
Tulisan BaleBengong tahun 2010-2011 tentang Pulau Serangan seakan mengingatkan saya pada kenyataan. Tulisan bertajuk Naik Sampan Keliling Pulau Serangan menyebut, ada berbagai paket wisata yang bisa dinikmati di pulau ini. Mulai dari tempat pelestarian penyu, bersantai di pantai, surfing, menyusuri hutan mangrove, mancing di keramba, hingga melihat ikan hias.
Namun, awal September 2026 lalu ketika mengunjungi Pulau Serangan, satu-satunya yang dinikmati adalah mancing di keramba.
Sore itu kami memutuskan menyantap ikan di salah satu warung di Serangan. Pulau kecil ini dikenal dengan kuliner bahari. Pasalnya, pulau ini dikelilingi lautan. Sebelum jembatan penghubung antara Pulau Bali dan Pulau Serangan dibangun, sebagian besar warga Serangan mengandalkan tangkapan ikan.
Harga makanan tentu jauh lebih murah dari kuliner bahari sepanjang Kedonganan hingga Jimbaran. Pilihan pun banyak dan mudah ditemukan karena ada rambu penunjuk arah.
Kenyang menyantap ikan yang cukup besar, kami memutuskan berjalan kaki sebentar. Motor kami tinggalkan di warung makan. Kaki melangkah sembari perut mencerna makanan yang baru saja masuk.
Air tampaknya sedang surut hari itu. Beberapa warga duduk termenung di pos-pos nelayan. Ada juga nelayan yang tengah memperbaiki jaring.
Berjalan ke arah dermaga, kami menjumpai beberapa plang yang menawarkan sewa perahu. Saat itu juga kami melihat pemancing naik perahu, bertanya-tanya apakah kami bisa naik perahu tanpa memancing.
Kami pun menghampiri seorang nelayan yang sedang memperbaiki jaring. Berharap bisa berkeliling dengan perahu. Ternyata bukan nelayan itu yang mengantar kami. Ia memanggil seorang warga yang tengah bersantai.
Namanya Mana, pemandu wisata asal Pulau Serangan. Mana menghampiri kami dengan wajah tersenyum. Lantas, memandu kami menuju perahu sepupunya. Perjalanan kami mengelilingi setengah Pulau Serangan pun dimulai.
Perahu yang kami naiki adalah perahu tradisional, biasanya digunakan nelayan melaut. Perahu-perahu itu tampak kecil dibandingkan puluhan speed boat dan yacht yang hampir memenuhi Perairan Serangan.
Mana merupakan warga asli Pulau Serangan. Ia lahir tahun 1988, sebelum reklamasi dilakukan di pulau itu. Reklamasi Pulau Serangan dilakukan tahun 1995 dan berhenti tahun 1998.

Awal tahun 1990-an, investor, PT Bali Turtle Island Development (BTID) masuk ke Pulau Serangan untuk melakukan reklamasi. PT BTID membeli sejumlah lahan dan melakukan reklamasi di sisi timur, selatan, dan barat. Luas Pulau Serangan yang awalnya 112 hektare menjadi kurang lebih 450 hektare.
Penelitian tahun 2015 bertajuk Alih Fungsi Pesisir Pascareklamasi dan Implikasinya terhadap Marginalisasi Nelayan di Pulau Serangan, Denpasar, menyebut, proses reklamasi pesisir Serangan mengakibatkan nelayan tidak bisa melaut lagi.
Salah satu marginalisasi yang dialami nelayan adalah keterdesakan pemanfaatan lingkungan pesisir. Hiruk pikuk suara mesin dari berbagai jenis angkutan, seperti boat, kapal wisata, perahu, dan jenis lainnya mengusik keberadaan ikan dan biota laut. Perahu nelayan kerap kali tersenggol angkutan lain. Baling-baling mesin tempel nelayan sering terkena jangkar yang bersandar di perairan tersebut.
Mana membenarkan aktivitas wisata Pulau Serangan memang semakin masif pascareklamasi. Dulu, satu-satunya akses transportasi ke Pulau Serangan adalah dengan perahu. Bisa juga berjalan kaki ketika air laut sedang surut. Reklamasi mengubah kawasan tersebut jadi lebih terbuka untuk pariwisata.
Di tiap sisi perahu melaju, kami selalu menemukan yacht dan speed boat. Mana menunjuk beberapa kapal mewah yang bernilai miliaran rupiah. Ada yang milik pribadi, ada juga milik perusahaan.

“Itu kapal mati, nggak jalan tuh,” kata Mana, menunjuk salah satu kapal.
Mana bilang, pascapandemi, banyak kapal yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Ia menggeleng keheranan, padahal satu kapal bisa bernilai miliaran rupiah.
Mana telah menjadi pemandu wisata sejak usianya 15 tahun. Saat itu, aktivitas olahraga air di Perairan Serangan masih sangat masif.
“Saya guide surfing,” ujar Mana.
Di ingatannya masih terpatri keseharian memandu wisatawan asal Jepang, Korea, hingga China. Mana bilang, dulu mereka sangat suka surfing di Serangan. Selain surfing, ada juga ragam aktivitas wisata lain, seperti snorkeling, banana boat, dan lainnya. Sayangnya, aktivitas wisata di Pulau Serangan kini terbatas.

Tahun 2025, publik digemparkan kabar pembatasan wilayah perairan Serangan oleh PT BTID selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali. Dilansir dari Detik Bali, seorang warga mengatakan, pembatasan itu sudah lama dilakukan. Hanya nelayan saja yang diberikan akses.
“Masyarakat yang bukan nelayan masih belum bisa memasuki kawasan Kura-Kura Bali,” tulis artikel tersebut.
Mana yang bukan nelayan tidak bisa masuk ke beberapa area tertentu. Dari penuturan Mana, orang yang berkepentingan dibekali satu sarat. Surat itu menjadi akses masuk ke kawasan Kura-Kura Bali.
“Ten ngidang masuk yen ten ngelah surat. Tiang gen ten ngidang masuk orang lokal (nggak bisa masuk kalau nggak punya surat. Saya aja nggak bisa masuk orang lokal),” kata Mana.
Sebelum akses masuk dibatasi, warga Serangan kerap kali mandi di sisi timur Pulau Serangan. Kegiatan itu sudah tak bisa lagi dijumpai karena sebagian besar Pulau Serangan telah dimiliki PT BTID.
Di sisi timur perairan, menjauh dari sisi pemukiman, tampak ada batas-batas pelampung. Kata Mana, itu tidak boleh dimasuki. Ada penjaga yang mengecek identitas.
Ketika berbalik menuju perairan di sisi utara, ada sungai kecil yang membelah antara wilayah pemukiman yang KEK Kura-Kura.
“Kan emang mau dipecah kita,” ujar Mana tersenyum getir.
KEK Kura-Kura Bali resmi ditetapkan pada 5 April 2023 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2023, ditandatangani presiden saat itu, Joko Widodo. Luas lahannya 498 hektare, empat kali lebih luas dari pemukiman warga Desa Adat Serangan.

Dilansir dari situs resmi Indonesia SEZ, KEK merupakan kebijakan strategis Pemerintah sebagai pengembangan pusat pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi nasional, mendukung industrialisasi, dan memperbesar penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
“Kawasan dengan fasilitas dan kemudahan yang ultimate dihadirkan bagi investor dalam dan luar negeri,” dikutip dari laman Indonesia SEZ.
Kalimat tersebut seakan-akan menyiratkan, pembangunan KEK memang ditujukan untuk kepentingan investor, bukan warga lokal. Dalam masterplan-nya, sebagian besar kawasan KEK ditujukan untuk kepentingan properti, yaitu hotel, apartemen, dan resort. Sementara, Desa Serangan hanya sebagian kecil dari pulau itu.
Pembatasan akses masuk kawasan yang dilakukan oleh PT BTID berimbas pada kunjungan wisatawan. Mana menggelengkan kepala ketika ditanya jumlah wisatawan. Dia bilang, kunjungan wisatawan semakin sedikit ketika akses masuk Pulau Serangan dibatasi.


Imbasnya, wisata air yang disebutkan pada artikel BaleBengong tahun 2010-2011 itu pun lenyap perlahan. Pelayaran menggunakan perahu nelayan seperti yang kami lakukan itu sangat jarang terjadi, kata Mana. Lebih banyak yang berkunjung dengan tujuan mancing di keramba ikan. Tidak ada lagi aktivitas surfing dan olahraga air lainnya.
Sore itu, ketika matahari tenggelam perlahan, kami juga menjumpai beberapa speed boat dipenuhi wisatawan asing. Musik mengalun keras, mereka menari di atas speed boat sambil memegang gelas wine.
Bagi Mana, itu pemandangan biasa. Speed boat hanya diisi wisatawan asing, tanpa satu pun Warga Negara Indonesia (WNI). Kalau pun ada, itu biasanya artis, pejabat, atau figur publik yang sedang berlibur.
“Belasan sampai ratusan juta harganya,” kata Mana. Kami hanya bisa ternganga.
Mana menemani kami hingga matahari tenggelam. Ia mengajak kami ke salah satu keramba ikan milik sepupunya. Kami berdiri di sana, menghadap matahari tenggelam di sebelah bukit sampah TPA Suwung. Baru kami sadari, TPA Suwung begitu dekat dan tinggi.
“Kita nggak pernah dapat asuransi,” ungkap Mana. Padahal, aroma sampah TPA Suwung kerap mengintai warga Serangan.
Meski singkat, perjalanan hari itu membuat kami kembali bertanya-tanya, pembangunan yang selama ini bernilai triliunan sebenarnya untuk siapa?

![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)





