
Oleh: I Putu Aditya Natha Wijaya
Gula Pedawa, hidangan manis berwarna merah pekat khas Desa Pedawa, mungkin sudah tidak asing lagi bagi banyak orang. Namun di balik namanya yang mulai dikenal luas, warisan budaya ini justru tengah menghadapi ancaman yang bisa membuatnya perlahan hilang dan terlupakan.
Jiwa Kuliner Desa Pedawa

Selama ratusan tahun, Gula Pedawa telah mengakar kuat sebagai bagian dari budaya masyarakat Desa Pedawa. Salah satu tradisi unik yang masih dijaga hingga kini adalah kebiasaan meminum kopi hitam dengan Gula Pedawa sebagai pemanis: gula digigit terlebih dahulu, baru kemudian kopi diseruput, menghasilkan perpaduan rasa dan sensasi yang khas. Tidak hanya sebagai teman minum kopi, Gula Pedawa juga menjadi bahan utama berbagai camilan manis khas Desa Pedawa. Kehadirannya dalam hidangan dan camilan sehari-hari menjadikan Gula Pedawa bukan sekadar pemanis, melainkan jiwa dari budaya kuliner Desa Pedawa itu sendiri.
Proses Panjang di Balik Cita Rasa Khas
Manisnya Gula Pedawa tidak datang dengan mudah. Bahan baku utamanya, nira aren, berasal dari pohon yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa dipanen. Pohon aren dapat hidup hingga 20-50 tahun, namun masa produktif untuk menghasilkan nira baru dicapai setelah 6 hingga 12 tahun sejak awal penanaman, dengan penyadapan pertama umumnya dimulai pada usia 7-8 tahun. Selama hidupnya, satu pohon aren yang sehat mampu menumbuhkan sekitar 4 hingga 10 tandan bunga jantan, sumber nira yang akan disadap.

Masa penyadapan sendiri berlangsung selama 2 hingga 3 bulan, dengan masa produktif total mencapai 3 hingga 6 tahun. Pada masa produktif ini, satu pohon dapat menghasilkan 10 hingga 20 liter nira per hari melalui dua kali proses penyadapan. Para petani atau pengrajin Gula Pedawa biasanya mengambil nira pada pagi dan sore hari, dengan hasil sekitar 5-10 liter setiap kali penyadapan.
Panjangnya waktu tunggu ini berlanjut pada proses pengolahan nira menjadi gula aren dengan cita rasa khas, yang juga memakan waktu tidak singkat. Ironisnya, justru proses yang rumit dan panjang inilah yang membuat semakin sedikit masyarakat Desa Pedawa yang memilih menjadi pembuat Gula Pedawa. Ditambah lagi, tidak ada jalur pembelajaran formal untuk keterampilan ini selama turun-temurun, resep dan teknik pembuatan Gula Pedawa diwariskan layaknya resep keluarga, dari generasi ke generasi, demi menjaga keaslian rasanya.
Ancaman dari Peralihan Lahan

Bukan hanya jumlah pengrajin yang menurun, populasi pohon aren di Desa Pedawa pun ikut menyusut. Selama 80 tahun terakhir, desa ini mengalami pergeseran pola tanam yang signifikan. Pada mulanya, sebagian besar lahan di Desa Pedawa didominasi oleh tanaman kopi dan aren, hingga cengkeh mulai masuk dan menggeser posisi keduanya. Hampir seluruh warga yang memiliki lahan beralih menanam cengkeh, dan sejak saat itulah jumlah pembuat Gula Pedawa mulai berkurang.

Penurunan yang lebih drastis terjadi ketika warga kembali beralih, kali ini ke tanaman durian. Untuk memberi ruang bagi durian mendapatkan sinar matahari yang cukup, banyak warga yang enggan menebang cengkeh yang sudah ada memilih menebang pohon aren sebagai gantinya. Akibatnya, jumlah pohon aren di Desa Pedawa menurun secara tajam.
Upaya Pelestarian: Kelompok Tani Getah Uyung
Kekhawatiran akan hilangnya pohon aren dan Gula Pedawa mendorong lahirnya sebuah gerakan pelestarian. Pada 16 Desember 2020, dikukuhkanlah Kelompok Tani Getah Uyung, kelompok tani yang berfokus pada budi daya pohon aren dan beranggotakan petani serta peternak Desa Pedawa yang juga merupakan pengrajin Gula Pedawa.

“Kami berfokus pada pembudidayaan pohon aren di Desa Pedawa juga pengembangan Gula Pedawa agar memiliki nilai jual dan daya tarik lebih sehingga peminatnya terus bertambah,” ujar Nyoman Sumayasa, salah satu anggota Kelompok Tani Getah Uyung.
Setiap tahun, kelompok ini aktif menanam dan membudidayakan lebih dari 1.000 bibit pohon aren. Para anggotanya juga rutin melakukan pemantauan dan pemetaan terhadap persebaran serta pertumbuhan pohon aren yang telah ditanam. Tak berhenti di situ, mereka kerap mengadakan lokakarya tentang cara mengembangkan Gula Pedawa, yang kemudian melahirkan sejumlah produk turunan menarik seperti Sengait rengginang khas Desa Pedawa dan Gula Pedawa mini dengan berbagai bentuk unik. Dedikasi para anggota Kelompok Tani Getah Uyung ini pun berhasil menarik perhatian berbagai komunitas dan pemerintah untuk turut memberikan pemberdayaan dan dukungan dalam upaya budi daya pohon aren di Desa Pedawa.
Bertahan Bersama Perubahan Zaman

Di tengah ancaman perkembangan zaman, Gula Pedawa kini menemukan jalannya untuk bertahan melalui berbagai upaya pelestarian. Langkah budi daya yang dilakukan Kelompok Tani Getah Uyung telah membantu mencegah punahnya pohon aren sekaligus warisan Gula Pedawa, sementara berbagai inovasi produk turut mendongkrak nilai jualnya di pasaran. Kesadaran yang tumbuh di kalangan masyarakat juga berperan penting dalam pemulihan populasi pohon aren di kawasan Desa Pedawa.
Pada akhirnya, keberlangsungan sebuah budaya bergantung pada kemauan masyarakatnya untuk terus melindungi, mengembangkan, dan mempertahankannya. Selama semangat itu tetap hidup, Gula Pedawa akan terus menemukan tempatnya, betapa pun zaman terus berubah.
(Cerita foto ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)









