
Kabupaten Jembrana kerap kali menjadi tempat lewat ketika datang atau pergi menggunakan kapal dari Pelabuhan Gilimanuk. Sayang rasanya hanya sekadar melewati kabupaten di ujung barat Pulau Bali ini. Padahal, ada beberapa tempat yang bisa menjadi tempat singgah di Jembrana. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Negara.
Perjalanan dari Denpasar menuju Negara, ibu kota Jembrana, memakan waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan bisa memakan waktu singkat jika jalanan tidak terlalu padat. Lalu lintas menuju Jembrana lebih banyak dilewati truk besar. Truk-truk tersebut ramai ketika sore hingga dini hari dengan tujuan Pelabuhan Gilimanuk. Truk saling salip-menyalip menjadi pemandangan lumrah.
Pemberhentian wajib pertama adalah persimpangan Pura Rambut Siwi. Pura ini menjadi akses utama jalur Denpasar-Gilimanuk. Dalam perjalanan tersebut kami menyempatkan diri untuk turun dan nunas tirta sebagai simbol memohon keselamatan selama perjalanan.
Usai nunas tirta, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi pertama, yaitu Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Palasari di Kecamatan Melaya. Dari depan tampak bangunan gereja didominasi warna putih. Arsitekturnya khas ukiran Bali dengan batu bata. Di depan tampak dua patung Yesus, satu di bawah dan satu di atas.

Begitu masuk ke halaman depan gereja, kami disuguhkan pemandangan dua belas rasul Yesus Kristus, yaitu pengikut terdekat Yesus yang dipilih untuk menyebarkan ajaran-Nya. Masing-masing rasul memegang benda simbolis sesuai panggilan mereka, beberapa di antaranya Simon Petrus, Andreas, Yudas Iskariot, dan Yohanes.
Saat kami berkunjung, pintu gereja sedang tidak dibuka, sehingga kami hanya bisa berkeliling di halaman gereja. Meski begitu, kami menikmati lingkungan gereja yang asri dan ditumbuhi berbagai pepohonan. Kami pun menengok sebentar ke kediaman pastor. Bangunannya khas bangunan zaman Belanda.
Tak jauh dari bangunan gereja, ada juga Gua Maria. Lokasinya sekitar 5 menit dengan berjalan kaki. Ketika menuju Gua Maria, kami melewati Jalan Salib. Jalan Salib merupakan bentuk kebaktian umat Katolik untuk merenungkan penderitaan Yesus Kristus melalui 14 perhentian yang menggambarkan perjalanan-Nya.
Perhentian Jalan Salib yang menjadi tempat kami berdoa berada di sebelah Gua Maria. Lokasinya ada di atas, sehingga perlu menaiki beberapa anak tangga. Salib Yesus berdiri tinggi bersebelahan dengan patung Bunda Maria. Dua patung itu dikelilingi pohon-pohon besar, termasuk beberapa pohon beringin. Di sana juga tersedia bunga mawar bagi pengunjung yang ingin berziarah.



Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jembrana, Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Palasari dibangun pada tahun 1956, menjadikannya gereja tertua di Jembrana. Gereja ini dikenal sebagai destinasi wisata religi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ditemani langit mendung, kami bergeser menuju Bendungan Palasari yang jaraknya hanya 2 km dari gereja. Bendungan tersebut memancarkan suasana seperti film Studio Ghibli, khas dengan tumbuhan hijau dan ketenangannya.
Bendungan Palasari memiliki genangan dengan luas 40 hektar. Air dari bendungan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk mengairi lahan pertanian sekitar. Pemandangan Bendungan Palasari berhadapan langsung dengan hutan lindung, sehingga kami bisa menyaksikan pegunungan dan bukit dari bendungan.

Sejumlah masyarakat tampak hilir mudik. Ada yang membawa alat pancing, ada juga yang membawa senapan untuk berburu. Muda-mudi menjadikan jalan di bendungan sebagai lintasan balap motor.
Pohon dan rerumputan hijau di Bendungan Palasari mengingatkan kami dengan Kebun Raya Bedugul. Hanya saja lebih sepi dan panas. Biasanya, pengunjung dapat menaiki perahu untuk berkeliling bendungan. Sayangnya, kami datang terlalu sore, sehingga tidak bisa menaiki perahu.
Puas mengitari Bendungan Palasari, kami menuju Pelabuhan Pengambengan. Deretan pabrik menyapa ketika masuk ke kawasan pantai. Pabrik-pabrik besar berdiri ditemani aroma asin air laut. Salah satu pabrik yang kami lintasi adalah pabrik sarden, mengingat Pengambengan menjadi sentra industri ikan kaleng terbesar di Bali.

Kapal yang bersandar di Pelabuhan Pengambengan ternyata tidak seperti kapal pada umumnya yang saya temukan di pelabuhan lain. Perahu yang ada di Pelabuhan Pengambengan adalah slerek, perahu yang terbuat dari kayu dengan desain dan ornamen tradisional khas Bugis dan Madura. Perahu ini merupakan perahu ikan yang digunakan oleh nelayan sekitar untuk menangkap ikan. Namun, asal perahu ini bukan dari Jembrana, melainkan dibawa dari Muncar, Banyuwangi.
Ornamen perahu begitu khas, didominasi warna-warna cerah. Di bagian atas perahu terdapat tempat duduk dengan gambar wajah di belakangnya. Dilansir dari Tatkala.co, slerek telah digunakan turun-temurun oleh nelayan Pengambengan. Slerek beroperasi sepasang yang disebut kapal “suami-istri”. Selain menjadi sumber mata pencaharian, perahu ini juga menjadi bagian dari upacara adat seperti Petik Laut setiap setahun sekali.


Ada hal lain yang menonjol di Pelabuhan Pengambengan selain slerek, yaitu aroma sepanjang pantai. Kami merasakan aroma pantai berkali-kali lipat lebih kuat dibandingkan pantai lainnya. Warna air laut sangat mencolok, berwarna hitam pekat. Sampah dan limbah mengikuti arus laut. Aroma yang menusuk hidung membuat kami tak bisa bertahan lama di Pelabuhan Pengambengan.
Perjalanan hari itu kami akhiri dengan mengunjungi tiga destinasi. Setiap destinasi memiliki keunikan tersendiri, berbeda dari destinasi wisata yang terkenal di Bali Selatan. Kami pun tidak ditagih biaya masuk, cukup membayar donasi parkir di gereja.
Nah, apakah kamu tertarik mengunjungi tiga destinasi di atas?






