Denpasar, Minggu pagi di Lapangan Niti Mandala Renon belum sepenuhnya ramai. Di bawah pohon-pohon trembesi, beberapa anak muda duduk melingkar di atas tikar sambil membuka buku masing-masing. Seorang perempuan membaca novel dengan headset terpasang di telinga, sementara di sisi lain dua mahasiswa membolak-balik buku sejarah Bali dan sesekali berdiskusi pelan. Tidak ada pengeras suara, tidak ada moderator, juga tidak ada tuntutan untuk berbicara. Orang-orang datang, memilih tempat duduk, lalu tenggelam dalam bacaannya sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk kota dan arus konten media sosial yang bergerak cepat, ruang sunyi seperti itu perlahan menjadi pemandangan baru di Bali.
Belakangan, komunitas literasi nonformal mulai tumbuh di berbagai ruang publik di Denpasar. Mereka tidak bergerak melalui perpustakaan formal atau ruang kelas, melainkan melalui taman kota, lapangan terbuka, hingga sudut-sudut kafe. Dua di antaranya ialah Bali Book Party dan Rindu Dibaca.
Meski lahir dengan pendekatan berbeda, keduanya sama-sama mencoba menghadirkan budaya membaca yang lebih cair, santai, dan dekat dengan kehidupan anak muda perkotaan.
Public Relation Bali Book Party (BBP), Ayulia Amanda, mengatakan komunitas tersebut berdiri pada 19 Januari 2024 sebagai bagian dari jejaring Indonesia Book Party yang mengadopsi konsep Silent Book Club. Konsep utamanya sederhana, menyediakan ruang bagi orang untuk membaca bersama tanpa tekanan diskusi formal.
“Orang tinggal datang, bawa buku, duduk, terus baca bareng. Sesimpel itu sebenarnya,” ujar Ayu.
Berbeda dengan klub buku konvensional yang biasanya memiliki daftar bacaan wajib, BBP justru memberi kebebasan penuh kepada peserta. Mereka dapat membawa jenis bacaan apa pun, mulai dari novel, komik, buku pengembangan diri, jurnal ilmiah, hingga e-book.
Kegiatan umumnya berlangsung selama dua hingga tiga jam. Acara dibuka dengan sesi santai untuk saling menyapa, kemudian dilanjutkan silent reading selama sekitar 45 menit hingga satu jam. Setelah itu, peserta dipersilakan berbincang mengenai buku yang sedang mereka baca.
Namun, sesi diskusi bukanlah kewajiban.
“Kalau mau cerita soal buku ya boleh, kalau enggak juga enggak masalah. Kami memang enggak mau orang merasa tertekan harus ngomong,” katanya.
Menurutnya, konsep tersebut membuat BBP menjadi ruang yang cukup ramah bagi individu introvert atau orang-orang yang ingin bersosialisasi tanpa tekanan interaksi intens.
Awalnya, BBP rutin mengadakan kegiatan di Pantai Segara Ayu, Sanur. Namun, kegiatan kemudian dipindahkan ke kawasan Renon pada Minggu sore karena dianggap lebih nyaman dan mudah dijangkau.
Dalam satu pertemuan, jumlah peserta biasanya berkisar 10 hingga 30 orang, dan dapat bertambah ketika berkolaborasi dengan museum, komunitas kreatif, maupun pelaku Usaha, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Di sisi lain, komunitas Rindu Dibaca hadir dengan pendekatan yang lebih terbuka terhadap ruang publik. Jika BBP lebih identik dengan kegiatan membaca bersama menggunakan buku pribadi peserta, Rindu Dibaca justru membuka lapak baca gratis menggunakan koleksi pribadi para anggotanya.
Komunitas tersebut lahir dari obrolan santai tujuh anak muda yang resah melihat tren media sosial yang menganggap membaca buku di ruang publik sebagai sesuatu yang unik dan perlu “dinormalisasi”.
“Kami merasa aneh saja kenapa membaca di ruang publik harus dinormalisasi, padahal itu hal yang normal,” ujar salah satu penggagas Rindu Dibaca, Putu Ayu Arundati Gitanjali.
Dari keresahan itu, mereka mulai membuka lapak baca pertama pada November 2025 di kawasan Renon. Puluhan buku ditata di atas tikar agar siapa saja dapat datang dan membaca secara gratis.
Nama “Rindu Dibaca” berasal dari gagasan sederhana bahwa buku-buku lama yang hanya tersimpan di rak seolah memiliki kerinduan untuk disentuh dan dibaca kembali.
“Kami anggap buku itu seperti manusia juga. Halaman-halamannya rindu dibalik lagi,” kata Arundati.

Lapak baca tersebut tidak memiliki sistem registrasi ataupun aturan rumit. Pengunjung bebas datang, memilih buku, lalu membaca di tempat. Sebagian bahkan datang kembali beberapa minggu kemudian untuk melanjutkan buku yang belum selesai mereka baca.
“Ada yang nyari buku yang sama terus tiap minggu karena belum selesai baca,” ujarnya sambil tertawa.
Selain membuka lapak baca, Rindu Dibaca juga mengadakan forum diskusi kecil bernama Beranda. Dalam kegiatan itu, peserta membaca selama sekitar 30 menit sebelum berbagi cerita mengenai buku yang sedang mereka baca. Kuota peserta sengaja dibatasi agar percakapan terasa lebih intim.
Untuk membantu peserta yang malu berbicara, mereka menyiapkan “jar of questions”, yaitu toples berisi pertanyaan ringan sebagai pemantik diskusi.
Fenomena komunitas seperti Bali Book Party dan Rindu Dibaca sebenarnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Di berbagai kota besar Indonesia, gerakan literasi alternatif mulai berkembang sebagai bentuk third place literacy atau ruang ketiga di luar rumah dan tempat kerja.
Di Jakarta, misalnya, komunitas baca mulai memanfaatkan MRT dan taman kota sebagai ruang membaca bersama. Di Bandung muncul perpustakaan jalanan yang menghadirkan akses buku gratis di taman publik, sementara di Yogyakarta komunitas literasi berkembang menjadi ruang produksi pengetahuan dan pengarsipan independen.
Di Bali, pola serupa mulai terlihat melalui tumbuhnya ruang baca nonformal yang memanfaatkan taman kota dan ruang terbuka hijau sebagai tempat berkumpul.
Meski demikian, sejumlah komunitas menilai ruang baca formal masih memiliki keterbatasan. Jam operasional perpustakaan yang mengikuti jam kerja kantor dinilai kurang ramah bagi pekerja maupun mahasiswa yang baru memiliki waktu luang pada malam atau akhir pekan.
“Orang yang suka baca juga banyak yang kerja. Tapi perpustakaan tutup pas mereka libur,” kata Arundati.
Selain persoalan waktu operasional, suasana perpustakaan formal juga dianggap belum sepenuhnya mampu menjangkau kebutuhan generasi muda yang lebih terbiasa dengan ruang santai dan fleksibel.
Akibatnya, sebagian anak muda justru merasa lebih nyaman membaca di taman kota, ruang terbuka, atau komunitas informal yang tidak terlalu kaku.
Di Renon, kondisi itu tampak jelas setiap akhir pekan. Tidak sedikit warga yang awalnya hanya datang untuk berolahraga akhirnya ikut duduk membaca atau sekadar bertanya tentang komunitas tersebut.
Menjelang siang, anggota komunitas mulai merapikan buku ke dalam kardus dan tas motor. Beberapa pengunjung masih bertahan menyelesaikan halaman terakhir buku mereka sebelum perlahan berdiri dan mengembalikannya ke tumpukan.
Tidak ada seremoni penutup ataupun tepuk tangan. Lapak kecil itu bubar secara perlahan, meninggalkan rumput taman yang kembali dipenuhi pelari dan pesepeda.
Namun dari ruang sederhana di bawah pohon itu, komunitas-komunitas literasi tersebut menunjukkan satu hal, membaca ternyata belum sepenuhnya ditinggalkan. Ia hanya mencari bentuk baru yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda kota.








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
