
Komisi Pencari Fakta (KPF) mencatat 6.719 orang ditangkap selama rangkaian aksi demonstrasi dan kerusuhan di Indonesia pada Agustus 2025. Di Bali setidaknya 138 orang ditangkap. Belasan orang ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan perusakan fasilitas Polda Bali.
Dalam laporan Operasi Pembungkaman Kaum Muda Terbesar Sejak Reformasi, KPF mengungkapkan, salah satu dampak paling serius dari penangkapan yang terjadi Agustus 2025 adalah penyempitan ruang sipil untuk berpartisipasi dalam demokrasi.
Setahun pasca aksi Agustus 2025, Indonesia kembali diwarnai aksi demonstrasi di berbagai daerah Indonesia. Di Jakarta, belasan ribu personel polisi dikerahkan untuk mengamankan aksi pada Hari Sumpah Pemuda.
Selama bulan Oktober, warga Bali juga melakukan sejumlah aksi. Aksi berlangsung pada Kamis, bersamaan dengan Aksi Kamisan. Aksi Kamisan merupakan aksi damai yang dipelopori oleh para korban dan keluarga korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di Indonesia.
Unjuk rasa di Indonesia dijamin secara konstitusional melalui Pasal 28E ayat (3) UUD 1945. Aksi unjuk rasa bertujuan untuk menyampaikan kritik dan aspirasi.
Sayangnya, aksi unjuk rasa tidak selalu berakhir aman dan damai. Sebagaimana kejadian Agustus 2025, unjuk rasa diselimuti intimidasi, penangkapan, dan pelemparan gas air mata oleh aparat. Maka dari itu, keamanan saat mengikuti aksi perlu disiapkan sebelum memutuskan untuk ikut turun ke jalan.
Panduan sebelum aksi
Setiap unjuk rasa dilakukan dengan alasan tertentu, baik itu karena keresahan terhadap pemerintah maupun tuntutan terhadap suatu regulasi. Sebelum mengikuti unjuk rasa, pahami tuntutan aksi agar tidak sekadar ikut-ikutan tanpa arah.

Setelah paham tuntutan, pastikan ada teman atau kelompok yang bisa diajak bergabung ketika aksi berlangsung. Teman ketika aksi dapat menjadi buddy system. Tujuannya untuk saling menjaga, mengawasi, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan masing-masing.
Simpan nomor-nomor penting, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH), koordinator lapangan, hingga buddy untuk dihubungi ketika keadaan darurat. Selain itu, penting juga mengetahui jalur evakuasi lokasi aksi berlangsung. Ini dapat dilakukan dengan berkeliling sebelum aksi. Petakan jalan tikus atau pintasan dan titik keramaian untuk menghindar dari kejadian yang tidak diinginkan.
Keamanan digital saat aksi
Ketika aksi berlangsung, sinyal handphone sering kali lemah atau hilang. Kondisi ini terjadi karena lonjakan trafik yang membuat menara pemancar kewalahan. Bisa juga adanya penggunaan alat pengacak sinyal (jammer) oleh pihak tertentu.
Jika sinyal handphone lemah, cobalah menjauh dari pusat kerumunan sekitar 100-500 meter. Bisa juga berlindung di balik dinding beton tebal atau masuk ke dalam gedung. Masuk ke gedung dapat memblokir intervensi jammer.
Ketika mengikuti aksi, gunakan Virtual Private Network (VPN) untuk menyembunyikan aktivitas internet dari pengawasan pihak ketiga. Penggunaan VPN juga dapat melindungi data pribadi saat terhubung ke jaringan publik, seperti WiFi. Meski begitu, hindari penggunaan WiFi publik, terutama saat demonstrasi berlangsung. Jaringan WiFi sangat mudah disusupi peretas untuk mencuri data pribadi, mengintip aktivitas, atau menginfeksi perangkat dengan malware.
Peserta unjuk rasa terdiri dari banyak orang, dari yang kita kenal hingga tidak dikenal. Kurangi aktivitas digital di area demonstrasi, terutama ketika berada di kerumunan. Pasalnya, kita tidak pernah tahu siapa yang ada di dekat kita dan bagaimana orang tersebut memantau aktivitas digital setiap orang saat aksi.
Sebelum aksi, mitigasi keamanan digital dengan melindungi aset digital agar tidak mudah diakses atau dikuasai orang lain. Dalam Panduan Keamanan Digital bagi Kelompok Rentan dan Berisiko Tinggi, SAFEnet merekomendasikan praktik berupa pembuatan kata sandi yang lebih kompleks agar lebih kuat, menerapkan autentikasi dua langkah (2FA), atau mengenkripsi aset digital.
Selain itu, SAFEnet juga merekomendasikan penggunaan platform atau layanan digital yang lebih menjamin privasi dan/atau keamanan penggunanya. Ada banyak platform yang dapat digunakan selain Google, seperti Proton dan Mega. Begitu pula dengan aplikasi pesan singkat, gunakan Signal atau Telegram yang lebih aman untuk komunikasi.
Gunakan pola atau kode untuk handphone. Hal ini dilakukan untuk mencegah seseorang mengakses data tanpa keinginan kita. Dalam unjuk rasa kita tidak pernah tahu situasi yang akan terjadi, terutama penangkapan oleh aparat. Penggunaan pola atau kode dapat mencegah dibukanya akses handphone secara paksa.
Panduan ketika turun ke jalan
Jika kamu membawa kendaraan pribadi ke lokasi aksi, hindari tempat parkir yang ramai kendaraan peserta aksi. Dalam aksi Agustus 2025 di Bali, banyak kendaraan motor yang ditahan oleh kepolisian. Kendaraan yang ditahan sebagian besar terparkir di dekat lokasi aksi. Beberapa kendaraan di dekat lokasi aksi juga dirusak oleh orang tak dikenal. Pilih tempat parkir yang agak jauh untuk memitigasi hal tersebut.
Siapkan masker, topi, jas hujan, dan obat-obatan. Masker bisa digunakan untuk melindungi identitas pribadi. Selain itu, untuk mencegah terhirupnya gas air mata ketika unjuk rasa tidak lagi kondusif. Ketika gas air mata dilemparkan, evakuasi diri dengan pergi menjauh. Cari tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Bergerak melawan arah angin karena gas biasanya bergerak mengikuti angin.
Jika mata terasa perih, bilas dengan air mengalir selama beberapa waktu. Jangan menggosok mata karena dapat memicu iritasi. Sisa-sisa gas air mata juga menempel pada pakaian yang dikenakan. Lepas pakaian berhati-hati agar tidak mengenai wajah.
Panduan selengkapnya ketika aksi dapat ditemukan di sini.
Panduan keamanan digital juga dapat diakses di sini.





![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)



