• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, June 5, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

Syahla Nurkhaifa by Syahla Nurkhaifa
5 June 2026
in Kabar Baru, Kabar Luar Pulau
0
0

Penulis: Tim BPPM Balairung: Syahla Nurkhaifa, Aurakasih Ceta, dan Falinkha Varally

“Semuanya ngurusin sampah hanya untuk membuka pintu surga,” ujar Ananto Isworo, penemu Gerakan Shadaqah Sampah (GSS) Masjid Al-Muharram. Gerakan ini bermula sejak tahun 2013 dan berlokasi di Kampung Brajan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. GSS Masjid Al-Muharram memiliki kegiatan utama mengelola sampah dari warga sekitar untuk dijual lalu disedekahkan ke warga yang membutuhkan.

Ananto menjelaskan gerakan ini bermula dari keresahannya atas warga yang memerlukan bantuan finansial untuk kebutuhan sehari-hari. Ia juga menceritakan pada kala itu sulit mengajak warga untuk memberikan bantuan finansial karena warga turut merasa membutuhkan. Dari situ, ia lalu menemukan ide untuk mengadakan sedekah sampah sebagai cara mengumpulkan dana bantuan. “Jadi bahasanya kan saya minta sampahnya, bukan minta uangnya,” jelas Ananto.

Pada mulanya, Ananto bercerita bahwa ia mengumpulkan sampah bekas wadah hidangan buka puasa di Masjid Al-Muharram selama bulan Ramadhan berlangsung. “Dari situ sampahnya terkumpul banyak, jadilah [laku senilai-red] Rp500.000,00,” jelas Ananto. Ia berkata bahwa uang tersebut diberikan kepada delapan keluarga untuk membayar uang sekolah. Menurut Ananto, keberhasilan tersebut akhirnya membuka pemahaman masyarakat tentang GSS Masjid Al-Muharram.

Wahyu, remaja masjid yang menjadi relawan GSS Masjid Al-Muharram, turut berpendapat bahwa program ini telah berhasil meningkatkan kepekaan warga terhadap lingkungan sekitar. Ia menceritakan bahwa sampah yang dulu dibakar atau dibuang oleh warga kini dikumpulkan dalam satu karung besar untuk diambil oleh relawan. Rusmi, salah satu warga Kampung Brajan, bercerita bahwa dirinya mengikuti kegiatan GSS Masjid Al-Muharram karena meneruskan kebiasaan ibunya untuk bersedekah sampah. Menurutnya, bersedekah sampah jauh lebih tidak terasa jika dibandingkan dengan bersedekah uang. “Ya bagus sih kegiatannya, jadi bisa untuk membantu warga. Kan uang juga dikumpulkan kembali ke warga,” ungkap Rusmi.

Selanjutnya, Wahyu menyebutkan bahwa terdapat tiga bentuk santunan yang diberikan bagi warga yaitu santunan pendidikan, kesehatan, dan sembako. Ia menerangkan bahwa santunan pendidikan diberikan bagi anak-anak yang kesulitan untuk bersekolah. Rusmi turut menjelaskan bahwa santunan kesehatan tersebut akan diberikan untuk warga yang sakit. Sementara itu, Ananto menyampaikan jika santunan sembako diberikan sebanyak tiga bulan sekali untuk janda, duda, dan fakir miskin. “Ternyata dengan kita mensadaqahkan sampah, hasilnya itu juga bermanfaat untuk kita ataupun di sekeliling kita,” tutur Wahyu.

Kemudian, Wahyu mengungkapkan bahwa saat ini mekanisme pengumpulan sampah oleh GSS Al-Muharram telah mengalami perubahan. Ia menuturkan jika dahulu pengumpulan sampah dilakukan oleh relawan dengan berkeliling kampung menggunakan kendaraan roda tiga. Namun kini, Wahyu menjelaskan bahwa pengumpulan sampah beralih menggunakan grup WhatsApp jemaah Masjid Al-Muharram demi efisiensi waktu dan bahan bakar. “Ada list-nya, nama-nama siapa aja yang mau diambil lalu baru disamperin,” ungkap Wahyu.

Selain keberhasilannya dalam membantu warga Kampung Brajan, Ananto bercerita bahwa kegiatan mengelola sampah telah membawa banyak pencapaian. Ia menyampaikan bahwa GSS Masjid Al-Muharram telah berhasil meraih berbagai capaian sosial dan lingkungan. Ananto percaya bahwa semua prestasi yang telah diraih adalah hasil konsistensi mereka dan selalu berprasangka baik terhadap kehendak Tuhan. “Jadi mindset bahwa kita nyari berkah dengan memilah sampah, itu kita lakukan bersamaan anak-anak [relawan-red], dan jadilah energi, jadilah prestasi,” tutur Ananto.

Ananto menyebutkan salah satu capaian yang telah diraih GSS Masjid Al-Muharram adalah menjadi tujuan kunjungan nasional hingga internasional. Ia bercerita bahwa GSS Masjid Al-Muharram sudah pernah dikunjungi oleh Dewan Masjid Kerajaan Malaysia, mahasiswa Kyoto University hingga staf Kedutaan Besar Norwegia. “Jauh dari Norwegia, dengar kabar tentang [GSS Masjid Al-Muharram-red] kita, langsung terbang dari Norway ke Jogja,” ungkapnya. Sejak tahun 2015, Ananto mengungkapkan gerakan ini telah dikunjungi oleh perwakilan dari 34 provinsi di Indonesia dan menjadi rujukan pembelajaran bagi berbagai instansi. Suharti, istri Ananto, turut menambahkan bahwa semua pihak Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah di Indonesia pun sudah berkunjung.

Ananto kemudian bercerita bahwa GSS Masjid Al-Muharram turut berhasil menginspirasi lahirnya berbagai gerakan serupa yang dilakukan oleh banyak daerah dan kelompok agama lain. Ia mengungkapkan sudah ada puluhan gereja katolik, gereja protestan, dan pura yang telah meniru GSS Masjid Al-Muharram, seperti Gerakan Kolekte Sampah Indonesia dan Gerakan Punia Sampah Indonesia. Ananto mengaku bahwa dirinya tidak merasa keberatan dan mempersilakan bagi siapapun yang ingin meniru konsep GSS Masjid Al-Muharram. “Sejak awal, saya katakan di kementerian, hak cipta [GSS Al-Muharram-red] milik Allah, bukan milik Ananto,” tuturnya.

Tak berhenti di situ saja, Ananto menuturkan bahwa uang hasil pengelolaan sampah GSS Masjid Al-Muharram juga dimanfaatkan untuk aksi kemanusiaan. Pada tahun 2019, GSS Masjid Al-Muharram memberikan bantuan berupa 19 truk tangki air bersih bagi masyarakat Kecamatan Panggang, Gunungkidul yang tengah mengalami kekeringan panjang. Selanjutnya pada tahun 2024, gerakan ini kembali memberikan bantuan besar-besaran sebanyak 50 tangki air bersih bagi masyarakat Gunungkidul, tepatnya di Kecamatan Tepus, Girisubo, dan Rongkop. Pada tahun yang sama pula, GSS Masjid Al melakukan penggalangan bantuan bagi Palestina melalui kegiatan sedekah sampah akbar. “Semua orang bisa bantu dengan sampah, bukan dengan uang,” ujar Ananto.

Bagi Ananto, keberhasilan GSS Masjid Al-Muharram juga tercermin dari meningkatnya kesadaran warga Kampung Brajan terhadap sampah. Ia menyampaikan bahwa peningkatan kesadaran tersebut dapat ditunjukkan dari menurunnya jumlah donatur dan volume sampah yang dikelola. Ananto bercerita jika dahulu GSS Masjid Al-Muharram mampu mengumpulkan uang hingga Rp4 juta perbulan dari hasil sedekah sampah. Namun seiring menurunnya sampah yang masuk, ia menyebutkan bahwa uang yang didapatkan menurun menjadi Rp400.000,00 perbulan. “Karena apa? Saya tetap istiqomah, pengurangan [sampah-red] dulu, baru penanganan kalau ada. Dan target zero [waste-red], saya mendekati zero,” terangnya.

Ananto menjelaskan bahwa penurunan tersebut terjadi karena warga telah memiliki kesadaran untuk tidak lagi menggunakan barang sekali pakai. Ia menyebutkan warga mulai memakai tumbler untuk minum dan sabun yang bisa diisi ulang sehingga sampah yang dihasilkan jauh lebih sedikit. Wahyu turut menilai bahwa meningkatnya kesadaran warga terhadap sampah

dapat menjadi tanda bahwa tujuan GSS Masjid Al-Muharram telah tercapai. “Kalau gerakan ini [GSS Masjid Al-Muharram-red] bubar berarti masyarakat sudah sejahtera semua dan kepedulian masyarakat pada sampah itu sudah mulai meningkat,” terangnya.

(Karya liputan on the spot kompetisi Olimpiade Jurnalis Muda Indonesia 2026 dalam rangka Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong)

Tags: AJW 2026liputan on the spotpengelolaan sampahpengelolaan sampah di Jogjasampah di Jogja
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Syahla Nurkhaifa

Syahla Nurkhaifa

Related Posts

Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

5 June 2026

TPA Suwung Ditutup, Apakah Bali Siap?

19 May 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

26 April 2026
Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

Bakar Sampah Organik: Solusi Praktis atau Ancaman Kesehatan?

24 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

5 June 2026
Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

5 June 2026
Gerakan Masa Subur 25 Seniman Perempuan

“Perang Gender”: Halusinasi di Era Matinya Kepakaran untuk Membungkam Analisis Gender Struktural

5 June 2026

Pengetahuan Pangan Lokal Dijaga Bersama, Tak Hanya oleh Petani

4 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia