Setiap Juli hingga September, air Danau Batur berubah warna, bau belerang menyengat, dan ribuan ikan mati. Banyak yang menyalahkan aktivitas gunung api. Padahal sumbernya jauh lebih dekat dari yang kita duga, dan jawabannya ada di dasar danau yang kita sendiri telah penuhi dengan endapan.
Pada Senin dini hari, 20 Juli 2026, sekitar pukul tiga pagi, sesuatu yang aneh terjadi di permukaan Danau Batur. Air yang biasanya biru tenang di kawasan Desa Kedisan, Dusun Dukuh, dan Desa Abang Songan mulai berubah. Bau belerang yang menyengat terbawa angin malam yang dingin, dan ketika fajar datang, permukaan danau tampak berbeda dari biasanya. Para pembudidaya ikan yang memiliki Keramba Jaring Apung (KJA) sudah mengenal tanda-tanda itu dengan baik, dan mereka tahu apa yang akan menyusul dalam dua hingga tiga hari ke depan: kematian ikan secara massal (Tribun Bali, 2026).

Kondisi Danau Batur pasca terjadi semburan belerang, Patrolipost.com, 2026
Fenomena ini bukan baru. Setahun sebelumnya, semburan belerang terdeteksi sejak 8 Juli 2025, terus meluas hingga menyebabkan perubahan warna air danau yang sebelumnya biru menjadi putih, dan mengakibatkan kematian ikan besar-besaran di wilayah Trunyan, Cemara Landung, Tanggun Titi, dan Abang Songan (Sarma, dalam Bali Tribune, 2025). Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Bangli I Wayan Agus Wirawan menyebutnya sebagai fenomena alam yang hampir setiap tahun terjadi, terutama pada periode Juli hingga September, dipicu oleh cuaca yang sangat dingin dan angin kencang (Tribun Bali, 2026).
Tapi setiap kali fenomena ini viral di media sosial, narasi yang paling cepat menyebar adalah yang paling mudah dipercaya: gunung api Batur sedang aktif, magma mendidih di bawah danau, belerang dari perut bumi meluap ke permukaan. Narasi itu terdengar masuk akal, dramatis, dan mudah dicerna. Satu-satunya masalah: ia tidak akurat.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bawah Permukaan
Untuk memahami fenomena ini secara benar, kita perlu berkenalan dengan sebuah proses yang oleh ilmuwan danau disebut upwelling, atau pembalikan massa air. Danau yang dalam seperti Batur, yang kedalamannya mencapai hampir 91 meter (Stehn, 1928; Kemmerling, 1917) namun kini mendangkal hingga 65 – 84 meter, cenderung membentuk lapisan-lapisan air yang berbeda suhu dan kepadatannya. Lapisan atas yang lebih hangat dan kaya oksigen terpisah dari lapisan bawah yang lebih dingin, lebih berat, dan miskin oksigen. Dalam ilmu limnologi, kondisi ini disebut stratifikasi termal.
Selama musim kemarau di bulan Juli hingga September, angin kencang yang bertiup dari selatan ke atas permukaan danau mengganggu keseimbangan ini. Angin mendorong air permukaan ke satu sisi, menarik air dingin dari kedalaman untuk menggantikannya. Ketika massa air dari dasar danau ini naik ke permukaan, ia membawa serta semua yang selama ini tersimpan di sana: sedimen organik yang terakumulasi bertahun-tahun, gas hidrogen sulfida (H2S) yang terbentuk dari dekomposisi bahan organik dalam kondisi tanpa oksigen, serta nutrisi dalam konsentrasi tinggi berupa nitrogen dan fosfor. Inilah yang masyarakat rasakan sebagai “semburan belerang” karena bau menyengat dari H2S memang identik dengan aroma telur busuk, persis seperti belerang yang sering dikaitkan dengan aktivitas vulkanik.
“Sumber bau belerang bukan dari perut gunung, melainkan dari perut danau itu sendiri yang bertahun-tahun menerima endapan organik tanpa sempat membersihkan diri.”

Gambaran ilustrasi AI menunjukan bagaimana kausalitas hubungan antara sumber penyebab hingga dampak dari upwelling dan ledakan alga.
Gas H2S yang terlepas ke udara dan terlarut dalam air itulah yang menjadi pembunuh bagi ikan-ikan di KJA maupun di perairan bebas. Ketika konsentrasi gas ini melonjak, kadar oksigen terlarut di air anjlok drastis. Ikan yang terpapar H2S tinggi mengalami keracunan langsung, sementara yang bertahan dari racun akan mati kehabisan oksigen. Bukan karena Batur bergolak, tapi karena komposisi kimia air berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Ketika Danau Mendapat Beban yang Terlalu Berat
Pertanyaan berikutnya yang harus dijawab adalah: mengapa endapan di dasar Danau Batur begitu kaya bahan organik dan senyawa sulfur sehingga bisa menghasilkan H2S dalam jumlah sebesar itu? Jawabannya tidak datang dari bawah kulit bumi, melainkan dari aktivitas di atas permukaannya.
Danau Batur telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Bangli sebagai kawasan pengembangan minapolitan dengan komoditas utama ikan nila yang dibudidayakan dalam KJA. Selama bertahun-tahun, jumlah KJA di danau ini terus bertambah. Setiap KJA menyumbangkan sisa pakan yang tidak termakan, kotoran ikan, dan produk metabolisme lainnya langsung ke badan air. Penelitian yang dilakukan di Danau Batur menunjukkan bahwa kontribusi KJA terhadap pencemaran nitrogen mencapai 45,19 persen (Sani dkk., 2024), sebuah angka yang sangat signifikan dalam mendorong kondisi yang dikenal sebagai eutrofikasi, yaitu pengkayaan nutrien berlebih yang memacu pertumbuhan alga dan fitoplankton secara tidak terkendali.

Pertanian yang dekat dengan Danau Batur di Desa Buahan
Di samping KJA, pertanian di sekitar daerah tangkapan air danau juga menjadi kontributor penting. Pupuk yang mengandung nitrogen dan fosfor yang digunakan di ladang-ladang sekitar kaldera terbawa aliran permukaan saat hujan dan bermuara ke danau. Penelitian limnologi BRIN dan LIPI yang secara rutin memantau danau-danau prioritas nasional Indonesia, termasuk Danau Batur, telah lama mengidentifikasi pola ini. Dalam Grand Design Penelitian Limnologi Indonesia (Puslit Limnologi LIPI, 2020), Danau Batur termasuk dalam daftar danau yang memerlukan perhatian khusus terkait beban nutrien dan status trofik perairannya. Analisis indeks tingkat tropik menunjukkan bahwa Danau Batur sudah tergolong eutrofik (Suryono dkk., 2008; Dinas Perikanan Bangli dalam ResearchGate, 2023).

Keramba Jaring Apung (KJA) sebagai salah satu sumber mata pencarian warga yang tinggal di sekitar Danau Batur
Ketika air yang kaya nutrien ini tenggelam ke dasar dan terdekomposisi oleh bakteri dalam kondisi anoksik (tanpa oksigen), proses itu menghasilkan H2S dan melepaskan fosfor yang tersimpan dalam sedimen kembali ke dalam air. Ini yang disebut internal loading, sebuah siklus dimana danau seolah-olah memberi makan dirinya sendiri dengan nutrien yang seharusnya sudah terlarut, tapi justru terus-menerus dilepaskan dari simpanan di dasarnya (Nikolai dan Dzialowski, 2014).
Ledakan Alga tidak Terlihat tapi Mematikan
Satu dimensi dari fenomena ini yang sering luput dari pemberitaan adalah peran alga atau fitoplankton. Ketika nutrien dari KJA, pertanian, dan endapan dasar danau terlepas bersamaan saat upwelling, ia menjadi seperti pupuk yang tiba-tiba disebar ke seluruh kolom air. Fitoplankton yang sudah lama menunggu nutrisi tersebut berkembang biak dengan cepat dalam jumlah yang luar biasa, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai algal bloom atau ledakan alga.
Pada siang hari, alga ini berfotosintesis dan menghasilkan oksigen. Tapi di malam hari, dan terutama ketika alga mulai mati dalam jumlah besar, proses dekomposisinya justru menyedot oksigen dari air. Hasilnya adalah kondisi hipoksia, kadar oksigen yang sangat rendah, yang menambah tekanan pada ikan yang sudah harus menghadapi racun H2S. Perubahan warna air danau yang menjadi kehijauaan, keputihan, atau kecokelatan yang sering dilaporkan masyarakat adalah visual dari ledakan populasi alga yang berbeda-beda jenisnya ini.
Masyarakat menamainya semburan belerang. Ilmuwan menyebutnya kombinasi upwelling dan algal bloom yang dipicu oleh eutrofikasi. Keduanya menggambarkan kejadian yang sama dari dua sudut pandang yang sangat berbeda, dan yang kedua jauh lebih penting untuk dipahami karena ia menunjuk pada akar masalah yang bisa kita tangani.
Tanda Peringatan Dini yang Perlu Dipahami
Perubahan warna air dari biru menjadi kehijauan, keputihan, atau kecokelatan adalah sinyal paling awal yang bisa diamati secara visual.
Bau menyengat seperti telur busuk di pagi dan malam hari menandakan kadar H2S sudah meningkat di permukaan air.
Ikan-ikan liar yang mulai menepi ke pinggiran danau adalah respons instingtif terhadap penurunan kadar oksigen di zona tengah danau.
Periode paling kritis adalah bulan Juli hingga September, bertepatan dengan puncak angin kering dari selatan dan suhu udara terendah di Kintamani.
Mitigasi yang Bisa Dilakukan Sekarang
Pemahaman yang benar tentang penyebab fenomena ini membuka jalan untuk mitigasi yang lebih tepat sasaran. Yang paling mendesak dan paling bisa dilakukan adalah pemantauan berkala dan tindakan panen dini.
Ketika perubahan warna air mulai terdeteksi, baik oleh petugas maupun oleh pembudidaya sendiri, jendela waktu untuk menyelamatkan ikan budidaya masih terbuka. Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa dampak terburuk biasanya baru muncul dua hingga tiga hari setelah semburan pertama terjadi (Agus Wirawan, dalam Tribun Bali, 2026). Dua hingga tiga hari itu adalah waktu yang cukup untuk melakukan panen paksa jika ikan sudah cukup besar, atau memindahkan keramba ke zona danau yang lebih aman jika kondisi memungkinkan.
Selain itu, menghindari penebaran benih baru di bulan Juli hingga September adalah langkah pencegahan paling mudah yang bisa dilakukan tanpa biaya tambahan apa pun. Benih ikan yang baru ditebar jauh lebih rentan terhadap perubahan kualitas air dibandingkan ikan yang sudah lebih besar dan memiliki kapasitas fisiologis yang lebih kuat. Dengan tidak menebar benih di bulan-bulan kritis ini, kerugian bisa diminimalkan secara signifikan.
Untuk pemantauan jangka panjang, diperlukan sistem pengamatan berkala yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, BRIN, akademisi, dan komunitas pembudidaya itu sendiri. Pengukuran rutin terhadap parameter kualitas air seperti kadar oksigen terlarut, suhu di berbagai kedalaman, kandungan H2S, dan klorofil akan memungkinkan prediksi yang lebih akurat tentang kapan upwelling akan terjadi, sehingga peringatan dini bisa disampaikan lebih awal. Beberapa danau di dunia sudah menerapkan sistem pemantauan otomatis berbasis sensor yang mengirimkan data secara real-time, dan tidak ada alasan teknologis mengapa Danau Batur tidak bisa memiliki sistem serupa.
Namun di atas semua itu, mitigasi yang paling fundamental adalah mengurangi beban nutrien yang masuk ke danau. Selama KJA terus bertambah tanpa daya dukung danau yang dihitung secara ilmiah, dan selama pertanian sekitar danau tidak menerapkan praktik yang mengurangi aliran nutrien ke badan air, upwelling berikutnya akan selalu membawa lebih banyak H2S dan lebih banyak ikan yang mati. Danau bisa mentoleransi tekanan sampai batas tertentu, tapi ketika internal loading sudah terlalu dalam mengakar, memulihkannya membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dari sekadar satu musim kemarau yang terlewati.
Danau Batur adalah warisan ekologis yang juga merupakan sumber penghidupan bagi ribuan keluarga di Kintamani. Ia tidak sedang murka karena gunung di bawahnya bergolak. Ia sedang memberikan sinyal bahwa beban yang kita letakkan di atasnya sudah melampaui kapasitasnya untuk pulih sendiri. Dan setiap perubahan warna air yang kita lihat di bulan Juli adalah cara danau itu berbicara kepada kita, kalau saja kita mau mendengarkan dengan bahasa yang benar.
Referensi
- Agus Wirawan, I W. (2026). Pernyataan Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Bangli terkait semburan belerang Danau Batur Juli 2026. Dalam Tribun Bali, 22 Juli 2026.
- Kemmerling, C.E.A. (1917). Pengukuran kedalaman Danau Batur. Dikutip dalam Stehn, Ch. E. (1928). Batur te Bali en zijne Uitbarsting in 1926. Vulkanologische Mededeelingen No. 9, Bandung.
- Nikolai, S.I. & Dzialowski, A.R. (2014). Effect of internal phosphorus loading on nutrient limitation in a eutrophic reservoir. Limnologica, 49, 33–41.
- Pusat Penelitian Limnologi LIPI / BRIN (2020). Grand Design Penelitian Limnologi di Indonesia. Puslit Limnologi LIPI, Bogor.
- Sani, dkk. (2024). Identifikasi Kualitas Air dan Pencemaran Nutrien di Danau Batur dari Parameter Total Fosfat dan Total Nitrogen. Jurnal Teknologi Lingkungan, 25(2).
- Sarma, I W. (2025). Pernyataan Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Bangli terkait semburan belerang Juli 2025. Dalam Bali Tribune, 14 Juli 2025.
- Smith, V.H., Tilman, G.D., & Nekola, J.C. (1999). Eutrophication: impact of excess nutrient input on freshwater, marine, and terrestrial ecosystems. Environmental Pollution, 100, 179–196.
- Suryono, T., Nomosatryo, S., & Mulyana, E. (2008). Tingkat kesuburan perairan Danau Diatas-Dibawah dan Danau Batur berdasarkan Indeks Kesuburan Carlson’s. Prosiding Seminar Nasional Limnologi IV, IPB, Bogor.
- Universitas Udayana / Dinas Perikanan Bangli (2023). Pembuatan Percontohan Keramba Jaring Apung (KJA) Ramah Lingkungan di Perairan Danau Batur. ResearchGate.
- Tribun Bali (2026). Semburan Belerang Kembali Muncul di Danau Batur Kintamani Bali, Pembudidaya Ikan Diliputi Kecemasan. 22 Juli 2026. tribunnews.com/bali
- Detik Bali (2025). Viral Ribuan Ikan Mati Massal Akibat Belerang di Danau Batur, Ini Penjelasannya. 14 Juli 2025. detik.com/bali









