
Penulis: Komang Triyoni Murni Pradeny dan Luh Dhila Gayatri Pradeny
Menarik, satu kata yang mencerminkan rumah Bandung Rangki. Rumah ini merupakan salah satu tipe rumah adat Desa Pedawa yang masih tersisa, yaitu sebanyak 27 rumah tipe Bandung Rangki.
Desa Pedawa memiliki tiga tipe rumah adat, yaitu Bandung Rangki, Sridandan, dan Masegali. Namun, seiring berjalannya waktu, tipe Masegali dinyatakan sudah punah. Bandung Rangki berasal dari kata Bandung yang berarti berhadapan, dan Rangki artinya pembatas. Jadi, Bandung Rangki berarti berhadapan, tetapi dibatasi oleh anyaman bambu, dimana yang berhadapan adalah letak dapur antara rumah satu dengan rumah lainnya.
Sebelum memasuki Bandung Rangki, setiap orang harus membersihkan diri dengan ritual yang disebut meseeban. Meseeban adalah tradisi untuk memohon izin kepada roh leluhur dan menetralisir energi negatif, agar kita diterima dengan baik dan selamat saat berada di tempat ini.

Rumah adat Bandung Rangki bertiang pokok 16 atau 18, terdiri dari satu ruangan, dengan luas bangunan 512m x 672m. Bandung Rangki menggunakan bambu sebagai bahan utama pondasinya karena dulu bahan-bahan itu yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Pedawa.
Bandung Rangki terdiri dari satu ruangan. Dalam satu ruangan terdapat dua tempat tidur, yaitu bale gede (tempat tidur utama) dan bale kecil (tempat tidur yang kecil). Letak bale atau tempat tidur ini berbentuk diagonal. Di samping tempat tidur utama terdapat dapur yang tungkunya selalu menyala (apinya selalu hidup). Meskipun rumah ditinggalkan dalam waktu lama, api tetap tidak padam. Bisanya hal ini disebut dengan istilah nabun.

Di atas tungku terdapat lancat yang berfungsi menyimpan bumbu-bumbuan, penapi berfungsi sebagai tempat menaruh barang yang diambil dalam waktu lama, tempat mengeringkan padi, serta tempat untuk menyimpan gula aren. Sementara, penukup berfungsi untuk tempat menyimpan hasil bumi orang Pedawa, seperti kopi, jagung, dan lain-lain, sekaligus diawetkan dengan cara pengasapan.

Di depan bale gede (tempat tidur utama) terdapat geding untuk menyimpan air minum beserta tempat untuk melakukan persiapan upacara. Dinding Bandung Rangki juga berbeda di setiap sudut. Di depan tungku, ulatan dinding (bedeg) terlihat lebih berongga agar asap dari masakannya bisa keluar. Sementara, ulatan dinding di sekitar kamar atau tempat tidur terlihat rapat agar udara tetap sejuk. Di atas bale gede (tempat tidur utama) juga terdapat tempat persembahyangan.

Dengan demikian, kita dapat memahami betapa pentingnya Bandung Rangki sebagai simbol warisan budaya Indonesia dengan arsitektur yang menarik dan pembuatan bangunan yang dipikirkan fungsinya secara matang oleh para leluhur kita. Oleh karena itu, kita harus terus melestarikan dan menjaga Bandung Rangki agar tetap kokoh dan menjadi contoh bagi generasi-generasi mendatang untuk terus menjaganya. Dengan pelestarian yang terus-menerus, kita dapat memastikan bahwa warisan budaya Indonesia tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas bangsa.
(Salah satu karya Kelas Jurnalisme Warga Desa Pedawa)
sangkarbet kampungbet kampungbet










