
Beberapa waktu lalu tim BaleBengong menghubungi Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida untuk mengetahui pembenahan yang dilakukan pasca banjir September lalu di hulu hingga hilir. Namun, hingga saat ini kami belum mendapatkan jawaban.
Dilansir dari Detik Bali, BWS Bali-Penida mengatakan pihaknya akan menormalisasi enam sungai di Bali. Dalam wawancara September 2025 tersebut, sungai yang akan dinormalisasi adalah Sungai Badung, Sungai Mati, Sungai Ayung, Sungai Unda, dan dua sungai lain yang masih diidentifikasi. Selain itu, juga direncanakan pembangunan fasilitas infrastruktur pengendalian banjir, seperti DAM dan tanggul perbaikan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Denpasar membangun drainase baru di 11 titik dan normalisasi 40 titik aliran sungai. Normalisasi sungai dilakukan dengan mengeruk lumpur dan sedimen yang membuat sungai dangkal. Selain itu, juga dilakukan pembersihan sampah dan sumbatan.

Pada minggu terakhir Oktober 2026, hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Bali. Dalam situs resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, wilayah Bali masih berada pada periode musim kemarau hingga 31 Oktober 2026. Potensi hujan diperkirakan terjadi dengan curah hujan ringan. Sementara, tidak terdapat peringatan dini curah hujan tinggi.
Meski begitu, pasca hujan malam hari Selasa, 27 Oktober 2026 dan dini hari pada Rabu, 28 Oktober 2026, beberapa titik di Bali mengalami genangan air, salah satunya di Jalan Lembusora, Denpasar dan beberapa ruas jalan di Tabanan.
Mitigasi menjelang musim hujan perlu dilakukan untuk mencegah kejadian berulang September 2025 lalu. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah untuk mitigasi curah hujan tinggi, terutama bagi warga di kawasan perkotaan padat.
Perhatikan lingkungan sekitar
Sampah menyangkut di selokan menjadi penyebab genangan yang sering diabaikan. Pasalnya, air hujan tidak bisa mengalir dengan lancar dan akhirnya meluap ke jalan hingga ke pemukiman.
Air mengalir dari hulu ke hilir. Begitu pula dengan sampah yang ada di sungai. Sampah dari aliran air di hulu akan ikut terbawa arus sungai, hingga menumpuk di satu titik dan menyebabkan genangan.
September tahun lalu, tumpukan sampah dari beberapa aliran sungai di Kota Denpasar terbawa ke Teluk Benoa. Teluk Benoa menjadi hilir atau muara dari beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) utama di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Tumpukan sampah yang terbawa dari hulu ke Teluk Benoa menyebabkan matinya pohon mangrove.
Selain membersihkan sampah di selokan dan saluran air, hindari pula menutup atau menyempitkan saluran dengan beton atau paving. Penyempitan ini biasanya dilakukan ketika terjadi pembangunan. Kawasan yang seharusnya menjadi tempat air mengalir malah ditutup dengan beton, akibatnya kawasan tersebut tergenang air.
Musim hujan juga kerap kali disertai angin kencang. Maka dari itu, perlu dilakukan pemangkasan pohon secara rutin, terutama pohon tua yang rentan roboh.
Mitigasi di dalam rumah
Selain di luar rumah, kamu juga perlu memastikan rumahmu sudah memiliki saluran air hujan. Sistem saluran air hujan dapat berupa sumur resapan. Bisa juga menggunakan biopori pada rumah yang kebanyakan dibeton.
Apabila kamu berada di kawasan rentan banjir, sebaiknya persiapkan diri sejak dini. Letakkan dokumen berharga di tempat yang mudah dijangkau. Bisa juga siapkan arsip dokumen digital untuk berjaga-jaga.
Pindahkan barang elektronik ke tempat tinggi sebelum air naik. Listrik kemungkinan besar mengalami korsleting ketika terkena genangan air.
Penting juga untuk mengetahui jalur evakuasi di sekitar lingkungan rumah. Pastikan lokasi evakuasi berada di tempat terbuka yang lebih tinggi dan dekat dari tempat tinggal.
Identifikasi wilayah sekitar dapat dilakukan melalui situs resmi atau aplikasi InaRISK. Melalui aplikasi ini, kamu dapat melihat peta risiko banjir suatu wilayah dengan tingkat rendah, sedang, dan tinggi. Peta InaRISK juga menampilkan bahaya bencana lain, seperti tsunami, banjir bandang, gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.
Dengan mengidentifikasi potensi bencana di lingkungan sekitar, kamu dapat menentukan mitigasi apa yang sebaiknya dilakukan di rumah maupun di luar rumah.
Langkah ketika banjir
Ketika banjir sudah terjadi, beranjak ke tempat yang lebih tinggi. Hindari tempat seperti saluran air, kubangan, dan tempat lain yang tergenang air. Genangan air sewaktu-waktu dapat berubah menjadi banjir bandang tanpa peringatan pada saat hujan biasa maupun hujan deras.
Matikan semua jaringan listrik untuk menghindari korsleting. Cabut alat-alat yang masih tersambung dengan listrik. Jangan menyentuh peralatan bermuatan listrik ketika berada di genangan air.
Jika sedang berada di luar rumah, jangan berjalan di arus air, terutama ketika genangan air sedang tinggi. Ini dilakukan untuk menghindari jatuh, tersandung, atau menginjak benda berbahaya. Sebaiknya berjalan di atas pijakan atau gunakan tongkat untuk mengecek kondisi tempat berpijak.
Jangan mengemudikan mobil di wilayah banjir. Ketika air naik, keluar dari mobil dan jangkau tempat yang lebih tinggi untuk menghindar dari arus banjir.
Beberapa hal di atas dapat dilakukan dari diri sendiri terlebih dahulu. Kemudian, mengajak orang-orang di lingkungan sekitar untuk melakukan langkah mitigasi, sehingga ketika banjir terjadi, potensi kerusakan dan risiko dapat diminimalisir.









