
Sejumlah jurnalis di Bali menggelar aksi doa bersama untuk lima wartawan dan tiga awak kapal yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Senin (7/9/2026).
Lima wartawan yang hilang tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunnas sebagai fotografer Antara Biro Banten, Arie Basuki sebagai fotografer Merdeka.com, Yudistiro Pranoto sebagai fotografer iNews.id, Firdaus Wajidi sebagai videografer Anadolu Agency, dan Donal Husni sebagai wartawan visual lepas.
Empat dari lima wartawan visual tersebut merupakan anggota PFI dari Jakarta dan Tangerang. Sedangkan, tiga awak kapal yang bersama mereka adalah Warta sebagai nahkoda, Surakman sebagai ABK, dan Heritanto sebagai pemandu.
Sebagai bentuk dukungan dan solidaritas kepada sesama rekan jurnalis, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Denpasar menggelar aksi doa bersama di depan monumen Bajra Sandhi, Denpasar, Minggu (13/9/2026) yang melibatkan sejumlah organisasi pers dan media seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Ikatan Wartawan Online (IWO) Bali, AMSI Bali, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali, PENA NTT, dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali.
Aksi tersebut menjadi ruang bagi para jurnalis untuk memanjatkan doa serta menyampaikan harapan agar kelima jurnalis beserta tiga awak kapal yang hingga kini belum ditemukan dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.
Jurnalis duduk melingkar, menyalakan lilin dan membawa poster yang berisi kata-kata harapan. Doa dilakukan secara bergiliran sesuai masing-masing agama, mulai dari Hindu, Kristen, Katolik, dan Islam. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan mengheningkan cipta bersama.
Ketua PFI Denpasar yang juga koordinator doa bersama, Dicky Bisinglasi, mengatakan doa bersama digelar untuk mendukung proses pencarian yang dilakukan tim SAR.
“Tujuannya agar proses pencarian oleh tim SAR diberi kelancaran dan kemudahan, dan syukur bisa ditemukan dengan selamat,” kata Dicky.
Dicky berharap dengan doa bersama ini dapat menghasilkan titik terang di pencarian hari ketujuh dan seterusnya. Sesuai aturan Undang-Undang Nomor 29 tahun 2014, operasi SAR berlangsung selama tujuh hari, semenjak ditunjuknya SMC (Search and Rescue Mission Coordinator), dan berpotensi diperpanjang dengan alasan kemanusiaan.
Dia menyampaikan bahwa semua wartawan yang hilang kontak merupakan senior-senior yang dia yakini sangat paham tentang resiko dan mitigasi saat meliput sebuah bencana.
“Namun rupanya naas menghampiri, entah apa yang terjadi. Mereka-mereka ini juga bukan orang baru, mereka adalah senior-senior saya. Saya pribadi kenal empat dari kelima orang itu,” ungkapnya.
Harapannya, tim SAR mendapatkan tanda-tanda keberadaan lima wartawan dan tiga awak kapal tersebut.
“Sehingga harapan kita semua dengan adanya doa hari ini, dapat mempermudah pencarian tim rescue dan membuahkan hasil,” tandasnya.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua AJI Denpasar, Ni Kadek Novi Febriani. Febri mengungkapkan dengan doa dari Pulau Dewata ini, ada kabar baik dan mereka bisa ditemukan dengan selamat.
Ia juga mengajak untuk menjadikan hal ini sebagai refleksi bersama, bagaimana agar saat bekerja ke depan untuk melakukan mitigasi walaupun tidak bisa dihindari.
Aksi doa bersama ini juga diisi dengan pembacaan puisi dari Denpasastra oleh Pranita Dewi dengan judul “Kabar dari Laut”. Kemudian, dilanjutkan puisi dari Moch Satrio Welang dengan judul “Anak yang Memeluk Matahari”.
“Puisi ini menjadi bagian dari rangkaian ungkapan pengharapan dan doa agar nyala harapan untuk menemukan mereka tetap terjaga hingga kelimanya dapat kembali berkumpul dengan keluarga,” tutur Pranita.
Aksi ini menjadi bentuk solidaritas dan dukungan moral dari para insan pers di Bali untuk sesama rekan jurnalis dan awak kapal yang hilang saat melakukan kerja jurnalistik, semoga bisa ditemukan kembali dalam keadaan selamat.




