
Deretan pot dan vas berlukisan tangan memenuhi lorong Serayu Pottery di Peliatan, Ubud.
Mencari tempat singgah di Ubud tidak selalu berarti mengunjungi kafe atau objek wisata yang ramai. Serayu Pottery di Jalan Gunung Sari, Peliatan, menawarkan suasana yang berbeda melalui deretan pot dan vas berlukisan tangan yang menghiasi hampir setiap sudut ruangnya. Motif bunga, pola dekoratif, hingga ornamen khas Bali tampak menghiasi permukaan karya-karya tersebut.
Banyak pot dan vas digantung di sepanjang lorong, menciptakan pemandangan yang langsung menarik perhatian pengunjung sejak langkah pertama memasuki area studio. Penataan yang sederhana namun artistik membuat ruang ini terasa hidup oleh warna dan bentuk yang beragam. Di tengah hiruk-pikuk kawasan wisata Ubud, Serayu Pottery menghadirkan tempat yang lebih tenang untuk menikmati seni sekaligus melihat proses kreatif di balik setiap karya yang dipajang.
Mengalir Bersama Karya-karya di Serayu Pottery
Sosok di balik Serayu Pottery adalah I Wayan Cemeng, seniman yang melukis hampir seluruh karya yang dipajang di ruang tersebut. Kesempatan berbincang dengannya membuka cerita tentang perjalanan panjang yang melatarbelakangi lahirnya berbagai pot dan vas berwarna-warni yang kini memenuhi studio.

I Wayan Cemeng, seniman di balik Serayu Pottery.
Melukis telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil. Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi aktivitas melukis pada media tanah liat setelah peristiwa Bom Bali. Sejak saat itu, berbagai karya dekoratif mulai ia hasilkan dan dipamerkan di Serayu Pottery.
Setiap karya menampilkan motif yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama. Bunga, tumbuhan, dan ornamen khas Bali menjadi sumber inspirasi yang paling sering muncul dalam goresan kuasnya.
“Kalau motifnya sih yang alami saja, dekat dengan lingkungan. Modelnya bunga, hiasan dekoratif-dekoratif Bali,” ujar Wayan Cemeng.
Sentuhan tangan pada setiap karya membuat tidak ada hasil yang benar-benar sama. Proses melukis dilakukan secara langsung sehingga setiap pot dan vas memiliki karakter masing-masing.
Filosofi “Serayu” yang Terus Mengalir
Nama Serayu bukan sekadar penanda sebuah studio seni. Wayan Cemeng mengambil nama tersebut dari Sungai Serayu, salah satu sungai yang dikenal dalam tradisi Hindu. Baginya, sungai merepresentasikan aliran yang terus bergerak dan tidak berhenti pada satu titik.
Filosofi itu juga tercermin dalam cara ia berkarya. Inspirasi tidak selalu datang dari perencanaan yang matang, melainkan berkembang mengikuti proses yang sedang dijalani.
“Biar mengalir saja. Sama dengan saya melukis, enggak tau mau seperti apa, tapi setelah pegang kuas ya mengalir saja,” katanya.
Gagasan tentang “mengalir” terasa cukup dekat dengan suasana yang ditawarkan Serayu Pottery. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat karya yang dipajang, tetapi juga dapat mendengar cerita di baliknya sambil menikmati suasana yang berjalan tanpa tergesa-gesa.
Menikmati Ubud dengan Tempo lebih Pelan
Serayu Pottery tidak hanya menawarkan ruang untuk melihat karya seni. Pengunjung juga dapat mengikuti kelas melukis maupun membuat karya berbahan tanah liat yang tersedia di tempat ini. Setelah mengikuti kelas, hasil karya yang dibuat dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Menurut I Wayan Cemeng, kegiatan tersebut menjadi cara untuk mengenalkan proses kreatif yang selama ini berlangsung di studionya. Pengunjung tidak hanya melihat hasil akhir yang dipajang, tetapi juga dapat merasakan langsung bagaimana sebuah karya dibuat dan dihias dengan lukisan tangan.
Pengalaman inilah yang membuat kunjungan ke Serayu Pottery terasa berbeda. Tempat ini tidak sekadar menjadi ruang pamer atau lokasi berburu souvenir, tetapi juga ruang untuk berinteraksi dengan proses kreatif yang ada di balik setiap karya.
Lokasinya yang berada di kawasan Peliatan turut mendukung suasana tersebut. Dibandingkan beberapa titik wisata yang lebih ramai di pusat Ubud, kawasan ini menawarkan ritme yang lebih tenang. Pengunjung dapat meluangkan waktu untuk berjalan perlahan, mengamati detail karya yang dipajang, atau berbincang dengan para perajin yang sedang bekerja.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Ubud, Serayu Pottery dapat menjadi pilihan untuk singgah sejenak. Selain melihat berbagai karya yang dipajang, pengunjung juga dapat mengikuti kelas melukis yang tersedia di studio ini. Dengan biaya Rp10.000 per orang, pengunjung dapat mencoba melukis langsung dan membawa pulang hasil karyanya sendiri.
Pengalaman tersebut membuat kunjungan ke Serayu Pottery tidak hanya sebatas melihat-lihat atau membeli souvenir. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan proses kreatif yang berlangsung di dalam studio, sekaligus mengenal lebih dekat karya-karya yang dihasilkan. Suasana Peliatan yang relatif tenang juga membuat tempat ini cocok bagi mereka yang ingin beristirahat sejenak dari keramaian kawasan wisata Ubud.






