Jujur, ekspektasi saya waktu datang ke Cush-Cush Gallery Denpasar pagi itu nggak terlalu tinggi. Workshop perubahan iklim, yang kebayang pertama ya slide penuh grafik, angka naik-turun, terus narasi soal es kutub mencair yang rasanya jauh banget dari kehidupan sehari-hari. Tapi ternyata saya salah total. Sabtu, 6 Juni 2026, bareng lebih dari dua puluh peserta yang dibagi ke lima kelompok kecil, saya malah nggak kerasa duduk hampir empat jam. Dari jam sembilan pagi sampai menjelang jam satu siang, diskusi terus mengalir dan nggak ada yang kelihatan bosen. Itu tanda yang paling jujur kalau sesuatu berjalan dengan benar.

Kartu, Bukan Ceramah
Fasilitator kelompok saya, Kak Wanda dari Climate Freaks, nggak langsung ngomong panjang lebar. Dia cukup bagiin kartu-kartu kecil ke meja kami, dan bilang: urutkan dari penyebab, proses, sampai dampaknya.
Kartu-kartu itu isinya macem-macem, mulai dari pembakaran bahan bakar fosil, penebangan hutan, naiknya gas rumah kaca di atmosfer, cuaca ekstrem, banjir rob, sampai gagal panen. Kelihatannya simpel. Tapi begitu mulai disusun, diskusi langsung pecah. Apa duluan deforestasi atau emisi industri? Kekeringan itu dampak, atau dia balik lagi jadi penyebab baru? Apakah ini proses yang berjalan bersamaan, bukan cuma rantai lurus satu arah?
Tanpa sadar, kami semua lagi belajar berpikir kayak ilmuwan iklim, tentang kausalitas dalam sistem yang kompleks, tentang sebab yang bisa sekaligus jadi akibat. Dan yang bikin seru, nggak ada yang datang kasih jawaban. Kami disuruh nemuin sendiri.

Ini sebenarnya bukan metode yang baru dari sisi teori pendidikan. David Kolb udah lama bilang bahwa pemahaman yang paling dalam itu lahir dari pengalaman langsung, bukan dari mendengar, tapi dari melakukan, merasakan, dan merefleksikannya (Kolb, 1984). Kartu yang kami mainkan hari itu persis seperti itu: pengalamannya adalah menyusun kartu, refleksinya adalah debat antar kelompok, dan pemahamannya adalah gambaran utuh tentang bagaimana perubahan iklim bekerja. Riset terbaru juga mendukung ini, pendekatan berbasis permainan terbukti lebih efektif membangun pemahaman iklim yang nyata dibandingkan sekadar membaca teks atau nonton presentasi (Galeote & Hamari, 2021; Besalti & Smith, 2024).
Empat Jam yang Nggak Kerasa
Kalau acara selesai lebih dari jadwal dan orang-orang masih betah ngobrol, itu bukan masalah, itu justru tanda berhasil. Dan itu persis yang terjadi. Nggak ada yang kelihatan pengen buru-buru keluar. Diskusi terus nyambung dari satu topik ke topik lain.

Dalam dunia pendidikan, kondisi ini punya nama: flow state. Konsep yang dipopulerkan Csikszentmihaly, ketika seseorang begitu tenggelam dalam sebuah aktivitas sampai lupa waktu, dan di situlah pembelajaran paling bermakna terjadi. Climate Freaks, entah sengaja atau tidak, berhasil menciptakan ruang seperti itu. Dan buat saya itu nggak gampang dilakukan, apalagi dengan topik yang sering dianggap berat dan bikin anxious seperti perubahan iklim.
Tapi, di Mana Balinya?
Setelah saya pulang dan duduk sebentar merenung, ada satu hal yang terus mengganjal. Workshop ini keren secara metode, tapi narasi yang dibangun terasa seperti datang dari tempat yang jauh. Solusi yang paling banyak muncul berkisar pada pilihan gaya hidup individual: kurangi makan daging, vegan, diet karbon. Ini bukan salah, secara ilmiah sektor peternakan memang nyumbang emisi yang besar. Tapi buat saya yang duduk di Denpasar, dengan peserta yang sehari-harinya hidup dalam ekosistem sosial dan ekonomi Bali, ada jarak yang terasa antara narasi itu sama realitas di depan mata kami.
Bali itu hidupnya dari pariwisata. Ini bukan klise murahan, ini kenyataan struktural yang menentukan hidup jutaan orang di pulau ini. Dan kalau kita ngomongin perubahan iklim secara serius, kita sebenarnya lagi ngomongin ancaman langsung terhadap sektor itu. Kenaikan muka air laut, abrasi pantai, cuaca yang makin nggak bisa diprediksi, semua itu bukan ancaman hipotetis di masa depan. Pemutihan karang besar-besaran di Bali udah terjadi di akhir 2023, dipicu suhu laut yang meningkat akibat El Niño yang diperparah perubahan iklim. Terumbu karang yang jadi magnet wisatawan selam dan snorkeling pelan-pelan sekarat. Kini, kombinasi kenaikan permukaan laut, badai makin kencang, abrasi, dan cuaca ekstrem terus menggerogoti daya dukung lingkungan Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Ini bukan berita dari negeri orang. Ini pantai kita, laut kita.
Kalau Kartunya Ngomong Soal Bali
Coba bayangkan kalau satu set kartu dalam workshop itu punya skenario seperti ini: musim hujan yang makin nggak bisa dibaca menyebabkan jalan menuju Pura Besakih longsor, dan prosesi odalan terpaksa ditunda atau suhu laut naik, karang di Nusa Penida mati, kunjungan wisatawan turun drastis dalam tiga tahun ke depan atau bahan baku canang dan sesajen makin susah didapat karena pola tanam terganggu cuaca ekstrem.
Kira-kira reaksinya akan sama kayak tadi? Saya yakin lebih ribut lagi.
Inilah yang saya maksud dengan konteks lokal. Bukan berarti isu global perlu dikerdilkan atau diganti, tapi dijembatani. Riset dalam pendidikan iklim bilang dengan jelas bahwa relevansi lokal adalah kunci untuk mengubah pemahaman jadi kepedulian, dan kepedulian jadi tindakan nyata. Orang perlu bisa menarik garis langsung antara perubahan iklim dan sesuatu yang mereka cintai atau andalkan sehari-hari. Kalau garis itu nggak kelihatan, isu ini akan terus jadi abstrak dan abstrak itu gampang diabaikan.
Sebenarnya Bali punya modal yang luar biasa untuk ini. Tri Hita Karana, keharmonisan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam adalah fondasi etis yang sangat kuat untuk membicarakan krisis iklim. Tapi selama ini konsep itu lebih banyak hidup dalam ritual daripada dalam cara kita merespons ancaman ekologis yang konkret. Masyarakat Bali terlalu sering “ditenangkan” dengan nilai-nilai budaya yang indah, tanpa ada yang secara serius menghubungkan nilai-nilai itu dengan fakta bahwa bumi di sekitar kita sedang berubah dengan cepat. Tri Hita Karana seharusnya bukan hanya doa, ia bisa jadi panduan aksi.
Tantangan yang Saya Lempar
Workshop Climate Freaks hari itu adalah langkah yang baik dan penting. Metodenya terbukti. Energinya nyata. Semangat para fasilitatornya nggak perlu diragukan.
Tapi tantangan berikutnya dan ini saya lempar dengan hormat dan harapan adalah bagaimana membangun pendekatan yang sama kuatnya, tapi akarnya di Bali. Kartu yang cerita soal subak yang kekeringan. Soal nelayan di Jimbaran yang bingung karena musim ikan berubah. Soal petani salak di Karangasem yang nggak bisa lagi baca kalender musim yang dari dulu turun-temurun bisa diandalkan. Bukan untuk bikin orang panik tapi agar ketika seseorang pulang dari workshop, ia nggak cuma paham perubahan iklim sebagai konsep global yang jauh. Ia merasakannya sebagai sesuatu yang udah ada di depan rumahnya sendiri.
Karena pada akhirnya, krisis iklim bukan cuma soal angka suhu rata-rata bumi yang naik 1,5 derajat. Ia soal Pura Uluwatu yang terus digerus abrasi Samudera Hindia. Soal air bersih di Denpasar yang makin susah. Soal nelayan yang pulang dengan tangan kosong lebih sering dari dulu. Dan kalau kita terus ngomonginnya dalam bahasa yang terasa asing buat telinga orang Bali, kita kehilangan waktu yang sayangnya udah nggak banyak tersisa.
Referensi
Besalti, M., & Smith, G. G. (2024). High School Students’ Motivation to Learn Climate Change Science through Educational Computer Games. Journal of Educational Technology & Society.
Cocco, C. (2025). Game-based learning as a pedagogical tool towards climate change learning and participation. Oxford Review of Education, 52(2).
Galeote, D. F., & Hamari, J. (2021). Game-based Climate Change Engagement: Analyzing the Potential of Entertainment and Serious Games. Proceedings of the ACM on Human-Computer Interaction.
Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Prentice Hall.
Li, C.-H., Chen, F.-H., & Yang, M.-H. (2022). Applying Game-Based Experiential Learning to Comprehensive Sustainable Development-Based Education. Sustainability, 14(3), 1172.
Japan Times. (2024, Juli 5). Coral bleachings devastate Bali reefs as sea temperatures rise.
Sofyan, I. et al. (2020). Climate change impacts on the coastal tourist resorts of Bali. ResearchGate.
Travel and Tour World. (2026). Bali Joins Coastal Survival Revolution as Southeast Asia Battles Overtourism and Climate Threats.










