
Penulis: Gusti Komang Wulan Aprilia, I Wayan Agus Bhara Dhiva
Transportasi ramah lingkungan kini menjadi kebutuhan penting di kawasan wisata, terutama di daerah yang memiliki mobilitas tinggi seperti Sanur, Bali. Salah satu inovasi yang hadir untuk mendukung pariwisata berkelanjutan adalah shuttle listrik Desa Adat Intaran. Kehadiran shuttle ini menjadi solusi transportasi modern yang tidak hanya membantu mobilitas wisatawan, tetapi juga mendukung upaya pengurangan polusi dan kemacetan di kawasan wisata.
Shuttle listrik Desa Adat Intaran mulai beroperasi sejak tahun 2025 dan menjadi salah satu transportasi umum yang cukup diminati wisatawan maupun masyarakat lokal. Berdasarkan hasil wawancara dengan Agus Artika, salah satu sopir shuttle listrik Desa Adat Intaran, sistem operasional shuttle dilakukan dengan pembagian empat shift kerja. “Kita ada empat shift, jadi shuttle muter dari halte ke halte sekitar 15 menit, walaupun kadang tidak selalu tepat karena kondisi jalan,” ujar Agus saat diwawancarai di halte shuttle Pantai Mertasari.
Menurut Agus, penggunaan shuttle listrik lebih ramai pada akhir pekan dan hari libur karena jumlah wisatawan meningkat. Lokasi yang paling sering dipadati penumpang berada di sekitar Jalan Danau Tamblingan dan Pantai Mertasari, terutama pada sore hari. “Kalau Sabtu, Minggu, atau hari libur memang jauh lebih ramai. Penumpangnya banyak dan jalan juga lebih padat,” jelasnya. Pengguna shuttle didominasi oleh wisatawan asing, remaja, serta ibu-ibu bersama anak-anak yang ingin menikmati suasana Sanur dengan nyaman.
Penggunaan kendaraan listrik menjadi keunggulan utama shuttle Desa Adat Intaran. Kendaraan ini tidak menghasilkan asap seperti kendaraan berbahan bakar bensin sehingga lebih ramah terhadap lingkungan. Selain itu, shuttle listrik memiliki suara mesin yang lebih halus sehingga menciptakan kenyamanan bagi penumpang dan masyarakat sekitar. Kehadiran transportasi ini menjadi bagian dari upaya menciptakan kawasan wisata yang bersih dan mendukung konsep green tourism atau pariwisata hijau.
Selain mengutamakan lingkungan, shuttle listrik juga menerapkan pelayanan yang modern dan tertib. Sistem pembayaran dilakukan secara non-tunai menggunakan kartu khusus dengan tarif Rp5.000 per orang. Seluruh data penumpang langsung tercatat dalam dashboard sistem shuttle Intaran yang dikelola oleh admin. Menurut Agus, sopir juga diwajibkan mengikuti aturan pelayanan seperti mengemudi maksimal 25 km/jam, menjaga kebersihan kendaraan, serta mengutamakan keselamatan penumpang. “Driver diarahkan untuk tetap ramah, sopan, dan mengemudi sesuai rute demi keselamatan penumpang,” katanya.
Dalam menjalankan tugasnya, sopir shuttle tidak hanya mengantar penumpang, tetapi juga membantu memberikan informasi mengenai rute perjalanan dan destinasi wisata di Sanur. Agus mengatakan bahwa dirinya sering menjelaskan cara penggunaan kartu pembayaran dan rute shuttle kepada wisatawan yang baru pertama kali menggunakan layanan tersebut.
Meski demikian, operasional shuttle masih menghadapi beberapa kendala, seperti kemacetan dan kondisi armada yang terkadang mengalami kerusakan mendadak. Agus berharap kualitas armada dapat terus ditingkatkan dan rute shuttle diperluas hingga menjangkau area desa agar manfaat transportasi ramah lingkungan ini semakin dirasakan masyarakat.
Kehadiran shuttle listrik Desa Adat Intaran menunjukkan bahwa transportasi ramah lingkungan dapat menjadi solusi modern untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di Bali. Dengan pengelolaan yang baik, shuttle listrik tidak hanya membantu mobilitas wisatawan, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam menjaga lingkungan dan menciptakan kawasan wisata yang lebih nyaman serta berkelanjutan.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Desa Adat Intaran)







