• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, September 11, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Bandem Kamandalu by Bandem Kamandalu
11 September 2026
in Budaya, Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Oleh: Bandem Kamandalu

“Coba luangkan waktu sebentar dan pejamkan mata,” ajak Made Suisen, seorang pemuda Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng ketika berada di Kayuan Muncus, salah satu sumber mata air yang ada di desanya. Mata yang tertutup membuat fokus teralihkan ke indra pendengaran, suara tonggeret dan cipratan air memenuhi lanskap Kayuan Muncus sore hari itu.

“Sudah, sekarang buka matanya. Itu yang sering bli lakukan saat baru pertama kali datang ke suatu tempat,” katanya memperjelas. Praktik itu ia lakukan untuk berkenalan lebih dalam dengan tempat baru, tidak hanya lewat penglihatan, namun benar-benar mengandalkan perasaan untuk mendefinisikan hal-hal yang sering kali tak tampak dan sulit dijelaskan.

Namun kedatangan Made Suisen ke Kayuan Muncus sore itu bukanlah hal baru. Mengingat ia bersama pemuda desa lainnya yang tergabung dalam Komunitas Kayoman telah aktif memetakan dan merawat sumber-sumber mata air yang ada di desa sejak tahun 2016.

Seorang perempuan sedang mengisi jerigennya dengan air dari Kayuan Muncus (Foto: Bandem Kamandalu)

Selama rentang tahun 2016 hingga kini, Komunitas Kayoman berhasil memetakan 79 titik sumber mata air. Upaya pemetaan itu muncul dari kesadaran akan kondisi geografis desa yang berada di wilayah punggungan bukit, karakteristik seperti itu menjadikan air sebagai sumber daya yang vital. Mereka sadar betul bahwa pasokan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga dan lain-lain sangat bergantung dari sumber-sumber mata air tersebut.

Keberadaan mata air tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan fisik semata tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat Pedawa. Hal itu tercermin dari laku spiritual dan budaya yang masih mereka jalani hingga kini.

Desa yang tergolong Bali Aga (desa tua) ini punya beragam tradisi yang berelasi kuat dengan air atau mereka menyebutnya sebagai Gama Tirta. Satu dari sekian banyak tradisi yang ada misalnya prosesi ngeyehin karang, sebuah ritual yang ditujukan untuk menghormati makhluk-makhluk bhuta kala yang ada di pekarangan rumah agar dapat hidup berdampingan. Ritual tersebut memerlukan 11 jenis air dari sumber yang berbeda-beda.

Sumber-sumber air yang diperlukan untuk memenuhi 11 air itu adalah, (1) air yang ada pada rongga atau empul buluh bambu jenis lokal, (2) yeh paung batu atau air yang ada di genangan batu, (3) paung bun atau genangan air yang ada di lubang akar tanaman, (4) capcapan semer atau rembesan tepian sumur, (5) air dari belahan tukad atau ujung pertemuan antara dua sungai, (6) yeh apit munduk atau air yang didapat dari wilayah datar di antara dua tanah tinggi, (7) yeh anyar atau air yang berasal dari pancuran, (8) yeh mare tumbuh atau air yang baru keluar dari pangkal pancuran, (9) yeh lembua atau air dari nasi yang didinginkan, (10) air yang berasal dari tunggal ampel atau rongga bekas potongan bambu, dan yang terakhir (11) yeh ampel atau air yang didapat dari sisa potongan bambu.

Kayuan Sabih, mata air yang digunakan untuk menyucikan Taulan (arca batu)  (Foto: Bandem Kamandalu)

Upacara itu menjadi semacam bentuk pemantauan terhadap sumber-sumber mata air, tanaman, dan kondisi alam. Keragaman sumber air yang dibutuhkan dalam rangkaian upacara tersebut memungkinkan warga tahu dan mengenal kondisi ekologis desanya.

Selain 11 air dalam prosesi ngeyehin karang, ada salah satu mata air yang berperan begitu krusial dalam laku spiritual dan budaya di desa ini. I Wayan Sadyana, Ketua Sekolah Adat Manik Empul Desa Pedawa bilang, “Ida Betara (manifestasi Tuhan) di Taulan (arca batu) itu tidak akan terima kalau disucikan dengan air laut hasil suling. Tapi Ida Betara itu hanya kayun (bersedia) disucikan kalau diambilkan air itu dari Kayuan Sabih (salah satu mata air di Desa Pedawa).”

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keberlanjutan budaya dan spiritualitas di desanya tanpa adanya mata air tersebut. Jika keberadaan sumber-sumber mata air itu mengering maka perlahan kehidupan dan kebudayaan di Pedawa juga terancam hilang.

Masih Dihantui Kekeringan

Masih terbayang di ingatan Susila soal kondisi di desanya tahun 1997, sebab pada tahun itu, Pedawa dilanda kekeringan. “Tahun 97 kita kekeringan, tahun 97 kekeringan parah. Ini [Kayuan Muncus] debitnya kecil sekali,” ingatnya sembari menunjuk mata air Muncus.

Kekeringan yang terjadi tahun 1997 menjadi memori kolektif warga Pedawa, hal itu lantaran tidak hanya Susila seorang yang masih mengingat kejadian itu, melainkan juga terkonfirmasi melalui cerita-cerita Made Suisen dan I Wayan Sadyana ketika diminta bercerita soal kondisi air di desa mereka.

Perubahan budidaya jenis tanaman disinyalir menjadi salah satu penyebab penurunan debit air dan kekeringan yang terjadi di Pedawa waktu itu. Meneropong jauh ke belakang pada tahun 50an hingga 70an, lanskap Desa Pedawa masih dipenuhi oleh tanaman aren (Arenga pinnata). Pohon jenis ini termasuk tanaman yang mampu menyimpan air dengan baik. Namun perubahan mulai terjadi ketika tahun 80an, saat tanaman cengkeh mulai dikenalkan dengan embel-embel hasil yang lebih menjanjikan.

Penanaman cengkeh yang masif juga membuat penggarap tanah rela mengorbankan pohon-pohon besar penyimpan air. “Cengkeh itu kan relatif dalam tanda kutip egois gitu. Dia butuh paparan sinar matahari yang bagus, butuh penyinaran yang bagus sehingga [pohon] yang di sekitar atau di atas cengkeh itu dibabat semuanya,” lanjut I Wayan Sadyana. Selain itu, kondisi wilayah Pedawa yang ideal untuk menanam cengkeh membuat investasi tanah saat itu semakin masif sehingga terjadi banyak perubahan kepemilikan tanah.

Lanskap Pedawa yang terjal dan sebagian besar ditanami cengkeh. Terlihat pipa membentang menyalurkan air dari bawah ke area rumah warga di atas (Foto: Bandem Kamandalu)

Permasalahan lain mengenai penurunan debit air juga diceritakan oleh Made Suisen. Menurutnya, kondisi debit air di Pedawa juga terpengaruh oleh wilayah di hulu khususnya di Asah Gobleg. “Pedawa bagian atas itu kadang juga kalau musim kering begini mereka sangat kekurangan air. Karena apa? Mereka jatuh airnya kan ke bawah ya lebih banyak. Kenapa di sana berkurang? Itu dulu. Karena daerah di atas, Asah Gobleg itu dulunya itu kan pohon-pohon besar.” Ia juga menambahkan bahwa kini di wilayah hulu tersebut lebih banyak ditanami sayur-mayur, tanaman bunga, dan pohon jeruk. 

Rumitnya persoalan air di desa ini dapat dibayangkan dari cerita Made Suisen di atas. Wilayah desa yang berbukit menyebabkan pemukiman tempat tinggal warga terpisah-pisah, ada Pedawa bagian atas yang berhulu ke wilayah Asah Gobleg, juga ada wilayah Pedawa bagian bawah yang berhulu dan ketersediaan airnya tergantung dari kondisi Pedawa bagian atas.

Kondisi air tanah yang saling bertaut ini dapat dijelaskan melalui fenomena hidrogeologi. Oka Agastya, seorang Geosaintis bilang, “Ibarat kayak spons yang saling terhubung itu kan. Makanya kalau dulu kan kita pernah belajar namanya kapilaritas. Itu kan ada kalau di istilah geologinya ada porositas dan permeabilitas. Porositas itu kemampuan batuan untuk menyimpan air. Kalau permeabilitas kemampuan batuan untuk menyalurkan air,” tuturnya sambil menunjuk layar laptop, menerangkan peta hidrogeologi Bali.

