• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, August 25, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Penyebab Tanah Longsor di Desa Munduk

Dewa Putu Yogi Adnyana Putra by Dewa Putu Yogi Adnyana Putra
25 August 2026
in Kabar Baru, Pertanian
0
0
Longsor di Gelar

Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, merupakan daerah pegunungan yang masyarakatnya bergantung pada pertanian sebagai sumber mata pencaharian.

Bencana tanah longsor dialami oleh masyarakat Munduk, terutama di beberapa titik: Tanah Barak, Gelar (beji), dan Asah Munduk. Asumsi awal, aku mengira tanah longsor ini disebabkan oleh penggunaan herbisida yang berlebihan, sehingga berkurangnya kekuatan akar tumbuhan untuk menyerap air hujan ketika curah hujan tinggi. Namun, tutur dari masyarakat sekitar lokasi bencana berkata lain.

Sejarah alih fungsi lahan di Desa Munduk

Daerah Munduk awalnya merupakan persawahan. Kadek Eva Erawan merekam memorinya perihal penggunaan lahan di sekitarnya pada masa terdahulu. “Kalau dulu tempat ini pastinya persawahan di daerah Kecamatan Banjar Atas, Desa Munduk tempatnya. Selanjutnya pernah juga ditanam bawang putih atau bawang merah. Kalau sekarang sudah berubah menjadi perkebunan cengkeh dan durian,” tuturnya.

Kadek Eva Erawan pula menyebutkan alasan ekonomi di balik peralihan pertanian. “Sebenarnya kalau masalah perubahan pasti masyarakat mencari hasil yang lebih besar. Kalau dibandingkan hasilnya memang lebih besar hasil nanam cengkeh dan durian daripada padi,” sebutnya.

Dalam kesehariannya berkebun, Kadek Eva menyebut dirinya tidak pernah menggunakan herbisida kimia untuk mengatur kesuburan tanah. “Kalau masalah obat herbisida, kami di Munduk belum begitu banyak menggunakan herbisida, kebanyakan menggunakan organik. Yang herbisida paling untuk di kebun durian, dan herbisidanya perekat bunga. Untuk penyuburan dari tanah itu jarang orang-orang Munduk pakai herbisida,” sebutnya.

Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan tanah longsor di Munduk?

Pengaturan air yang kurang

Ketika ditanya pendapat perihal penyebab tanah longsor di Munduk, Kadek Eva langsung menyebut perihal pengaturan air yang buruk. “Karena Munduk ini letak geografisnya sangat miring, bencana tanah longsor itu karena pengaturan air yang kurang,” sebutnya.

Sebagai warga yang langsung mempraktikkan pertanian dan perkebunan di Desa Munduk, Kadek Eva di sini menjelaskan dengan detail perihal pengaturan air di Desa Munduk.

Kadek Eva menjelaskan bahwa kontur Munduk yang miring dan bertingkat-tingkat menuntut warga cermat mengarahkan aliran air hujan. Kuncinya, air harus dituntun mengalir di dalam teras—dalam istilah Bali, di dalam punduk—bukan meluber ke tepi. “Gimana caranya masyarakat ini mencari saluran ke saluran air, biar air hujan ini tak sampai lewat ke pinggir terasering, biar di dalam teras-teras saja mengalirnya menuju ke pembuangan ataukah ke saluran air, pasti agak aman,” jelasnya.

Sebaliknya, ketika air dibiarkan mengalir di tepi teras, di situlah bencana bermula. Kadek Eva bercerita dari pengalamannya sendiri: senderan rumahnya pernah jebol justru karena hal ini, sebelum senderan itu dipermanenkan. Ia menyebutnya sebagai kelalaian. Air hujan yang melewati pinggir halaman, alih-alih mengalir di dalam punduk, perlahan-lahan mengikis senderan yang belum permanen hingga akhirnya longsor.

Karena itu, bagi Kadek Eva, perawatan saluran air adalah pekerjaan yang tidak boleh putus—dan berbeda menurut musim. Saat kemarau, yang perlu dilakukan adalah membersihkan selokan-selokan yang tersumbat. Saat musim hujan tiba, pengawasan justru harus berlangsung terus-menerus, mengontrol ke mana air mengalir setiap kali hujan turun.

Perbedaan antara Munduk atas dan bawah

Salah satu hal paling menarik dari penjelasan Kadek Eva adalah bahwa Desa Munduk tidak bisa dibaca sebagai satu kesatuan. Menurutnya, desa ini terbagi ke dalam dua wilayah dengan kondisi yang, dalam kata-katanya, “berbanding terbalik”—dusun bagian atas dan dusun bagian bawah. Keduanya sama-sama mengalami alih fungsi lahan, tetapi ke arah yang berbeda, dan dengan akibat ekologis yang berkebalikan pula.

Di dusun bagian bawah, tempat Kadek Eva tinggal, lahan yang dahulu berupa persawahan kini sebagian besar telah berubah menjadi perkebunan cengkeh dan durian. Dulu, sawah di sini ditanami secara bergilir: padi beras cendana, lalu bawang putih atau bawang merah, kemudian jagung atau ketela rambat pada musim berikutnya. Pergeseran ke cengkeh dan durian, diakui Kadek Eva, didorong oleh perhitungan ekonomi—hasil dari kedua komoditas itu jauh lebih besar dibandingkan padi. “Kalau dibandingkan hasilnya dengan padi, memang lebih jauh besar hasilnya cengkeh dan durian daripada padi,” ujarnya, meski ia menambahkan bahwa setiap perubahan selalu punya nilai plus dan minusnya sendiri.

Di dusun bagian atas, ceritanya berbeda. Di sana, pohon-pohon besar yang dahulu tumbuh telah banyak digantikan oleh tanaman sayur dan bunga pecah seribu.

Yang penting untuk dicermati adalah dampak dari kedua pergeseran ini terhadap kerawanan longsor—dan di sinilah letak paradoksnya. Menurut Kadek Eva, konversi di dusun atas justru memperparah risiko bencana. Pohon-pohon besar yang akarnya kuat mengikat tanah telah diganti dengan sayuran dan bunga yang berakar dangkal. Akibatnya, tanah menjadi lebih rentan, dan pengaturan air hujan harus dilakukan terus-menerus. “Karena pohon-pohon besar yang dulu sudah diganti dengan sayuran, bunga pecah seribu, maka dari itu pengaturan air hujan harus continue setiap saat, setiap ada hujan harus kita kontrol air itu,” jelasnya.

Sebaliknya, di dusun bawah, perubahan dari sawah ke perkebunan cengkeh dan durian justru mengurangi risiko longsor. Alasannya juga soal akar: cengkeh dan durian memiliki sistem perakaran yang lebih dalam dan lebih banyak dibandingkan tanaman padi. Kadek Eva bahkan membayangkan skenario sebaliknya—seandainya dusun bawah masih berupa persawahan seperti dulu, dengan curah hujan sekarang yang menurutnya “hampir dua-tiga kali” lebih lebat daripada dahulu, bencana longsor justru akan lebih banyak terjadi. Bagi Kadek Eva, beralihnya sawah ke kebun berakar dalam adalah “nilai plus” yang membuat longsor di daerah bawah berkurang.

(Tulisan ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)

Tags: bencana di baliBulelenglongsor di balipulihkan bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dewa Putu Yogi Adnyana Putra

Dewa Putu Yogi Adnyana Putra

Related Posts

Permasalahan Penanggulangan Sampah Plastik di Desa Wisata

24 August 2026
Subak di Ambang Krisis, Ancaman Banjir dan Serbuan Tikus

Subak di Ambang Krisis, Ancaman Banjir dan Serbuan Tikus

23 August 2026
Jalan Panjang Desa Adat Mengelola Sumber Kehidupan Alas Mertajati

Penolakan pada Rencana Pemekaran Desa Tamblingan atas Nama Pemerataan Pembangunan

22 August 2026
Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

Penurunan Debit Air Sumber Mata Air di Desa Pedawa akibat Berkurangnya Pohon Penyimpan Air

21 August 2026
Krisis Iklim dan Naiknya Pengeluaran di Denpasar

Krisis Iklim dan Naiknya Pengeluaran di Denpasar

21 August 2026
Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

19 August 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Penyebab Tanah Longsor di Desa Munduk

Penyebab Tanah Longsor di Desa Munduk

25 August 2026
Rekomendasi Wisata Air yang “Cukup Mudah” Diakses di Bali

Rekomendasi Wisata Air yang “Cukup Mudah” Diakses di Bali

25 August 2026

Permasalahan Penanggulangan Sampah Plastik di Desa Wisata

24 August 2026
Subak di Ambang Krisis, Ancaman Banjir dan Serbuan Tikus

Subak di Ambang Krisis, Ancaman Banjir dan Serbuan Tikus

23 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia