
Aksi Trend Asia di Kalimantan Barat
Perubahan iklim dan transisi energi menjadi isu yang semakin mendesak di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sejak 2018, Trend Asia hadir sebagai organisasi masyarakat sipil yang mendorong transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan di Asia melalui riset, kampanye, dan advokasi kebijakan.
Direktur Komunikasi Trend Asia, Zamzami, mengatakan organisasi tersebut dibentuk sebagai akselerator transformasi energi di Asia. Menurutnya, Trend Asia berupaya mendorong terwujudnya masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera melalui pemanfaatan energi bersih terbarukan, sekaligus memastikan sistem produksi, distribusi, dan konsumsi energi berjalan secara demokratis dan berkelanjutan.
“Trend Asia hadir di tahun 2018 sebagai akselerator transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan di Asia,” ujar Zamzami.
Bagi Trend Asia, transformasi energi bukan sekadar peralihan dari energi fosil menuju energi terbarukan. Lebih dari itu, organisasi ini memandang transisi energi harus berlangsung secara berkeadilan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan, hak-hak masyarakat, serta pemerataan akses terhadap energi bersih.
Mengawal Transisi Energi Melalui Advokasi dan Kampanye
Sejak berdiri, Trend Asia aktif mengawal berbagai isu yang berkaitan dengan transisi energi dan perlindungan lingkungan melalui riset, advokasi kebijakan, serta kampanye publik. Organisasi ini menyoroti berbagai persoalan, mulai dari kebijakan energi nasional, dampak industri ekstraktif, hingga upaya mendorong pemanfaatan energi bersih yang berkeadilan.
Menurut Direktur Komunikasi Trend Asia, Zamzami, saat ini organisasinya bersama jaringan masyarakat sipil tengah mengajukan Citizen Lawsuit terkait bencana ekologis di tiga provinsi di Sumatera. Selain itu, Trend Asia juga mengkritisi kebijakan co-firing biomassa yang dinilai masih mempertahankan penggunaan batu bara, serta menyoroti dampak pertambangan mineral kritis terhadap lingkungan dan masyarakat.
Selain advokasi kebijakan, Trend Asia memanfaatkan kampanye publik untuk memperluas diskusi mengenai isu energi dan lingkungan. Organisasi ini pernah terlibat dalam gerakan #BersihkanIndonesia, mengangkat isu jejak karbon penggunaan private jet menjelang Pilpres 2024, hingga berpartisipasi dalam berbagai gerakan yang mengaitkan isu demokrasi, industri ekstraktif, dan krisis iklim.
Trend Asia menggandeng komunitas seni, budaya, kreator konten, dan key opinion leader (KOL) untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda.
“Guna menjangkau audiens yang lebih luas dan di luar bubble aktivis, Trend Asia berkolaborasi dengan berbagai komunitas skena budaya, seni, dan literasi,” ujar Zamzami.
Merangkul Anak Muda Lewat Pendekatan Kreatif
Selain advokasi dan riset, Trend Asia juga mengembangkan strategi komunikasi yang disesuaikan dengan karakter audiens. Menurut Direktur Komunikasi Trend Asia, Zamzami, pendekatan tersebut dilakukan agar isu transformasi energi yang kompleks dapat dipahami oleh masyarakat secara lebih mudah.
“Guna menjangkau audiens yang lebih luas dan di luar bubble aktivis, Trend Asia berkolaborasi dengan berbagai komunitas skena budaya, seni, literasi, serta sastra,” ujar Zamzami.
Kolaborasi tersebut melibatkan musisi, seniman, kreator konten, hingga key opinion leader (KOL). Mereka tidak hanya diajak menyampaikan pesan kampanye, tetapi juga melihat secara langsung dampak industri ekstraktif terhadap lingkungan dan masyarakat sehingga pesan yang disampaikan lahir dari pengalaman di lapangan.
Tak hanya itu, Trend Asia juga mengembangkan kanal media sosial wibu4planet di Instagram sebagai upaya menjangkau komunitas pencinta budaya pop Jepang. Melalui pendekatan yang lebih ringan dan dekat dengan keseharian anak muda, organisasi ini berupaya memperluas pembahasan mengenai isu lingkungan dan transisi energi kepada audiens yang lebih beragam.

Kanal Media Sosial wibu4planet
Menghadapi Tantangan, Menjaga Harapan
Trend Asia menilai transisi energi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Menurut Direktur Komunikasi Trend Asia, Zamzami, ketergantungan terhadap energi fosil masih menjadi hambatan utama dalam mewujudkan sistem energi yang lebih bersih. Ia menilai penggunaan batu bara, co-firing, dan gas masih mendominasi kebijakan energi nasional sehingga memperlambat upaya pengurangan emisi.
Selain tantangan kebijakan, Zamzami juga menyoroti semakin sempitnya ruang sipil bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik terhadap isu lingkungan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi masyarakat sipil dalam mengawal kebijakan energi dan memperjuangkan perlindungan lingkungan.
Meski demikian, Trend Asia tetap berharap pemerintah dapat mempercepat transisi menuju energi bersih melalui kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan masyarakat. Salah satu langkah yang didorong organisasi ini adalah percepatan pensiun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang telah berusia tua dan tidak lagi efisien, sebagai bagian dari upaya mewujudkan transisi energi yang berkeadilan.
Zamzami optimistis perubahan masih dapat diwujudkan melalui kolaborasi masyarakat sipil dan meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan di tengah berbagai tantangan tersebut. “Masih banyak rakyat Indonesia yang tengah berjuang membalikkan keadaan ini menjadi lebih baik. Gelombang rakyat yang menuntut perubahan ini semakin hari semakin membesar,” tutup Zamzami.









