Setiap wisatawan yang berhenti di Pura Ulun Danu Beratan, berfoto dengan latar kabut tipis di atas air, jarang menyadari bahwa lanskap indah itu adalah bekas luka raksasa dari salah satu peristiwa geologi terbesar yang pernah dialami Bali.
Danau Beratan, bersama dua “saudaranya” Danau Buyan dan Danau Tamblingan duduk di dalam satu cekungan vulkanik tua bernama Kaldera Buyan-Beratan (sering ditulis Buyan-Bratan). Di bawah permukaannya yang tenang, tersimpan sistem panas bumi raksasa dan sebuah cerita panjang tentang bagaimana Bali terbentuk, dipanaskan, dan kini diperdebatkan penggunaannya.

Kaldera yang Lebih Tua dari Batur
Secara geologi, Bali bagian tengah-utara didominasi oleh tiga pusat vulkanik besar: kompleks Buyan-Beratan, kompleks Batur, dan Gunung Agung. Kaldera Buyan-Beratan berbentuk elips berukuran sekitar 11 x 6 kilometer, dan merupakan salah satu dari dua kaldera besar di Bali utara selain Batur. Program Vulkanisme Global Smithsonian mencatat bahwa kaldera ini menampung tiga danau di ujung utaranya, dengan beberapa kerucut vulkanik pasca-kaldera menempel di tepi selatannya.
Penelitian tim geologi Universitas Gadjah Mada dan Kyushu University terdiri dari Watanabe, Yamanaka, Harijoko, Saitra, dan Warmada yang diterbitkan di Journal of Applied Geology menyimpulkan bahwa aktivitas kaldera Buyan-Bratan dan kerucut-kerucut pasca-kaldera diperkirakan lebih tua dibanding aktivitas kaldera Batur di sebelah timurnya (Watanabe et al. 2010). Studi petrografi dan petrokimia mereka juga mengonfirmasi adanya manifestasi panas bumi yang jelas di dalam tubuh kaldera ini, sinyal bahwa dapur magma di bawahnya belum sepenuhnya “padam”.

Rekonstruksi morfologi yang lebih rinci dilakukan oleh Okuno dan rekan-rekannya (2017) dalam IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. Mereka mengidentifikasi lima gunung pasca-kaldera yakni Lesung, Tapak, Sengayang, Pohen, dan Adeng yang tumbuh di tepi selatan kaldera pasca letusan besar pembentuk kaldera terjadi. Berdasarkan hubungan aliran lava dan endapan longsoran, urutan usia dari yang tertua ke termuda adalah Sengayang, Adeng, Pohen, Lesung, lalu Tapak.
Gunung Tapak dan Lesung diperkirakan berumur kurang dari 23.000 tahun, karena keduanya tidak tertutup endapan letusan dasitik ataupu ignimbrite termuda dari Batur. Sebagai penanda waktu tambahan, endapan jatuhan skoria di kawasan ini bahkan menyisipkan dua lapisan tefra asing: tefra Samalas dari Lombok (1257 M) dan tefra Penelokan dari Batur (sekitar 5.500 tahun lalu) ini bukti bahwa kawasan tersebut menjadi “buku catatan” alami dari berbagai letusan gunung api di sekitarnya.
Dapur Panas di Bawah Bedugul
Warisan vulkanik ini bukan cuma soal masa lalu. Di dalam kaldera yang sama, tepatnya di kawasan Bedugul, terdapat salah satu prospek panas bumi terbesar di Bali: Lapangan Panas Bumi Bedugul (Bedugul Geothermal Field/BGF). Studi Purnomo dan Pichler yang diperluas dalam ulasan Geothermal systems on the island of Bali menjelaskan bahwa BGF tersusun oleh batuan vulkanik andesitik yang ditutupi tuf, lapili tuf, dan aluvium, mencakup kerucut-kerucut pasca-kaldera yang sama yakni Tapak, Lesong, Pohen, Adeng, dan Sengayang yang terbentuk sejak Pleistosen hingga Holosen (2,58 juta tahun yang lalu?hingga kini).
Eksplorasi resmi BGF dimulai sejak 1971 sebagai bagian dari kerja sama bilateral Indonesia dan Selandia Baru. Setelah izin eksplorasi terbit pada 1996, enam sumur dibor sejak 1997, dan uji produksi pada 1998 mencatat entalpi alir sekitar 2.620 kJ/kg dimana angka yang menandakan sistem geotermal berkualitas tinggi. Studi pemodelan numerik terbaru oleh tim yang dipublikasikan di Geothermics (ScienceDirect) menegaskan bahwa BGF adalah sistem yang didominasi uap (vapor-dominated) dengan tekanan zona uap sekitar 47 bar pada suhu mendekati 260°C, dicirikan sebagai lapangan “prematur” pada sistem vapor-dominated, dengan zona hidrostatik panas, zona uap, dan zona transisi yang berbeda-beda. Dinding kaldera yang rapat air dan tudung berbentuk kubah (cap rock) menjadi kunci: struktur inilah yang menjebak panas di pusat kaldera dan mengarahkan aliran fluida ke bagian utara, sementara di selatan justru terbentuk jalur resapan air dingin ke bawah.

Namun, meski potensinya besar dan menjadi salah satu sumber energi terbarukan paling menjanjikan untuk menekan emisi karbon di Pulau Dewata, proyek pengembangan BGF saat ini terhenti. Alasannya bukan teknis, melainkan sosial-kultural: lokasi proyek berada di kawasan yang dianggap sakral oleh masyarakat Hindu Bali, sehingga pemanfaatannya menjadi isu sensitif yang belum terselesaikan hingga kini. Ini adalah contoh nyata bagaimana potensi geosains harus berdialog dengan nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat setempat, bukan sekadar dilihat dari kacamata teknokratis semata.
Dari Ancaman Jadi Aset: Peluang Geowisata
Ironisnya, justru karena tidak (atau belum) dieksploitasi secara masif untuk energi, kawasan Buyan-Beratan menyimpan peluang besar sebagai destinasi geowisata. Pola ini sudah terbukti di kaldera tetangga yakni Kaldera Batur telah lebih dulu ditetapkan UNESCO sebagai Global Geopark sejak 2012, menjadi geopark pertama Indonesia yang masuk jaringan global tersebut. Kawasan itu kini mengelola belasan geosite, memadukan jejak dua kali letusan kataklismik, danau vulkanik, aliran lava purba, dan budaya masyarakat Kintamani sebagai satu paket edukasi sekaligus daya tarik wisata.

Kaldera Buyan-Beratan memiliki modal serupa, bahkan dengan diferensiasi yang kuat: tiga danau kaldera dalam satu cekungan, kompleks lima gunung pasca-kaldera dengan sejarah letusan yang bisa direkonstruksi lapis demi lapis, belasan mata air panas yang tersebar di sekitar kaldera, serta ekosistem hutan hujan pegunungan Munduk yang jauh lebih lembap dan hijau dibanding Kintamani. Bila dikembangkan dengan pendekatan geopark (taman bumi) sebagaimana filosofi yang diusung Geopark Batur, yaitu memadukan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, kawasan Bedugul-Buyan-Beratan berpotensi menjadi destinasi geowisata kelas dunia berikutnya di Bali, tanpa harus membuka kembali perdebatan sensitif soal eksploitasi panas buminya.
Menyatukan Sains, Budaya, dan Ketangguhan
Bagi praktisi kebencanaan dan geosains, kisah Buyan-Beratan adalah pengingat penting bagaimana kaldera yang tampak “tidur” bukan berarti tidak aktif. Manifestasi panas bumi yang masih kuat menunjukkan sistem magmatik di bawahnya tetap hidup, sehingga pemantauan berkelanjutan baik lewat jaringan sensor seismik-geokimia maupun pemodelan berbasis data spasial seperti QGIS dan citra satelit tetap krusial, sama pentingnya dengan pemantauan di Batur atau Agung tidak hanya biacara anmcan gunungapi tapi jauh lebih tinggi ancaman gerakan tanah (longsor) yang selalu mengintai di kawasan Kaldera Buyan-Beratan.
Di sisi lain, potensi energi bersih dari sistem vapor-dominated Bedugul tetap menjadi peluang strategis bagi transisi energi Bali, asalkan pendekatannya inklusif dan menghormati kearifan lokal. Akhirnya Kaldera Buyan-Beratan mengajarkan bahwa geosains, energi, budaya, dan pariwisata bukan empat hal yang berdiri sendiri, melainkan satu jalinan yang saling menentukan arah pembangunan Bali yang berkelanjutan.
Daftar Referensi
- Watanabe, K., Yamanaka, T., Harijoko, A., Saitra, C., & Warmada, I. W. Caldera Activities in North Bali, Indonesia. Journal of Applied Geology, Universitas Gadjah Mada. https://doi.org/10.22146/jag.7274
- Okuno, M., Harijoko, A., Warmada, I. W., Watanabe, K., Nakamura, T., Taguchi, S., & Kobayashi, T. (2017). Geomorphological Classification of Post-Caldera Volcanoes in the Buyan–Bratan Caldera, North Bali, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 103, 012014. https://doi.org/10.1088/1755-1315/103/1/012014
- Global Volcanism Program. Buyan-Bratan. Smithsonian Institution, National Museum of Natural History. https://volcano.si.edu/volcano.cfm?vn=264001
- Purnomo, B. J., & Pichler, T. (2015). Geothermal Systems on the Island of Bali, Indonesia. Journal of Volcanology and Geothermal Research. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0377027315002954
- Hochstein, M. P., & Sudarman, S. Model of a Post-Caldera Volcano-Hosted and Vapor-Dominated System through a Numerical Simulation Study of the Bedugul Geothermal Field, Bali Island, Indonesia. Geothermics (ScienceDirect). https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0375650523002031
- Hochstein, M., & Joenos, R. M. (2005). The Bedugul Geothermal Field, Bali (Indonesia). IGA News, ResearchGate.
- UNESCO / International Geoscience and Geoparks Programme. Batur UNESCO Global Geopark. https://www.unesco.org/en/iggp/batur-unesco-global-geopark
- Kementerian ESDM RI. UNESCO Tetapkan Kaldera Gunung Batur Sebagai Kawasan Geopark. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/unesco-tetapkan-kaldera-gunung-batur-sebagai-kawasan-geopark








