• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, March 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menimbang Ulang Pengertian Masyarakat Pesisir dari Pantai Sanur

Muflih Mappajaung by Muflih Mappajaung
15 October 2025
in Kabar Baru, Travel
0
0

Pengalaman mengunjungi Pantai Sindhu untuk kesekian kalinya rasanya berbeda. Hari itu, Sabtu, 13 September 2025, saya mengikuti kegiatan “Kelas Jurnalisme Warga” yang diselenggarakan oleh BaleBengong. Peserta yang hadir kurang lebih 20 orang, dan kami dibagi ke dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok mendapat topik yang berbeda-beda untuk diobservasi. Kebetulan kami mendapat topik “Upaya Melestarikan Pesisir” dan lokasi observasi yang ditetapkan ialah di Pantai Sindhu, Sanur.

Saya antusias mendapat topik tersebut. Saya membayangkan bahwa upaya pelestarian wilayah pesisir tidak hanya tentang ruang hidup, kesehatan lingkungan, dan juga masyarakat nelayan yang direkognisi sebagai kelompok manusia yang hidup di wilayah pesisir dengan pelbagai tipologi khusus atas kebudayaan, ritus, dan praktik kesehariannya. Akan tetapi, Pantai Sindhu yang merupakan destinasi pariwisata merupakan arena ekonomi yang lebih besar dibanding berbagai kawasan pesisir di tempat-tempat yang lain. Di sana, beredar puluhan pedagang lumpia, penyewa sepeda, penjaja makanan ringan, tukang pijat, dan lain-lain yang bahkan sudah eksis berkegiatan selama berpuluh-puluh tahun.

Gang Pantai Sindhu

Ketika sampai di Pantai Sindhu, kami langsung melihat berbagai jenis pedagang, baik yang tingkatnya mikro dan kecil, hingga menengah ke atas. Sebelum benar-benar masuk ke area pantai, saya sangat tertarik dengan salah satu pedagang baju yang menggantung jualannya di pagar batu cukup megah milik suatu coffee shop di sana. Dengan segera saya mengambil handphone dari saku dan langsung memotret.

Pedagang baju dan mainan anak menggantung jualannya di pagar milik coffee shop. Foto: Dokumentasi Pribadi/Muflih Mappaujung

Hal yang terlintas di pikiran saya ketika melihat mainan anak bergelantungan dan diletakkan di atas pondasi pagar ialah bagaimana usaha kecil dan besar dapat berjalan berdampingan dan berbagi ruang. Sudah pasti bahwa di antara mereka sudah terjalin komunikasi yang baik. Ini mungkin kesimpulan prematur karena sayangnya, saya tidak sempat berbincang dengan pedagang mainan anak dan menanyakan langsung hal yang saya pikir sangat unik.

Mr. Kopi

Kami sempat menunggu kelompok kami di papan nama Pantai Sindhu. Kurang lebih sekitar 15 menit semuanya sudah berkumpul, kami mengobrol sebentar untuk mengatur rencana agar kegiatan observasi ini tetap berjalan efektif meski waktu yang diberikan terbatas.

Ketika berembuk, saya menyampaikan ide bahwa kita harus memberi perhatian pada setiap orang yang ada dan hadir di Pantai Sindhu; baik hotel, café, warung-warung, hingga pedagang kaki lima. Kita tidak seharusnya terpaku dengan masyarakat pesisir yang identik diasosiasikan hanya kepada masyarakat nelayan. Saya melanjutkan bahwa ada begitu banyak jenis masyarakat memperoleh manfaat dan yang tertopang hidupnya di Pantai Sindhu ini. Setelah rembuk singkat ini terjadi, kami berpencar menjadi dua regu. Saya bersama Ayul dan Agus bersama Ima. 

Pertama, Ayu dan saya bertemu dengan seorang pedagang kopi gerobak bernama Hery (33 tahun). Merek kopinya diberi nama Mr. Kopi. Gerobaknya dibuat sangat baik karena materialnya didominasi oleh besi plat baja tahan karat (stainless steel). Belum lagi jika memerhatikan mesin kopi (espresso machine) dan mesin penggiling kopi (grinder) yang berbobot besar dan kokoh.

Gerobak Kopi “Mr. Kopi” milik Bli Hery. Foto: Dokumentasi Pribadi/Muflih Mappaujung

Setelah berkenalan sepintas, kami berdua memesan kopi dan duduk di bawah payung. Ayu akan mewawancarai Bli Hery, sedangkan saya memilih mencari informan yang dapat diajak berbincang mengenai situasi di Pantai Sindhu.

Tidak jauh dari gerobak kopi Bli Hery, terdapat sekitar sepuluh warung berjejer rapi dengan gaya bangunan dan plang yang seragam. Saya melihat seorang bapak duduk di depan warung dengan kursi plastik. Dari payung kopi Mr. Kopi, saya memerhatikan bapak tersebut sambil memastikan bahwa ia adalah pemilik warung. Setelah beberapa menit mengamati, saya menghampiri beliau dan mulai berkenalan.

Warung Ibu Putu

“Pak, kenalkan, saya Muflih. Apakah saya bisa bertanya barang sebentar mengenai warung dan keadaan di Pantai Sindhu?” Sontak bapak itu tampak kaget dan menjawab, “Kalau mau tanya-tanya, nanti sama pengurusnya. Saya tidak punya data.” Dari situ, saya ingat bahwa ketika pertama kali bertemu informan, kita perlu memperkenalkan diri dengan baik dan lengkap, serta menyampaikan tujuan kita. Dengan cara itu, membangun rapport, calon informan akan merasa aman dan percaya dengan kita. Saya kemudian menjelaskan bahwa saya sedang mengikuti “Kelas Jurnalisme Warga” yang diadakan oleh BaleBengong yang bekerja sama dengan BUPDA Desa Adat Intaran.

Ia bernama Wayan (47 tahun), pemilik warung Ibu Putu. Nama warung tersebut merupakan nama istrinya. Ibu Putu bertugas menerima dan menyiapkan dagangan, sedangkan Wayan duduk di depan warung sambil melakukan pemasaran. Di sela-sela obrolan kami, Wayan menyapa turis-turis asing dengan mengatakan, “Hello, cold drink?” Wayan sangat aktif memasarkan jualannya kepada orang-orang yang berlalu-lalang.

Warung Ibu Putu milik Pak Wayan dengan plang Pelindo, Pemkot Denpasar, dan Desa Adat Intaran. Foto: Dokumentasi Pribadi/Muflih Mappaujung

Dalam perbincangan kami, saya banyak menanyakan hal-hal dasar, seperti biaya sewa, dukungan pemerintah, tingkat keramaian, hingga omzet. Wayan juga bercerita bahwa sebelum dirinya mendapat bantuan dari pemerintah kota, termasuk Pelindo, Wayan berjualan di pinggir pantai. Ketika pandemi covid-19 mulai berangsur membaik, terjadi penataan pedagang, sehingga Wayan mengisi kios yang telah disediakan. Para pedagang dikenakan biaya sewa sebesar Rp13 juta dan juga berhak menggunakan area di depan kios sebagai area tempat makan dan minum. Wayan memiliki 5 payung dan 20 kursi untuk pengunjung kiosnya.

Keterangan yang cukup mengherankan dari Wayan adalah pendapatannya tidak jauh berubah sebelum dan setelah berjualan di kios. “Pendapatannya kurang lebih sama saja. Kisaran 500 ribu hingga 750 ribu. Dari dulu begitu,” ujarnya. Ketika saya menanyakan apakah Wayan punya harapan tentang masa depan, ia mengatakan saat ini Wayan sudah merasa cukup. Wayan merasa sudah sangat terfasilitasi dengan baik. Pendapatan yang ia sebutkan dirasa sangat cukup untuk menopang kehidupannya.

Setelah berbincang dengan Wayan, saya kembali ke Mr. Kopi dan turut menyimak obrolan Ayu dan Bli Hery sambil minum kopi. Sekitar 10 menit, saya mengajak Reva, staf BaleBengong, untuk berjalan ke arah Icon Mall untuk mencari informan selanjutnya. Dalam perjalanan, kami berbincang tentang Sanur, Bali, dan kondisi politik negara, sambil mengamati sekitar.

Rental Sepeda Susi

Saya tiba-tiba tertarik dengan seorang penyewa sepeda. Saya merasa penting untuk mengobrol dengan bapak penyewa sepeda tersebut karena ia juga merupakan bagian dari warga yang mencari penghidupan di Pantai Sindhu.

Namanya Nyoman (68 tahun). Awalnya kami dikira ingin menyewa sepeda. Namun, setelah memberi penjelasan, Nyoman mengerti dan justru sangat terbuka menerima kami. Saya dan Nyoman kemudian duduk di kursi, sedangkan Reva berdiri sambil melihat-lihat sepeda.

Perbincangan kami buka dengan pertanyaan sudah berapa lama Nyoman menjalankan usaha rental sepeda tersebut. “Mulainya sejak 1992 di area Hotel Tanjung Sari,” ujarnya. Saya terkesiap. Usaha rental sepeda Nyoman ternyata lebih tua dari usia saya. Nyoman tidak pernah menempuh pendidikan formal. Sejak dini, ia sudah bekerja serabutan. Ikut orang ke mana-mana dan mengerjakan apa saja.

Sepeda Rental Pak Nyoman. Foto: Dokumentasi Pribadi/Muflih Mappaujung

Nyoman memiliki kurang lebih 30 unit sepeda. Biaya sewa sebesar Rp25 ribu per jam. Bila pengembalian sepeda melebihi 10-15 menit, Nyoman tidak menarik biaya tambahan. Bila pengembalian lewat dari 30 menit, maka penyewaan akan terhitung 2 jam. Saya sempat bertanya, “Pak, apakah ada penyewa yang menawar harga rental?” Dengan tersenyum, Nyoman mengiyakan. Maksimal Nyoman memberikan diskon Rp5 ribu. “Yang penting sepedanya jalan (tersewa),” ujarnya.

Saya sempat melihat jam sebelum bertanya, “Sudah ada berapa penyewa sampai saat ini, Pak?” Pak Nyoman menjawab, “tiga saja”. Artinya, sejak pagi hingga pukul empat sore, Nyoman baru mendapat Rp75 ribu. Sebagai pengusaha yang ikut menggunakan area pantai, Nyoman menyetor sekitar Rp200 ribu per bulan ke BUPDA Desa Intaran sebagai retribusi.

Kami kemudian menutup percakapan dengan berjabat tangan, lalu saya meminta Reva memotret saya bersama Pak Nyoman.

Foto bersama Pak Nyoman. Foto: Balebengong/Reva

Setelah mengobrol bersama Nyoman, kami kemudian kembali Mr. Kopi untuk menemui Ayul dan Sekar. Tampaknya mereka juga sudah menutup wawancara. Kami kembali duduk dan bergabung. Meja kopi diisi cerita pengalaman kami masing-masing bertemu dan mewawancarai pedagang.

Lumpia Mama Ayu

Hari semakin sore, mendekati pukul 16:00. Pantai Sindhu semakin dipadati pewisata. Kami kemudian memilih untuk kembali ke kantor BUPDA Intaran. Dalam perjalanan kami menuju ke area parkir, kami sempat singgah melihat pedagang jagung bakar. “Ada yang mau jajan, nggak?” Saya menawari teman-teman, tetapi semuanya menggeleng. Lalu saya melihat seorang ibu pedagang lumpia dan meminta izin untuk jajan. Kami semua menghampiri ibu pedagang lumpia.

Di sela-sela ibu pedagang lumpia menyiapkan lumpia untuk saya, saya memperkenalkan diri. “Ibu, kenalkan, saya Muflih.” Seketika dibalas, “Saya Mama Ayu.” Dengan Mama Ayu menempelkan predikat “Mama” pada namanya, saya merasa percakapan ini sangat hangat dan mendalam.

Mama Ayu sudah berjualan lumpia sejak 2001. Dalam obrolan kami, saya tahu bahwa Mama Ayu tinggal di Jl. Gatot Subroto, Denpasar Utara. “Sebuah jarak yang cukup jauh hanya untuk berdagang lumpia,” pikiran saya terlintas seketika. “Saya diantar-jemput suami setiap mau jualan di sini. Saya hanya jualan dua hari dalam seminggu, karena di rumah Mama Ayu juga punya warung,” ujarnya.

Mama Ayu sedang menyiapkan lumpia. Foto: Dokumentasi Pribadi/Muflih Mappaujung

Dengan jarak rumah dan lokasi jualan yang begitu jauh, saya kemudian bertanya bagaimana Mama Ayu menyiapkan barang dagangannya. “Semua ini (tahu, bakwan, tempe, saus kacang, cabai hijau) Mama Ayu yang siapkan sendiri, kecuali lumpia. Lumpia ambil dari orang. Kalau semuanya beli dari orang, untungnya kecil,” ungkapnya. Mama Ayu mengenakan rompi biru pembagian dari BUPDA karena sudah terdaftar dalam asosiasi pedagang kaki lima.

“Masyarakat Pesisir” Pantai Sindhu

Atas kunjungan dan observasi kami ke Pantai Sindhu, saya merefleksikan satu hal bahwa kawasan pesisir tidak selamanya identik dengan masyarakat nelayan, terkhusus kawasan pesisir perkotaan dan sudah menjadi destinasi pariwisata. Melalui intervensi BUPDA, kelompok masyarakat lain yang juga mencari penghidupan di area pesisir turut diakui keberadaan dan mobilitasnya di ruang pesisir. Penjaja makanan ringan yang dibangunkan kios dan pedagang lumpia yang diberi rompi merupakan cerminan kerja-kerja institusi formal dalam mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat demi kesejahteraan bersama.

Di Pantai Sindhu, semua berbaur menjadi satu. Hotel mewah, café kelas menengah, hingga gerobak kopi jalanan tumbuh berdampingan. Satu catatan yang tidak kalah penting adalah, di Sanur, kendati ada begitu banyak hotel-hotel dan pusat perbelanjaan yang bersandar langsung dengan area pantai, tidak ada satu pantai pun yang diprivatisasi. Semua garis pantai dapat diakses publik dan dinikmati bersama-sama. Hal tersebutlah yang menyuburkan rasa keadilan bagi warga Sanur.

(Salah satu karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Desa Adat Intaran)

sangkarbet
Tags: Desa Adat Intarankelas jurnalisme wargamasyarakat pesisir di BaliPantai Sindhupesisir Sanur
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Muflih Mappajaung

Muflih Mappajaung

Related Posts

Rumah Panggung Loloan makin Hilang

Rumah Panggung Loloan makin Hilang

6 January 2026
Banjir di Banjar Sebual, Warga Bangkit Bersama Setelah Bencana

Banjir di Banjar Sebual, Warga Bangkit Bersama Setelah Bencana

21 December 2025
Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

Beban Tak Terlihat Remaja Bali di Jembrana

20 December 2025
Masa Depan Pantai Sindhu dari Kacamata Pemilik Usaha

Masa Depan Pantai Sindhu dari Kacamata Pemilik Usaha

12 October 2025
“Pesuan Kebisan Ragane” Api Jengah Pemuda Intaran Sanur

“Pesuan Kebisan Ragane” Api Jengah Pemuda Intaran Sanur

10 October 2025
Sanur Masih Belajar Ramah pada Kaki dan Roda 

Sanur Masih Belajar Ramah pada Kaki dan Roda 

9 October 2025
Next Post
Beban Ekologi Bertambah karena Pariwisata yang Eksploitasi Hulu Bali

Beban Ekologi Bertambah karena Pariwisata yang Eksploitasi Hulu Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia