
Oleh: Putu Agus Widiartawan (aguswidiartawan01@gmail.com)
Desa Pedawa merupakan salah satu desa Bali Aga yang berada di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali. Desa ini masih mempertahankan adat istiadat, budaya, dan tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Berada pada ketinggian sekitar 400–1.050 mdpl, Desa Pedawa memiliki banyak sumber mata air yang dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta sebagai sarana upacara. Saat ini tercatat terdapat sekitar 85 titik mata air di Desa Pedawa.

Namun, masyarakat perlu waspada terhadap kondisi sumber mata air yang mulai mengalami penurunan debit, bahkan beberapa di antaranya mengalami kekeringan pada musim kemarau. Jangan langsung menganggap bahwa kondisi ini hanya disebabkan oleh musim kemarau. Penurunan debit mata air dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga perlu dipahami berdasarkan fakta dan data.

Salah satu penyebab yang diduga berkontribusi adalah berkurangnya jumlah pohon akibat penebangan. Pohon memiliki peran penting dalam menyerap air hujan ke dalam tanah sehingga menjaga cadangan air tanah dan membantu mempertahankan aliran mata air.
Ketika jumlah pohon berkurang, kemampuan tanah menyerap air ikut menurun sehingga cadangan air tanah berpotensi berkurang. Akibatnya, debit beberapa mata air dapat menurun, terutama pada musim kemarau. Kondisi ini mulai dirasakan masyarakat yang mengandalkan air dari jaringan Spamdes (Sistem Penyediaan Air Minum Desa) maupun sumber mata air secara langsung.

Di sisi lain, ada anggapan bahwa penurunan debit mata air hanya terjadi karena musim kemarau. Padahal, musim kemarau memang memengaruhi ketersediaan air, tetapi perubahan tutupan lahan dan berkurangnya vegetasi juga dapat menjadi faktor yang memperparah kondisi tersebut. Oleh karena itu, penting untuk melihat penyebabnya secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada satu faktor.

Upaya konservasi yang sudah dilakukan oleh komunitas Kayoman Pedawa yaitu merawat dan menam pohon di beberapa titik sumber mata air yang sudah mengalami penurunan debit air, selain itu Kayoman Pedawa berusaha mejaga debit mata air yang masih setabil agar tidak mengalami penurunan dengan terus melakukan konservasi.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi mengenai kondisi sumber mata air di Desa Pedawa, fungsi pohon sebagai daerah resapan air, serta referensi dari penelitian dan literatur mengenai konservasi sumber daya air. Beberapa data, seperti jumlah titik mata air dan kondisi di lapangan, sebaiknya diverifikasi melalui pemerintah desa atau instansi terkait agar informasi yang disampaikan semakin akurat.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)








