
Secara nasional, masyarakat Bali melakukan Nyepi setiap sekali dalam setahun. Nyepi dilakukan setiap tilem kesanga, bertepatan dengan Tahun Baru Saka. Selama pelaksanaan Nyepi, masyarakat melakukan Catur Brata Penyepian sehari penuh. Maka, ketika Nyepi dilaksanakan, Pulau Bali sunyi dan gelap.
Selain Nyepi yang dilaksanakan secara bersamaan di Bali, beberapa desa juga memiliki Nyepi Adat yang dilakukan secara lokal desa setempat. Kesamaan Nyepi Adat di beberapa desa adalah pelaksanaannya beriringan dengan ngusaba desa dan berkaitan erat dengan profesi masyarakat desa tersebut.
Nyepi Adat Desa Cempaga
Di Desa Cempaga, Kabupaten Buleleng, Nyepi Adat dilakukan berdasarkan perhitungan pawukon yang dikaitkan dengan perayaan Karya Agung Muayon. Nyepi Adat ini sudah dilakukan secara turun-temurun di Desa Cempaga, dilansir dari jurnal Kontestasi Agama Lokal dengan Agama Hindu di Desa Cempaga Buleleng Bali.
Sebagaimana namanya, Karya Agung Mewayon merupakan upacara paling besar bagi masyarakat adat Cempaga yang dilakukan sekali dalam setahun. Dilansir dari Bali Express, karya ini dilaksanakan selama tiga hari dan berpusat di Pura Desa Cempaga.
Seperti Nyepi pada umumnya, Nyepi Adat di Desa Cempaga juga meliputi melasti dan Catur Brata Penyepian, yaitu amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Selama Nyepi Adat, akses keluar masuk desa ditutup selama 24 jam.
Nyepi Adat Desa Pedawa
Sama seperti desa tetangganya, yaitu Desa Cempaga, Desa Pedawa juga melaksanakan Nyepi Adat. Bedanya, Nyepi Adat di Desa Pedawa dilakukan lima tahun sekali atau bahkan sepuluh tahun sekali.
Nyepi Adat dilakukan berdasarkan kesepakatan ulu desa dan balian. Ulu desa merupakan sistem kepemimpinan adat tradisional yang umumnya digunakan oleh masyarakat Bali Aga. Sementara itu, balian di Desa Pedawa biasanya bertugas sebagai pemimpin upacara keagamaan.
Berdasarkan keterangan Wayan Sadyana, pendiri Sekolah Adat di Desa Pedawa, balian akan menentukan apakah Nyepi dapat dilakukan atau tidak berdasarkan tanda alam. Nyepi Adat dilaksanakan selama rangkaian upacara Ngerebeg. Upacara ini merupakan bagian dari Bhuta Yadnya, yaitu persembahan untuk menyeimbangkan alam semesta. Ngerebeg sendiri ditentukan berdasarkan lelintih nemu gelang atau penanggalan khusus Desa Pedawa.
Nyepi Adat di Desa Pedawa hanya melaksanakan tiga Brata Penyepian, yaitu amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Berdasarkan cerita turun-temurun, amati geni tidak dilaksanakan di Desa Pedawa karena masyarakat Pedawa merupakan penghasil tuak. “Tuak setiap hari harus diolah karena kalau nggak diolah akan terfermentasi jadi tuak wayah,” ujar Sadyana ketika dihubungi melalui telepon pada Selasa, 24 Februari 2026.
Nyepi Adat di Desa Pedawa sudah ada sejak lama secara turun temurun, seperti di Desa Cempaga. Namun, tidak diketahui secara pasti karena tidak ada catatan tertulis mengenai Nyepi Adat ini.
Nyepi Luh dan Nyepi Muani di Desa Ababi
Desa Ababi di Kabupaten Karangasem melakukan tradisi Nyepi Purusa dan Nyepi Pradana yang kemudian lebih dikenal dengan Nyepi Luh dan Nyepi Muani (disebut juga Nyepi Lanang). Dua Nyepi ini tidak dilakukan secara bersamaan, melainkan secara terpisah dengan perhitungan sasih. Seperti namanya, Nyepi Luh dilaksanakan oleh krama perempuan, sedangkan Nyepi Muani dilaksanakan oleh krama laki-laki.
Jurnal Tradisi Nyepi Luh dan Nyepi Lanang di Desa Pakraman Ababi, Kec. Abang, Kab. Karangasem menyebutkan Nyepi Luh diselenggarakan pada hari kajeng tilem sasih kepitu, yaitu bulan mati ketujuh menurut perhitungan Bali. Sementara itu, Nyepi Muani diselenggarakan sebulan kemudian, yaitu pada tilem sasih kaulu, bulan mati kedelapan menurut perhitungan Bali. rangkaian Nyepi ini biasanya diselenggarakan pada saat piodalan di Pura Kedaton Desa Adat Ababi.
Nyepi Luh dan Nyepi Muani di Desa Ababi diperkirakan dimulai pada abad ke-11 Masehi. Namun, tidak ada bukti tertulis terkait hal ini. Asal muasal Nyepi ini dikaitkan dengan kehidupan pertanian masyarakat Desa Ababi. Nyepi Luh dan Nyepi Muani merupakan cara petani untuk mengucapkan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas hasil panen yang melimpah.
Sebagaimana Nyepi pada umumnya, Nyepi Luh dan Nyepi Muani juga melakukan Catur Brata Penyepian. Pada saat Nyepi Luh, krama perempuan melakukan persembahyangan di Pura Kedaton atau Ulun Suwi, dimulai pukul enam pagi. Sementara, saat Nyepi Muani, krama laki-laki melakukan persembahyangan di Pura Dalem.
Nyepi Luh dan Nyepi Muani dimulai pukul enam pagi dan berakhir pada pukul enam sore, selama 12 jam. Meskipun Catur Brata Penyepian dilaksanakan, masyarakat yang tinggal di luar wilayah Desa Ababi masih bisa masuk ke desa.
Nyepi Segara di Kabupaten Klungkung
Sejumlah desa pesisir di Kabupaten Klungkung melaksanakan Nyepi Segara atau Nyepi Laut. Wilayah yang melaksanakan Nyepi Segara adalah Kepulauan Nusa Penida dan Desa Kusamba.
Di Kepulauan Nusa Penida yang terdiri dari Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan, Nyepi Segara tercatat sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong. Dilansir dari jurnal Nyepi Segara sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Nusa Penida dalam Pelestarian Lingkungan Laut, secara tertulis, landasan dan acuan Nyepi Segara telah termuat dalam awig-awig masyarakat Nusa Penida. Di dalamnya terdapat tata cara pelaksanaan, organisasi pelaksana, larangan selama Nyepi Segara, dan sanksi yang dikenakan.
Nyepi Segara merupakan rangkaian acara setelah dilaksanakan upacara pakelem. Upacara ini ditujukan untuk membersihkan air laut dari kotoran-kotoran yang dibuang oleh masyarakat atau akibat kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat.
Sementara tu, Nyepi Segara ditujukan agar makhluk hidup dan lingkungan segara hening setelah penyucian upacara pakelem. Pelaksanaan Nyepi Segara dilakukan setahun sekali, yaitu pada sasih purnama kapat dan dipusatkan di Pura Penataran Ped. Nyepi Segara berlangsung satu hari. Selama seharian, masyarakat Nusa Penida tidak boleh menyentuh air laut, sehingga kegiatan di laut pun dihentikan selama sehari penuh, termasuk layanan penyeberangan dari dan menuju Kepulauan Nusa Penida.
Berbeda dengan Nusa Penida, Nyepi Segara di Desa Kusamba dilaksanakan selama 12 jam, yaitu dari pukul enam pagi hingga enam sore. Nyepi Segara di Desa Kusamba merupakan rangkaian upacara ngusaba desa di Pura Segara dan ngusaba Nini, dilakukan sehari setelah upacara ngusaba di Pura Segara. Dilansir dari Ceraken Kebudayaan Bali, pura ini merupakan pura swagina (pura fungsional berdasarkan profesi) yang diusung oleh masyarakat nelayan dan petani garam yang diempon oleh Puri Kusamba.
Sama dengan Nusa Penida, masyarakat Desa Kusamba juga menghentikan aktivitas di laut selama Nyepi Segara. Bukan hanya aktivitas nelayan dan petani garam yang berhenti, tetapi juga aktivitas transportasi laut yang menghubungkan Kusamba dengan Kepulauan Nusa Penida juga dihentikan. Awalnya, Nyepi Segara hanya dilakukan oleh nelayan dan petani garam, tetapi saat ini dilakukan oleh seluruh masyarakat Desa Kusamba.
Secara turun temurun, masyarakat Desa Kusamba meyakini Dewa Baruna sebaga penguasa lautan sedang mengadakan yoga semadi untuk keselamatan dunia selama Nyepi Segara, sehingga masyarakat tidak boleh mengganggu.
Nyepi Desa Lokasari
Nyepi Desa Lokasari menjadi penutup upacara ngusaba sarwa phala yang dilaksanakan setelah panen padi. Nyepi dilaksanakan berdasarkan hasil musyawarah para sesepuh desa. Sebelum Nyepi, dilakukan pemilihan sekaa roras sebagai penanggung jawab dan pelaksana rangkaian ngusaba.
Jurnal Nyepi Lokal dalam Pengejawantahan Pelestarian Alam di Desa Lokasari Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem menyebutkan Nyepi ini ditujukan sebagai ungkapan terima kasih kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta manifestasinya atas keberhasilan di bidang pertanian. Pelaksanaannya menggunakan dasar perhitungan panen temu tilem. Jadi, pelaksanaan Nyepi tidak sama setiap tahunnya karena berdasarkan waktu panen masyarakat Desa Lokasari.
Nyepi Desa Lokasari dilaksanakan 12 jam dengan tetap melaksanakan Catur Brata Penyepian. Selain mengungkapkan syukur, masyarakat Desa Lokasari juga merenungkan apa yang telah dikerjakan selama ini, apakah telah sesuai dengan hasil yang didapatkan dan sebagai pedoman melakukan kegiatan pertanian yang akan datang.
Sebelum tahun 1990-an, orang-orang dari luar daerah dilarang melewati batas Desa Lokasari. Namun, sejak tahun 1990-an, peraturan mulai sedikit longgar. Warga luar desa diperbolehkan melintasi desa, tetapi tidak diizinkan berhenti, tidak boleh membunyikan klakson, dan tidak boleh singgah ke rumah warga.
situs toto hk pools slot 200 situs slot situs slot sangkarbet cerutu4d









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
