Usaha Petani Kakao Jembrana agar Kakao Tetap Lestari

Oleh Ni Putu Wulan Prima Dewi

Dadakan sekaliiiiiii…

Mungkin sudah nasib saya selalu diberikan tugas mendadak oleh guru di sekolah. Dari SMP sampai SMK, tidak ada yang berubah. Setiap ada kegiatan tertentu, saya selalu ditunjuk. Itu pun dadakan sekali. Mau tidak mau, saya harus jalankan tugas tersebut walaupun ujung-ujungnya kurang memuaskan.

Nah, dari sekian event yang telah saya ikuti dan beberapa hasilnya kurang memuaskan, kali ini hasilnya berbeda. Saat saya mengikuti kegiatan seleksi Anugerah Jurnalisme Siswa (AJS) 2019 yang dilaksanakan di SMAN 1 Mendoyo, Jembrana, tidak disangka bahwa saya lolos ke babak 10 besar (semifinalis).

Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara AJS 2019 yaitu Yayasan Kalimajari serta Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Melalui kegiatan ini saya selaku pemuda Jembrana yang awalnya belum tahu tentang kakao, akhirnya bisa mempelajari lebih dalam lagi, lebih jauh lagi mengenai kakao Jembrana. Bersama rekan-rekan, saat ini kami sudah mulai mengenal kakao sedikit demi sedikit.

Saya beserta rekan-rekan saya yang maju ke babak 10 besar mendapatkan pelatihan bersama terkait tentang kakao di Jembrana. Selama proses pembinaan ini, saya dan rekan-rekan melalui tahap pembelajaran selama tiga hari.

Pada hari pertama kami sempat kunjungan ke kebun salah satu petani kakao sukses di Jembrana, yaitu Pak Wayan Rata. Saat saya dan rekan saya berada di lokasi, kami sempat bertanya kepada Pak Wayan Rata yang lebih nyaman kami panggil dengan sebutan kakek/kak (pekak). Saat itu kami bertanya seputar kakao, mulai dari cara perawatan hingga ke proses saat pemanenan kakao.

Setelah selesai bertanya, barulah kami mulai perjalanan ke kebun. Selama di kebun rekan-rekan, khususnya saya heran melihat ukuran pohon dan bentuk buah kakao yang dimiliki Kakek Rata. Pohonnya kecil, pendek, tapi buahnya besar sekali dan banyak pula.

Saking herannya, saya mengambil gambar begitu banyak untuk nantinya bisa saya gunakan saat memerlukan dokumentasi ketika nantinya saya membuat tulisan berikutnya.

Faktor “U” (Pikun)

Kemudian, dilanjutkan dengan materi fotografi oleh Mas Anton Muhajir selaku fasilitator dalam kegiatan AJS. Setelah itu kami semua menunggu undian tema apa yang akan kami dapat sebagai tulisan berikutnya. Saat pengundian berlangsung, saya mendapatkan tema sama dengan salah satu rekan saya, Angga. Kami mendapatkan tema tentang “Budidaya”.

Setelah proses undian, kami semua membahas kegiatan untuk hari esok. Tidak lupa kami berfoto bersama pemilik kebun kakao, yaitu Pak Rata. Setelah itu kami pun kembali ke Koperasi KSS untuk mengambil sesuatu yang telah dijanjikan sebelumnya. Itu pun kembali karena kelupaan akibat faktor U alias Pikun. Setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Esok harinya kami menuju perusahaan Cau Chocolates di Kabupaten Tabanan naik minibus. Perjalanan dimulai dari paling barat, yaitu Koperasi KSS kemudian terus melaju kearah timur hingga terakhir di depan BRI Tegalcangkring.

Perjalana menuju Cau sangatlah menyenangkan. Yaaaa… walaupun awalnya kami semua saling diam tidak bicara. Masih kaku. Sepanjang perjalanan menuju Cau saya tidur. Tidak sadarkan diri. Tujuannya agar saya tidak mabuk. Saya tidur lumayan lama. Saat saya bangun ternyata mobilnya sudah melewati jalan kecil. Uuuuuuuuhhhhh.. Jalan dan sopirnya ngebuuuuut banget. Eeehhhh.. sempat salah jalan juga. Namun, pada akhirnya kami sampai di lokasi tujuan yaitu Cau Chocolates.

Cau Chocolates berlokasi di Jl. Raya Marga-Apuan, Cau, Kecamatan Marga, Tabanan. Cau Chocolates didirikan pada Desember 2014 dan mulai beroperasi pertengahan 2016. Perusahaan ini ingin mempermudah akses petani kakao lokal menyalurkan hasil taninya. Namun, sebelum membeli biji kakao dari petani sekitar, Cau Chocolates melakukan pendampingan agar kakao yang dihasilkan petani sekitar memiliki kualitas tinggi dengan dua syarat utama yaitu memenuhi standar fermentasi dan organik. Saat ini, Cau Chocolates merupakan satu-satunya cokelat Indonesia yang telah meraih organik sertifikat dari badan terakreditasi milik pemerintah Indonesia, Amerika (USDA) dan Eropa (EU).

Baru sampai di Cau Chocolate kami semua bertemu salah satu pegawai di sana kemudian kami diajak minum coklat. Uuuuhh, lezatnyaa.

Setelah itu kami melakukan perjalanan ke kebun luasnya kurang lebih 20 are. Kami dipandu pegawai Cau Chocolate bernama Abi. Saat tiba di kebun, kami semua memakai topi berbentuk kerucut dan membawa tongkat dari bambu. Yaaaa.. supaya gayanya lebih ke petani gitu.

Saat perjalanan kami pun mulai bertanya. Nah, karena saya mendapat tema budidaya, pertanyaan saya fokus ke budidaya, mulai dari jenis klon, kemudian perawatannya, baik itu di pemangkasan, sambung, cangkok, pemupukan hingga panen. Karena Cau menggunakan standar organik, pupuk yang digunakan adalah pupuk organik. Pupuk tersebut berasal dari limbah kakao, kotoran sapi dan daun daun kakao yang sudah kering.

Setelah keliling kebun, kami pun turun ke sawah untuk melihat pemandangan. Selama perjalanan saya juga sempat mengambil beberapa objek untuk difoto. Tidak lama kemudian, kami semua beristirahat sejenak di suatu tempat yang berisi ayunan. Di sana juga kami sempat foto bersama di ayunan. Di sana kita langsung dapat melihat restoran Cau. Selanjutnya kami semua balik ke pabrik Cau.

Dituntut untuk Fokus

Sebenarnya masih banyak cerita saya dan rekan saya selama pembinaan, tetapi sekarang saya lewati dulu karena saya di tuntut untuk fokus ke materi budidaya. Jadi setelah pembinaan selama tiga hari, saya dan seluruh rekan diberikan waktu selama satu bulan untuk menyelesaikan tulisan sesuai tema yang diberikan. Selama sebulan saya di tugaskan untuk mengumpulkan data dari berbagai narasumber. Mulai dari petani hingga ke Dinas Pertanian dan Perkebunan.

Narasumber saya adalah Wayan Rata, yang merupakan petani local champion; Komang Sindu, salah satu petani muda sukses di Jembrana; Gede Eka Aryasa, petani local champion; Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana; dan Putu Artawan, murid Pak Wayan Rata.

Belum semua narasumber saya kunjungi untuk mendapatkan informasi terkait kakao seperti di Dinas Pertanian dan Pangan Bidang Perkebunan dan juga Putu Artawan. Begitu banyak faktor yang menghambat jalannya kegiatan wawancara. Namun, itu semua tidak menghancurkan niat dan tekad saya untuk terus maju.

10 Agustus adalah jadwal saya dan rekan saya untuk mewawancarai Pak Wayan Rata. Namun saat itu juga saya berhalangan hadir karena sakit. Tetapi saya sudah mengirimkan pertanyaan ke rekan saya untuk bisa ditanyakan ke narasumber yaitu Pak Wayan Rata.

Diawali dengan perkenalan, dan langsung ke pertanyaan. Beliau bernama lengkap Wayan Rata, beliau asli orang Nusasari dan lama tinggal Nusasari. Petani kelahiran tahun 1950 ini memiliki lima anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Semua sudah kawin dan memberikan sebelas cucu pada Pak Rata.

Awal mulanya Pak Rata ini menjadi petani karena beliau di berikan warisan berupa tanah oleh mertuanya sekitar 1 hektar dan tanah asli milik orang tuanya Pak Rata ini berada di sebelah utara. Dari sekian luas tanah yang dimiliki Pak Rata sekarang ini, dulunya hanya berisi beberapa tanaman, tetapi tidak berisi pohon kakao. Nah, kemudian Pak Rata sendirilah yang mengisi tanah tersebut dengan pohon kakao.

Panter, Panen Terus

Jenis kakao yang dimiliki Pak Rata begitu banyak. Ada Sulawesi 1, Lindak, ICCRI, Panter, MCC 01, MCC 02, BLB, dan RNJ. Dari sekian nama kakao dapat dibedakan melalui bentuk, warna, dan ukuran seperti MCC 01 warnanya hijau, MCC 02 warnanya merah tapi bentuknya hampir sama. Kalau BLB agak memanjang, bentuknya mulus. Kemudian panter itu bentuknya agak bulat.

Nah, saat menyebut kata “panter”, kalau teman-teman petani bilang adalah panen terakhir, tetapi beda dengan Pak Rata. “Kakek tidak terima, kakek nggak mau panen terakhir. Kakek maunya panen terus,” kata Pak Rata.

Selanjutnya ke masalah sistem sambung dan cangkok. Belakangan ini Pak Rata menggunakan sistem cangkok kurang lebih sudah sekitar 1,5 bulan. Untuk sistem sambung itu, Pak Rata mengaku awalnya hanya mendengarkan kabar dari Sulawesi bahwa kakao itu bisa disambung. Sekarang ini Pak Rata telah menggunakan sistem sambung selama hampir masuk tahap ketiga.

Kemudian lanjut ke cara pemangkasan. Sebelum dipangkas, ranting dan cabangnya banyak. Buah ada di ranting dan cabang sedangkan di batang itu tidak ada buahnya sama sekali. Saat panen, mungkin hanya bisa 2 hingga 4 kali panen. Setelah itu habis. Tips untuk mendapatkan hasil memuaskan, seperti buah dan biji besar, adalah rajin-rajinlah memangkas. Namun, selain dipangkas, tanaman juga harus dipupuk.

Untuk Pak Rata sendiri, selama setahun dilakukan dua kali pemupukan. Biayanya sebesar Rp 1,4 juta. Kemudian untuk penyemprotan yaitu Rp 1,9 juta untuk 2 kali penyemprotan. Dari sekian metode yang ada dan sudah berjalan timbul pertanyaan, “Apa sih yang membuat tanaman kakao bapak tetap subur?”

“Nggak. Bukan pemangkasan yang bikin subur, tetapi pemeliharaan, pemupukan, dan perawatannya. Jadi poin utamanya itu ada di perawatannya,” kata Pak Rata. Kalau pemangkasan itu sendiri tujuannya agar pohon kakao menghasilkan buah yang banyak.

I Komang Sindu Yoga, Petani Sambangi Negeri Kincir Angin. Foto Anton Muhajir.

Pemuda Jembrana Menginspirasi

Beda narasumber, tetapi hasilnya hampir sama karena topik yang dibicarakan sama yaitu tentang bagaimana budidaya kakao yang baik. Narasumber saya ini seorang petani muda kakao yang saat ini telah sukses walaupun dulunya tidak sempat menyelesaikan tugasnya sebagai siswa.

Beliau adalah Komang Sindu yang tinggal di Pangkung Jangu, Desa Pohsanten. Komang Sindu salah seorang pemuda Jembrana yang membuat saya terinspirasi. Saya memanggilnya dengan panggilan Pak Mang Sindu. Mulanya Pak Mang Sindu tertarik menjadi petani dari masa sekolah karena sering membantu orang tua di kebun. Pada tahun 2009 dia memutuskan meneruskan mengelola lahan milik orang tuanya.

Luas lahan yang dimiliki Pak Mang Sindu sekitar 1 hektar. Dan luas lahan itu terdapat 300-an pohon kakao dengan jenis klon unggul dan semuanya masih dalam usia produktif. Ada pula berbagai jenis tanaman seperti kelapa dan pisang, tapi hanya sebagai penaung. Nah dengan jarak dan pola tanam sudah diatur, maka jarak pohon satu dengan lainnya tidak terlalu mengganggu dalam persaingan unsur hara dan sinar matahari untuk tanaman utama (kakao).

Metode yang dilakukan oleh Pak Mang Sindu adalah metode sambung pucuk. Dikarenakan usia tanaman yang sudah tua, pada tahun 2014 dilakukan sistem peremajaan dengan metode sambung pucuk melalui tunas. Ada juga melalui penanaman ulang dengan bibit sudah disambung pucuk.

Kemudian, untuk perawatannya, yang Pak Mang Sindu lakukan adalah seperti komoditas lain. Kakao juga perlu mendapatkan perawatan, guna mendapatkan hasil maksimal melalui prosedur bertani yang benar. Mulai dari penanggulangan hama penyakit, pemupukan, pemangkasan serta panen sering dan pemeliharaan pasca panen. Namun, untuk sekarang ini tanaman kakao yang dimiliki oleh Pak Mang Sindu semuanya terbebas dari hama penyakit.

Nah, untuk pemangkasannya itu ada pemangkasan bentuk. Itu dilakukan untuk membentuk cabang produksi. Kemudian pemangkasan ringan bisa dilakukan kapan saja. Sedangkan untuk pemangkasan berat dilakukan sekali dalam setahun, yaaa sekitar bulan Agustus menjelang turun hujan.

Saat Pak Mang Sindu panen, prosesnya itu dilakukan bersama istri ataupun anggota keluarga sebagai wujud dari pemberdayaan perempuan dan keikutsertaan perempuan dalam program Kakao Lestari. Program ini digagas oleh Yayasan Kalimajari, Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) dan Dinas Pertanian Kabupaten Jembrana.

Saat memetik buah kakaonya itu Pak Mang Sindu sendiri mengusahakan untuk memotong di pangkal buah agar bantalan sebagai tempat calon bunga berikutnya itu bisa tumbuh dengan baik.

Kemudian saya juga sempat bertanya kepada Pak Mang Sindu terkait dengan kakao aroma madu, tetapi dia mengaku tidak tahu. “Tiang hanya memproses yang versi biasa saja,” jawabnya.

Selanjutnya ke Guru Eka Aryasa, beliau merupakan petani local champion seperti Pak Wayan Rata. Namun jawaban beliau sedikit berbeda.

Awal mula Guru menjadi petani kakao yaitu karena ada kebun warisan tetapi tidak ada yang mengurus. Dia juga tidak ada kerjaan. Karena kasihan dengan kebun yang tidak diurus dan dia sendiri sudah tamat sekolah, maka dia pun memilih untuk berkebun kakao sekitar tahun 1998. Saat itu, panen pertamanya adalah kakao lindak. Beda dengan yang sekarang yang sudah dibudidaya.

Luas tanah yang dimiliki Guru Eka saat ini lumayan luas yaitu sekitar 5 hektar. Tanah tersebut diisi dengan tanaman tumpangsari tetapi yang dominan adalah kakao. Untuk itu petani harus bisa mengatur jarak agar tidak saling mengganggu. Selain itu juga kita harus atur pola tanahnya juga.

Menurut Guru Eka, saat panen, kalau sesuai standar di perkebunan kakao itu menggunakan 1 hektar 1 tahun. Dia sendiri karena menggunakan klon unggulan Sulawesi 1 dan Sulawesi 2, semestinya 1,8 ton per tahun. Cuma sekarang mungkin masih di bawah itu, yaa sekitar 750 kg. “Jadi setiap 1 hektar itu, mungkin hanya mencapai kurang lebih 500 pohon. Rata-rata 1 pohon itu berbuah mencapai 1-2 kg per tahun,” itu yang dikatakan oleh Guru Eka.

Untuk hama penyakit yang biasa menyerang buah kakao adalah Penggerek Buah Kakao (PBK). Nah sistem yang digunakan Guru Eka ini hampir sama yaitu sepeti pemupukan, pemangkasan, sanitasi, dan hingga cara pemetikan buah saat panen. Dan juga metode yang digunakan adalah sambung. [b]