
Tekanan pariwisata dan buruknya pengelolaan sampah daratan dapat memperparah pencemaran ekosistem padang lamun di Bali. Kondisi ini diungkap dalam Obral Obrol Padang Lamun Kita yang digelar oleh PlastikDetox di Pantai Bopel, Sanur Kauh pada Minggu, 12 April 2026.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dan diikuti peserta dari kalangan muda serta pegiat lingkungan. Forum ini bertujuan mendorong partisipasi publik dalam menjaga padang lamun yang kini semakin terdegradasi akibat sampah plastik sekali pakai.
Salah satu pembicara, Putu Satya Pratama Atmaja, memaparkan hasil penelitiannya dengan judul Macro Debris Accumulation in Seagrass Meadows Along Varying Levels of Tourism Pressure in Bali, Indonesia. Ia menjelaskan wilayah dengan aktivitas pariwisata tinggi, seperti kawasan Sanur, menunjukkan tingkat pencemaran paling signifikan.
Penelitian yang dilakukan di enam lokasi dengan tingkat tekanan pariwisata berbeda menemukan sebanyak 1.056 sampah makro.
Kawasan dengan aktivitas wisata tinggi seperti Pantai Sindhu dan Semawang mencatat kepadatan sampah tertinggi, mencapai rata-rata 3,04 item per meter persegi. Artinya dalam setiap petak lahan berukuran 10 x 10 meter, terdapat sekitar 304 keping sampah. Sementara itu, wilayah dengan tekanan rendah seperti Labuan Lalang dan Karang Sewu di Bali Barat hanya mencatat sekitar 0,3 item per meter persegi.
“Wilayah dengan aktivitas wisata tinggi menunjukkan jumlah sampah yang jauh lebih besar dibandingkan kawasan lain,” ujar Satya.
Jenis sampah yang ditemukan didominasi plastik sekali pakai, antara lain sedotan (101 buah), lembaran plastik (76 buah), dan bungkus makanan (57 buah). Ditemukan pula tutup botol, alat pancing, dan sampah plastik lainnya.
Menurutnya, struktur padang lamun yang rapat membuat ekosistem ini efektif menjebak sampah laut. Namun, kondisi tersebut justru berdampak negatif karena menghambat proses fotosintesis, merusak jaringan tanaman, serta memicu degradasi menjadi mikroplastik.

Kemampuan lamun dalam menjebak sampah justru menjadikannya rentan terhadap pencemaran.
Penelitian menunjukkan perbedaan karakter sampah di tiap lokasi. Di kawasan wisata tinggi, sampah lebih banyak ditemukan dalam kondisi utuh (sekitar 36–40 persen), menandakan adanya pembuangan baru. Sementara di wilayah dengan tekanan rendah, sekitar 80 persen sampah berupa fragmen kecil akibat proses degradasi jangka panjang oleh sinar matahari dan gelombang.
“Ini menandakan aliran sampah di kawasan wisata terjadi secara terus-menerus,” tambahnya.
Selain faktor pariwisata, karakteristik spesies lamun juga memengaruhi akumulasi sampah. Jenis dengan kanopi padat seperti Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium cenderung menahan lebih banyak sampah dibanding spesies lain.
Padang lamun sendiri merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang hidup di laut dan memiliki peran vital dalam ekosistem pesisir. Selain menjadi habitat dan tempat pembibitan ikan, lamun juga berfungsi sebagai penyerap karbon (blue carbon), penstabil sedimen, serta pelindung pantai dari abrasi.
Ayu dari Bendega Alam Lestari, menyoroti pentingnya posisi lamun dalam ekosistem pesisir. Ia menjelaskan bahwa lamun merupakan bagian dari sistem yang saling terhubung dengan mangrove dan terumbu karang.
“Mangrove melindungi dari darat, lamun menjaga wilayah pesisir, dan terumbu karang menahan gelombang dari laut. Ketiganya saling berkaitan,” jelasnya.
Lamun kerap terabaikan dalam upaya konservasi. Ia mencontohkan kondisi di Pantai Mertasari, di mana nelayan setempat mengeluhkan penurunan hasil tangkapan ikan.
“Dulu nelayan cukup mencari ikan di pesisir, sekarang harus melaut lebih jauh. Setelah kami observasi, tutupan lamun di sana memang berkurang signifikan,” katanya.
Ia menyebutkan, selain faktor alam seperti arus, aktivitas manusia menjadi penyebab utama kerusakan lamun, karena tingginya aktivitas wisata di wilayah pesisir dangkal.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bendega telah melakukan riset selama enam bulan dan menerapkan berbagai metode restorasi lamun, seperti transplantasi menggunakan patok, bingkai, hingga karung goni. Metode yang menggunakan karung gonis dinilai lebih efektif karena lebih stabil dan aman dari gangguan aktivitas wisata.
Upaya rehabilitasi dinilai belum cukup tanpa pengendalian sampah dari darat. Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti keterkaitan langsung antara aktivitas manusia di darat dengan kondisi laut.

Bali diperkirakan menghasilkan sekitar 200.000 ton sampah plastik setiap tahun, dengan sekitar 40 persen tidak terkelola dengan baik.
“Apa yang kita lakukan di darat akan kembali lagi ke laut,” menjadi salah satu poin refleksi yang mengemuka dalam forum tersebut.









