusun Munduk, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana. Sepeda motor yang mereka kendarai tak kuasa menahan derasnya aliran air. Akibatnya, motor terjatuh. Nita yang tengah dalam kondisi hamil dua bulan terseret arus banjir, sedangkan suaminya berhasil selamat. Nita ditemukan meninggal karena tenggelam.
Komang Oka Sudiastawa (38), korban asal Jembrana juga ditemukan meninggal akibat menerobos banjir. Ketika banjir melanda pada dini hari. Oka hendak membuka pagar rumah yang terendam banjir. Namun, Oka tiba-tiba terjatuh dan mengambang di genangan air. Warga yang melihat kejadian tersebut berusaha menyelamatkan Oka. Namun, ketika menyentuh tubuhnya, warga tersebut merasakan sengatan listrik. Oka diduga meninggal karena menyentuh kabel listrik yang terputus.
legianbet legianbet kampungbet







![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

