
Sebanyak 10 tim jurnalis muda dari berbagai daerah di Indonesia telah berkompetisi menghasilkan karya-karya liputan mendalam tentang beragam masalah. Tim pers mahasiswa Wacana dari Sumatera Utara terpilih jadi tim terbaik dengan karyanya terkait dekarbonisasi dari transportasi publik. Penganugerahan karya Olimpiade Jurnalis Muda Indonesia yang baru kali pertama dihelat ini dilaksanakan pada puncak Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) BaleBengong pada Sabtu malam, 5 Juli 2026 di Antida Saound Garden, Denpasar, Bali. BaleBengong adalah media jurnalisme warga yang kini berusia 19 tahun dan sudah melaksanakan AJW selama 11 tahun, namun Olimpiade Jurnalis Muda ini adalah event perdana.
Tema kegiatan Olimpiade ini adalah “Antirepresi-represi Klub” sebagai alternatif kampanye anti kekerasan pada jurnalis dan media, serta anak muda yang hendak menekuni dunia jurnalisme. Ada lima subtema yang menjadi tema liputan yakni mitigasi bencana, pertanian, kelautan, dan energi terbarukan. Gerakan komunitas anak muda, budaya, dan masyarakat adat untuk mendorong pemerintahan yang baik, kerusakan hutan dan sumber air, serta keamanan digital (kebebasan berekspresi, keamanan data, KBGO).
Sekar Pradnyandari, Ketua Panitia kegiatan mengatakan Olimpiade ini bertujuan mengampanyekan gerakan anti kekerasan pada jurnalis dan media serta anak muda yang menyuarakan hak publik. Selain itu menciptakan ruang aman untuk bersuara dan berinovasi bagi anak muda melalui karya jurnalisme yang interaktif dan mendorong partisipasi anak muda dalam kebijakan publik dan politik di daerahnya masing-masing.
Dalam acara penganugerahan Olimpiade yang berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ini, sejumlah warga juga berpartisipasi dalam panggung ekspresi. Mereka memanfaatkan ruang bersuara ini untuk menyampaikan berbagai masalah negara dan anak muda saat ini. Misalnya Sastra dari Desa Sambirenteng, Tejakula, Kabupaten Buleleng menyuarakan kerusakan hutan dan korupsi melalui musik hiphop. Ada juga Koalisi Pulihkan Bali yang memaparkan gugatan warga atau Citizen Law Suit yang sedang dilayangkan ke sejumlah instansi pemerintah untuk serius melakukan pembenahan kerusakan lingkungan.
Sementara karya-karya jurnalistik oleh 10 tim anak muda pers mahasiswa dan pers pelajar peserta Olimpiade juga mewartakan masalah-masalah penting seperti bencana tanah gerak, penambangan gunung, kekeringan, krisis air, dan kecanduan gawai pada anak-anak. Selengkapnya para peserta Olimpiade adalah Peringkat 1: Dari Halte ke Harapan: Jalan Panjang Mebidang Menuju Kota Rendah Emisi oleh Muaz Alfattah Fadhani dan Muhammad Nabil Farish dari Badan Otonom Pers Mahasiswa Wacana dari Kota Medan, Sumatera Utara.
Peringkat 2: Suara dari Pegunungan Meratus oleh Andiny, Afandi Mu’arif, dan M. Riyan Anshari dari LPM INTR-O FISIP Universitas Lambung Mangkurat Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Peringkat 3: Di Tempat Paling Suci, Air harus Dibeli oleh Kadek Cintya Pratiwi Maharani dan Putu Devan Satya Palguna dari Pers Pelajar Madyapadma SMAN 3 Denpasar.
Peringkat 4: Semarang Darurat Bencana Tanah Gerak oleh Amalia Vidhyana, Arolla Ramadhani, Muhammad Arya Adyatma Paradarma dari LPM Hayamwuruk FIB Universitas Diponegoro
Kota Semarang, Jawa Tengah. Peringkat 5: Menabung Air di Lereng Selatan: Ketika Petani Tanggunggunung Mencari Jalan Tengah antara Jagung, Hutan, dan Masa Depan oleh Luluk Nurhayati, Alifiah Izzatul Ascha, Nia Nurmaya Sari dari Tulungagung, Jawa Timur.
Peringkat 6: Pusaran Dopamin dan Ancaman Dunia Maya: Mengapa Game Online Rentan Jadi Ruang Kekerasan Anak? Oleh Jeihan Amadea, Arya Anggaraksa, Kayla Febriani Putri dari Pers Pelajar Delapena SMA Swasta Pasundan 8 Kota Bandung, Jawa Barat.
Peringkat 7: Dari Sekolah ke Pengadilan, Cerita Pelajar dari Balik Jeruji oleh Nayla Chania Wulandari, Roidah A’isyi Shofwah, dan M. Arby Maulana dari tim paralegal Depok, Jawa Barat.
Peringkat 8: Gerakan Masyarakat Melindungi Lanskap Sejarah Gunung Penanggungan dari Ancaman Tambang oleh Tri Nur Aini Tirta Kisma, Khoiryah Idah Lestari, Andini Faridatussa’adah oleh Mahasiswa Universitas Airlangga, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Peringkat 9: Sabur Limbur Pemerintah Atur Sampah Kawasan Pesisir Bantul oleh Syahla Nurkhaifa, Falinkha Nazzara Ardya Varally, dan Aurakasih Cetaanjali Tanama Putra dari BPPM Balairung Universitas Gajah MadaSleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peringkat 10: Memutarbalikkan Zona Hijau: Penyelewengan Tata Ruang dan Penggusuran Petani untuk GOR Gianyar oleh Ida Ayu Ngurah Deepika Ishana, Yoachina Sesilia S. Lein, dan Ni Putu Ananda Dian Pratna dari UKM Pers Akademika Universitas Udayana.
Kompetisi Olimpiade jurnalistik untuk anak muda ini diharapkan bisa memberikan harapa untuk peningkatan karya-karya yang berdampak pada publik. “Ini pengalaman pertama saya, banyak sekali hal-hal baru yang saya ketahui,” ujar Kadek Cintya yang meliput warga desa-desa yang harus membeli air di hulu Besakih.
Sunudyantoro, juri dari AJI Indonesia menyampaikan apresiasinya atas karya-karya berkualitas yang dihasilkan peserta. Menurutnya karya peserta bisa ditingkatkan lagi jika ada dukungan dari sejumlah pihak.
Represi pada Jurnalis
Dalam buku Potret Jurnalis Indonesia 2025 oleh AJI Indonesia disebutkan, dari 2,020 responden, sebanyak 75,1% jurnalis melaporkan pernah pernah mengalami kekerasan, baik di ranah digital maupun fisik. Responden memiliki pandangan yang beragam tentang masa depan industri media. Meskipun mayoritas (40,5%) merasa “cukup baik” tentang masa depan, lebih banyak yang optimis (32,8% merasa “baik” atau “sangat baik”) dibandingkan yang pesimis (26,8% merasa “sangat suram” atau “suram”). Secara keseluruhan, rata-rata pandangan jurnalis cenderung netral, dengan skor 3,10 pada skala 1-5.
Riset ini juga menunjukkan bahwa jurnalis Indonesia paling khawatir tentang pembatasan kebebasan pers (nilai 2,05) dan pelaku kekerasan terhadap jurnalis yang tidak mendapatkan hukuman (2,09), diikuti oleh kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan (2,58), kesehatan jasmani (2,66), dan kesehatan mental (2,80). Kekhawatiran ini berkaitan dengan kasus-kasus kekerasan yang mengancam kemerdekaan pers, serta tantangan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan media akibat disrupsi digital. Akhirnya, kekhawatiran tersebut dapat berdampak negatif pada kesehatan jasmani dan mental.
AJW 2026 didukung oleh AJI Indoenesia, Trend Asia, Spendedirekt, Antida Music & Sound garden, Pamflet Generasi, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, SAFEnet, Mongabay Indonesia, PPLH Bali, Yayasan IDEP Selaras Alam, Taksu Reuse, Pers Pelajar Madyapadma, Pers Mahasiswa Akademika, Eka Print Bali, Waroeng Spesial Sambal.
Perhelatan malam AJW juga diramaikan stan-stan Pasar Sadar dari berbagai komunitas seperti Jendranath, Trend Asia, Yayasan IDEP, JaheBiru, PPLH Bali, Rebo Ijo Wisanggeni, Omah Laras, Gotra, dan Don Kopi Les.









