• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, August 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

Made Teja Permana by Made Teja Permana
19 August 2026
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Oleh: Made Teja Permana

Aku sedang menjemput temanku dari Canggu menuju ke Jalan Hayam Wuruk. Selama di jalan, aku mencium bau hujan yang sangat khas dengan Bali—bau petrikor tercampur dengan bau batu-batuan (batu paras, batu bata, dan aspal), bau amis seperti bangkai, telur, dan juga bau parfum kembang rampai yang bercampur dengan bau dupa. Tetapi, saya, sebagai diaspora Bali yang tinggal Malang, justru merasa senang karena bau yang saya cium mengingatkan saya bahwa saya sudah kem-Bali. 

Bau hujan di Malang hampir tidak tercium. Aku hanya mencium bau udara yang biasa, tidak berbau. Meskipun, terkadang tercium bau hujan yang bercampur dengan bau kayu dan juga tanah. Namun, bau hujan di Malang tidak sebau yang ada di Kota Denpasar. Lalu, muncul pertanyaan yang ada di benakku: kenapa adanya perbedaan bau hujan yang sangat signifikan di antara dua kota ini? Apakah bau merupakan penanda akan kondisi kota? 

Bagaimana bau hujan berinteraksi dengan material dan kaitannya dengan lingkungan

Obrolanku dengan Oka Agastya, seorang pakar Geologi, perlahan menjawab keingintahuanku terhadap bau itu. Di sini, ia menjelaskan bagaimana interaksi bau hujan, atau bahasanya petrikor, dengan material di sekitar kita. 

Oka Agastya bercerita interaksi air hujan dengan beberapa medium, seperti tanah humus, vulkanik, beton, dan aspal, akan menghasilkan bau yang berbeda. 

Oka Agastya menyebut petrikor itu seperti aerosol, layaknya parfum. Ia di sini menjelaskan bagaimana bau petrikor itu dihasilkan, “Setiap medium atau material itu punya pori kecil-kecil, dan pori-pori itu punya ada gasnya. Ketika air itu menyentuh pori-pori, dan di pori-pori ada gas, nah airnya itu mendorong gasnya itu sehingga baunya bisa tercium,” sebutnya.

Oka Agastya menjelaskan bau petrikor dipengaruhi oleh tiga hal: kalau di tanah yang subur, baunya dipengaruhi oleh mikroba, makanya menghasilkan bau yang earthy; kalau dari mineral—seperti halnya beton, beton itu terbuat dari pasir yang direkatkan oleh semen, dan semen berasal dari batuan batu gamping (CaCo3), makanya ketika air hujan terkena beton, baunya khas dengan bau petrikor yang bercampur kapur; aspal terpengaruh dari komposisi aspal itu sendiri, karena aspal merupakan material hidrokarbon layaknya bensin dan minyak bumi—ketika bersentuhan, bau petrikor akan menyerupai bau kimia. Makanya, bau hujan yang tercium ketika terkena aspal, baunya akan mendekati bau seperti plastik yang dipanaskan lalu terkena air. 

Selain itu, Oka Agastya menjelaskan bagaimana bau hujan itu terbentuk melalui pembentukan hujan di lapisan ozon, “Sedangkan, proses air hujan sendiri, di lapisan ozon, kan dia menangkap air dari lapisan langit, mereka juga menangkap debu, dan partikel lainnya. Inilah yang mempengaruhi bau petrikor itu,” sebutnya.

Oka Agastya menjelaskan bau petrikor itu sendiri datang secara alami dari tumbuhan. Ketika musim kering, tumbuhan akan melapisi daunnya dengan senyawa kimia seperti minyak–tujuannya agar tumbuhan tidak terlalu kering. Inilah mengapa, ketika hujan, akan tercium aroma hutan. Aroma inilah yang dicari oleh manusia dan binatang untuk relaksasi.

Jadi, ketika di suatu tempat kita tidak mencium bau petrichor itu, hal ini erat pengaruhnya antara polusi yang ada di suatu tempat, atau kemampuan manusia saat ini untuk mencium baunya. Bau ini bisa menjadi indikator lingkungan—apabila bau hujannya earthy, ada bau hutannya, berarti lingkungannya bagus. Kalau baunya bau kimia, kemungkinan di lingkungan sekitarnya tercemar atau tidak baik. 

Inilah mengapa masyarakat terdahulu mampu untuk mendeteksi pergantian musim—kapan musim hujan akan tiba, dan kapan musim hujan mau berhenti—karena masyarakat terdahulu mendeteksi cuaca melalui bau petrichor itu tadi. 

Oka Agastya di sini bilang, saat ini sudah banyak distorsi baru—seperti halnya banyak beton, batu kapur, aspal, dan lain-lain—yang membuat masyarakat tidak sadar akan bau petrikor itu. Padahal, manusia secara alamiah mampu untuk mendeteksi petrichor dalam beberapa persen. 

Bagaimana kondisi tanah dan batuan di Denpasar. Denpasar rawan bencana?

Di sinilah yang menarik dari obrolan ku dengan Oka Agastya—tanah di Denpasar sangat kaya akan vulkanik.

“Karakteristik tanah di Denpasar itu tidak terlepas dari kontrol biologinya sendiri, dan di Bali, tidak lepas dengan vulkanik. Sehingga, unsur pengayaan mineral dari batuan vulkanik itu mendominasi material dan endapan tanah di sekitaran Denpasar.  Denpasar itu vitik andosol (tanah hasil lapukan batuan vulkanik), unsur haranya atau unsur mineral banyak dikontrol lapukan vulkanik,” sebutnya.

Dari karakteristik tanah dan batuan di Denpasar, tentunya hal ini sangat memengaruhi bau hujan itu tersendiri. Bau petrikor itu pula tak terlepas dari senyawa yang diproduksi oleh bakteri tanah, dan karakteristik tanah dan batuan di Denpasar sangat mendukung hal ini.  

Apabila bau hujan yang kita cium tidak seperti bau hujan pada umumnya, hal ini menunjukan adanya kerusakan lingkungan yang terjadi. “Tapi ketika kita sudah tidak bisa mencium lagi gitu ya atau bahkan petrikor tidak didominasi oleh bau hara atau bau bau tanah gitu ya, tapi lebih didominasi oleh bau yang lebih ke aspal, ataupun lebih bau kapur gitu dan beton berarti sebenarnya secara alami daerah kita itu sudah teralih fungsikan lahannya gitu kan. Ketika hujan yang pertama kali kita cium adalah bau misalkan bau dari si beton gitu ya, bau kapur gitu.”

Oka Agastya menyebutkan penanda dari bau hujan yang seperti itu—bau kapur, bau beton, bukan bau tanah—bisa menunjukan bencana yang akan dialami ke depannya.

“Berarti selanjutnya mungkin kita sudah bisa menduga bahwa oh jangan-jangan airnya tidak mampu meresap nih. Karena kan bukan bau tanah yang kita cium tapi bau bau kapur dari betonnya. Otomatis ke depannya apa? Misalkan berkaitan dengan banjir dan sebagainya gitu. Itu salah satu semacam sinyal alarm alami mungkin yang dimiliki oleh manusia gitu. Iya. Itu pun mungkin binatang juga bisa mencium itu kan. Bahwa ada indikasi perubahan lingkungan,” ujar Oka.

Ini pula langsung dialami oleh Oka Agastya dari ceritanya; aku menanyakan pengalaman pribadinya terhadap bau hujan di sekitarnya. 

Oka Agastya bercerita bagaimana bau hujan di rumahnya tergantung dari kondisi material rumahnya. “Nah, kalau waktu hujan gitu ya di rumah sendiri sebenarnya untuk unsur beton sama tanah itu 50-50 itu. Karena di halaman saya masih punya halaman yang cukup luas, karena rumah Bali. Jadi ada yang sudah terbetonkan, terutama beton yang pakai batu hias itu ya dan batu sikat itu. Ada juga yang memang masih luas isinya rumput sama tanaman gitu. Dan kebetulan kamar saya posisinya jendela itu menghadap tanah ya dan ada banyak tumbuhan.”

“Memang yang pertama kali saya cium itu bau tanah bau tanah yang sangat menenangkan gitu ya karena posisi meja kerja juga menghadap ke jendela. Tapi yang menarik juga, saya juga pernah ngerasain dan ngobrol gitu ya sama orang tua gitu di halaman depan di Bali-Bali gitu ya. Itu tanahnya itu sudah terbentangkan sama batu sikat gitu. Ketika hujan itu memang baunya lebih ke arah kapur gitu. Dan ya itu tidak ada unsur yang bikin menenangkan gitu ya secara feel gitu ya pribadi gitu. Nah, jadi ya sangat mempengaruhi gitu ya.”

Oka Agastya bercerita bagaimana bau hujan yang ia cium ketika di luar rumahnya.

“Nah, kalau di luar keluar rumah gitu ya, ini kembali lagi apakah mungkin karena banyaknya distorsi gitu ya. Karena ketika keluar rumah otomatis polusi itu ya, polusi asap kendaraan itu juga sudah menghilangkan kemampuan yang mencium tadi bau-bau hasil hujan itu. Terus kemarin misalkan pasca tadi yang pengelolaan sampah yang kurang baik itu, yang justru kita cium ya bau sampah itu pasca hujan itu kan. Dan itu bercampur gitu kan antara sampah plastik sampah. Apalagi sampah yang sifatnya bau amis itu. Justru lebih menyebarkan bau amisnya. Nah, itu yang dirasakan di luar rumah itu ya.” sebutnya

Membedah cara membangun masyarakat Denpasar dan hubungannya dengan resapan air

Aku menanyakan Oka Agastya perihal persebaran karakteristik tanah di Bali. Ia menyebutkan bahwa, sebagian besar tanah yang berkapur berada di daerah selatan—daerah Nusa Dua, dan Jimbaran. Meskipun begitu, kita tetap mencium bau hujan yang berkapur di Denpasar, meski seharusnya tidak. Ia menyatakan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan pembangunan di Denpasar.

Pada bagian ini lah yang sangat mengejutkanku—dari hal yang simpel dari mencium bau, sampai mengetahui kondisi pembangunan di Denpasar yang mengakibatkan banjir September lalu.

Oka Agastya bilang kalau orang-orang di Denpasar membangun rumah, mereka menimbun tanah dengan batu kapur terlebih dahulu. “Tapi yang menarik kan adalah fenomena karena kalau kita membangun sebuah bangunan di Kota Denpasar ataupun di sekitar tempat lainnya itu sepertinya sama. Mereka tidak menggunakan bus atau tanah vulkanik itu. Mereka cari batu kapur dari tempat lain. Itu ditimbun dulu untuk sebagai dasar. Baru setelah itu mereka bangun rumah itu.”

Dengan kondisi pembangunan seperti ini, hal ini memiliki dampak yang sangat detrimental terhadap penyerapan air di Denpasar—cadangan air tanah yang menurun hingga menyebabkan penurunan tanah, dan banjir. 

Untuk mengatahui bagaimana dampak dari pembangunan yang tidak baik di Denpasar, Oka Agastya menjelaskan kepadaku bagaimana alur air hujan secara alami. 

Ketika hujan turun di tanah yang terbuka—entah kebun, rumput, atau halaman—air itu meresap perlahan ke bawah, masuk menjadi cadangan air di dalam tanah. Ia tidak menggenang, karena tanah menyerapnya seperti spons.

Masalahnya, permukaan Denpasar hari ini bukan lagi spons. Ia lebih menyerupai meja kaca. Ketika sebagian besar tanah sudah tertutup beton, aspal, dan timbunan kapur, air hujan kehilangan jalan masuknya ke bawah tanah. Tapi air tidak lantas hilang—ia tetap tunduk pada gravitasi. Karena tak bisa meresap, seluruh air hujan langsung mengalir di permukaan, menumpuk di titik-titik rendah dalam waktu singkat. Selokan dan sungai tak sanggup menampung lonjakan mendadak itu, lalu meluap. Inilah yang kita kenal sebagai banjir—persis yang melanda Denpasar September lalu.

“Di sinilah letak salah pahamnya. Banjir tidak terjadi karena air mengalir pergi begitu saja. Justru sebaliknya: banjir terjadi karena air tidak bisa pergi ke bawah, sehingga ia menumpuk di atas—di jalan, di permukiman, di ruang tempat kita tinggal.”

“Namun cerita ini punya sisi lain yang tak terlihat. Air hujan yang gagal meresap tadi juga berarti satu hal: cadangan air di dalam tanah tidak pernah terisi ulang. Bertahun-tahun, tabungan air tanah Denpasar terus ditarik lewat sumur dan pompa, sementara setorannya makin seret karena resapan—baik di kota maupun di hulu—kian tertutup pembangunan.”

“Akibatnya, cekungan air tanah perlahan kosong. Di daerah pesisir seperti Sanur, kekosongan itu mulai diisi air laut, memicu intrusi air asin.”

“Maka terjadilah ironi yang getir. Dari satu akar yang sama—hilangnya kemampuan tanah menyerap air—lahir dua bencana yang seolah berlawanan: banjir yang menggenangi kota di permukaan, dan kekeringan air tanah yang menggerus dari bawah. Air yang seharusnya masuk ke perut bumi justru berlarian di atasnya sebagai banjir; dan karena tak pernah masuk, bumi pun kehabisan simpanannya. Denpasar, dengan kata lain, sedang kebanjiran sekaligus kehausan.”

Akibat ini sudah dirasakan langsung oleh Oka Agastya, ketika ia menceritakan kondisi air sumur tradisional di rumahnya.

“Dulu, katanya, sumur itu dangkal saja. Air sudah ditemukan di kedalaman sekitar dua meter, dan kolom airnya tebal—sekitar tiga meter. Airnya bersih. Tapi seiring waktu, muka air tanah terus turun. Air kini baru ketemu jauh lebih dalam, dan kolomnya menipis hingga tinggal sekitar satu setengah meter. Karena air makin dalam, mesin pompa pun terpaksa menyedot makin ke dasar.”

“Di situlah persoalannya. Di lapisan paling bawah tanah Sanur mengendap pasir besi—pasir hitam sisa pelapukan batuan gunung api, jenis yang sama dengan yang mewarnai pantai-pantai Sanur dan Padang Galak. Selama muka air masih tinggi, endapan itu tak terganggu. Tapi begitu pompa menyedot sampai ke dasar, ia ikut mengaduk pasir besi tadi. Unsur besi terangkat naik, mencemari air. Maka air sumur pun berbau seperti besi berkarat, dan bila dipakai mencuci, pakaian putih membekas noda karat kecoklatan.”

“Yang penting dipahami, bau besi ini bukan sepenuhnya urusan alam. Besinya memang bersumber alami dari batuan. Tapi yang membuatnya teraduk dan mencemari air adalah tangan manusia—penyedotan yang kian dalam dan agresif, karena air tanahnya sendiri kian menyusut.”

“Dan mengapa ia menyusut? Sebabnya sama persis dengan yang membuat kota kebanjiran: air hujan tak lagi meresap. Ketika resapan tertutup, cadangan air tanah tak pernah terisi ulang, sementara sedotan sumur dan pompa jalan terus. Muka air turun, pompa menggerus lebih dalam, endapan teraduk, air berbau besi. Satu rantai panjang yang berpangkal pada hal yang itu-itu juga.”

Bali akan tenggelam?

Seperti penjelasan mengenai berkurangnya cadangan air tanah tadi, dampak dari fenomena ini justru akan menyebabkan Bali akan tenggelam di kemudian hari. Fenomena penurunan tanah sudah terjadi di beberapa titik: Kuta, Sanur, dan Klungkung. 

“Fenomena penurunan tanah disebabkan oleh tenunan kejadian yang sudah dibahas tadi—penyerapan air oleh tanah yang buruk, dan juga pemanfaatan air tanah yang berlebih. Karena ibarat spons ya, Ketika dia isi air kan dia akan ngembang. Taruhlah bangunan gitu ya di sini sesuatu yang berat, dia tidak akan terganggu. Tapi ketika airnya itu mulai hilang, berarti dia akan mulai menipis ya. Padatan tanah akan makin berkurang gitu kan, makin turun. Nah, itu yang terjadi gitu di Sanur, Kuta dan klungkung, karena airnya mulai disedot hilang, otomatis dia akan turun tanahnya,” sebutnya.

Membedah cara Denpasar dibangun

Kalau Oka Agastya membaca kota lewat tanah dan bau, Bardha Gemilang membacanya lewat cara kota itu didirikan. Sebagai arsitek, ia tahu bahwa permukaan Denpasar yang sudah tertutupi oleh beton dan aspal, dan kejadian ini merupakan pilihan dari masyarakat itu sendiri.

Yang mengejutkanku, pilihan itu terjadi ketika sudah ada aturan. Bardha menjelaskan bahwa tata ruang di Bali sebenarnya sudah mengatur berapa banyak lahan yang boleh ditutup bangunan. Ada Koefisien Dasar Bangunan (KDB), yang di Bali berkisar 40 hingga 70 persen—artinya sebagian lahan wajib dibiarkan tak terbangun. Ada pula Koefisien Dasar Hijau (KDH), yang mewajibkan sebagian area dihijaukan. Aturan-aturan ini dirancang untuk menjaga resapan dan ruang terbuka, karena berkaitan langsung dengan fungsi geospasial tanah—kemampuannya menyerap dan mengalirkan air.

“Ada ketentuan area hijau itu sekian persen dari bangunan—KDH dan KDB. KDB di bali (persentase antara area bangunan sama luas lahan sekitar 40-70%) ada KDH, area ketiga yang perlu dihijaukan sampai 10%. Ini tuh buat ngejaga resapan, area terbuka, dan lain-lain, karena ini terkait sama fungsi geospasial,” sebutnya.

Solusi teknisnya pun sebenarnya tersedia. Barda menyebut ada material seperti grass block dan porous pavement—paving berpori yang membiarkan air tetap meresap ke tanah alih-alih melimpas di permukaan. Artinya, membangun tanpa mematikan resapan bukan hal yang mustahil.

Tapi di sinilah persoalannya. Aturan ada, solusi ada, namun keduanya jarang benar-benar jalan. Barda menunjuk beberapa sebab. Pertama, urusan izin: di lapangan, pembangunan kerap berjalan lebih dulu, izinnya menyusul belakangan—Ketika sebuah bangunan dianggap melanggar, pemiliknya lebih memilih membayar denda ketimbang membongkar apa yang sudah berdiri. “Ada logika gini, nih lagi membangun nih, kalau dianggap melanggar, pemilik bangunan itu milih bayar denda dibandingkan bongkar bangunan,” sebutnya.

Kedua, soal kebiasaan. Beton dipilih karena lebih stabil, lebih rapi, dan paling mudah lolos pemeriksaan kualitas saat membangun. Sebaliknya, alternatif yang ramah resapan justru merepotkan—grass block menuntut perawatan rutin seperti memotong rumput, sementara porous pavement produksinya belum sebanyak paving biasa. 

Dari keingintahuanku tentang bau hujan tadi, Bardha memberitahuku perihal cara kerja drainase yang ada di Denpasar. Jalur drainase Denpasar sebenarnya adalah bekas aliran subak—saluran irigasi sawah yang, seiring pembangunan, dialihfungsikan menjadi drainase sekaligus pembuangan limbah. 

Kata dari penulis

Dari pengalamanku ini, aku menjadi sadar akan pentingnya panca indra yang kita miliki ini untuk menjaga diri dan sekitar kita. Sesimpel dari mencium bau bisa mengupas permasalahan yang terjadi di lingkunganku. 

Mungkin inilah hal yang kita bisa lakukan dari skala individu. Ga perlu yang berat-berat dulu, sesimpel mencari tahu dari pengalaman yang kita rasakan.

(Tulisan ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)

Tags: bau hujanbencana di balihujan di Balipulihkan bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Made Teja Permana

Made Teja Permana

Related Posts

Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Dilema Energi Bali: PSEL di tengah Ambisi Bali Pulau 100% Energi Terbarukan pada 2045

19 August 2026

Memecah Mitos Membiarkan Kemasan Air Minum Plastik di Sema Desa Tigawasa

19 August 2026
Apa Kabarmu, Setahun Blabar Bali? Adakah Perbaikan dan Mitigasi?

Apa Kabarmu, Setahun Blabar Bali? Adakah Perbaikan dan Mitigasi?

18 August 2026

Gula Pedawa: Warisan Manis yang Berjuang Bertahan

13 August 2026
Pasang-Surut dan Rumah yang Kian Tergerus

Pasang-Surut dan Rumah yang Kian Tergerus

8 August 2026
Desa Wisata, Berkah atau Musibah untuk Desa Munduk?

Desa Wisata, Berkah atau Musibah untuk Desa Munduk?

7 August 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

19 August 2026
Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Dilema Energi Bali: PSEL di tengah Ambisi Bali Pulau 100% Energi Terbarukan pada 2045

19 August 2026

Memecah Mitos Membiarkan Kemasan Air Minum Plastik di Sema Desa Tigawasa

19 August 2026
Aksi FSPM Bali Menuntut Hak Pekerja

Aksi FSPM Bali Menuntut Hak Pekerja

18 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia