Oleh: Kresnanta

Berkunjung ke museum biasanya identik dengan melihat koleksi, membaca keterangannya, lalu berpindah dari satu ruang ke ruang lain. Namun, ada pengalaman berbeda yang ditawarkan di SAKA Museum. Island of Bali: Museum Trail, sebuah permainan yang mengajak pengunjung mengenal Bali sambil menyusuri koleksi museum.
Permainan ini dibuat SAKA Museum berkolaborasi dengan Museum Ceria, berbentuk fiksi yang terinspirasi dari tokoh nyata dan peristiwa sejarah. Pengunjung berperan sebagai Miguel dan Rosa Covarrubias, pasangan yang sedang melakukan perjalanan honeymoon di Bali pada tahun 1930.
Miguel Covarrubias dikenal sebagai ilustrator dan karikaturis. Keduanya menjadi tokoh utama dalam permainan yang terinspirasi dari buku Island of Bali, karya yang memperkenalkan Bali kepada pembaca dunia pada era 1930-an.
Permainan dimulai dari sebuah surat yang diterima Miguel dan Rosa dari Walter Spies. Di dalamnya terdapat enam instruksi. Masing-masing instruksi menyimpan satu huruf yang nantinya digunakan untuk menemukan jawaban pada instruksi ketujuh.
Untuk mendapatkan jawabannya, pengunjung tak cukup hanya membaca instruksi permainan. Harus berkeliling museum, mengamati karya dan deskripsinya, kemudian mencocokkan informasi dengan petunjuk yang ada dalam buku permainan.
“Kalau satu cara mengenalnya adalah dengan melakoninya,” demikian pendekatan yang dijelaskan Marlowe Bandem soal museum trail ini. Cara tersebut membuat pengunjung tak hanya menjadi penonton karya, tapi ikut mencari, membaca, mencocokkan, dan memecahkan petunjuk.
Membaca kalender Bali
Petunjuk pertama, pengunjung dibawa ke sistem kalender Bali. Misinya mencari kalender yang digunakan untuk mendefinisikan karakter berdasarkan hari kelahiran.
Miguel dan Rosa memiliki hari kelahiran yang berbeda. Miguel lahir pada Anggara Pon, sementara Rosa pada Sukra Wage. Pengunjung kemudian menandai lembar kalender berdasarkan hari kelahiran kedua tokoh tersebut.
Pengunjung diperkenalkan dengan palelintangan. Berasal dari kata lintang yang berarti bintang, kalender ini berkaitan dengan pertemuan hari dalam sistem kalender Bali dan digunakan untuk membaca karakter.

Konsep yang seringkali salah paham yakni palelintangan bukan kalender astronomi, melainkan lapisan di atas kalender Tika.
“Yang sering salah kaprah itu adalah sesungguhnya kalender ini tidak ada kaitannya apapun dengan astronomi. Karena ini adalah layer di atas kalender Tika. Lintang ini ditentukan dari pertemuan hari, kemudian baris paling atas itu menunjukkan para dewa-dewi yang menaungi bentangnya. Kemudian yang bawah adalah bhutakala atau guardian spirit yang menjaganya,” jelas Marlowe.
Uniknya, SAKA Museum menyajikan palelintangan versi digital. Pengunjung dapat mencoba memasukkan hari kelahiran masing-masing dan melihat lintang yang berkaitan dengan karakter tertentu. Tiap lintang juga memiliki keterangan mengenai karakter dan unsur yang menaunginya.

Misi selanjutnya adalah menelusuri kalender Tika, terdiri dari siklus pekan dengan jumlah hari yang berbeda. Berasal dari kata kutika yang berarti ditandai. Pertemuan antarsiklus tersebut digunakan untuk menentukan berbagai perhitungan dalam kehidupan masyarakat Bali, termasuk hari baik dan buruk.
“Dalam Tika ini ada 10 pekan yang berlangsung bersamaan. Ada pekan 1 hari, pekan 2 hari, pekan 3 hari sampai pekan 10 hari. Kemudian ada pertemuan antara hari-hari dalam pekan-pekan, inilah yang menentukan hari baik dan buruk. Kapan melakukan pernikahan, kapan melakukan kremasi, kapan melakukan membuka jalan air di sawah,” kata Marlowe.
Menurutnya, pengetahuan semacam ini penting untuk diperkenalkan kembali. Sistem tersebut tidak hanya berbicara tentang perhitungan waktu, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sehari-hari seperti pertanian dan ritual.


Ini yang mendasari digitalisasi konsep kalender Tika di SAKA Museum. “Karena kalau dilihat seperti (fisik) ini, kita sudah enggak mengerti, mengagumi keindahannya semata. Padahal dia begitu dalam. Dan ini adalah bukti tetua kita sudah jago matematika, karena menggunakan aritmetika, dia menghasilkan pola-pola yang berulang,” tambahnya.
Museum sebagai ruang bermain
Petunjuk dalam museum trail dibuat dalam berbagai teka-teki. Mulai dari lembar tracing karakter, petunjuk menggunakan aksara Bali, hingga pola stiker yang harus dipecahkan untuk menemukan karakter tertentu.
Ada juga petunjuk yang sengaja dibuat sedikit mengecoh. Pengunjung terkadang harus mencari tahu apakah yang dicari merupakan nama tokoh, karakter, atau istilah tertentu.
Pengunjung diajak berpindah dari satu koleksi ke koleksi lainnya. Seperti patung dalam kebudayaan Bali Utara serta ogoh-ogoh. Pengunjung diminta memperhatikan bentuk, atribut, serta fungsi tokoh yang digambarkan.
Ogoh-ogoh sendiri menjadi salah satu koleksi yang digunakan SAKA Museum untuk menceritakan perubahan tradisi dan teknologi. Disebutkan bahwa ogoh-ogoh telah lama digunakan dalam konteks ritual, sebelum kemudian berkembang sebagai bagian dari perayaan Nyepi.

Perkembangannya juga mengikuti perubahan material. Dari bahan yang berkaitan dengan kehidupan agraris, ogoh-ogoh berkembang menggunakan bambu hingga material styrofoam. Perkembangan teknologi kemudian memungkinkan anak muda membuat ogoh-ogoh yang dapat bergerak menggunakan mesin.
Di sisi lain, penggunaan styrofoam menimbulkan persoalan lingkungan. Sementara ogoh-ogoh mekanis menjadi salah satu perkembangan terbaru yang dieksplorasi oleh seniman.
“Menarik bahwa kita semua ini dimandatkan untuk selalu mengumpulkan ilmu. Selalu dimulai dengan kesucian, diakhiri dengan ilmu pengetahuan. Sering kita dengar, tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun ne kanggo ring desa-desa,” tutup Marlowe dengan mengutip Geguritan Salampah Laku.
Island of Bali: Museum Trail menunjukkan pendekatan lain dalam menikmati museum. Permainan dirancang agar dapat diikuti pengunjung dengan kebutuhan yang berbeda. Rute museum dibuat ramah pengguna kursi roda, serta gallery sitters membantu kebutuhan pengunjung.
Informasi lengkap tentang permainan ini bisa dilihat di sini.




