• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, October 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

“Perempuan di Sawah” Narasi Agraris di Pembukaan Singaraja Literary Festival 2026

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
4 July 2026
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Pembukaan Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukanya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Sekar Jagat, Selat Segara, atau tari penyambutan Bali lainnya, tetapi pembukaan festival justru menghadirkan sebuah tari kontemporer.

Tarian ini juga tidak disajikan di atas panggung utama, melainkan di area penonton, tepat di pintu masuk kawasan bersejarah tempat festival berlangsung. Tari ini berbeda dengan tari penyambutan yang umumnya mengedepankan keindahan visual. Karya tari ini lebih menitikberatkan gerak tubuh sebagai bahasa simbolik untuk menyampaikan gagasan, emosi, sekaligus kritik sosial.

Tari itu berjudul Perempuan di Sawah dipentaskan oleh Komunitas Lemah Tulis sebelum acara pembukaan resmi dimulai. Tari ini didukung lima penari perempuan, dengan mengangkat tema perempuan dan tradisi persawahan sebagai narasi agraris yang menyoroti ketangguhan perempuan dalam menjaga ketahanan pangan, siklus bercocok tanam, serta dialog antara kehidupan pedesaan dan modernitas. Kostumnya tampak sederhana, namun mendukung suasana dan menyampaikan pesan. Iringan musik elektronik berhasil membangun suasana pertunjukan.

“Tari Perempuan di Sawah sebenarnya merupakan hasil pemangkasan dari garapan Teater Trikaltari tahun 2024 yang berjudul Prakertaning Dharma Pemaculan. Agar sesuai dengan tema SLF tahun ini, yakni perempuan, saya mengangkat sebagian cerita dari karya tersebut dengan judul yang berbeda,” ujar penggarap tari, Putu Bratria Dama Dayanu, usai pementasan.

Dalam koreografinya, tari ini memadukan gerak keseharian petani dengan eksplorasi gerak yang lebih dinamis dan cendrung bebas. Melalui perpaduan tersebut, tari ini menyampaikan pesan mengenai pentingnya memuliakan sawah sebagai ruang kehidupan. “Di tengah pesatnya pembangunan, berbagai aktivitas pertanian mulai tergerus, sementara keberadaan sawah di Bali terus menghadapi beragam persoalan yang mengancam kelestariannya,” ujarnya.

Meski dikemas dalam pendekatan kontemporer, tari ini tetap berpijak pada tradisi bertani masyarakat Bali dengan penekanan pada simbolisme gerak dan hubungan manusia dengan alam.

Pertunjukan dibagi dalam beberapa bagian. Pada bagian pertama, kelima penari membawa kendi sebagai simbol tradisi mapag toya, yakni ritual menyambut air sebelum mengolah sawah. Gerakan mengambil air dilakukan secara sederhana, namun sarat makna tentang pentingnya air sebagai sumber kehidupan dan unsur utama dalam sistem irigasi pertanian.

“Mapag toya merupakan simbol bahwa air adalah bagian paling penting dalam pengairan sawah,” sebutnya.

Bagian kedua menampilkan eksplorasi gerak tangan, terutama membuka dan mengepalkan telapak tangan sebagai simbol ilmu Jyotisa atau perbintangan. Adegan ini menggambarkan kebiasaan petani Bali zaman dahulu yang menjadikan posisi bintang dan sistem wariga sebagai pedoman menentukan waktu yang tepat untuk menanam padi maupun palawija.

Menurut Putu Bratria, para petani tradisional tidak sekadar menanam berdasarkan perkiraan. Meski belum mengenal kalender modern, mereka memperhatikan wariga, ilmu perbintangan, hari baik, serta kondisi iklim yang diyakini berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Bagian ketiga menggambarkan berbagai aktivitas di sawah, mulai dari menanam padi, mencangkul, hingga mengusir burung yang mengganggu tanaman. Seluruh proses pertanian divisualisasikan melalui rangkaian gerak yang dinamis sebagai representasi kehidupan sehari-hari para petani.

Sementara itu, bagian keempat merupakan puncak pertunjukan yang mengangkat tema pemuliaan sawah.

“Pada bagian ini kami kembali merepresentasikan Tari Sang Hyang Dedari sebagai simbol bahwa alam juga memiliki pesan yang disampaikan melalui manusia. Garapan ini sebenarnya merupakan pengembangan dari karya tahun 2024, hanya saja dipadatkan, baik dari sisi pemain maupun alur cerita, agar sesuai dengan tema Singaraja Literary Festival tahun ini,” ungkapnya.

Pertunjukan berdurasi sekitar 10 menit ini diiringi musik elektronik yang dipadukan dengan nuansa tradisi. Kostum para penari didominasi tiga warna, yakni merah, hitam, dan putih, yang melambangkan Tridatu sekaligus merepresentasikan nilai-nilai Tri Hita Karana.

“Walaupun mengangkat tema persawahan, konsep Tri Hita Karana tetap hadir di dalamnya. Ada aspek Palemahan saat manusia mengolah sawah, Pawongan melalui semangat gotong royong, dan Parahyangan yang diwujudkan dengan mengawali setiap proses bercocok tanam melalui upacara,” pungkas Putu Bratria Dama Dayanu.

sangkarbet
Tags: siaran persSLF 2026
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Banjir Makin Mudah Warga Meresah

BPBD Bali Eksplorasi AI untuk Perkuat Peringatan Dini dan Respons Bencana

5 October 2026
Mencari Gas Elpiji 3Kg di Kota Denpasar Serasa Berburu Barang Selundupan

[Respon Artikel Opini tentang Kelangkaan LPG] Pertamina Patra Niaga Perkuat Penyaluran LPG 3 Kg di Denpasar

30 September 2026
Penataan Gajah Mada Memprioritaskan Pejalan Kaki

Penataan Gajah Mada Memprioritaskan Pejalan Kaki

29 September 2026
Okamaha Meluncurkan Album Sunset Economy

Okamaha Meluncurkan Album Sunset Economy

20 September 2026
Warga Pemaron Adukan Pemerintah atas Pencemaran PLTD Pemaron

Warga Pemaron Adukan Pemerintah atas Pencemaran PLTD Pemaron

16 September 2026
Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

10 September 2026
Next Post
Anak Muda dan Peristiwa 65: Tidak Seperti di Buku Pelajaran dan Study Tour

Romantisme Pulang: Kisah Kelam 1965 yang Tersensor

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Penyebab Kematian Korban Bencana di Bali

Mediasi Deadlock, Gugatan Warga Negara Pulihkan Bali Lanjut ke Sidang Perkara

21 October 2026
Tantangan Ketersediaan Lahan Menuju Target Proyek PLTS di Bali

Tantangan Ketersediaan Lahan Menuju Target Proyek PLTS di Bali

20 October 2026
Kelangkaan BBM di Bali: Contoh Kegagalan Mitigasi dan Komunikasi Risiko

Kelangkaan BBM di Bali: Contoh Kegagalan Mitigasi dan Komunikasi Risiko

20 October 2026
Pemerintah Lalai, Bali Digerakkan Daily Worker dan Kini Harus Begadang Massal untuk BBM

Mencari Kepastian di Tengah Antrean BBM

19 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia