
Penulis: Ni Made Risma Dewi dan Ni Putu Gita Putri
Sekitar tiga bulan lalu, tepatnya pada 10 September 2025, warga Banjar Sebual, Jembrana dikejutkan oleh banjir besar yang melanda desa mereka. Hujan deras turun sejak pagi hingga keesokan harinya membuat sungai di sekitar desa meluap dan airnya masuk ke rumah-rumah warga.
Banjir kali ini menjadi yang pertama terjadi di Banjar Sebual karena debit air cukup besar. Air naik begitu cepat sampai hampir semua rumah warga terendam, dan sebagian warga harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Menurut warga, banjir ini tidak hanya karena curah hujan tinggi, tetapi juga karena sungai yang dangkal dan tersumbat sampah. Selain itu, pembukaan pintu bendungan yang terlambat juga membuat volume air semakin besar.
Kepala Lingkungan (Kaling) Banjar Sebual menjelaskan bahwa salah satu penyebab banjir adalah masyarakat sering membuah sampah sembarangan. “Sungai tersumbat karena ada pembuangan sampah sembarangan dari warga, dan sungainya cukup dangkal. Jadi saat hujan deras, air langsung meluap ke pemukiman,” ujarnya.

Ia juga berspekulasi adanya penggundulan hutan di hulu sungai. “Mungkin juga karena penggundulan hutan di hulu sungai. Air hujan tidak ada yang menyerap, langsung turun deras ke bawah,” tambahnya.
Salah satu warga, I Made Dwi Purwita (55), juga masih ingat jelas suasana malam itu. “Kami tidak menyangka banjir sebesar ini. Sekitar jam satu dini hari air sudah naik setinggi lutut orang dewasa. Kami langsung panik dan mencari tempat yang lebih aman,” ceritanya.

Naasnya, banjir tersebut menimbulkan satu korban jiwa. Seorang warga meninggal dunia karena tersengat arus listrik saat banjir terjadi.
Evakuasi baru bisa dilakukan keesokan harinya karena air masih cukup tinggi. Warga bersama pihak berwajib bergotong royong membantu proses evakuasi korban.
Air mulai surut pada siang hari tanggal 11 September 2025. Setelah itu, warga langsung membersihkan lumpur dan sisa-sisa banjir di sekitar rumah masing-masing. Suasana gotong royong di lingkungan banjar sebual cukup haru dan tampak ceria.
Walau bencana ini membawa kesedihan, semangat warga Banjar Sebual untuk bangkit begitu besar. Mereka saling membantu tanpa memandang perbedaan.
Kini, warga mulai melakukan kegiatan untuk mencegah banjir seperti memperdalam sungai, menanam pohon di hulu, dan berkomitmen untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun, ketika kami mendatangi DAM di Banjar Sebual, kami menjumpai sampah yang tertahan arus sungai. Sampah-sampah tersebut didominasi oleh sampah organik, salah satunya sampah bekas banten. Bau menyengat juga menusuk hidup ketika kami mendekati tumpukan sampah di pinggir sungai. Ternyata aroma tersebut berasal dari bangkai hewan yang tampaknya telah lama mati.
Dari kejadian ini, warga Banjar Sebual seharusnya belajar bahwa menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga diri sendiri. Menjaga alam tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, semua pihak harus terlibat untuk mencegah terjadinya bencana serupa.
(Salah satu karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Kabupaten Jembrana)
sangkarbet










