Regenerasi Petani Kakao Jembrana Terancam Mati

Oleh Rischa Sasmita

Hampir 100 persen siswa di Jembrana enggan bertani.

Keberhasilan kakao Jembrana menembus pasar dunia tidak lepas dari proses fermentasi. Walaupun Jembrana hanya memiliki 800 ha lahan kering dengan produksi kakao kurang dari 2.000 ton, tetapi biji kakao Jembrana diminati oleh produsen cokelat lokal hingga dunia.

Negara seperti Jepang, Belanda, sampai Perancis antre untuk mendapat biji kakao Jembrana. Negara-negara tersebut jatuh cinta dengan biji kakao Jembrana.

Proses fermentasi sangat berpengaruh pada kualitas biji kakao yang akan dipasarkan. Kakao Jembrana terkenal dan dicintai produsen cokelat karena diproses melalui fermentasi. Proses ini membuat biji kakao sehat dan menciptakan aroma (bunga, buah, rempah dan madu) sekaligus menghilangkan rasa pahit dan memunculkan nutrisi.

Biji kakao Jembrana menjadi pusat perhatian pembeli hingga menerobos pasar dunia. Harganya pun termasuk mahal. Produsen memilih biji kakao Jembrana karena memiliki keunikan aroma. Hanya biji kakao Jembrana yang dapat memberi empat aroma sekaligus.

Menurut Pak Wayan Rata, petani asal Melaya yang sudah lama berkecimpung di pertanian kakao, fermentasi sangat berpengaruh terhadap kualitas biji kakao. Tidak kalah pentingnya adalah perawatan kakao sejak di kebun. “Tanaman kakao hendaknya dirawat layaknya anak,” kata Pak Rata.

Pak Rata berhasil mengelola kebun kakaonya karena merawat tanaman kakao dengan baik, mulai dari memotong cabang pohon, menerapkan sistem sambung dan menggunakan pupuk organik. Pemangkasan untuk menghindari adanya buah di cabang karena buah kakao yang baik adalah buah yang dekat dengan akar serta menggunakan pupuk organik. Adapun pemupukan yang baik dilakukan di awal dan di akhir musim hujan dengan menanam pupuk di area dekat tanaman kakao. Penanaman pupuk bertujuan menghindari penguapan dan dirusak ayam atau ternak lain. Begitu pula yang dilakukan petani kakao di Jembrana lainnya.

Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) didampingi Kalimajari meraih sertifikat komoditas UTZ Certified pertama di Indonesia karena telah memenuhi standar. UTZ Certified adalah standar yang dikembangkan oleh organisasi swasta dengan kantor pusat di Belanda. Selain itu kakao di Jembrana juga memiliki sertifikat dari Lembaga Pengawasan Uni Eropa (UE) sebagai pengakuan kualitas produk kakao di Jembarana. United state department of agriculture (USDA) juga dipegang kakao di Jembrana. Terlebih lagi kakao Jembrana lolos dalam 50 besar dari 166 sample dari 44 negara diajang Cocoa Excellent Award 2017. Penghargaan sangat hebat dan dapat dijadikan motivasi.

Generasi Enggan Bertani

Potensi dan prestasi yang mampu diraih sampai saat ini hendaknya perlu dipertahankan hingga nanti. Karena itu, keberhasilan petani kakao Jembrana memasarkan produknya hingga luar negeri terasa ironis karena berbanding terbalik dengan regenerasi petani kakao di Jembrana. Sebanyak 98 persen anak muda di kabupaten ini enggan bertani. Generasi yang terputus menjadi ancaman petani kakao Jembrana.

Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara di SMP Negeri 4 Negara mengenai peminatan siswa. Ternyata 98 persen siswa laki-laki di Jembrana tidak ingin menjadi petani. Hanya 2 persen yang ingin menjadi petani. Itu pun karena hobi bercocok tanam. Adapun siswa perempuan sebanyak 95 persen tidak ingin menjadi petani. Hanya 5 persen yang ingin menjadi petani karena membantu orang tuanya. Lebih besar lagi, 99 persen siswa di Jembrana tidak faham tentang kakao, tata cara bertani kakao dan potensi serta prestasi yang sudah diraih kakao di Jembrana.

Salah satunya siswa SMP Negeri 4 Negara I Gede Budi Astudiarta yang berasal dari Desa Baluk tepatnya Banjar Baluk Rening. Orang tuanya bekerja sebagai guru yang dimiliki lahan cukup luas untuk bertani. Namun, ia tidak memiliki minat di bidang pertanian karena alasan capek, kotor, malas, panas dan juga penghasilan yang tidak menjanjikan.

Men ngidang sugih ulian megae aluh di kantor. Ngengken kenyel dadi petani. Adenan asana adep tanah 1 hektar. Enggalan maan pis. Men ngantia cokelat mabuah enggala be mati,” kata Gede.

Kentalnya budaya patriaki dalam tradisi Bali, ditambah minimnya minat siswa di bidang pertanian khususnya pertanian kakao, membuat masa depan pertanian dalam ancaman. Lahan yang menyusut, regenerasi petani yang terputus karena kurangnya sosialisasi budaya agraris tanpa disadari tetapi pasti telah mengarahkan terjadinya pergeseran dan sudah dapat diprediksi dari tahun ke tahun akan punah.

Indonesia dikenal dengan negara agraris, mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani. Kondisi alam mendukung, lahan luas serta iklim tropis dimana sinar matahari terlihat sepanjang tahun menjadi peluang petani untuk bertani sepanjang tahun. Seiring berjalannya waktu lahan pertanian di Indonesia makin menyusut karena kurangnya minat regenerasi di bidang pertanian. Kurangnya minat ini menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Indonesia akan kehilangan gelar negara agrarisnya.

Budaya patriaki sudah berlangsung dari masa lampau di mana laki-laki ditempatkan di hierarki teratas sedangkan perempuan ditempatkan pada nomor dua. Adanya konsep purusa pradhana yang dianut masyarakat Bali, mengakibatkan perempuan di Bali sering dijuluki “pewaris tanpa warisan”. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan kesetaraan gender. “Untuk kesetaraan gender, tidak setuju jika semua jatuh ke tangan laki-laki termasuk lahan untuk bertani. Padahal realita di Bali banyak petani perempuan yang aktif. Bahkan perempuan terlihat lebih banyak dari pada laki-laki,” kata Ibu Ni Ketut Arwati, dari Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA) Kabupaten Jembrana.

Bu Ketut bekerja di bidang ini sejak 31 Desember 2016. Pengalaman kegiatannya lebih sering terjun ke lapangan seperti memberikan sosialisasi bahwa PPPA bukan laki-laki saja, perempuan pun mampu. Masalah lain yang pernah diterima adalah pertengkaran istri dengan suami akibat media sosial dan kecurigaan.

Menurut Ibu Ni Ketut Arwati, budaya adat purusa pradhana di Bali membuatnya sulit untuk membela perempuan dalam hal hak waris. Namun, ia kagum dengan sosok perempuan yang mampu di bidang pertanian. Masalah patriaki, perempuan tidak mendapat hak waris dalam hal lahan untuk bertani, dapat diminimalisir dengan cara perempuan bekerja sama dengan laki-laki. Wanita harus meyakinkan suami untuk tidak menjual tanahnya dan memintanya untuk mengurus bersama suami. Apabila hal tersebut dapat diterapkan, Bu Arwati yakin 99 persen pertanian khususnya pertanian kakao di Bali tetap berkembang dari tahun ke tahun.

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Petani itu Miskin?

Potensi dan prestasi yang mampu diraih kakao di Jembrana akan menurun apabila masyarakat masih takut akan pertanian membawa kemiskinan. Ketakutan masyarakat menjadi masalah besar dalam mempertahankan potensi dan prestasi kakao di Jembrana. Padahal anggapan petani itu miskin tidak selalu benar. Petani akan berhasil apabila bekerja dan bekerja sama secara serius. Kesetaraan gender sangat diperlukan dalam pertanian. Apabila kaum laki-laki dan perempuan mampu bekerja sama secara maksimal, maka hasil pertanian akan memuaskan. Salah satu contoh pertanian yang mampu membawa petani keranah sukses misalnya pertanian kakao.

Contohnya adalah pasangan suami-istri (pasutri) I Gede Eka Arsana, biasa dipanggil Guru Eka (50), dengan istrinya bernama Ni Made Ayu Budi Anggreni (39), biasa dipanggil Ibu Ayu. Pasangan yang memiliki 3 orang putri ini sukses menyekolahkan anaknya karena optimis pada hasil kebun. Pasangan ini kompak dalam menjalankan usaha pertanian kakao. Anggapan bahwa petani itu miskin yang kerap hadir di tengah telinga masyarakat tidak menjadi penghalang bagi pasutri untuk bertani.

“Dengan bermodalkan niat, fokus dan serius, tidak akan membawa kita pada hasil yang buruk,” kata Ibu Ayu.

Ibu Ayu adalah sosok wanita yang awalnya tidak mempunyai kemampuan mendalam tentang pertanian. Dia terjun di bidang pertanian semenjak awal menikah sekitar 25 tahun lalu. Ketika itu dia tidak mempunyai pikiran untuk bertani. Karena saat itu tidak ada yang membantu suaminya, dia pun ikut terjun ke kebun. Awalnya hanya membantu memetik dan mengangkat biji kakao.

“Saya mengalami banyak keluhan. Mulai dari kesusahan jalan, melihat tebing cukup tinggi dan haluan jalan rumit membuat saya sering terpeleset jatuh. Saat itu saya belum terbiasa menyeberang sungai. Sampai saya sempat jatuh terpeleset di sungai karena tidak bisa memilih haluan hingga nasi bekal ke kebun hanyut terbawa air,” katanya.

Pelan-pelan, Ibu Ayu pun kian paham tentang kakao. Misalnya bahwa buah kakao memiliki kulit tebal sekitar 3 cm. Bahwa setiap buah kako mengandung biji sebanyak 30-50 biji. Bahwa warna biji sebelum proses fermentasi dan pengeringan adalah putih yang lalu berubah mejadi keunguan atau merah kecokelatan.

“Parahnya lagi saya awam akan biji kakao. Pernah sekali memungut biji nangka saya kira biji kakao. Bentuk hampir sama membuat saya mengira biji nangka itu biji kakao. Lumayan si maan a ember. Kejadian tersebut membuat saya beranggapan bahwa cantik tidak menjamin hidup. Walaupun wanita ke kebun panas-panasan, kotor dan mengalami beraneka kejadian tidak menutup kemungkinan untuk bisa maju,” tambahnya lagi.

Pelajaran lain yang dia pelajari adalah sistem tanam. Tumpang sari merupakan suatu bentuk pertanaman campuran (polyculture) berupa pelibatan dua jenis atau lebih tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan. Tanaman kakao dengan tanaman lain sangat mempengaruhi hasil produksi kakao oleh karena itu, tata tanam memberikan hasil optimal.

Pasutri ini memiliki kebun seluas 5 hektar jenis tumpang sari, namun lebih banyak pohon kakao diurus bersama. “Panen kakao tidak menentu tergantung cuaca, jika cuaca mendukung setiap minggunya menghasilkan 2 kuintal biji kakao basah. Biji kakao basah dibeli oleh Koperasi KSS dengan harga per kilo Rp. 11.000, jadi dalam satu minggu pendapatan kotor kurang lebih Rp. 2.200.000,’’ katanya.

Suksesnya pasutri ini tidak hanya kompak dalam hal berkebun. Mereka kompak dalam segala bidang. Pasutri ini kompak mengerjakan pekerjaan rumah dan juga kompak dalam mengambil keputusan saat ada perbedaan pendapat. Guru Eka tidak pernah mengabaikan pendapat istrinya. Dia selalu menerima dan mencari jalan tengah apabila ada perbedaan pendapat untuk hal yang lebih positif. Kesetaraan gender membalut kekompakan pasutri ini.

KSS Peduli Petani

Tidak kalah penting suksesnya pasutri ini dari peran Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS). Koperasi ini didirikan dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga, meningkatkan produktivitas, dan kesejateraan petani. Selain itu Koperasi KSS bekerja sama dengan Kalimajari menyediakan bibit kakao berkualitas untuk menghasilkan kakao yang semakin baik. Koperasi KSS pernah mengekspor biji kakao ke pembeli domestik maupun pembeli internasional. Saat ini Koperasi KSS mengayomi 609 petani dari 38 subak abian.

Menurut Guru Eka pada tahun 2015 silam diadakan pelatihan pertanian kakao di subak abian. Subak abian merupakan istilah untuk kelompok tani daerah kering di Bali. Berbeda dengan subak di Bali yang pada umumnya di daerah persawahan. Kakao termasuk komoditas pertanian lahan kering.

Saat itu ia mengikuti dengan semangat hingga tertarik untuk bergabung di Koperasi KSS. Sebelum bergabung di Koperasi KSS, Guru Eka menjual biji kakao asalan yaitu biji kakao dijual dengan harga murah. Biji kakao dijual murah karena kualitasnya kurang baik dan tidak ada proses fermentasi. Karena merasa ada ikatan kemitraan atau sama-sama diuntungkan ia menjual biji kakao ke Koperasi KSS.

Menurut Guru Eka, petani konvensional yang saklek atau keras kepala akan mempengaruhi hasil pertanian kakao di Jembrana. Dia sendiri mengaku selalu cepat menerima informasi mengenai pertanian khususnya pertanian kakao. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong, Gur Eka langsung mengambil tindakan. Beda halnya dengan petani keras kepala. Saat mendapat informasi mengenai sistem potong cabang, mereka memiliki banyak pendapat untuk membantah anggapan tersebut

“Nah depin gen. Nak nu liu buah pedalem ngetep. Mase batun nu payu adep,” ungkapan seperti itu kerap dikatakan petani konvensional. Petani konvensional lebih memilih membiarkan pohon kakao bercabang karena di cabangnya tumbuh buah kakao yang laku dijual secara asalan dengan harga murah.

Buah kakao pada cabang pohon tidak sama kualitasnya dengan buah kakao pada batang, hal ini menjadi alasan mengapa dilaksankan sistem potong agar menghasilan buah kakao berkualitas, banyak nurisi, harga dari biji kakao tinggi. “Buah yang baik adalah buah yang dekat dengan akar,” kata Bapak I Ketut Wiadnyana selaku Kepala Pengurus di Koperasi KSS (Senin, 5/8/2019).

Pasutri Sukses

Kegiatan bersamaan untuk mendapatkan hasil maksimal merupakan modal petani untuk meraih sukses khususnya pertanian kakao. Contohnya pasutri-pasutri di Jembrana yang berhasil dalam bertani. Kerja sama tidak lepas dari kesetaraan gender yang merupakan perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Merujuk pada keadaan di mana laki-laki dan perempuan memperoleh hak dan kewajiban setara. Kesetaraan gender sangat berpengaruh pada perkembangan pertanian di Indonesia dan masalah kemiskinan. Apabila diskriminasi berdasarkan gender terus terjadi maka akan berpengaruh buruk pada perkembangan Indonesia sebagai negara agraris.

Masyarakat hendaknya sadar akan kesetaraan gender dan tidak lagi mendiskriminasi kaum perempuan. Kaum perempuan dan kaum laki-laki saling bekerja sama agar mencapai titik keharmonisan dan keberhasilan di segala bidang, baik bidang rumah tangga maupun pertanian khususnya pertanian kakao. Jika kesetaraan gender diterapkan oleh seluruh pihak maka kehilangan gelar negara agraris tidak akan terjadi. Bahkan akan mengembangkan potensi agraris Indonesia termasuk potensi serta prestasi kakao di Jembrana.

Kesuksesan pasutri di Jembrana telah mengubah image petani dari yang selama ini diidentikkan dengan tua, miskin, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasilan menjadi petani muda, keren, menguntungkan, kekinian, dan tentunya kaya. Maka jadilah petani modern yang mau berubah, bukan petani kovensional. Dengan bertani berarti bersahabat dengan alam. Bila menghargai alam maka alampun memberikan kesejukan, kedamaian dan kekuatan serta memberikan manfaat pada manusia dan isinya.

Jika lahan pertanian tidak digunakan bertani, maka lahan yang ada lama-kelamaan bisa habis. Masyarakat Jembrana harusnya lebih melek informasi mengenai pertanian khususnya kakao karena kakao Jembrana diminati produsen cokelat dan mampu memiliki prestasi yang baik. Bukan lagi menanam beton-beton yang sudah pasti akan merusak citra agraris dan kakao Jembrana yang sudah mendunia. [b]