
Lebih dari tiga minggu lamanya terjadi kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau biasa dikenal masyarakat sebagai gas elpiji 3Kg di daerah Kota Denpasar. Saya ingin berbagi pengalaman unik mencari atau bisa dikatakan berburu gas elpiji di daerah Denpasar Barat.
Jadi, keluarga saya mempunyai dua gas elpiji 3Kg yang dimana satu gas dipakai memasak dan satunya buat stok jika habis. Pada 22 Agustus 2026, gas elpiji 3Kg untuk kebutuhan memasak keluarga saya sudah habis. Saya diminta bapak saya untuk mencarikan stok baru gas elpiji. Sayangnya sepanjang jalan menelusuri warung-warung dan tempat agen gas itu saya menemukan stok gasnya kosong atau habis.
Saya masih mempunyai waktu selama dua minggu alias deadline harus mendapatkan stok gas elpiji, karena gas elpiji kami habis biasanya dua minggu buat memasak kebutuhan sehari-hari. Setiap hari ketika berangkat dan pulang kerja itu saya sempatkan mencari dan bertanya-tanya di warung dan tempat agen gas terkait apakah masih ada satu stok gas elpiji. Sayangnya kegiatan saya bertanya-tanya stok gas itu tidak membuahkan hasil.
Pada 4 September 2026, Adis selaku pemilik toko agen gas elpiji kasihan kepada saya akhirnya saya diizinkan masuk ke dalam tokonya. “Sssstttt, adik ini ada stok gas elpiji satu tapi tolong lepas ya segel kuningnya, biar tidak ketahuan orang sekitar”, ujarnya. Suasana toko yang sepi dan sunyi itu adalah momen keberuntungan saya mendapatkan satu stok gas elpiji. Saya pun mengikuti arahan atau intruksinya, membawa gas elpiji (berisi) lewat penyamaran gas kosong ke motor saya.
Momen ini bagaikan cari barang selundupan seperti obat terlarang dan senjata api di adegan film-film terkenal. Adis menjelaskan kepada saya, bahwa dia melakukan ini supaya roda ekonomi usaha laundry, pedagang lalapan, dan pedagang kaki lima sekitarnya bisa bertahan. Percakapan tersebut membekas bagi saya, tak lupa saya berbagi kontak whatsapp dengan Bapak Adis agar selalu berkomunikasi akan informasi ketersediaan gas elpiji.
Berebut Distribusi Gas yang Bermasalah
Akibat peningkatan ekonomi pariwisata selama 2023-2026 membuat adanya peningkatan jumlah penduduk Kota Denpasar. Sayangnya, lonjakan penduduk ini tidak diimbangi dengan distribusi logistik penting yang memadai seperti bensin atau bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji. Denpasar Barat, tempat saya tinggal itu banyak warganya bekerja dibidang usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti pedagang roti, nasi bungkus, gorengan, lalapan, bakso, mie ayam, jasa las besi, jasa setrika laundry, dan sebagainya. Semuanya bisnis tersebut membutuhkan satu bahan logistik penting yaitu gas elpiji 3Kg. Begitu pentingnya, saya melihat dengan mata kepala sendiri itu pedagang lalapan dan laundry stok 5-6 gas elpiji 3Kg.

Bagaimana dampaknya apabila stok gas langka? Hal yang tidak dilihat Pemerintah Kota Denpasar, Pertamina dan koleganya (swasta yang bekerja sama dengan Pertamina dalam distribusi gas elpiji) itu para pelaku usaha umkm tersebut mengerahkan daya upaya kepentingnya untuk mem-booking gas elpiji di warung-warung dan toko agen gas. Mem-booking nerupakan suatu tindakan memesan dan mengamankan barang atau layanan untuk digunakan pada waktu tertentu di masa depan. Waktu tertentu yang dimaksud adalah ketika pasokan gas mulai langka akibat tertutupnya Selat Hormus dan Konflik Amerika Serikat-Iran.
Gas elpiji 3Kg ibarat objek vital usaha umkm. Permasalahannya para pelaku usaha umkm ini menggunakan gas elpiji 3Kg (gas subsidi) karena biaya murah serta menghasilkan produk barang dan layanan jasa yang kompetitif. Apabila mereka menggunakan gas non-subsidi, maka akan terjadi lonjakan harga barang dan jasa. Bisa-bisa makanan lalapan ataupun nasi goreng kesukaanmu mengalami kenaikan harga yang tinggi. Lambat laun dampak berkepanjangannya bisa terjadi hiper-inflasi di Denpasar, kemudian diikuti usaha umkm bangkut dan menimbulkan banyaknya pemutusan hubungan kerja karyawan.
Apalagi pelaku distribusi gas elpiji dan pelaku usaha UMKM ini punya hubungan kerabat keluarga, sahabat-karib, dan motif keuntungan bisnis lainnya. Daya tawar kepentingan pelaku usaha UMKM dan agen distribusi gas elpiji inilah lahir fenomena mem-booking dan penyelundupan secara sembunyi-sembunyi gas elpiji ini. Pikiran rasional dan mode bertahan hidup ini membuat distributor atau agen penyalur gas elpiji melakukan tindakan tersebut.
Persoalan ini membuat gas elpiji 3Kg dapat dimonopoli, dapat dimark-up (dijual harga tinggi), dan tidak bisa disalurkan dengan baik ke masyarakat miskin ataupun kebutuhan rumah tangga lainnya. Kondisi tersebut membuat saya, keluarga, dan para tetangga selalu was-was, selalu berada bayang-bayang ketakutan apabila gas langka, bagaimana agar kompor tetap menyala dan memasak makanan sehari-hari. Ditengah ekonomi memburuk dan harga barang kebutuhan naik, maka memasak makanan sendiri (rumahan) itu jalan supaya kami semua tetap bertahan.
Sebagai gambaran saja, harga semestinya gas elpiji 3Kg dihargakan sebesar Rp18.000 khususnya daerah Kota Denpasar. Namun kenyataannya di daerah tempat saya tinggal itu gas elpiji dihargakan sebesar Rp21.000 sampai dengan Rp25.000. Apalagi adanya kelangkaan gas elpiji itu harga gas bisa berkisaran harga Rp28.000 hingga Rp30.000.
Bagaimana Life-Hack mendapatkan gas elpiji 3Kg?

