
Kamis, 17 September 2026 selepas makan siang, saya sedang mengantri untuk mencuci kotak makan. Saya melirik ke dalam wadah berisi cairan pencuci piring yang kian menyusut. Begitu giliran tiba, saya membuka rak untuk menuangkan sabun industrial ke dalam sabun lerak yang disediakan di basecamp. Saya tetap membutuhkan produk industrial untuk menghempas noda lemak membandel di kotak makan silikon saya sekaligus memberikan sensasi kesat ketika bersentuhan dengan tangan saya.
Sayangnya, yang tersisa hanyalah setetes sabun, tak cukup untuk membersihkan noda-noda lemak yang menempel. Sore itu, saya bersama Oka – tim saya di PlastikDetox memang berencana mengunjungi toko dengan sistem isi ulang di sekitar basecamp untuk menggali potensi kolaborasi edukasi guna ulang. Akhirnya, saya membawa wadah sabun industrial kami sekaligus mempraktikkan berbelanja dengan sistem isi ulang.
Kontras, begitulah kesan pertama saya begitu tiba di Toko Tumbuh yang berlokasi di Jalan Batur Sari, Sanur, sebuah toko perlengkapan rumah tangga dengan sistem isi ulang yang bersebelahan dengan warung yang menjual beraneka produk dalam kemasan sachet. Sambil menunggu wadah berukuran 4 liter yang saya bawa terisi penuh, saya melihat-lihat produk isi ulang yang dijual di Toko Tumbuh. Seperti toko dengan sistem isi ulang pada umumnya, kita dapat menemukan produk pembersih pakaian, aneka bumbu dapur, hingga produk kebersihan rumah.

Sayangnya, hingga 15 menit berlalu, tak ada pelanggan lain yang berbelanja di Toko Tumbuh. Sementara itu, dalam pengamatan saya, ada dua orang yang berbelanja sabun cuci piring dan produk sachet lainnya di warung sebelah. Pemandangan ini membuat saya bertanya-tanya, apa yang membuat pilihan berbelanja dengan sistem isi ulang belum menjadi kebiasaan masyarakat, bahkan ketika alternatif tersebut tersedia di dekat rumah mereka?
Dewi Septia Anggitasari – Anggita panggilan akrabnya, pemilik Toko Tumbuh, bercerita bahwa dirinya sejak 2018 mulai hidup minimalis, menerapkan prinsip guna ulang, dan menggunakan produk-produk berbahan alami.
“Sayangnya saat itu belum ada toko isi ulang ini di Sanur. Pada 2025, Bali sering banjir, saya semakin memantapkan hati untuk buka toko refill yang isinya bukan hanya barang eco friendly yang mahal tapi bisa terjangkau juga sama semua kalangan especially lokal,” cerita Anggita yang saya wawancarai via pesan singkat pada 20 September 2026.
Namun, menghadirkan pilihan produk yang lebih ramah lingkungan dengan harga terjangkau ternyata bukan satu-satunya tantangan. Anggita menghadapi setidaknya empat kendala dalam menjalankan toko dengan sistem isi ulang.
Pertama, masyarakat cenderung memberikan label mahal pada toko isi ulang, seperti toko zero waste yang menyasar wisatawan mancanegara. Kedua, edukasi mengenai pentingnya guna ulang dibandingkan membeli produk dengan kemasan sekali pakai masih perlu ditingkatkan.
Ketiga, adanya kecenderungan masyarakat untuk berbelanja online. Menurut Anggita, jika toko isi ulang berjualan secara online, praktik tersebut akan sama saja karena pengantaran tetap membutuhkan kemasan. Keempat, masyarakat terbiasa dengan proses belanja yang mudah dan cepat. Membawa wadah sendiri dan datang langsung ke toko menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ingin mencoba sistem isi ulang.
Cerita Anggita tentang persepsi harga dan kebiasaan belanja masyarakat ternyata memiliki kemiripan dengan pengalaman calon konsumen yang tinggal tidak jauh dari Toko Tumbuh.

A. A Istri Agung Mahayati, perempuan berusia 31 tahun yang tinggal di Sanur, mengaku belum mengetahui keberadaan Toko Tumbuh. Ketika saya bertanya tentang kemungkinan dirinya mencoba berbelanja di toko isi ulang, ia bercerita bahwa informasi harga yang disajikan terkadang membuatnya ragu.
“Engga tahu, engga pernah. Mungkin karena label harganya kali ya. Itu kayak misal 70 per berapa gram gitu. Nah, kadang kita jadi mikir itu seberapa. Aku introvert, kan takut tanya. Jadi ragu gitu,” cerita Gung Maha via pesan singkat pada 24 September 2026.
Pengalaman Gung Maha memperlihatkan bahwa keraguan untuk mencoba tidak selalu muncul karena harga yang dianggap mahal. Informasi harga yang sulit diperkirakan dan keengganan untuk bertanya juga dapat menjadi penghalang bagi calon konsumen.
Penuturan berbeda datang dari Agus Juniantara, laki-laki berusia 32 tahun. Juni mengaku pernah berniat mencoba berbelanja di toko isi ulang di Dalung, dekat rumahnya, tetapi kesempatan itu tak kunjung terwujud.
“Kebutuhannya belum banyak kak, jadi belum sempat. Dulu mau nyoba yang refill di Dalung, tapi keburu tokonya tutup,” cerita Juni ketika ditanya soal pengalamannya berbelanja di toko isi ulang via pesan singkat pada 24 September 2026.
Sementara itu, Srimia Wati, ibu rumah tangga yang juga berjualan peyek dengan sistem tukar toples dan tinggal di Jalan Penyaringan III, Sanur, menunjukkan ketertarikan untuk mencoba berbelanja kebutuhan rumah tangga dengan sistem isi ulang.
“Ibu kan ke mana-mana sudah bawa tas belanja sendiri. Nanti mau coba mumpung deket. Selama harganya cocok,” kata Ami, panggilan akrab Srimia Wati, dengan antusias mengenai kemungkinan berbelanja di toko dengan sistem isi ulang pada Kamis, 24 September 2026.
Ketiga cerita tersebut memperlihatkan bahwa keputusan untuk mencoba berbelanja dengan sistem isi ulang dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan. Ada yang masih ragu dengan informasi harga, ada yang belum merasa membutuhkan, dan ada pula yang terbuka untuk mencoba selama harga dan aksesnya sesuai.
Lantas, bagaimana dengan mereka yang sudah terbiasa berbelanja dengan sistem isi ulang?
Desy Pramesti, perempuan berusia 31 tahun yang tinggal di Gatot Subroto, telah merasakan manfaat berbelanja di toko dengan sistem isi ulang.
“Gak perlu ada kemasan (sampah), praktis, harganya lebih murah,” kata Desy mengenai alasannya berlangganan di toko isi ulang.
Meski demikian, Desy mengaku bahwa membawa wadah dari rumah merupakan tantangan tersendiri baginya karena terkesan ribet.
Pengalaman serupa juga datang dari Amer Risnadi, laki-laki berusia 37 tahun. Lewat pesan singkat pada 24 September 2026, ia bercerita tentang awal mula memutuskan berbelanja kebutuhan rumah tangga, mulai dari produk kebersihan hingga bumbu dapur, dengan sistem isi ulang. Bagi Amer, berbelanja dengan sistem isi ulang lebih ekonomis dan memungkinkan dirinya menentukan jumlah produk yang ingin dibeli.
“Jadi nggak ada sampah kemasan atau minimal mengurangi. Merasa lebih beradab saja,” tambah Amer.
Namun, pengalaman berbelanja dengan sistem isi ulang bukan berarti tanpa kendala. Amer mengeluhkan pilihan produk di toko isi ulang yang masih relatif terbatas. Ia belum menemukan produk spesifik untuk mencegah ketombe atau yang sesuai untuk kulit sensitif. Karena itu, ia masih membeli produk dalam kemasan untuk kebutuhan tertentu, meski sesekali mencoba produk baru agar dapat beradaptasi.
“Meskipun makin banyak, tapi (toko) refill station belum ada di dekat rumah. Jadi saya perlu pergi sedikit lebih jauh,” imbuhnya terkait tantangan berbelanja dengan sistem isi ulang.
Cerita Desy dan Amer menunjukkan bahwa manfaat guna ulang memang dapat dirasakan oleh konsumen yang sudah mencobanya. Namun, kebiasaan tersebut tetap membutuhkan penyesuaian, baik dalam hal membawa wadah, menemukan produk yang sesuai, maupun menjangkau toko isi ulang.
Tantangan ini rupanya tidak hanya dihadapi oleh konsumen dan pemilik toko isi ulang. Pengalaman serupa juga pernah dialami oleh pedagang warung kelontong.
Wayan Suda bersama istrinya yang akrab dipanggil Pak Dhe dan Bu Dhe pernah mencoba berjualan dengan sistem isi ulang di warung miliknya pada 2019 silam. Keduanya bercerita bahwa dulu mereka pernah mencoba membeli produk sabun dalam kemasan jeriken, lalu meminta pelanggan untuk membawa wadah sendiri ketika berbelanja.
“Sudah pernah coba aku dulu, beli yang jerigen, lalu aku tuang ke botol begitu. Nggak laku, Nggak ada yang mau beli,” cerita Pak Dhe ketika ditanya tentang potensi warung kelontongnya berjualan dengan sistem isi ulang. Saya menemui Pak Dhe di warungnya di Jalan Penyaringan III pada Kamis, 1 Oktober 2026.
“Pembeli inginnya yang instan semua. Pilih-pilih lalu bayar. Saya sih mau-mau aja kalau pelanggan belanja bawa wadah. Suka malahan kita. Kan kita nggak repot beli plastik lagi, harga plastik mahal,” tambah Pak Dhe sambil menghitung gorengan yang sedang dimasukkan ke dalam kotak makan yang saya bawa.
Pengalaman Pak Dhe menyisakan satu hal yang menarik. Di satu sisi, ia bersedia melayani pembeli yang membawa wadah sendiri karena dapat mengurangi pengeluaran untuk membeli plastik. Namun, di sisi lain, pengalamannya menjual produk isi ulang menunjukkan bahwa kesediaan pedagang saja belum cukup untuk membuat praktik tersebut berjalan.
Dari Toko Tumbuh hingga warung kelontong Pak Dhe, saya menemukan bahwa tantangan guna ulang bukan semata-mata soal menyediakan produk tanpa kemasan atau mengajak masyarakat mengurangi sampah plastik. Ada kebiasaan belanja yang perlu diubah, informasi yang perlu dibuat lebih mudah dipahami, akses yang perlu diperhatikan, serta kebutuhan konsumen dan keberlangsungan usaha yang harus dipertimbangkan.
Membawa wadah sendiri mungkin terasa sederhana bagi sebagian orang, tetapi belum tentu mudah bagi yang lain. Berbelanja tanpa kemasan mungkin menjadi pilihan yang lebih ekonomis dan mengurangi sampah bagi konsumen yang sudah terbiasa, tetapi belum tentu menjadi pilihan yang menarik bagi mereka yang mengutamakan kecepatan dan kepraktisan.
Mungkin, tantangan terbesar dalam memperluas praktik guna ulang bukan hanya meyakinkan masyarakat bahwa pilihan ini lebih baik bagi lingkungan, melainkan membuatnya terasa wajar, mudah, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Sebab, perubahan kebiasaan tidak cukup hanya dimulai dari niat baik. Pilihan tersebut juga perlu hadir sebagai sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Plastik Detox)










