• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

Oka Agastya by Oka Agastya
22 December 2025
in Lingkungan, Opini
0
0

Setiap tahun, Bali kehilangan sekitar 1.200–1.500 hektare sawah (BPS Bali, 2023) akibat alih fungsi lahan—angka yang terus meningkat seiring pertumbuhan pariwisata dan pembangunan perkotaan. Ketika kita melihat sawah yang hilang, sering kali yang kita bayangkan adalah hilangnya ruang produksi pangan atau punahnya Subak sebagai warisan budaya UNESCO. Namun sesungguhnya ada satu dimensi penting yang jarang dibicarakan yakni hilangnya kemampuan lanskap untuk menahan, mengatur, dan memperlambat air.

ilustrasi/Anton Muhajir

Sawah, terutama sawah bertingkat seperti di Jatiluwih dan beberapa daerah pada umumnya di Bali bekerja seperti spons raksasa. Ia menahan air hujan, memperlambat aliran, dan memberi waktu bagi air untuk meresap ke dalam tanah. Dalam ilmu hidrologi, peran ini disebut sebagai pengurang koefisien limpasan (runoff coefficient). Semakin besar limpasan, semakin cepat air bergerak menuju sungai dan drainase, sehingga potensi banjir meningkat. Teras sawah memiliki koefisien limpasan yang rendah, artinya sebagian besar air justru masuk ke tanah, bukan meluncur di permukaan.

Ketika sawah berubah menjadi permukiman, vila, restoran, atau jalan beton, kemampuan menahan air ini hilang dalam sekejap. Beton memiliki koefisien limpasan hampir 100%, sementara sawah terasering dapat menurunkannya hingga 30–50% (Liu, 2021). Artinya: hujan yang dulu tertahan di sawah kini langsung mengalir ke sungai, memenuhi saluran drainase, dan memicu limpasan cepat bahkan pada hujan intensitas sedang.

Jika 1.200–1.500 hektare sawah hilang setiap tahun, kita tidak hanya kehilangan ruang pangan, tetapi juga kehilangan infrastruktur alami yang sangat vital bagi mitigasi banjir. Bayangkan dalam satu tahun saja, ribuan hektare “spons air” berubah menjadi “lantai beton” yang tidak menyerap apa pun. Air yang dulu disaring perlahan oleh sawah kini bergegas tanpa hambatan menuju titik terendah. Tidak heran jika kota-kota seperti Denpasar, Badung, dan Tabanan kini mengalami banjir lebih sering—bahkan di wilayah yang sebelumnya tidak pernah tergenang.

Penelitian hidrologi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa ketika lahan hijau berkurang, debit puncak sungai meningkat secara signifikan, membuat sungai lebih cepat meluap dan sistem drainase lebih mudah kewalahan (Arsyad, 2010). Subak, dengan teras sawah dan kanal irigasinya, sebenarnya adalah teknologi ekologis yang menstabilkan debit air secara alami. Namun ketika sawah-sawah itu menghilang, kemampuan ini ikut hilang, digantikan oleh sistem drainase buatan yang tidak selalu mampu mengikuti kecepatan perubahan cuaca ekstrem.

Sehingga hilangnya sawah bukan sekadar persoalan budaya atau pangan, tetapi juga persoalan keselamatan kota dan daerah pedesaan. Setiap petak sawah yang digantikan beton berarti hilangnya kapasitas lanskap untuk memperlambat air. Setiap hektare Subak yang hilang berarti meningkatnya risiko banjir. Ketika sawah hilang, kita tidak hanya kehilangan pemandangan indah tetapi juga kita kehilangan benteng alami yang selama ratusan tahun telah menjaga Bali dari bencana hidrologis.

Referensi

  • Arsyad, S. (2010). Konservasi Tanah dan Air.
  • Liu, Y. et al. (2021). Effects of Terracing on Runoff and Soil Conservation in Asian Agricultural Landscapes.
  • Windia, W. (2013). Sistem Subak sebagai Kearifan Lokal Pengelolaan Air di Bali.
  • Sutawan, N. (2015). Hydrological Role of Subak Landscape in Flood Mitigation in Bali.
sangkarbet
Tags: lanskapLingkunganmitigasi banjirOpinisubak baliTerasering
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Next Post
Aktivis Bali Ditangkap dan Dibawa ke Jakarta

Aktivis Bali Ditangkap dan Dibawa ke Jakarta

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia