• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, June 1, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Menjaga Pengetahuan Bambu di Samsara Bamboo Festival

Ni Komang Aprilia Enisari by Ni Komang Aprilia Enisari
1 June 2026
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Rumpun bambu selama ini kerap dipandang sebelah mata, sekadar tanaman penghias pekarangan atau material bangunan sederhana. Namun, di ajang Samsara Bamboo Festival yang digelar di Karangasem, Bali, pada 22–24 Mei 2026, bambu bersalin rupa menjadi mahakarya bernilai guna tinggi sekaligus jangkar pelestarian ekologi dan kebudayaan.

Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) hadir membawa warna tersendiri dalam festival tersebut melalui dua anjungan (booth) utama: anjungan produk dan anjungan pengetahuan. Di sudut pameran produk, deretan inovasi dari para mitra dipajang rapi, mulai dari phone holder berbahan bambu laminasi karya Mosedia, hingga sepeda bambu yang ikonik dari Spedagi.

Bentuk fisik material yang tak lagi menyerupai batangan bambu utuh ini kerap mengecoh mata pengunjung. Setelah melalui proses laminasi, susunan bambu tersebut menyatu, merekat kuat, dan memancarkan estetika bak kayu solid bermutu tinggi.

Penjaga anjungan YBLL, Najwa Diwanty Tasyabita, menuturkan bagaimana antusiasme publik meluap saat menyadari fakta tersebut. Menurutnya, rasa penasaran pengunjung menjadi pintu masuk untuk mengenalkan visi besar organisasi, mulai dari proses hulu ke hilir, hingga temuan jenis bambu baru di Pulau Flores.

“Banyak pengunjung yang tidak menyangka kalau barang-barang ini sejatinya terbuat dari bambu, mereka kira ini dari kayu. Dari sana kita bisa melihat bahwa bambu itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan pemanfaatannya amat beragam,” tutur Najwa.

Ia menjelaskan lebih lanjut, antusiasme ini juga membuka ruang diskusi mengenai peran YBLL sebagai organisasi yang berfokus pada isu lingkungan, proses hilirisasi bambu melalui Koperasi Multipihak Wanatani Bambu Lestari (Bamboo Coorp) dan Mosedia di Nusa Tenggara Timur (NTT), serta inisiatif pengembangan tanaman MPTS (Multi-Purpose Tree Species) dan kebun pangan perempuan yang sedang dikembangkan di wilayah Bali, NTT, dan Jawa Timur.

Daya tarik inovasi yang ditawarkan YBLL sukses memikat dan menggugah kesadaran para pengunjung festival. Tak sekadar mengamati estetika produk, masyarakat diajak memahami bahwa di balik sebatang bambu yang diolah, terdapat napas pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan.

Virgo, salah satu pengunjung festival, mengaku takjub dengan luasnya spektrum pemanfaatan bambu yang disajikan di anjungan tersebut pada Minggu (24/5/2026).

“Saya penasaran sekali dan sangat terkesan menyaksikan beragam produk dari bambu ini. Salah satunya dari Yayasan Bambu ini, saya baru melihat ternyata sepeda bisa terbuat dari bambu juga,” ungkap Virgo.

Rasa ingin tahunya tak berhenti pada produk fisik. Virgo turut menyelami literatur yang disediakan, seperti buku Menguak Tabir Bambu Flores dan buklet Semesta Bambu.

“Saya jadi tahu kalau ada yayasan di bidang lingkungan yang bergerak di pemberdayaan masyarakat melalui bambu. Kalau kita perhatikan, bambu ini sangat luar biasa sekali perannya dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Semoga melalui pameran ini, ke depannya makin banyak organisasi atau komunitas yang melakukan peran serupa,” tambahnya penuh harap.

Jauh melampaui inovasi barang konsumsi, kehadiran YBLL di Samsara Bamboo Festival juga membawa gagasan konseptual yang sangat berakar pada kearifan lokal Bali. Konsep tersebut bernama Bambuloka, sebuah purwarupa penanaman bambu di area pelaba pura (kawasan lahan terluar milik pura).

Konsep ini dirancang untuk menjawab kebutuhan esensial masyarakat Bali dalam pemanfaatan bambu sebagai sarana kegiatan spiritual dan adat, tanpa merusak keseimbangan alam liar.

Head of Program YBLL, Nurul Firmansyah, menjabarkan bahwa Bambuloka bukan sekadar penanaman bambu, melainkan sebuah gerakan tata kelola ruang berbasis ekosistem holistik.

“Konsep Bambuloka di Bali kami tawarkan sebagai gerakan bambu yang ditanam di pelaba pura. Di-overlay dengan kawasan hutan dan kawasan air, sehingga Pura inilah sebagai aktornya. Gagasannya terletak di Pura sebagai obyeknya,” papar Nurul.

Menurut Nurul, untuk membangun gerakan lingkungan yang ajeg dan berkelanjutan, diperlukan peta jalan yang komprehensif. Pendekatan ekosistem harus dibangun beriringan dengan penciptaan ruang belajar bagi masyarakat adat.

“Melalui kegiatan pameran di Samsara ini, misalnya, menjadi penghubung untuk menjadi suaranya orang desa yang dinarasikan dalam hal kebudayaan,” tegasnya.

Gagasan besar ini tentu tidak akan menjadi gerakan yang organik tanpa adanya keterlibatan aktif dari berbagai pihak. Menyadari hal tersebut, Isti Larasati selaku Program Officer YBLL, menyampaikan ajakan terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat, komunitas, hingga pemangku kebijakan untuk ikut ambil bagian dalam membumikan prototipe Bambuloka.

Menurut Isti, Bambuloka bukan sekadar program satu waktu, melainkan sebuah gerakan kolektif yang membutuhkan tangan-tangan kreatif dan kepedulian bersama untuk merawatnya.

“Bambuloka ini adalah undangan terbuka bagi kita semua. Kami sangat membuka ruang kolaborasi dari semua apsek yang terlibat menggunakan air untuk waterballance untuk menjaga kualitas dan kuantitas air di Bali, baik itu bagi pengurus pura (prajuru), komunitas anak muda, pegiat lingkungan, hingga pihak swasta yang ingin terlibat langsung, baik dalam aksi penanaman, perawatan, maupun menduplikasi konsep ini di wilayah lain,” ujar Isti hangat.

Ia juga menekankan bahwa menjaga kelestarian adat dan alam Bali adalah tanggung jawab lintas generasi. Melalui keterlibatan aktif masyarakat, Bambuloka diharapkan bisa menjadi cetak biru (blueprint) nasional bagaimana ruang sakral kebudayaan mampu berdampingan secara harmonis dengan restorasi lingkungan.

“Mari kita peduli pada masa depan ekologi dan jadikan bambu sebagai salah satu pilar kebudayaan kita. Melalui program Bambuloka kita ingin kedepannya bisa menjadikan bambu sebagai warisan hijau masa depan,” pungkas Isti penuh harap.

Kehadiran YBLL di ujung timur Pulau Dewata ini bukan sekadar perayaan festival. Momentum ini diharapkan menjadi titik pijak bagi YBLL untuk menggandeng lebih banyak mitra strategis; menebar kebermanfaatan yang lebih luas, baik melalui rimbunnya bambu, tajuk tanaman MPTS, maupun ketahanan ekonomi dari kebun pangan perempuan.

Tags: festival bambusamsara museumYBLL
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ni Komang Aprilia Enisari

Ni Komang Aprilia Enisari

Ni Komang Aprilia Enisati, lahir di Gumbrih, 12 April 1999. Suka menulis suka jalan-jalan

Related Posts

Kebangkitan Tenun Pewarna Alami

Kebangkitan Tenun Pewarna Alami

18 March 2026
Next Post
Mudahnya Merusak Mangrove, Sulitnya Menumbuhkan Penyimpan Ratusan Ton Karbon ini

Mudahnya Merusak Mangrove, Sulitnya Menumbuhkan Penyimpan Ratusan Ton Karbon ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Mudahnya Merusak Mangrove, Sulitnya Menumbuhkan Penyimpan Ratusan Ton Karbon ini

Mudahnya Merusak Mangrove, Sulitnya Menumbuhkan Penyimpan Ratusan Ton Karbon ini

1 June 2026
Menjaga Pengetahuan Bambu di Samsara Bamboo Festival

Menjaga Pengetahuan Bambu di Samsara Bamboo Festival

1 June 2026
Ngiter Tipis-Tipis: Merawat Luka yang Dihilangkan Paksa

Ngiter Tipis-Tipis: Merawat Luka yang Dihilangkan Paksa

31 May 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia