• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, August 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Pertanian Kakao Jembrana jadi Percontohan Pertanian Kakao Nasional

Teja Wijaya by Teja Wijaya
10 August 2026
in Berita Utama, Kabar Baru, Pertanian
0
0
(Dokumentasi: Teja Wijaya, Proses Pengeringan Biji Kakao Fermentasi di Fasilitas Solar Dryer Dome, Koperasi Kerta Semaya Samaniya, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali)

“Sebagai warga Bali, kita harus bangga dengan Pertanian Kakao di Jembrana. Produk Kakao Jembrana pernah meraih Pemenang Silver ajang Cacao of Excellence Awards 2023 (Penghargaan Kompetisi Kakao Dunia). Berkat keberhasilan itu, Pertanian Kakao Jembrana menjadi salah satu model percontohan Pertanian Kakao Nasional”

Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di Asia dengan produksi kakao mencapai 200.000 ton per tahun, berdasarkan data The International Cocoa Organization (ICCO) tahun 2025. Sayangnya, produksi komoditas kakao di Indonesia terus menurun yang awalnya produsen kakao terbesar peringkat ketiga di dunia tahun 2021 (Data FAO, 2023) kini berada peringkat ketujuh tahun 2025 (Data ICCO, 2025). Kakao sebagai komoditas utama mengalami banyak tantangan di berbagai daerah Indonesia seperti deforestasi, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, minimnya akses bahan tanam berkualitas, tanaman yang menua, perubahan iklim dan pola cuaca yang tidak dapat diprediksi, regenerasi petani, serta serangan hama dan penyakit yang mengakibatkan tren penurunan produksi kakao.

Pada 30 Juli 2026, terselenggaranya kegiatan tur liputan Proyek Accelerating Consumer Transformation and Sustainability in Indonesia (ACT!) yang membahas tentang telusur kakao berkelanjutan di Bali Barat, mulai dari kebun petani hingga menjadi sebatang cokelat berkualitas tinggi. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh konsorsium Rainforest Alliance, Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI), dan Cocoa Sustainability Partnership (CSP). Tujuan kegiatan ini untuk memperkenalkan praktik pertanian kakao berkelanjutan agar mengurangi dampak negatif lingkungan dan sosial dari konsumsi pangan domestik kakao di Indonesia.

Ada dua tempat kegiatan tur telusur kakao ini yaitu Kebun Kakao milik I Ketut (Tut) Sudomo yang berada di Dusun Moding, Desa Candikusuma dan tempat fasilitas fermentasi Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, Jembrana. Hal yang menarik pada kegiatan tur tersebut adalah hadirnya perwakilan petani kakao di beberapa wilayah Indonesia. Perwakilan petani yang datang berasal dari Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Lampung. Mereka semua ingin belajar bagaimana produksi kakao berkelanjutan, praktik pertanian regeneratif, pengelolaan hama terpadu, dan kemampuan menciptakan klon atau jenis tanaman kakao yang ada di Jembrana.

Bagaimana Peluang dan Tantangan Kakao di Indonesia?

Selama kegiatan tur telusur kakao, ada satu momen sharing sessions antar petani, koperasi, dan pengusaha yang membahas terkait peluang dan tantangan komoditas kakao di berbagai daerah Indonesia. Sebagai gambaran umum, komoditas kakao yang diperjual-belikan di Indonesia terbagi menjadi dua jenis pasaran. Pertama, ada pasar kakao asalan (kakao biasa tanpa fermentasi) digunakan sebagai bahan baku produk cokelat batangan yang dipasarkan di toko-toko ritel. Kedua, ada pasar kakao fermentasi yang digunakan bahan baku produk cokelat berkelas tinggi atau cokelat artisan.

(Dokumentasi: Teja Wijaya, Dari kiri ke kanan pembicara ada Tissa Aunilla dari Pipiltin Cocoa, Agung Widiastuti dari Yayasan Kalimajari & Koperasi Kerta Semaya Samaniya, Ayu Antariksa dari Petani dan Koperasi Petani Masamba, moderator Armin Hari dari Cocoa Sustainability Partnership /CSP)

Seiring perkembangan waktu dan mengantisipasi penurunan harga komoditas kakao dunia, para petani kakao di Indonesia mulai membidik pasar kakao fermentasi dan produsen cokelat artisan. Tissa Aunilla, Co-Founder Pipiltin Cocoa salah satu produsen cokelat artisan menjelaskan sebelum ada kenaikan harga itu perbandingan biji kakao konvensional yang non-fermentasi dengan biji kakao fermentasi itu perbedaan harganya kurang lebih 40% sampai dengan 50%. “Artinya biji yang difermentasi dihargakan itu 40%-50% lebih tinggi dibanding yang biji non-fermentasi” ujarnya. Tissa juga menyoroti peluang kakao Indonesia dengan wilayah di Afrika, “kalau di Afrika itu ada Big and Small Market, sedangkan Indonesia itu small business farmer karena kita ada kepulauan dan scattered (tersebar -red), perdagangan small business farmer itu sangat relevan untuk memproduksi biji fermentasi sebetulnya”.

Ayu Antariksa sebagai Petani dan Ketua Koperasi Petani Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan menceritakan kondisi daerahnya sebagai sentra utama penyumbang komoditas Kakao di Indonesia. Lahan Kakao di Luwu Utara cukup besar kurang lebih 40.000 hektare. Permasalahan produk biji kakao fermentansi daerahnya itu terletak pada buyer atau pembeli yang kadang-kadang menginginkan produk dengan sistem fermentasi yang berbeda-beda. Semenjak tahun 2011, petani dan koperasi Luwu Timur telah berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk organisasi CSP dan Rikolto Indonesia membuat produk kakao berkualitas dan menghasilkan klon atau jenis tanaman kakao kode SKJ11 yang bisa beradaptasi di Sulawesi Selatan.

Ayu juga menjelaskan tantangan yang sedang dihadapi oleh petani kakao di Luwu Utara yaitu bagaimana petani dan koperasi berkomitmen dengan segala macam pertempuran komoditas. “Kalau di Luwu Utara ya kita bertempur dengan kelapa sawit, bertempur dengan berbagai macam komoditas pembanding yang ada”, ungkapnya. Harapannya bisa ada produk “single origin” cokelat artisan cita rasa khas Luwu Utara supaya petani kakao mempunyai daya saing dengan petani komoditas lainnya.

Japung Lasarus sebagai Perwakilan Asosiasi Petani Kakao (APIK) Kecamatan Lampung Timur, Provinsi Lampung juga menceritakan tantangan utama para petani di daerahnya. Bagi Japung, petani kakao Lampung Timur baru memulai produk kakao fermentasi, hanya saja bagaimana tetap konsisten untuk memperjuangkan kebutuhan kakao yang berkualitas. Hal tersebut menjadi strategi kedepannya APIK Lampung Timur agar bisa mengkonsolidasikan seluruh petani kakao terdampak disana, sehingga bisa menemukan petani-petani yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas produk kakao mereka.

Rudolfus Ndate, Petani Kakao dan Koperasi Produsen Agro Niaga Asosiasi Petani Kakao Nanganpada (Kopan Sikap) di Ende, Nusa Tenggara Timur juga menceritakan keluhan yang sama dengan perwakilan petani lainnya. “Petani Ende tidak semua mengurus fermentasi, lebih suka kakao non-fermentasi karena lebih mudah bagi mereka”, ujarnya. Dia dan organisasi sedang memperjuangkan untuk mengolah kakao fermentasi walaupun hanya sedikit, karena membawa perubahan untuk petani dari sisi harga kakaonya.

Rudolf menceritakan ada peningkatan harga kakao ditempatnya semenjak adanya organisasi koperasi dan produk kakao fermentasi, dulunya harga kakao itu dimonopoli pedagang kaki lima disana, pedagang (tengkulak) yang menentukan harganya. Perlahan-lahan Rudolf mencoba merubah pola pikir petani, bahwa kita (petani dan koperasi) yang harus menentukan harga berdasarkan kualitas kakao mereka.

