• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, January 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Rumah Panggung Loloan makin Hilang

Ni Putu Ayu Sri Parartha Maharani by Ni Putu Ayu Sri Parartha Maharani
6 January 2026
in Budaya, Kabar Baru
0
0
Rumah Panggung Loloan

Penulis: Meldiany Ramadhona, Ni Putu Ayu Sri Parartha Maharani, dan Najla Syifa Laroyba

Di balik antiknya budaya Pulau Dewata yang mempesona, di antara lantungan penjor yang hampir menyentuh tanah, tersembunyi sebuah kampung yang justru hidup dalam irama atmosfer yang berbeda dan khas, yaitu Desa Loloan. Sebuah mutiara tersembunyi di Jembrana, dimana warisan yang hampir terlupakan itu justru menjadi aset berharga yang tak ternilai dari apapun. 

Desa Loloan dikenal sebagai pusat akulturasi dan asimilasi, tempat berbagai suku, budaya, dan adat istiadat berkumpul di satu wilayah yang akhirnya menjadi cikal bakal lahirnya kebudayaan membumi di Kota Jembrana. Kebudayaan ini meliputi dialek yang unik, ragamnya kuliner, serta arsitektur rumah yang khas. 

Berbicara tentang arsitektur, masyarakat Loloan memiliki rumah adat yang setiap elemennya tertuai oleh banyak makna, tujuan, dan asa yang sama. Menuangkan nilai-nilai budaya Melayu di setiap elemennya, menjadikan rumah ini berbeda dengan rumah lainnya. Rumah Panggung Loloan namanya, sebuah rumah yang menjadi identitas sekaligus budaya yang masih dijaga oleh segelintir orang hingga saat ini. Bukan tanpa alasan, kayu yang digunakan pun menggunakan kayu yang khas dan tidak boleh sembarangan.

Rumah Panggung Loloan merupakan monumen saksi bisu perkembangan sejarah Jembrana tempo dulu. Semasa Jembrana berada di bawah pemerintahan Raja Pancoran IV, sekitar tahun 1669 Masehi, Rumah Panggung Loloan banyak dibangun di tepi sungai Ijo Gading dan di sekitar kawasan Bandar Pancoran. 

Begitu masuk ke Kampung Loloan, mata akan disambut dengan rumah yang berjejeran, bukan rumah panggung, tetapi rumah modern pada umumnya. Faktanya, keberadaan Rumah Panggung Loloan semakin terkikis seiring berkembangnya zaman. Hal ini memicu kekhawatiran karena Rumah Panggung Loloan merupakan suatu identitas budaya yang berharga dan menyimpan kisah unik di dalamnya.

Tampak dalam rumah panggung

Kepala Lingkungan Loloan Timur, Muztahidin, menuturkan bahwa awalnya, rumah panggung ini dibangun pada tahun 1700-an saat bencana banjir bandang terjadi. Pada saat itu, warga tinggal di rumah panggung untuk berlindung dari bencana banjir dan hewan buas. Selain itu, Rumah Panggung Loloan pada awalnya dibangun sebagai mushola atau surau, dan diadaptasi menjadi rumah. Oleh karena itu, desain rumah mulai dari posisi pintu, jendela, dan tangga disusun sesuai dengan aturan yang ada. “Selain sebagai tempat berlindung, rumah panggung ini juga tahan gempa, kalau ada gempa sampai skala 7, rumah panggung ini tetap bisa bertahan,” tutur Muztahidin.

Selain kokoh terhadap bencana, rumah panggung juga memiliki nilai estetika tersendiri. Di depan, samping kiri kanan, dan di belakang terdapat hiasan ukiran yang usianya mungkin sudah lebih dari 50 tahun. Masuk ke dalam rumah, semua bagian pondasi rumah terbuat dari kayu. Nama kayunya adalah kayu tangi yang saat ini jumlahnya semakin sedikit di Jembrana

Menurut Muztahidin, faktor utama berkurangnya rumah panggung, yakni jumlah bahan baku yang semakin sedikit, sedangkan Rumah Panggung Loloan memiliki kapasitas yang lebih luas, sehingga memerlukan bahan baku yang banyak dibandingkan rumah pada umumnya. Rumah tersebut memiliki tiga lantai dengan fungsi berbeda. Pada zaman dulu, lantai pertama berfungsi sebagai gudang, lantai dua merupakan lantai utama yang berisikan ruang tamu, dapur, dan kamar tidur. Sementara, lantai tiga berfungsi untuk “menyembunyikan” anak gadis pada masa itu. Pasalnya, masyarakat Loloan percaya bahwa pada situasi tertentu anak gadis mesti dipingit atau diisolasi. Artinya, seorang gadis tidak boleh keluar kamar sebelum mendapatkan pasangan. Semakin bergesernya zaman, fungsi dari ketiga lantai ini mulai diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan keluarga.

Ruang tamu di Rumah Panggung Loloan

“Selain bahan, faktor yang menyebabkan keberadaan rumah ini semakin terancam, ialah faktor warisan. Biasanya, keluarga di sini harus memilih, antara mempertahankan, atau mengikhklaskan. Kalau sudah tidak layak dihuni biasanya langsung dijual begitu saja,” ujar Muztahidin. Ia juga mengungkapkan bahwa tidak sedikit yang memperjualbelikan rumah panggung ini. Biasanya rumah panggung yang dijual akan digunakan sebagai tempat makan, atau vila. Oleh karena itu, tidak sedikit masyarakat Kampung Loloan lebih memilih menjual rumah tersebut.

Karena usianya yang kian menua, Rumah Panggung Loloan perlahan kehilangan para perajin yang memahami dan mampu merancang arsitekturnya. Hal ini yang menyebabkan mereka tidak mampu membangunnya kembali.

Saat ini, Dinas Kebudayaan Kabupaten Jembrana sedang berupaya menjadikan Rumah Panggung Loloan sebagai  cagar budaya, namun karena adanya perbedaan prioritas pelestariam budaya, membuat masyarakat harus menunggu dan menunggu.

Sementara itu, Muziah (55), warga Loloan Timur memiliki persepsi yang berbeda. “Saya tidak merenovasi, hanya menambahkan kamar karena pertambahan jumlah anggota keluarga,” ungkap Muziah. Berbeda dengan Muztahidin, Muziah justru tidak ingin menjadikan rumah panggung milik keluarga untuk dijadikan cagar budaya. Ia khawatir keaslian dan nilai rumah itu akan berubah apalabila dijadikan cagar budaya.

Rumah Panggung Loloan terbuat dari kayu

Warga Kampung Loloan seolah-olah diserang oleh dilema besar, namun dalam mempertahankan identitas dan keaslian budayanya, mereka memiliki caranya tersendiri dalam mempertahankan budaya tersebut.

Walaupun dihadapi dengan berbagai tantangan, masyarakat Loloan tetap berupaya untuk melestarikan keberadaan rumah panggung ini. Contohnya, mereka mempunyai program tersendiri, yaitu Nepeng. Nepeng mirip seperti tradisi Megibung yang ada di Bali. Mereka melakukan kegiatan makan bersama di Rumah Panggung Loloan, kegiatan ini membuat masyarakat menjadi lebih sadar terhadap kebudayaan mereka yang sedang terancam dan membangkitkan kesadaran untuk melestarikan rumah panggung yang masih ada. Rumah Panggung Loloan juga dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya, seperti menjadi rumah baca untuk anak-anak 

Selain itu, mereka kerap menyambut mahasiswa atau para pendatang yang berkunjung ke Kampung Loloan. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperkenalkan Rumah Panggung Loloan, sehingga menjadi bahan literasi baru yang bisa berkontribusi dalam pelestarian rumah panggung.

Meskipun belum ada langkah konkret dari pihak berwenang, masyarakat Loloan tetap berkontribusi dalam melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun temurun.

(Salah satu karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Kabupaten Jembrana)

Tags: Desa LoloanKabupaten Jembranakelas jurnalisme wargarumah panggung loloan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ni Putu Ayu Sri Parartha Maharani

Ni Putu Ayu Sri Parartha Maharani

Related Posts

Perjalanan Anti Mainstream di Jembrana

8 January 2026
Banjir di Banjar Sebual, Warga Bangkit Bersama Setelah Bencana

Banjir di Banjar Sebual, Warga Bangkit Bersama Setelah Bencana

21 December 2025
Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

20 December 2025
Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

15 October 2025
Masa Depan Pantai Sindhu dari Kacamata Pemilik Usaha

Masa Depan Pantai Sindhu dari Kacamata Pemilik Usaha

12 October 2025
“Pesuan Kebisan Ragane” Api Jengah Pemuda Intaran Sanur

“Pesuan Kebisan Ragane” Api Jengah Pemuda Intaran Sanur

10 October 2025
Next Post
Menyusuri Jejak Kertas Daluwang dari Ritual Hingga Seni di Museum Saka

Menyusuri Jejak Kertas Daluwang dari Ritual Hingga Seni di Museum Saka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia