• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, October 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Agama Tirta, Bagaimana jika Ritual Tanpa Air?

Oka Agastya by Oka Agastya
22 September 2026
in Kabar Baru, Lingkungan, Opini
0
0

Di Bali, air tidak pernah sekadar air. Ia mengalir dari mata air pegunungan ke pura, dari pura ke saluran subak, dari sawah kembali ke laut dan di setiap titik itu ada doa. Tirta Empul, Pura Ulun Danu Batur, atau pura beji kecil di pojok subak manapun, semuanya berdiri di atas logika yang sama: air adalah yang menghidupkan, sehingga air pula yang disucikan. Pertanyaannya sekarang, di tengah krisis iklim dan tekanan pembangunan yang kian berat, adalah apakah fondasi fisik dari kepercayaan ini masih akan ada untuk generasi berikutnya.

Photo tumpukan canang di pancoran Pura Tirta Empul simbolis bagaimana dimuliakannya air (sumber Canva)

Untuk memahami kekhawatiran ini, ada baiknya kita melihat sebentar ke bawah tanah. Bali adalah pulau vulkanik muda, dan sebagian besar air tawarnya tersimpan dalam sistem akuifer yang terbentuk dari lapisan batuan gunung api berupa breksi, lava, dan endapan piroklastik yang berlapis-lapis di lereng Batur, Agung, dan Batukaru. Air hujan yang jatuh di kawasan hulu meresap perlahan menembus lapisan-lapisan ini, lalu keluar kembali sebagai mata air di titik-titik tertentu, biasanya di batas antara lapisan yang mudah dan sulit ditembus air.

Menariknya, penelitian hidrogeologi lama yang dilakukan di lereng selatan Gunung Batur justru menemukan bahwa sebaran mata air dan sawah-sawah subak sangat berkaitan erat dengan pola aliran air tanah semacam ini, bukan kebetulan bila leluhur kita memilih membangun pura air justru di titik-titik keluaran alami itu. Riset lain tentang latar belakang subak juga menegaskan bahwa sistem ritual air di Bali sesungguhnya tumbuh berdampingan dengan pemahaman empiris masyarakat atas siklus hidrologi pulau mereka sendiri.

Namun sistem seperti ini rapuh justru karena sifat dasarnya: akuifer pulau kecil bukan gudang air tanpa batas. Ia bergantung pada keseimbangan antara air yang meresap di hulu dan air yang diambil di hilir. Ketika pengambilan lebih besar dari pengisian ulang, muka air tanah turun, dan di wilayah pesisir air laut mulai merembes masuk menggantikan air tawar yang hilang. Data pemerintah menunjukkan penurunan muka air tanah di Cekungan Denpasar–Tabanan mencapai belasan hingga puluhan meter dalam rentang waktu dua dekade, sementara intrusi air laut sudah tercatat di sejumlah titik Bali selatan. Ini bukan sekadar angka statistik, ini berarti mata air yang menghidupi pura dan sawah subak di sekitarnya perlahan kehilangan sumbernya sendiri.

Krisis iklim menambah lapisan kerentanan lain. Berbagai kajian pola curah hujan di Bali dan sekitarnya memperlihatkan pergeseran musim hujan-kemarau serta kecenderungan kekeringan meteorologis yang lebih sering dan lebih panjang, terutama saat fenomena El Niño menguat. Padahal proses peresapan air ke akuifer bergantung penuh pada keteraturan hujan musiman itu. Ketika hujan datang lebih singkat, lebih ekstrem, atau lebih jarang, siklus pengisian ulang akuifer volkanik yang selama ini menjadi tumpuan kehidupan dan keyakinan masyarakat Bali pun ikut terganggu.

Photo aliran irigasi subak yang berebut sumber daya air untuk pemenuhan fasilitas pendukung pariwisata (sumber Canva)

Di saat yang sama, kebutuhan akan air justru melonjak. Penduduk Bali terus bertambah, dan pariwisata pulih jauh melampaui masa sebelum pandemi, dengan jutaan wisatawan setiap tahun yang menempati hotel dan vila yang menyedot air jauh lebih banyak dibanding rumah tangga biasa. Air yang dulunya dianggap milik bersama kini menjadi sumber daya yang diperebutkan antara kebutuhan dasar warga, irigasi sawah, dan industri pariwisata, sebuah pergeseran nilai yang sebenarnya bertentangan dengan semangat nunas tirta itu sendiri, di mana air seharusnya mengalir adil bagi semua yang membutuhkan.

Yang menarik untuk direnungkan, leluhur kita sebetulnya sudah lama memahami bahwa air adalah sumber daya terbatas jauh sebelum ada istilah krisis iklim atau eksploitasi air tanah. Sistem subak, dengan jadwal tanam dan gilir air yang diatur lewat ritual di pura-pura air, pada dasarnya adalah mekanisme sosial untuk mendistribusikan air secara adil dan menjaga siklusnya tetap lestari, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah kajian antropologi tentang jaringan pura air di Bali. Pemuliaan terhadap air bukan sekadar simbol spiritual, melainkan pengakuan bahwa sumber daya ini mudah habis jika diperlakukan sembarangan.

Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal apakah krisis ini nyata, data hidrogeologi dan iklim sudah cukup jelas menjawabnya melainkan apakah kita masih mendengarkan pesan yang sudah dititipkan leluhur di setiap pura mata air itu. Jika akuifer terus menyusut dan hujan makin tak menentu, Agama Tirta mungkin tidak akan lenyap sebagai keyakinan, tetapi ritualnya bisa kehilangan makna paling mendasarnya: hubungan langsung dan hidup antara manusia dengan air yang benar-benar mengalir, bukan sekadar air yang didatangkan dari tangki.

Referensi

  • Kayane, I., Shimmi, O., & Winaya, P.D. (1992). Physical and religious background of subak in Bali. Dalam Kayane, I. (Ed.), Water Cycle and Water Use in Bali Island. University of Tsukuba, Institute of Geoscience.
  • Itadera, K., Tanaka, T., & Shimano, Y. (1992). Hydrogeological aspects on the distribution of springs on the southern slope of Batur volcano, island of Bali, Indonesia. GeoJournal.
  • BaleBengong.id (2025). Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali.
  • BaleBengong.id (2026). Turis dan Penduduk Makin Banyak, tetapi Krisis Air Kian Mengintai.
  • The Conversation Indonesia (2026). Bisakah pariwisata terus tumbuh tanpa mengorbankan ketahanan air?
  • BBMKG Wilayah III Denpasar. Perubahan Iklim di Bali dari Sudut Pandang Curah Hujan.
  • Pawitrama, N.I. dkk. (2023). Kajian kekeringan meteorologis di Pulau Bali terkait fenomena ENSO dan IOD. Seminar Nasional Teknologi Industri, UGM.
Tags: BaliBencanakekeringanLingkunganTirta
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan: Sebuah Kontemplasi Eco-Sosial-Religius di Bali

Infrastruktur Komputasi vs. Neraca Air: Mengukur Jejak Ekologis Data Center di Bali

12 October 2026
Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

Makna dari Singkat yang Lekat di Minikino Film Week 2026

28 September 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Ada Dapur Raksasa di Bawah Danau-danau di Bedugul

27 September 2026
Bali dan Banjir: Apakah Kita Serius Menata Kota?

Kesalahpahaman dalam Penganggaran Mitigasi Bencana di Bali

25 September 2026
IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

IDRiM 2026 Bahas Bencana Dunia: Bali Cuma Tuan Rumah atau Ikut Cari Solusi?

12 September 2026
Catatan Perjalanan Desa Ban: Masih Terjal dan Krisis Air

Catatan Perjalanan Desa Ban: Masih Terjal dan Krisis Air

31 August 2026
Next Post
Menelusuri Bali Lewat Permainan di SAKA Museum

Menelusuri Bali Lewat Permainan di SAKA Museum

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Samarasa Lewat Citta, Rasa dan Karsa di UWRF 2026

Membaca Samarasa Lewat Citta, Rasa dan Karsa di UWRF 2026

13 October 2026
Rekonstruksi Perempuan Bali dalam Sejarah 1965

Rekonstruksi Perempuan Bali dalam Sejarah 1965

13 October 2026
Konservasi Ruang Airtanah Berbasis Ruang Kesakralan: Sebuah Kontemplasi Eco-Sosial-Religius di Bali

Infrastruktur Komputasi vs. Neraca Air: Mengukur Jejak Ekologis Data Center di Bali

12 October 2026
Private: [Indepth Report] The Last Dragonfly

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

12 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia