
Mungkin anda tidak menyangka, jalan kaki adalah kegiatan paling ekstrem di Bali, khususnya di daerah perkotaan.
Tidak semua jalan ada trotoarnya. Seandainya ada, banyak bopengnya. Kalau tidak ngeh, kaki anda bisa terkilir dan lecet.
Apalagi saat jam macet, trotoar berubah menjadi jalan alternatif para pengendara motor. Kacaunya tata lalu lintas di Bali ibarat “gergaji” yang memotong kaki warganya sendiri. Kaki-kaki itu tidak boleh digunakan untuk berjalan.
Tentu saja hal ini menguntungkan korporasi kendaraan sebab merekalah yang menuai profit atas kekacauan ini. Masyarakat diarahkan untuk menilai bahwa mengendarai kendaraan bermotor lebih aman dan efisien daripada berjalan kaki. Terasa, pemerintah berpihak kepada korporasi kendaraan. Pemegang otoritas tidak berniat melindungi pejalan kaki.
Buktinya jumlah kendaraan tambah berjibun, trotoar semakin beralih fungsi, dan berbagai mobil berukuran besar dibiarkan memadati gang-gang sempit. Memilih jalan kaki dalam situasi seperti ini adalah tindakan yang nekat.
Selain itu, ada label-label buruk yang menjegal para pejalan kaki. Mereka bisa dicap miskin, terbelakang dan gagal.
Anak-anak remaja bisa minder kalau tidak memiliki kendaraan. Para orang tua rela pinjam uang ke rentenir, hingga jual tanah agar mampu membeli kendaraan bermotor untuk buah hati mereka.
Iya para kapitalis semakin kaya ketika konsumen membeli produk mereka bukan atas dasar kebutuhan saja, tetapi demi mendapatkan pengakuan supaya tidak dipandang sebelah mata.
Kendaraan kemudian mendikte moralitas para orang tua. Orang tua yang baik dan bertanggung jawab adalah ketika mereka mampu membeli kendaraan bermotor untuk anak-anak mereka.
Memiliki kendaraan pribadi semakin menjadi obsesi akibat minimnya fasilitas transportasi publik. Ketika jalan dan gang tak ramah dengan pejalan kaki, jalan kaki kemudian menjelma sebagai aktivitas “olah raga”.
Di Bali, kalau anda mendengar kabar teman anda sedang berolah raga, besar kemungkinan artinya sedang jalan kaki di Jogging track atau alun alun kota. Di berbagai belahan bumi, jalan kaki adalah transportasi non bermotor yang lumrah dilakoni. Mereka tidak harus mengendarai kendaraan jika bepergian ke sebuah tempat.
Kesehatan warga semakin optimal sebab jalan kaki adalah aktivitas sehari-hari warga. Banyak penjelasan ilmiah mengenai manfaat jalan kaki, dari melancarkan peredaran darah, memperkuat otot, membakar kalori hingga menurunkan resiko serangan jantung.
Miris, agar bisa berjalan kaki di Bali, warga terpaksa mengendarai kendaraan bermotor ke lapangan olah raga. Menghisap gas beracun dari knalpot kendaraan sebelum dan sesudah dari arena jalan kaki adalah konsekuensi yang sulit ditolak. Menyehatkan tubuh dan menyakitinya di saat yang sama sungguh pemandangan ironis.
Sudah saatnya problem kesehatan manusia Bali hari ini tidak melulu ditafsirkan sebagai masalah kelalaian individual. Masalah kesehatan itu bersumber dari kaki warganya yang “digergaji” oleh penguasa yang menganak-emaskan korporasi kendaraan dengan mengabaikan kenyamanan pejalan kaki…
(Penulis lepas yang aktif di Komunitas Taman 65)