Peta Kondisi Hidrogeologi Pulau Bali. Arti warna urut sesuai legenda: Biru tua (solid) — Akuifer produktif tinggi, Biru sedang (solid) — Akuifer produktif, Biru muda (solid) — Akuifer produktivitas sedang, Biru garis-garis vertikal (hatch) — Setempat akuifer produktivitas sedang; lapisan tipis, keterusan rendah,  Hijau kebiruan tua (teal, solid) — Akuifer produktivitas tinggi, penyebaran luas, Cyan/turquoise (solid) — Akuifer produktivitas sedang, penyebaran luas, Hijau mint sangat muda (solid) — Setempat akuifer produktif, Hijau sedang (solid) — Akuifer produktif sedang,  Hijau muda (solid) — Setempat, akuifer produktif, Salem/peach muda (solid) — Akuifer produktivitas rendah,  Salem/coral (solid, lebih tua) — Daerah air tanah langka (Sumber: Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Sub. Direktorat Pendayagunaan Air Tanah)

Dari peta hidrogeologi itu, Desa Pedawa termasuk wilayah dengan muka air tanah yang tergolong dalam. Kondisi tersebut menyebabkan eksplorasi terhadap air tanah cukup sulit untuk dilakukan. Lebih lanjut lagi Oka Agastya mengungkapkan bahwa secara hidrogeologi daerah ini punya tugas penting sebagai wilayah tangkapan air hujan karena jenis akuifernya produktif yang mampu menyimpan serta mengalirkan air tanah.

Selain itu, melalui peta tersebut diketahui pula bahwa aliran air tanah yang melintasi Desa Pedawa turun dari wilayah hulu (selatan) ke arah hilir (utara). Oleh karena itu kondisi air di desa ini sejatinya juga dipengaruhi oleh tutupan lahan dan vegetasi di wilayah hulu yang berada di bagian selatannya.

Maka menguraikan permasalahan air di desa ini bukanlah perkara mudah. Begitu pula soal perlindungan sumber mata air, mengingat ekosistem air tersebut saling terhubung satu sama lain.

Hantu Baru

Seperti bibit cengkeh yang mulai ditanam pada tahun 80an, kini industri pariwisata pun mulai menanam bibitnya di tanah Pedawa. Pertumbuhan ini mendorong penelusuran terhadap akomodasi pariwisata, guna memberi visualisasi kondisi pariwisata di Desa Pedawa dan kawasan hulu sekitarnya yang turut berpengaruh terhadap kondisi air di desa ini.

Hasil penelusuran menunjukkan ada tiga akomodasi yang telah dibangun di wilayah Pedawa. Ketiganya dibangun dalam wujud yang berbeda-beda, ada akomodasi yang berwujud hotel lengkap dengan kolam renang, glamping (glamorous camping), dan homestay.

Di kawasan hulu, khususnya wilayah Gobleg dan Munduk, akomodasi pariwisata tumbuh lebih padat. Tren pariwisata yang mengincar ketenangan sekaligus kondisi cuaca yang sejuk jadi salah dua alasan mengapa wilayah tersebut digandrungi penanam modal.

Persebaran akomodasi pariwisata di Desa Pedawa dan sekitarnya. Garis putus-putus berwarna kuning adalah batas wilayah Desa Pedawa. Titik berwarna biru menandakan hotel, titik hijau menandakan vila, titik merah menandakan homestay/penginapan, titik ungu menandakan camping/glamping, titik oranye menandakan hostel, dan titik abu-abu menandakan akomodasi lainnya (Data diolah oleh Kresnanta)
Klik untuk melihat visualisasi

Pertumbuhan pariwisata secara tidak langsung seperti memantik kembali ingatan soal hantu kekeringan di masa lalu. 

“Nah, bli yang bli takutkan itu kalau misalnya apa? Pemilik-pemilik vila itu, mereka kalau tidak dibentengi dengan pararem atau awig-awig (peraturan adat) atau dengan tata ruang itu, mereka ya bisa seenaknya”, kata Made Suisen.

Kekhawatirannya terhadap industri pariwisata terfokus pada masalah pemanfaatan dan pendistribusian sumber air. Salah satu yang Suisen ceritakan adalah soal eksplorasi air tanah menggunakan sumur bor.

 “Tapi kalau mereka [akomodasi pariwisata] misalnya menggunakan sumur bor gitu misalnya. Nah, itu kan aliran sungai di bawah tanah itu kan semacam kayak ada aliran sungai yang apa sifatnya saling berkaitan. Kalau itu misalnya dibor berapa kayuan (sumber mata air) yang nanti akan hilang?”. 

Tanda tanyanya di akhir ceritanya menegaskan betapa pentingnya kayuan tersebut bagi kehidupan warga desa.

Persoalan tentang air dan pariwisata di Bali pernah diteliti oleh Stroma Cole dalam artikelnya “A Political Ecology of Water Equity and Tourism: A Case Study From Bali” pada tahun 2012. Penelitiannya menggambarkan bagaimana pariwisata menjadi industri dengan penggunaan air yang boros, akibatnya warga lokal sering kali harus bersaing agar bisa mendapat sumber daya tersebut.