Sebagai warga Kota Denpasar yang merasakan risih akan kelangkaan logistik gas elpiji, saya ingin berbagi pengalaman bertahan hidup dengan jalan pintas atau trik cerdas (life hack) untuk mendapatkan gas elpiji 3Kg. Ada beberapa cara yang bisa kalian atau pembaca lakukan supaya mendapatkan gas dengan harga terjangkau. Cara Pertama, kalian harus punya kontak “orang dalam” agen distributor atau penjual gas elpiji. Cara ini dilakukan supaya kalian tidak buat tenaga, waktu, dan bensin bolak-balik ke tempat penjual gas.
Kelemahan cara tersebut, saya harus war tiket (pesan) beli gas elpiji 3Kg. Jadi bukan hanya ada war tiket konser guys, tapi juga ada war tiket pesan gas. Ketika gas kami habis tanggal 11 September kemarin, Pak Adis mendadak mengabarkan ke saya akan ketersediaan gas. Sayangnya hanya 50 menit berselang gas elpiji langsung ludes habis, saya akhirnya kalah war tiket pemesanan gas. Peristiwa ini seperti ungkapan “siapa cepat, dia dapat” di kehidupan nyata saya membeli gas.
Cara Kedua, saling bahu-membahu dengan tetangga sekitar untuk berbagi informasi tentang kapan pasokan gas datang serta di mana tempat yang tersedia gas elpiji dengan harga terjangkau. Menurut pengalaman saya, tetangga sekitar bisa memberikan akses informasi dan jadi broker atau perbantuan buat mem-booking gas elpiji ke tempat-tempat tersembunyi pelosok gang atau ujung jalan. Kelemahan cara tersebut itu harga gas agak sedikit mahal, bagaikan cari barang selundupan, gas elpiji dapat dibeli dengan siapa yang punya kepentingan atau siapa yang mau membayar mahal.

Cara ketiga, kita bisa memantau pengumuman pemerintah daerah akan adanya program “pasar murah” yang menjual sembako murah, sayur-mayur, minyak goreng, hingga gas elpiji dengan harga Rp18.000. Kita bisa cek akun media sosial Instagram ataupun Facebook pemerintah provinsi seperti @disperindagbali.pdn dan @diskominfos_bali, dan pemerintah kota Denpasar seperti @disperindag.denpasar dan @denpasarkota, serta media sosial pemerintah desa dan kelurahan tempat tinggal kalian. Kelemahannya ada antrian panjang karena warga berbondong-bondong beli murah gas elpiji 3Kg. Selain itu, program pasar murah hanya berlangsung pada periode tertentu baik itu hari raya keagamaan atau perhitungan kalender daya beli masyarakat menurun.
Sebenarnya ada cara lain yang agak ekstrem yaitu mengganti kompor dengan sumber bahan bakar gas elpiji (LPG) menjadi kompor alternatif dengan bahan bakar kayu, arang batok kelapa, dan minyak bekas/jelantah. Namun itu perlu riset lebih mendalam lagi soal benefit and cost, efisiensi, dan apakah bisa api kompornya dibuat api besar hingga kecil. Harapannya semoga pemerintah daerah bisa perhatian akan isu kelangkaan gas elpiji dan memberikan solusi atas permasalahan yang telah terjadi.



