
Di Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS), cara mengolah kakao telah mengubah nasib lebih dari 600 petani. Kesejahteraan mereka meningkat, dan kakao yang dipanen dan dijual curah sekarang dapat diproses untuk dinikmati sebagai cokelat premium yang berkelanjutan.
Praktik inilah yang menjadi fokus kunjungan media dan kegiatan pembelajaran bersama yang digelar oleh proyek yang didanai oleh Uni Eropa: ACT! (Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia) Project. ACT! merupakan bagian dari program Uni Eropa SWITCH-Asia yang berfokus pada konsumsi dan produksi berkelanjutan. Proyek ACT! dilaksanakan oleh Rainforest Alliance bersama Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP).
Di kebun kakao Jembrana, petani telah dibina untuk menerapkan agroforestry (atau wanatani) dengan pohon naungan seperti pisang, kelapa, manggis, durian, dan alpukat yang tumbuh berdampingan dengan kakao untuk menjaga kelestarian lingkungan. Selain itu, praktik-praktik ini berkaitan erat dengan akar serta nilai-nilai budaya Bali, dengan menggunakan prinsip Subak Abian—sebuah sistem pertanian tradisional yang didasarkan pada filosofi Tri Hita Karana.
Petani kakao di Jembrana telah berkembang bersama Koperasi KSS dan didampingi oleh Yayasan Kalimajari. Sejak 2011, melalui program Kakao Lestari, Kalimajari mendampingi petani Jembrana melalui kolaborasi dengan Koperasi KSS untuk meningkatkan pendapatan melalui pendekatan penambahan nilai tambah, agroforestry, proses organik, dan rantai pasok yang adil.
“Program Kakao Lestari hadir pada tahun 2011 untuk mendampingi Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) dengan harapan kakao tumbuh dan lestari di Bumi Jembrana. Program ini berfokus pada peningkatan produksi, penguatan kualitas kakao premium melalui fermentasi, serta penguatan koperasi sebagai organisasi yang kuat dan mandiri. Pendampingan ini mampu mengantarkan Koperasi KSS menembus pasar global, salah satunya Valrhona, dengan pengiriman perdana pada tahun 2015,” ujar Direktur Kalimajari, Agung Widiastuti.
“Proses ini berlanjut sampai saat ini, yang menginspirasi terbentuknya program TRAKSI bersama Rainforest Alliance, Rikolto, Pemda Jembrana dan Valrhona, untuk membawa semangat kerja sama dan ruang belajar bersama ke enam koperasi lain di Bali (Tabanan), Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi,” tambah Agung.
Di tingkat koperasi, KSS dan Kalimajari bersama mitra memfasilitasi pelatihan climate-smart agriculture atau pertanian cerdas iklim, pembibitan yang dikelola komunitas, petak percontohan kakao, pengolahan kakao di tingkat koperasi, literasi keuangan, serta akses pasar. Biji kakao diproses dan dikelola dengan standar tertinggi serta terus dikembangkan, sehingga mutunya lebih konsisten dan memudahkan penelusuran jika terjadi masalah.
Hasilnya, lebih dari 600 petani rakyat merasakan peningkatan kesejahteraan, sehingga memungkinkan mereka mendukung pendidikan anak-anak mereka dan menurunkan angka pengangguran di perdesaan setempat. Praktik pengelolaan kakao berkelanjutan di Jembrana ini muncul di tengah menurunnya produksi sektor kakao di tingkat nasional dan global. Indonesia, yang pernah menempati posisi produsen kakao terbesar ketiga di dunia pada 2021 (FAO, 2023), kini berada di peringkat ketujuh (ICCO, 2025).
Selain mutu dan konsistensi kualitas, tanaman tua, akses bahan tanam berkualitas, produktivitas, kurangnya kesadaran akan praktik budidaya berkelanjutan, ancaman perubahan iklim, regenerasi petani, serta serangan hama dan penyakit merupakan tantangan utama sektor kakao di Indonesia. “Agar sektor kakao tumbuh dan mampu menghadapi tantangan iklim, dibutuhkan dukungan pengembangan kapasitas petani dalam mengaplikasikan pertanian regeneratif yang cerdas iklim di Indonesia. Selain itu, dukungan lainnya seperti ketersediaan benih dan klon unggul bersertifikat, akses pembiayaan, pasar yang inklusif, penguatan kapasitas, serta penguatan kelembagaan lokal juga dibutuhkan. Dukungan tersebut akan membantu pencapaian pendapatan layak dan peningkatan taraf kesejahteraan petani kakao,” ujar Cocoa and Coffee Programme Manager Rikolto Indonesia, Nuzul Qudri.

Upaya menjaga mutu ini merupakan bagian dari langkah-langkah keberlanjutan yang lebih luas. Indonesia tercatat sebagai produsen kakao bersertifikat Rainforest Alliance terbesar di Asia-Pasifik, dengan produksi mencapai 41.400 ton di atas 63,3 ribu hektare lahan bersertifikasi. Sertifikasi ini mencakup sekitar 56.000 petani dan 60.000 kebun di seluruh Indonesia.
Praktik seperti di Jembrana, mulai dari agroforestry, metode organik, hingga integrasi ternak kambing di kebun, merupakan bagian dari pendekatan pertanian regeneratif yang memulihkan tanah dan ekosistem, bukan mengurasnya. “Keberlanjutan kini bukan lagi jargon, melainkan kebutuhan. Pertanian regeneratif dapat menjawab tekanan perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang menurunkan hasil panen serta mutu pasokan kakao,” ujar Managing Director Asia Pacific Rainforest Alliance, Chandra Panjiwibowo.
Menurutnya, konsumen berperan penting dalam peralihan ini. “Konsumen dapat mendorong praktik regeneratif dengan bertanya dari mana cokelat mereka berasal, bagaimana diproduksi, dan apakah produksinya sudah adil bagi masyarakat. Inilah saatnya menjunjung pertanian yang memberi kembali lebih banyak bagi lingkungan dan masyarakat daripada yang diambilnya,” lanjutnya.
Chandra menambahkan, upaya ini membutuhkan dorongan dari sisi permintaan. “Praktik baik di kebun dan dukungan pemerintah daerah, seperti di Jembrana, akan bertahan jika ada permintaan pasar yang mendorongnya. Melalui ACT! Project, kami turut memantik permintaan itu dengan menggerakkan sektor perhotelan, ritel, dan pariwisata di Yogyakarta dan Bali, serta mengajak konsumen memilih produk kopi, cokelat, teh, dan minyak sawit yang memenuhi prinsip keberlanjutan.”
Kakao Jembrana juga telah dapat dinikmati oleh konsumen. Pipiltin Cocoa, yang berdiri sejak 2013 dan merupakan salah satu penggerak gerakan cokelat bean-to-bar premium di Indonesia, menyerap biji langsung dari petani di berbagai daerah, termasuk Bali. Pada 2025, Pipiltin bersama Koperasi KSS meluncurkan produk cokelat premium dari kakao Jembrana bernama “Raya Jembrana”, yang menjadi simbol kerja keras, dedikasi, dan semangat petani Jembrana dalam menghasilkan kakao berkelanjutan bermutu tinggi.
“Sejak awal, kami menyerap biji langsung dari petani melalui karya Koperasi KSS. Raya Jembrana memiliki makna dan harapan “Merayakan Jembrana secara berkelanjutan” yang lahir dari kakao yang dirawat dengan sungguh-sungguh oleh para petani Jembrana. Produk ini merupakan hasil kolaborasi yang mengedepankan kualitas biji kakao fermentasi, sekaligus memperkenalkan karakter cita rasa khas daerah (single origin) Jembrana kepada konsumen.
Peluncuran ini menjadi simbol bahwa ketika semua pihak bergerak bersama dengan visi yang sama, keberlanjutan bukan sekadar tujuan, melainkan hasil nyata,” ujar Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla. Pada akhirnya, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh produsen, tetapi juga oleh pilihan konsumen. Melalui mindful consumption atau konsumsi yang penuh kesadaran dan tanggung jawab, konsumen yang peduli pada asal dan cara produksi cokelat turut menjaga praktik baik seperti yang ada di Jembrana. Pengembangan kakao di Jembrana juga didukung oleh pemerintah daerah. “Kakao adalah komoditas unggulan Kabupaten Jembrana. Tidak hanya unggul, kakao Jembrana juga telah berkontribusi terhadap pergerakan kakao premium nasional melalui fermentasi. Pencapaian Silver Award pada ajang Cacao of Excellence (COEX) 2023 menjadi bukti kualitas dan konsistensi kakao Jembrana,” ujar Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan.
Pemerintah Kabupaten Jembrana menjadikan kakao sebagai identitas daerah melalui payung kebijakan khusus. “Untuk menjaga pencapaian ini, kami telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao, agar dapat dikembangkan secara berkelanjutan,” imbuh I Made Kembang Hartawan. Dukungan tersebut mencakup akses pembiayaan berupa pinjaman senilai Rp1,5 miliar bagi KSS untuk pembelian benih kakao bagi anggotanya, penyediaan benih kakao unggul, kerja sama dengan pemerintah pusat untuk mengembangkan fasilitas pengolahan kakao, serta percepatan pendaftaran indikasi geografis kakao Jembrana guna memperkuat identitas kakao daerah.
Praktik pertanian berkelanjutan di Jembrana memperlihatkan satu rantai yang utuh, yaitu kebun yang dikelola dengan baik meningkatkan pendapatan petani, menghasilkan kakao bermutu, dan berujung pada sebatang cokelat. Mata rantai terakhirnya ada di tangan konsumen. Dengan memahami asal cokelat yang dibeli dan memilih produk yang menerapkan praktik berkelanjutan, baik melalui sertifikasi maupun praktik produksi yang bertanggung jawab, konsumen turut menjaga lingkungan sekaligus menghidupi para petani di baliknya.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet










