
Di bawah atap rumah bambu di Nua Wogo, Kabupaten Ngada, sebuah kisah tentang kebangkitan budaya sedang ditenun. Bermula sejak tahun 2023, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Yayasan KEHATI telah meletakkan batu pertama bagi masa depan Kampung Adat Wogo melalui program Desa Wanatani Bambu. Mengusung konsep eduekowisata, kolaborasi ini bukan sekadar membangun desa, melainkan memanggil kembali roh tradisi tenun pewarna alam yang sempat meredup tertelan zaman.
Selama bertahun-tahun, warna-warna sintetis yang praktis namun asing perlahan mengikis pengetahuan lokal masyarakat dan turut berkontribusi mengancam pencemaran lingkungan. Melalui kegiatan “Pelatihan Pembuatan Demplot Pewarna Alam dan Tenun”, tanaman seperti Strobilanthes Cusia atau kerap dikenal sebagai Daun Mangsi, Kopi, dan Kunyit kembali dibudidaya.
Pendamping Lapangan (YBLL), Dionesius Lodovikus B. Maka (Doni) memaparkan tentang jenis-jenis tanaman lokal yang mereka kembangkan dalam demplot berukuran 25×30 m2 itu.
“Kebetulan kita di Kampus Bambu Turetogo sudah punya tanaman Strubilanthes Cusia yang kita pakai sebagai warna Biru Indigo itu kita kasi pindah juga ke demplot, lalu kita ada tanaman lain seperti Kopi; untuk warna Hijau, Daun Ungu; untuk warna Ungu, lalu ada tanaman Kunyit; untuk warna Kuning,” jelas Doni.
Untuk menghasilkan warna Biru Indigo yang pekat, Doni mengaku turut menambahkan tanaman Tarum yang mereka ambil dari area pesisir pantai, dengan iklim cuaca panas.
Kegiatan yang berlangsung sejak 25 Februari hingga 7 Maret 2026 itu dilatih di bawah bimbingan tangan terampil dua penenun ahli dari Kampung Langa; Maria Theresia Gobhe dan Fransiska Fono. Peserta kegiatan ialah tiga perempuan yang berasal dari Desa Wogo yaitu Emi Watu, Ela Watu, dan Agus Lajo.
Rangkaian pelatihan yaitu para perempuan-perempuan tersebut tidak hanya diajarkan cara memutar benang atau memasang alat tenun baru, tetapi juga meresapi filosofi di balik setiap motif dan teknik pewarnaan yang menyatu dengan alam. Benang-benang putih kini kembali “bernapas”, menyerap sari pati tumbuhan lokal yang diolah secara mandiri, menciptakan harmoni warna yang otentik dan ramah lingkungan.
Kegiatan ini menjadi fase memunculkan kembali tradisi leluhur masyarakat Wogo yang selama ini merasa kehilangan identitas tenunnya. Program Officer (YBLL), Maria Goreti Watu (Susi), menegaskan bahwa inisiatif ini adalah langkah konkret untuk kemandirian perempuan di Desa Wogo.
“Kami ingin ibu-ibu di Wogo tidak hanya menjadi penonton dalam derasnya arus wisata, tetapi menjadi pelaku utama yang menghasilkan produk sebagai identitas budaya. Dengan menghidupkan kembali kegiatan tenun ini semoga mama-mama menjadi lebih produktif dan bisa mendapat penghasilan tambahan,” ujar Susi.
Antusiasme dan semangat terpancar dari wajah para peserta selama kegiatan berlangsung, selain mendapatkan pelatihan, mereka juga difasilitasi alat tenun untuk melanjutkan aktivitas tersebut kedepannya.
Emi Watu, salah satu peserta, mengungkapkan rasa terima kasih atas program yang diberikan. “Dulu memang menenun itu pernah ada disini, lalu hilang dan mulai dilupakan. Saya merasa sangat bersyukur tradisi ini digali kembali melalui program dari YBLL. Sekarang kami punya aktivitas baru setelah pulang dari kebun, dan punya pekerjaan sampingan untuk membantu ekonomi keluarga,” pungkasnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, YBLL dan Kehati telah meletakkan landasan kuat bagi keberlanjutan tradisi di Kampung Adat Wogo. Pelatihan yang mengintegrasikan aspek budaya, lingkungan, dan ekonomi ini diharapkan tidak hanya berhenti pada peningkatan keterampilan teknis semata, namun mampu menumbuhkan kemandirian ekonomi bagi komunitas perempuan melalui produk tenun yang ramah lingkungan. Melalui benang-benang yang terjalin, Kampung Adat Wogo kini melangkah lebih dekat menuju isi desa eduekowisata yang berdaya saing dan tetap teguh pada akar nilai-nilai luhur leluhur.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet SANGKARBET sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet

![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-350x250.jpg)