Rahasia Pertanian Kakao Jembrana tetap Bertahan dan Eksis

(Teja Wijaya, Foto Kegiatan Pembelahan Buah Kakao)
(Teja Wijaya, Foto Buah Hasil Panen Kakao Tut Sudomo)

Petani Jembrana sudah familiar dengan komoditas kakao sejak tahun 1990-an, namun perkembangan pesatnya terjadi tahun 2011 ketika Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) bersama Yayasan Kalimajari membuat Program Kakao Lestari. Mereka berkolaborasi dengan sekitar 600 petani kakao Jembrana untuk melakukan pelatihan praktik pertanian berkelanjutan hingga sertifikasi produk kakao agar bisa ekspor ke luar negeri. Jika pembaca ingin memahami sejarah kakao jembrana dapat membaca tulisan artikel berjudul “Kerja Sama untuk Sejahterakan Petani Kakao Jembrana” dan tulisan-tulisan BaleBengong lainnya tahun 2018-2019 yang membahas tentang Pertanian Kakao Jembrana.

Bagaimana perubahan Pertanian Kakao Jembrana tahun 2026 ini? Selama perjalanan pagi hingga siang menelusuri lahan kakao milik Tut Sudomo. Penulis bersama beberapa perwakilan petani daerah, Non-Govermental Organization (NGO’s), dan jurnalis terpukau dengan sistem penanaman kakao. Sistem penanaman kakao mengunakan sistem tumpang sari atau agroforestri. Jadi, tanaman kakao ditanami berbagai jenis tanaman lain seperti pisang, kelapa, lamtoro, dan tanaman buah lainnya.

Mengapa tidak ditanam seragam kakao semua? Agung Widiastuti dari Yayasan Kalimajari dan Anggota Koperasi KSS yang mendampingi Tut Sudomo menjelaskan bahwa tanaman kakao itu memerlukan tanaman penaung dan tanaman pelindung atau tanaman sela, karena untuk melindungi panas matahari, menjaga kesuburan tanah, dan juga kelembapan terutama di musim hujan.

Agung Widiastuti menambahkan informasi bahwa tanaman pisang dan tanaman buah lainnya sebagai pendapatan rutin Tut Sudomo dan keluarganya, karena mengandalkan tanaman kakao saja memerlukan waktu dan meminimalisirkan dampak kegagalan panen atau tanaman kakao yang rusak. Di lahan kebun Demonstrasi Plot (Demplot) seluas kurang lebih 3 Hektare, Tut Sudomo dan keluarganya telah merawat tanaman menggunakan bahan-bahan organik seperti pupuk dan bio-pestisida alami. Tahun 2025 saja, kebun mereka telah menghasilkan sekitar 1,9 Ton biji kakao kering yang dikirim ke koperasi KSS.

(Dokumentasi Teja Wijaya, Tut Sudomo sedang menjelaskan pengalamannya merawat kakao dan memelihara kambing)

Menelusuri belakang halaman kebun kakao Tut Sudomo, penulis menemukan kandang kambing anakan dan indukan sekitar 15 ekor. Soal pakan ternak kambing, Tut Sudomo mengatakan bahwa dia memberikan daun lamtoro, pisang, dan limbah kulit buah kakao yang banyak terbuang kepada ternak kambingnya. Limbah kulit buah kakao terlebih dahulu dicacah dan dijemur, baru diberikan kepada kambing. Selama Idul Adha kemarin, Tut Sudomo dan keluarganya berhasil menjual 8 ekor kambing dengan keuntungan lebih 20 Juta Rupiah. Manfaat ternak yang dia pelihara menghasilkan penghasilan tambahan dan suplai pupuk kandang untuk tanamannya.

Agung Widiastuti menjelaskan bahwa lahan Demplot milik Tut Sudomo merupakan salah satu bentuk Good Articultural Practices (GAP), suatu praktik pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan. Hasil tanaman Kakao milik Tut Sudomo inilah yang membuat Produk Kakao Jembrana meraih Pemenang Silver ajang Cacao of Excellence Awards 2023 (Penghargaan Kompetisi Kakao Dunia). Penghargaan bergengsi yang diikuti 52 negara dengan lebih dari 200 sampel biji kakao berbagai belahan dunia. Selain Tut Sudomo, beberapa kelompok petani kakao lainnya juga menerapkan praktik pertanian berkelanjutan ini dengan tambahan budidaya ternak.

Agung Widiastuti menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) turut andil memberikan bantuan bibit ternak kambing dan sapi, bantuan pupuk organik, bibit klon-klon tanaman kakao hingga pompa air dan infrastruktur pertanian lainnya. Dampaknya petani kakao Jembrana yang dulu hanya membudidayakan 7 klon/jenis kakao (data arsip tulisan BaleBengong 2019), sekarang berkembang bisa membudidayakan 9 klon kakao dan berhasil mendapatkan 2 klon unggul yang tahan cuaca dan musim ekstrim di Jembrana bernama klon MCC 01 dan RTNJ 01.

Selama pandemi Covid-19 periode 2020-2021 hingga memasuki musim El Nino (cuaca panas ekstrem) tahun 2021-2023 merupakan periode terberat bagi Petani Kakao Jembrana. Bagi Agung Widiastuti, praktik pertanian berkelanjutan juga menyelamatkan petani kakao Jembrana dari kerugian besar dampak El Nino yang berkepanjangan tahun 2021-2023 yang membuat produksi kakao menurun. “Namun kami bisa bangkit lagi karena fokus kembali di hulu dengan baik”, ujarnya. Jika dilihat data produksi biji kakao milik koperasi KSS (Koperasi Petani Kakao Jembrana) memang terjadi penurunan sepanjang 2020-2023, namun tahun-tahun berikutnya produksi biji kakao meningkat seperti semula.

Selama menelusuri lahan kakao Tut Sudomo, kami diberitahu soal bagaimana membelah buah kakao, menyeleksi biji kakao berkualitas yang tidak rusak, terkontaminasi dan berjamur, serta mengecek kadar gula dalam biji kakao tersebut. Mekanisme pembelahan buah kakao menggunakan batok kayu panjang dengan cara mengetok buah tersebut. Salah satu petani daerah Lampung bertanya mengapa tidak pakai pisau saja? Alasannya karena pisau itu beresiko melukai dan dapat terkontaminasi isi buah atau biji buahnya. Dari lahan petani, buah kakao yang dibelah dan diambil bijinya. Langkah selanjutnya biji kakao dibungkus karung atau tempat kering dan dikirim ke fasilitas fermentasi.

Adaptasi Fermentasi dan Produk Biji Kakao Berkualitas

Siang harinya kami berkunjung ke fasilitas fermentasi Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Koperasi KSS merupakan koperasi komoditas kakao di Bali yang menjual produk biji kakao fermentasi yang berkualitas dan bersertifikat internasional seperti setifikat organik UTZ, sertifikat organik USDA (Amerika Serikat), sertifikat organik EU (Uni Eropa), dan sertifikat lainnya. Hadirnya Koperasi KSS bertujuan untuk memberantas tengkulak dan membeli produk biji kakao petani dengan harga yang wajar. Anggota koperasi KSS sebagian besar adalah keluarga petani kakao di wilayah Jembrana yang ikut berkontribusi peningkatan kualitas produk kakao itu sendiri.

(Fasilitas Fermentasi Koperasi KSS)
(Tempat Wadah Fermentasi Biji Kakao)

Selama pengenalan dan pembelajaran proses fermentasi, banyak perwakilan petani Lampung, Ende, dan Luwu Timur bertanya berbagai macam hal soal fermentasi biji kakao. Pada tempat fermentasi, kumpulan biji Kakao tersebut ditempatkan pada balok-balok kayu yang berlubang dan ditutup oleh daun pisang dan karung goni. Proses fermentasi dilakukan selama periode 6-7 hari dan harus ada pembalikan biji kakao setiap 2 hari sekali, totalnya 3 kali pembalikan selama periode fermentasi.

Ada banyak perubahan proses fermentasi setelah tahun 2019 yang pernah diliput oleh BaleBengong. Koperasi KSS merubah manajemen fermentasi lebih terintegrasi dan mendetail untuk mencatat siapa memetik-mengupas, siapa mengirim, dan berasal dari lahan kebun siapa biji kakao itu berasal. Setiap karung biji kakao yang baru datang hingga tempat biji kakao yang akan difermentasikan harus dituliskan dan dicatat oleh sistem. I Putu Dian Pratama, anggota Koperasi KSS menceritakan pengalaman tidak enak ketika buyer/pembeli melayangkan protes adanya kandungan kimia dalam biji kakao fermentasi setelah melakukan uji laboratorium.

Mengapa ada kandungan kimia padahal produk biji kakao harus organik? Setelah lama menelusuri kasus tersebut, ternyata Dian dan temannya menemukan bahwa kandungan kimia tersebut berasal dari lotion anti-nyamuk tangan petani yang mengupas buah kakao. “Ternyata di beberapa petani menggunakan lotion karena banyak nyamuk. Jadinya kita buat SOP kemarin pada saat memecah buah tidak boleh menggunakan lotion nyamuk atau hand body seperti itu”, ujarnya.

Setelah proses fermentasi selesai, maka biji kakao pun masuk ke proses pengeringan (drying). Proses fermentasi dan pengeringan adalah dua proses kunci menghasilkan biji kakao yang berkualitas. Ada perubahan dalam proses pengeringan yang dilakukan KSS yaitu tempat pengeringannya. Dahulu mayoritas pengeringan biji kakao menggunakan tempat terpal, namun akhirnya menggunakan teknologi Rumah Solar Drying semenjak tahun 2019.

Agung Widiastuti menjelaskan alasan perubahan tempat tersebut karena protes dari pembeli. “Partner kami di Prancis namanya Valrhona (Produsen Cokelat), mereka mendeteksi satu aromatik profiling yang sangat mengganggu dan masuk ke kategori defect (kerusakan -red). Dia menemukan yang disebut sebagai burnt plastic. Jadi panas kayak begini kami jemur pakai terpal, itulah yang kemudian biji kakao terkontaminasi”, ujar Agung. Total ada 5 unit Rumah Solar Drying dan koperasi KSS sedang membangun 2 unit tambahan untuk memaksimalkan produksi biji kakao. Proses pengeringan biji kakao dilakukan selama 4-6 hari, selama proses tersebut setiap saat diaduk agar proses pengeringannya merata.

Biji kakao yang telah mengalami proses pengeringan akhirnya masuk ke tahap Grading dan Sortir Manual agar terseleksi dan mendapatkan biji kakao yang bermutu dan berkualitas sesuai permintaan pembeli. Sehabis itu biji kakao dikemas dan dikumpulkan dalam gudang penyimpanan. Ketika masuk ke gudang penyimpanan, penulis mencium aroma yang khas dan harum dari biji kakao fermentasi Jembrana ini.

Agung Widiastuti menjelaskan produk biji kakao fermentasi ini sebagian besar ekspor ke negara-negara produsen cokelat dunia, negara Perancis dan Belanda mendominasi hampir 65% total ekspor, sisanya ada Jepang dan Australia. Menurut Agung, tahun 2025 lalu koperasi KSS bisa memproduksi dan mengirim  50 Ton, tahun 2026 ini target minimal 60 Ton tercapai karena bulan Januari-Juni kemarin sudah 40-an Ton.

(Dokumentasi Teja Wijaya, Beberapa Produk Cokelat Artisan “Single Origin” Jembrana)

Bagaimana rasa cokelat dari biji kakao khas jembrana? Setelah tur fasilitas fermentasi, kami diajak mencicipi aneka cokelat artisan (cokelat berkualitas tinggi) khas jembrana yang kandungan kakaonya sekitar 60%-85%. Rasanya seperti cokelat ada sedikit rasa tutti-frutti seperti asam buah segar dan tidak pahit pekat. Kabar baik buat Bali dan Jembrana, ada tambahan produk cokelat artisan single origin baru bernama “Raya Jembrana” dari Pipiltin Cocoa. Totalnya ada 5 produk cokelat artisan single origin khas Jembrana.

Agung Widiastuti menyampaikan cokelat merek single origin-nya antara lain ada Onuka Chocolate partner mereka yang ada di Makassar, Jika Chocolate yang ada dari Jakarta, Belanua Cokelat itu owner marker-nya dari Maroko, dan Ubud Raw. Adanya cokelat merek single origin khas Jembrana bertujuan untuk mempromosikan dan mengedukasi konsumen bahwa produk cokelat yang konsumen makan itu asal-usulnya dan rasa khasnya berasal biji kakao berkualitas dari Jembrana.

Peran Aktor dalam Keberhasilan Pertanian Kakao di Jembrana

Penulis menemukan setidaknya ada lima aktor kunci yang saling berkaitan dalam kesuksesan pertanian kakao di Jembrana yakni Pemerintah Kabupaten Jembrana, Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS), Pengusaha/Produsen Cokelat (Pembeli) Kakao Fermentasi, Kelompok Petani Kakao Jembrana, serta dukungan Non-Govermental Organization (NGO’s). Peran pemerintah daerah sangat penting membantu dan mengarahkan kebijakan yang mendukung komoditas kakao.

I Made Kembang Hartawan selaku Bupati Jembrana menyampaikan bahwa pemerintah telah membuat Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Jembrana Nomor 8 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengembangan Komoditas Kakao. Dia menjelaskan poin pentingnya Perda tersebut adalah perlindungan petani kakao, bagaimana menjadi produk biji kakao kita fermentasi, serta mengembangkan produksi dan menguatkan ekspor Jembrana sebagai kabupaten kakao di Bali. 

Bukan hanya Perda saja, adapun bantuan pemerintah kabupaten lainnya seperti bantuan bibit ternak sapi dan kambing kepada kelompok petani kakao lewat program GEMPITA, bantuan pupuk dan pestisida organik, serta bantuan pinjaman daerah sebesar 1,5 Miliar Rupiah (tanpa bunga pinjaman) untuk koperasi KSS pada tahun 2025. Tujuan pinjaman tersebut agar koperasi KSS dapat memaksimalkan produksi biji kakao fermentasi dan membeli banyak biji kakao dari petani lokal.

Pengusaha/Produsen Cokelat (Pembeli) kakao fermentasi juga mempunyai peran penting untuk memajukan pertanian kakao Jembrana. Selain mereka sebagai pembeli, mereka juga memberikan kritik dan masukan kepada koperasi KSS dan petani Jembrana apabila ada penurunan kualitas biji kakao fermentasi (misal ada kandungan kimia maupun mikropastik). mereka berkontribusi juga menghasilkan produk “single origin” cokelat khas daerah Jembrana, serta memberikan edukasi konsumen domestik dan internasional tentang produk kakao pertanian berkelanjutan dan kehidupan petani kakao di Jembrana.

Peran Koperasi KSS sebagai perantara antara petani kakao dan pembeli kakao berkomitmen menghasilkan produk biji kakao fermentasi yang berkualitas, berkomitmen membeli kakao petani dengan harga wajar dan melakukan pemberdayaan petani kakao serta keluarganya. Peran NGO’s sebagai yayasan, lembaga swadaya atau organisasi masyarakat memberikan edukasi praktik pertanian yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan kepada petani kakao Jembrana, berkolaborasi pemerintah membentuk kurikulum nasional untuk pertanian kakao, mengedukasi konsumen kakao di sektor hotel, restoran, dan kafe akan produk biji kakao fermentasi yang ramah lingkungan.

Terakhir ketika semua pihak sudah memberikan peran atau dukungan besar kepada para petani kakao di Jembrana. Maka dari itu, para petani punya peran timbal balik untuk menghasilkan kakao yang berkualitas dengan berkomitmen pengunaan sistem pertanian berkelanjutan seperti agroforestri (tumpang sari), penggunaan pupuk & pestisida organik, serta mendukung dan menjual produk kakao fermentasi. Dampaknya selama tahun 2015-2024, produk Kakao Fermentasi Jembrana menyumbang devisa negara sebesar Rp470.267.490 atau 470 Juta lebih Rupiah (Data Ekspor Koperasi KSS, April 2025). Hal ini membuktikan bahwa masa depan Pertanian Bali tetap bersinar terang.


Tags: bahan baku cokelatcara ferementasi kakaoKakao Jembrana
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Teja Wijaya

Teja Wijaya

Kontributor Balebengong. Peneliti Korupsi dari Komunitas Sekolah Anti-Korupsi Pemuda Bali, sebuah komunitas yang dibentuk Indonesia Corruption Watch dan Balebengong Tahun 2019. Alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana. Suka bekerja menjadi freelancer data-data riset dan survei.

Related Posts

Ratusan Petani Kakao Jembrana Mampu Mengolah Biji agar jadi Cokelat Premium

Ratusan Petani Kakao Jembrana Mampu Mengolah Biji agar jadi Cokelat Premium

4 August 2026
Pentingnya Fermentasi dan Sertifikasi untuk Kesejahteraan Petani

Pentingnya Fermentasi dan Sertifikasi untuk Kesejahteraan Petani

5 November 2019
Next Post
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

30 August 2026
Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Langit Terlihat Biru, tapi Polusi Udara Memburuk

28 August 2026
Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

28 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia