
Penulis: I Gusti Putu Karunia Setia Putra dan Ni Putu Chika Cipta Dewi
Di balik kuatnya tradisi dan adat di Kabupaten Jembrana, remaja Bali—terutama perempuan—sudah dihadapkan pada berbagai tuntutan sejak usia muda. Pembagian peran dalam keluarga masih menunjukkan perbedaan yang cukup jelas antara laki-laki dan perempuan.
Sejak remaja, perempuan lebih sering dilibatkan dalam pekerjaan rumah dan kegiatan adat seperti mebraye, ngayah, dan pembuatan banten. Peran tersebut perlahan dianggap sebagai kewajiban yang harus dijalani perempuan, meskipun mereka masih berstatus pelajar.
“Walaupun belum menikah, saya hampir tiap hari bantu kerja rumah dan kalau ada upacara adat harus ikut. Kadang capek, tapi kalau nggak ikut, takut dibilang nggak mau belajar adat,” ujar Melani (15), siswi asal Jembrana.
Hal serupa dirasakan oleh remaja perempuan lainnya yang harus membagi waktu antara sekolah dan kewajiban adat.
“Kalau ada acara adat, biasanya saya yang diminta libur sekolah atau pulang lebih awal. Padahal pengen fokus belajar juga,” kata Ayu (15).
Sementara itu, tuntutan yang dirasakan remaja laki-laki cenderung berbeda. Mereka lebih jarang dibebani pekerjaan domestik, meskipun tetap terlibat dalam kegiatan adat tertentu.
“Saya ikut adat juga, tapi jarang disuruh urus dapur atau bikin banten. Biasanya itu tugas perempuan di rumah,” ungkap Depa (16), pelajar asal Jembrana.
Perbedaan pembagian peran ini kerap dianggap wajar karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Namun, bagi remaja perempuan, tekanan sejak usia muda dapat berdampak pada kelelahan fisik dan mental.
Salah satu tradisi di Jembrana yang menunjukkan kuatnya patriarki adalah tradisi makepung. Makepung merupakan perlombaan kerbau yang melibatkan partisipasi masyarakat dan menjadi simbol kebanggaan daerah. Dalam pelaksanaan makepung, peran utama hampir seluruhnya dijalankan oleh laki-laki, baik sebagai joki kerbau, pemilik tim, maupun pengambil keputusan. Sementara itu, perempuan umumnya tidak dilibatkan secara langsung dan lebih sering ditempatkan pada peran pendukung yang kurang terlihat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa peran adat dan keluarga masih dijalankan dengan beban yang tidak seimbang. Membuka ruang dialog tentang pembagian tugas yang lebih adil di lingkungan keluarga menjadi langkah penting agar tradisi tetap terjaga tanpa membebani remaja perempuan secara berlebihan.
Fenomena yang dialami remaja Bali di Jembrana menunjukkan bahwa pembagian peran dalam keluarga dan adat masih belum seimbang, terutama bagi remaja perempuan. Sejak usia muda, mereka telah dibebani berbagai tanggung jawab domestik dan adat yang kerap berjalan bersamaan dengan kewajiban sekolah. Kondisi ini, jika terus dianggap wajar, berpotensi berdampak pada kelelahan fisik dan mental remaja perempuan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama dan ruang dialog di lingkungan keluarga serta masyarakat agar pembagian peran dapat dilakukan lebih adil, sehingga tradisi tetap lestari tanpa mengorbankan generasi muda.
(Salah satu karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Kabupaten Jembrana)