Apa yang diteliti oleh Cole hampir terjadi di Pedawa. 

“Itu [sumber mata air Kayuan Sukajati] bahkan kemarin hampir terjadi kasus itu mau disedot pakai mesin sama ada pemilik restoran di sebelahnya Desa Selat itu karena dia juga memiliki tanah di areal tersebut,” urai Made Suisen. 

Persoalan semakin pelik lantaran pemilik restoran memiliki tanah di area Kayuan Sukajati, sehingga merasa berhak terhadap sumber air yang ada. Kayuan Sukajati yang diceritakan itu adalah salah satu mata air dengan debit yang cukup besar di Desa Pedawa. Mata air itu menghidupi rumah-rumah warga di dusun Insakan dan Bangkiang Sidem.

Aturan soal perizinan penggunaan air dijelaskan oleh I Putu Adiptha Ekaputra, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPERKIM) Kabupaten Buleleng. 

“Jadi untuk keperluan bisnis, sumur bor enggak boleh. Untuk bisnis maksudnya untuk di Bali. Dilarang,” jelasnya. 

“Jadi orang enggak boleh ambil air secara langsung, langsung pakai mesin [sumur bor] enggak boleh. Tapi kalau ada mata air di dalam wilayahnya boleh,” terang Adiptha lebih lanjut. 

Jika mengacu pada apa yang dijelaskan Adiptha soal pemanfaatan air, maka cerita Made Suisen di atas soal restoran yang hendak menyedot air secara langsung dari mata air Sukajati seakan menjadi sah-sah saja.

Namun menurut Suisen, mata air adalah kekayaan negara yang tidak bisa diklaim secara sepihak. “Kalau mereka [merujuk pada pemilik akomodasi] mau menggunakan [air] seberapa persen mereka menggunakan, seberapa persen [air] untuk masyarakat.” Pernyataan itu menegaskan pentingnya keadilan dalam distribusi air, kebutuhan masyarakat tentu berbeda dengan kebutuhan pariwisata yang notabenenya menggunakan air lebih banyak. 

Mengingat Kembali Pesan Leluhur

Pentingnya air untuk memenuhi kebutuhan dasar serta nilai esensialnya dalam spiritualitas masyarakat Pedawa direspons melalui berbagai gerakan. Apabila Komunitas Kayoman aktif merawat sumber air dengan melakukan penanam pohon, Sekolah Manik Empul mencoba menanam kembali pengetahuan adat bagi generasi penerus di Pedawa.

Sekolah Adat Manik Empul hadir sejak 2024, pendidikan adat ini diinisiasi melalui program kerja sama antara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Dana Nusantara (DANUSA). Sejak tahun itu Sekolah Adat Manik Empul berupaya menjalin kembali pengetahuan leluhur lewat kurikulum yang diajarkannya.

I Wayan Sadyana bercerita dalam perjalanannya mengasuh sekolah adat, ia melakukan kajian dan menemukan setidaknya ada 33 jenis air yang digunakan dalam berbagai ritual oleh masyarakat Pedawa. Hasil kajiannya itu kemudian dituangkan dalam bentuk modul dan diajarkan kepada anak-anak muda di sekolah adat.

Selain itu, Sadyana juga tengah menelusuri kembali pengetahuan lokal yang berkaitan dengan konservasi dan mitigasi lingkungan. Ia mengetuk satu per satu rumah tetua, mendengarkan cerita, dan mencatat temuan-temuan agar bisa diwarisi.

Pengetahuan lokal tertuang lewat tabu budaya, semacam larangan-larangan tertentu yang berkaitan dengan keyakinan setempat. Ia kemudian mencontohkan dengan dialek Pedawa “Ara dadi ngebah kayu di tukade (Tidak boleh menebang pohon di sekitar sungai)”. Lokasi tersebut dipercaya sebagai tongos memedi (rumah makhluk halus). Masyarakat percaya apabila menebang pohon di sekitar sungai, maka memedi akan kehilangan rumahnya dan bisa ikut ke rumah si penebang pohon. Di sana memedi dipercaya akan ikut ngamah (makan) sehingga menyebabkan si pemilik rumah menjadi boros.

“Ara dadi ngae umah di ulun lebah (Tidak boleh membangun rumah di ujung jurang),” ujar I Wayan Sadyana, menyebut satu lagi tabu budaya yang ia dapat dari para tetua desa. Namun tabu ini justru mengalami kontradiksi ketika dihadapkan dengan akomodasi pariwisata. “Tapi kan sekarang yang menjadi primadona kan daerah-daerah begini [tepian jurang] yang untuk pariwisata itu”, katanya memperjelas. 

Putu Karina Pravitasari, pengajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana menjelaskan bagaimana tabu budaya bekerja dalam tatanan masyarakat.

 “Itu kan suatu hal yang berkaitan dengan hal-hal yang dianggap suci, dianggap kotor, dianggap berbahaya, yang kalau misalkan itu dilanggar akan menyebabkan sesuatu gitu,” jelasnya. 

Tabu budaya tidak semata-mata hadir sebagai larangan yang bersifat abstrak. Diperlukan kejelian untuk melihat makna laten yang sering kali tersembunyi di baliknya. Putu Karina Pravitasari memaknai tabu budaya sebagai bentuk penyesuaian antara masyarakat Pedawa dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

“Lahirnya tabu itu sebenarnya disesuaikan oleh kebutuhan masyarakat untuk menjaga tatanan masyarakatnya. Baik itu untuk melindungi lingkungan alam sekitarnya, melindungi keteraturan sosial di dalam masyarakatnya atau mungkin juga bisa apa namanya melindungi moral atau perilaku-perilaku masyarakatnya untuk menghindari dari perilaku-perilaku yang negatif,” kata Putu Karina Pravitasari.

Namun tampaknya hal-hal semacam tabu budaya yang dibalut dengan kepercayaan dan magi memang tidak serta-merta dapat dijelaskan secara logis. 

Made Suisen memberi contoh mengenai peristiwa jatuhnya lift di sebuah vila di Ubud yang disinyalir akibat ulah penebangan sebuah pohon besar. 

“Nah, kalau dilihat secara sederhana memang bisa saja karena alatnya. Tapi tidak sederhana itu kalau misalnya kita masih di Bali,” ujarnya.

Upaya mengingat tabu melalui tutur tetua jadi salah satu penguatan yang dapat dilakukan dari dalam masyarakat. Tabu-tabu yang memiliki nilai konservasi dapat diadaptasi ke dalam pararem atau awig-awig (hukum adat setempat) guna membentengi tempat-tempat penting yang berkaitan dengan konservasi air.

“Kita kan di Bali biasanya percaya bahwa ada makhluk-makhluk yang tak kasat mata gitu misalnya yang berdiam di sana. Jadi kalau kita merusak alam mereka, mengganggu kehidupan mereka, ya jangan salahkan mereka balas dendam,” kata Made Suisen lebih lanjut. 

Dengan kata lain, kehadiran tabu budaya ini menjadi semacam cara para leluhur Pedawa memberi batas-batas tertentu pada hal yang dianggap dapat merugikan.

(Liputan ini didukung oleh CIMB Niaga dan Indonesian Institute of Journalism (IIJ) melalui Sustainability Journalism Fellowship 2026)

Tags: air di Balibudaya air di balidesa pedawasumber air
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Bandem Kamandalu

Bandem Kamandalu

Masih kuliah di jurusan Arkeologi Unud. Antusias dengan bangunan-bangunan jadul. Obrolan lebih lanjut sila klik instagramku di bawah ini.

Related Posts

Menjaga Hulu, Menata Wisata di Desa Pedawa

Menjaga Hulu, Menata Wisata di Desa Pedawa

3 September 2026
Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

21 August 2026

Gula Pedawa: Warisan Manis yang Berjuang Bertahan

13 August 2026
Air Menipis di Pulau Tirta: Masalah Akses di Perkotaan hingga Resapan di Hulu

Turis dan Penduduk makin Banyak, tetapi Krisis Air Kian Mengintai

3 July 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Nyepi Bukan Hanya Sekali, Ini Ragam Nyepi di Pulau Bali

Nyepi Bukan Hanya Sekali, Ini Ragam Nyepi di Pulau Bali

1 March 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

Memedi dan Ekologi, Setetes Air yang Terus Dijaga di Pedawa

11 September 2026
Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

Megaproyek Bali Barat dan Utara: Beberapa Sempat Lenyap, Lalu Muncul Lagi

10 September 2026
Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

Perkuat Kapasitas Individu untuk Tangguh Bencana

10 September 2026
Transisi Energi Mesti Diikuti Pemanfaatan PLTS Atap dan Menghentikan Pembangkit Gas

Transisi Energi Mesti Diikuti Pemanfaatan PLTS Atap dan Menghentikan Pembangkit Gas

9 September 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia