
Modernisasi menjadi tanda dari perkembangan zaman, yang awalnya manusia bergantung pada sumber daya alam untuk setiap aspek berkegiatan, hingga kini banyaknya peran zat kimia yang menjadi sangat penting untuk memudahkan seluruh aspek hidup makhluk hidup, khususnya manusia. Salah satu bukti nyata penggunaan zat kimia adalah plastik.
Dikutip dari laman waste4change.com, dengan judul artikel “Plastik: Awalnya Dimaksudkan Sebagai Solusi dari Keterbatasan Material”, bahwa kata ‘plastik’ awalnya merujuk pada material yang fleksibel dan mudah dibentuk. Baru di pertengahan tahun 1800-an lah manusia mulai menciptakan polimer sintetik atau polimer buatan.
Sebelum diciptakannya plastik, bidang industri bergantung sepenuhnya pada alam: salah satunya kertas yang berasal dari kayu. Kertas mudah dibentuk dan ringan, namun tidak kuat, tidak tahan lama, dan menghabiskan persediaan kayu yang penting bagi ketersediaan oksigen dan pelestarian lingkungan.
Maka dari itu, penggunaan plastik modern menjadi alternatif yang paling disukai oleh masyarakat. Karena selain mudah didapatkan, plastik memiliki karakteristik yang ringan dan cenderung memiliki harga yang lebih murah.
Paparan mikroplastik telah dirasakan hampir di seluruh aspek kegiatan yang bahkan secara tidak sadar dilakukan sehari-hari.

Mikropastik tidak hanya dapat terserap oleh tubuh ketika plastik tidak sengaja tertelan, melainkan hal-hal sederhana seperti menggunakan alat makan dengan berbahan dasar plastik, meminum air yang telah terpapar mikroplastik, bahkan menggunakan spons pencuci piring juga memberikan sumbangan terhadap paparan mikroplastik.
Sebagian besar orang tidak menyadari bahwa mikroplastik menjadi masalah yang serius dan dapat terpapar melalui hal-hal sederhana dan bahkan dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Maka dari itu, edukasi terhadap reduksi penggunaan plastik agar terhindar dari bahaya pemaparan mikroplastik sangat perlu dilaksanakan.
Salah satu komunitas yang memiliki kepedulian terhadap reduksi penggunaan plastik adalah Plastik Detox. Pada komunitas ini, saya belajar bahwa limbah plastik lebih dari sekedar sampah, namun memiliki dampak yang begitu besarnya bagi Kesehatan dan lingkungan.
Memang terlihat sederhana, namun jika kita tidak bijak dalam menggunakan plastik, dampak yang diberikan lebih besar dari apa yang kita bayangkan. Selain imbas terhadap pencemaran lingkungan, sifat mikroplastik yang dapat diserap oleh tubuh dengan mudah yang sangat berbahaya bagi Kesehatan juga harus diperhatikan dan diedukasikan kepada masyarakat luas.
Mikroplastik tidak bisa terlepas seutuhnya, namun bisa dilakukan tindakan preventif pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Saya pribadi berangsur-angsur mulai mengurangi penggunaan plastik pada peralatan makan dan memasak.
Komunitas Plastik Detox memberikan saya informasi dan inspirasi melalui sharing section tentang bagaimana mereka mulai mengurangi penggunaan plastik. Ternyata, banyak keuntungan yang didapat melalui program diet plastik, contohnya adalah pemberian diskon oleh beberapa coffee shop bila membeli kopi menggunakan botol minum guna ulang.
Sebelum mengetahui bahaya dari mikroplastik dan cara pemaparannya, alat makan dan memasak di rumah saya didominasi oleh alat-alat berbahan dasar plastik. Namun, kini sedikit demi sedikit mulai mengganti peralatan dapur dengan yang berbahan dasar stainless steel, keramik dan kaca.
Selain penerapan reduksi penggunaan sampah plastik di rumah, saya juga mulai menerapkan penggunaan peralatan non plastik saat membeli makanan dan minuman di luar, seperti membawa botol minum berbahan dasar stainless steel saat membeli minuman, membawa wadah sendiri saat membeli makanan keliling, atau bahkan makan di tempat (dine in) untuk mengurangi paparan dari pembungkus makanan.
Saat ini, plastik juga menjadi bahan dasar membuat semua peralatan yang digunakan oleh umat manusia di seluruh dunia. Mulai dari furnitur, alat makan, hingga bagian dari kendaraan bermotor pun terbuat dari plastik. Sifat fleksibel dari bahan plastik ini menjadikannya alternatif atau bahan utama yang sangat digemari oleh para pelaku usaha.Penggunaan material lainnya seperti logam, batu, tulang, tanduk, taring, juga tidak mudah didapatkan dan mudah diproses, sehingga ilmuwan mencari alternatif material lain yang bisa diproduksi secara massal, ringan, kuat, tahan lama, murah, dan tidak sepenuhnya bergantung pada sumber daya alam.
Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan oleh bahan plastik, terdapat ancaman kesehatan dan lingkungan yang turut melekat pada bahan ini. Salah satu sifat umum yang menjadi permasalahan serius yang dihadapi dunia saat ini dalam penggunaan plastik adalah mikroplastik.
Dilansir dari laman archaea.sith.itb.ac.id, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari berbagai produk dan kegiatan manusia (Kurniawan et al., 2023). Partikel berukuran mikro inilah yang paling sulit ditangani karena mudah lolos dari sistem pengolahan konvensional.
Dampak terhadap kesehatan manusia menjadi perhatian yang semakin serius. Salah satu kekhawatiran dapat dilihat dari penemuan Leslie et al. (2022), yang untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi dan mengidentifikasi empat jenis polimer plastik bermassa produksi tinggi dalam sampel darah manusia, dengan konsentrasi rata-rata mencapai 1,6 ?g/ml.
Selain itu, paparan kronis terhadap mikroplastik diduga berkaitan dengan berbagai gangguan biologis, mulai dari respons inflamasi hingga gangguan sistem endokrin dan kerusakan sel.
Memang penggunaan plastik dan pemaparan mikroplastik tidak bisa dihindari seutuhnya, namun kita bisa melakukan langkah-langkah preventif melalui hal-hal yang bisa kita kendalikan. Semua berawal dari diri sendiri. Mari kita kurangi penggunaan plastik sedari sekarang.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Plastik Detox)







