“Dari pendataan digital di tingkat organisasi pemuda hingga mengelola event besar di pesisir Sanur, kisah pemuda Intaran menjadi bukti bahwa perubahan tidak datang dari luar, melainkan dari keberanian mengambil langkah di wilayahmu.”

Oleh: Renaldi Bayu dan Teja Wijaya
Angin sore berhembus tenang di kawasan Pantai Mertasari, Sanur. Debur ombak bertaut dengan riuh suara acara yang digelar malam nanti. Di tengah kesibukan itu, puluhan pemuda lokal bergerak sigap, berkoordinasi mengatur panggung, stan UMKM, hingga alur ruang parkir. Pemandangan ini bukanlah suatu anomali lagi. Kawasan yang dulunya hanya rekreasi biasa kini bertransformasi menjadi ruang hidup yang berdenyut bagi kreativitas dan kemandirian ekonomi desa.
Gerakan ini dilandaskan oleh rasa jengah pemuda Adat Intaran yang perjalanannya mengurai bukti hidup bahwa perubahan paling autentik lahir dari rahim keresahan. Esa dan kawan-kawannya tidak sedang menjalankan bisnis, mereka sedang menulis babak baru bagi generasi mereka, sebuah babak ketika pemuda bukan lagi objek, melainkan subjek utama dalam narasi kemajuan desanya.
Kebangkitan pemuda bukanlah menunggu proyek raksasa dari pemerintah atau uluran tangan pihak luar, melainkan sebuah filosofi sederhana tetapi mendalam yang ia pegang teguh. “Ape kebisan raga to pesuang di tongos rage’e. Pasti ngidang kok. Jangan sampai terlalu nyaman di tempat lain.” Tunjukan kemampuanmu yang hebat di wilayah sendiri, di desamu biar mereka tahu dan melek dengan potensi desanya ini.
“Boleh kita mencari referensi dari luar, tapi jangan sampai kita terlena, terlalu nyaman di tempat lain hingga lupa dengan rumahnya,” ujar Esa dalam percakapan kami di sela-sela kesibukannya mengatur acara. Ini bukan sekadar slogan, melainkan rangkuman perjalanan panjangnya untuk membangkitkan kembali api peran pemuda di Desa Adat Intaran.
Berawal dari data
Kisahnya ini tidak dimulai dari sebuah konsep megah, tapi bermula dari keresahan Esa dan temannya yang saat itu aktif di organisasi kepemudaan di banjarnya. Ia melihat potensi besar, ada ratusan pemuda, tapi tidak terdata, dan bergerak tanpa arah yang spesifik. Berdampak pada sanubari para pemuda yang merasa organisasi (kepemudaan) adat ini membosankan dan kuno.
“Bagaimana saya bisa kenal semua anggota? Bagaimana kita bisa bergerak bersama kalau kita tidak tahu siapa kita dan apa kemampuan kita? Pemuda kita ada ratusan, tapi siapa mereka, keahliannya apa, kita tidak pernah benar-benar tahu apa kemampuannya,” kenangnya.

Alih-alih mengeluh atau menunggu arahan atau dana, Esa dan rekannya mengambil gebrakan, mulai dari soal pendataan kepemudaan. Langkah ini bukan hanya bagi warga dari silsilah krama adat (warga asli turun-temurun) saja, tapi juga krama tamiu atau warga pendatang yang ingin ikut berkontribusi untuk desanya. Dari sana, dirinya bisa memetakan potensi, siapa yang latar belakangnya ahli di bidang apa, siapa yang punya keahlian.
Esa, dengan latar belakang kewirausahaannya, mulai mengelola platform digital untuk berbagai event di desanya. Salah satunya event lomba layangan yang semula beli tiket manual dan tatap muka, kini beralih ke sistem digital melalui situs web.
Langkah ini menjadi sebuah prinsip baru, ambil inisiatif, ciptakan terobosan, bahkan dari hal terkecil. Sebagaimana ia yakini, bahwa kegagalan itu tidak boleh mengalahkan keberanian untuk mencoba berusaha dan berkomitmen dulu. Meski ada sebagian orang yang mencibirnya, selagi kegiatanya positif, jalani saja.
Sebuah proses perubahan
Keberhasilan awal dalam mengelola acara kecil-kecilan inilah yang kemudian membawanya ke panggung yang lebih besar, tapi dengan tantangan baru untuk menyatukan pemuda dari 19 banjar adat.
Dalam situasi ini jiwa kepemimpinannya diuji. Esa tidak memposisikan diri sebagai bos, melainkan sebagai fasilitator. Ia sadar, seorang pemimpin harus bisa “masuk malu, pahami malu” masuk lebih dalam untuk memahami keluhan dan keresahan anggotanya. “Kita tidak bisa memaksa, misalnya orang yang hobinya DJ untuk megambel. Tugas kita adalah menemukan panggung yang tepat untuk setiap bakat. Harus bisa memahami masalahnya secara spesifik, dengarkan keluhan mereka, terima saran/masukannya baru kita bisa berpikir cari solusinya,” jelasnya.
Melalui pendekatan ini, ia berhasil menyatukan potensi-potensi terpendam itu. Melihat ada energi baru yang profesional dan terorganisir. Dari yang tadinya sekadar kepanitiaan dadakan, Esa dan timnya ditantang untuk membangun sebuah sistem manajemen event yang berkelanjutan.
Ada cerita menarik. Awalnya, ia dan timnya memberanikan diri membuat event konser kecil-kecilan. Meski buta soal perizinan dan sempat ditegur aparat, pengalaman itu menjadi sekolah terbaik. Mereka belajar, berbenah, dan membuktikan bahwa anak muda lokal bisa mengelola acara secara profesional.
Kemampuan inilah yang akhirnya dilirik oleh Prajuru Desa Adat dan Bhaga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Intaran. Ia diberikan kepercayaan untuk mengelola seluruh jasa event di kawasan pesisir pantai. Salah satunya kawasan Pantai Mertasari dan Taman Inspirasi Muntig Siokan. Konsepnya sederhana, tidak rumit. Mulai dari menciptakan sistem “satu pintu”. Promotor atau siapa pun yang ingin membuat acara tidak perlu lagi bingung mencari izin, keamanan, kebersihan, hingga urusan upakara. Semuanya dikoordinasikan oleh tim event management dari pemuda-pemudi desa adat.
Hasilnya, jadwal yang tertata, perputaran ekonomi bagi UMKM lokal, dan yang terpenting, sebuah kebanggaan kolektif.
Stop hanya jadi penonton
Kisah Esa dan anak muda Desa Adat Intaran bukan hanya sekadar cerita personal, melainkan sebuah refleksi dari kegelisahan kolektif yang dirasakan anak muda Bali. Ada ketakutan dan rasa pesimis anak muda Bali bahwa orang lokal Bali hanya menjadi penonton, pekerja kasar, buruh pariwisata, atau penyewa lahan tanah leluhurnya.
Pemantik rasa jengahnya adalah, “Kita punya tempatnya di sini. Ngapain kita tidak bisa berproses sebelum orang lain yang masuk duluan? Jangan menunggu. Kita kayuh dayung kita lebih dulu”.
Pesan ini menampar dengan keras. Selama ini, banyak pemuda mungkin menunggu kesempatan datang, menunggu diajak, atau menunggu ada modal besar. Padahal, modal terbesar adalah kesadaran dan kemauan untuk mulai.
Penting juga menyoroti pentingnya merangkul semua pihak, termasuk warga pendatang yang tinggal di lingkungan adatnya. Baginya, organisasi kepemudaan modern harus inklusif. Selama seseorang mau berkontribusi untuk lingkungan tempat ia tinggal, pintu harus selalu terbuka.
Harapan untuk ke depan
Setelah sejam kami mengobrol di Pantai Mertasari, di tengah persiapan acara, semangat para pemuda itu justru semakin terang. Mereka tidak hanya sedang mempersiapkan sebuah acara, mereka sedang merawat harapan dan membangun masa depan di tanah mereka.
Esa sadar, perjalanannya masih panjang. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Namun, ia telah meletakkan pondasi yang kokoh, kemandirian dan rasa memiliki. Ketika ditanya apa harapannya untuk pemuda Sanur dan Bali di masa depan, jawabannya singkat, tapi penuh makna.
“Harapan saya, kita semua melek. Lihat progress yang sudah kita bangun, dan sadari bahwa ini belum selesai. Kita harus siap. Kalau ada orang luar datang dengan persiapan matang, kita harus dua kali lebih siap dari mereka. Karena ini rumah kita,” ujarnya.
Kisah dari Sanur ini adalah panggilan untuk setiap pemuda di seluruh Bali. Perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya duduk dan mengkritik di media sosial. Ini terjadi ketika ada yang berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu.
Sudah saatnya, pemuda berhenti menjadi tamu, dan mulai mengambil peran sebagai tuan rumah yang berdaya, visioner, dan siap mengukir karya di tanah kelahirannya sendiri. Gerakan telah dimulai di Sanur. Di wilayahmu, kapan?
Catatan Kaki
BUPDA Intaran, Bhaga Utsaha Padruwen Desa Adat Intaran, diakses 13 September 2025, https://www.bupdaintaran.com/.
(Salah satu karya peserta Kelas Jurnalisme Warga Desa Adat Intaran)
sangkarbet sangkarbet








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

