• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Plastik Makin Mencemari Pertanian

Eryka Saka by Eryka Saka
21 April 2026
in Kabar Baru, Opini, Pertanian
0
0

Air menjadi sumber kehidupan yang sangat penting bagi manusia, terutama dalam sektor pertanian. Tanpa ketersediaan air yang cukup dan berkualitas, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Salah satu cara manusia mengalirkan air dari sumbernya yaitu melalui sistem irigasi. Irigasi merupakan sistem pengaliran air dari sumber air seperti sungai, danau, atau mata air menuju ke sawah atau lahan pertanian untuk menunjang pertanian yang lebih baik. Saluran irigasi menjadi faktor yang sangat penting dalam meningkatkan produksi pertanian. Namun sayangnya,  di banyak daerah, irigasi sering diperlakukan bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan menjadi tempat pembuangan sampah.

Fenomena pembuangan sampah ke irigasi sering ditemukan di masyarakat. Sampah rumah tangga seperti plastik, botol minuman, kantong plastik, hingga kemasan makanan, dan botol pestisida kerap terlihat  menumpuk di sepanjang aliran air. Hal ini mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang, namun sebenarnya memiliki dampak yang sangat besar bagi lingkungan dan keberlanjutan pertanian.

Plastik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak ditemukan di saluran irigasi. Masalahnya, plastik memiliki sifat yang sangat sulit terurai di alam. Membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun agar plastik dapat terdegradasi secara alami. Akibatnya, plastik yang masuk ke aliran irigasi terus menumpuk, tidak hanya mengganggu sistem aliran air, tetapi juga dapat menurunkan kualitas air yang digunakna oleh petani.

Ketika saluran air tesumbat oleh sampah, maka distribusi air ke lahan pertanian menjadi tidak optimal. Sawah dan kebun yang berada di bagian hilir dapat mengalami kekurangan air karena aliran air tidak berjalan dengan lancar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas pertanian dan merugikan para petani.

Selain menghambat aliran air, sampah plastik juga berpotensi menurunkan kualitas air yang digunkaan untuk pertanian. Plastik yang terpapar sinar matahari melalui proses pelapukan dan terurai menjadi pertikel yang lebih kecil. Ini dikenal dengan mikroplastik. Partikel mikroplastik ini dapat bercampur dengan air irigasi dan masuk ke tanah pertanian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keberadaan mikroplastik di lingkungan dapat memengaruhi kualitas tanah, mikroplastik dapat mengubah struktur tanah, sehingga porosit tanah berubah dan kemampuan tanah menyimpan air berkurang. Akibatnya, tanah menjadi kurang subur dan tidak optimal untuk pertumbuhan tanaman. Ketika mikroplastik masuk ke akar, penyerapan nutrisi tanaman akan terhambat dan mengganggu pertumbuhan akar, sehingga pertumbuhan tanaman akan menurun.

Selain itu, mikroplastik juga akan mengganggu organisme yang hidup di dalam tanah. Tanah pertanian mengandung banyak mikroorganisme penting untuk kesuburan tanah. Adanya mikroplastik dapat mengganggu aktivitas bakteri dan jamur tanah, serta mengubah keseimbangan ekosistem mikroba. Jika kondisi ini terus berlanjut, pencemaran plastik di saluran irigasi dapat berdampak pada sistem pertanian secara keseluruhan.

Salah satu wilayah yang memiliki potensi pertanian cukup besar adalah di Desa Mengani. Kawasan dataran tinggi ini dikenal sebagai daerah pertanian yang menghasilkan berbagai komoditas seperti padi, jeruk, kopi, sayuran, cabai, hingga buah-buahan lainnya. Banyak masyarakat setempat menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian tersebut.

Namun di beberapa titik, masih ditemukan kondisi irigasi yang tercemar oleh sampah rumah tangga. Sampah plastik yang terbawa aliran air dapat masuk ke saluran irigasi yang mengarah ke lahan pertanian. Ketika air yang telah tercemar tersebut masuk ke area persawahan atau kebun, maka kualitas air yang digunakan untuk pertanian menjadi menurun. Padahal, tanaman hortikultura seperti cabai dan sayuran sangat bergantung pada kualitas air untuk pertumbuhannya. Jika air yang digunakan telah tercemar oleh sampah atau limbah, maka hal ini dapat memepengaruhi kondisi tanah serta kesehatan tanaman. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas hasil pertanian.

Sebenarnya, masalah sampah di saluran irigasi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya fasilitas pengelolaan sampah, tetapi juga karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Banyak orang yang masih menganggap bahwa membuat sampah ke irigasi merupakan hal yang biasa dilakukan. Padahal, saluran irigasi memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. 

Irigasi berfungsi  menyediakan air secara teratur sesuai dengan kebutuhan tanaman agar tidak kekeringan pada saat persediaan air tanah tidak mencukupi. Irigasi juga akan mengatur distribusi air  agar semua lahan pertanian mendapatkan air. Selain itu, irigasi juga berperan dalam menjaga kelembapan tanah, sehingga dapat meningkatkann produktivitas hasil pertanian seperti padi, sayuran, atau buah lebih optimal. Selain dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian, irigasi juga memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan.

Upaya menjaga saluran irigasi dari sampah plastik dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak pembuangan sampah terhadap lingkungan dan pertanian. Edukasi lingkungan perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami bahwa tindakan kecil seperti membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan dampak besar di masa yang akan datang. Membuat peraturan tentang larangan membuang limbah rumah tangga, limbah pabrik atau sampah organik ke saluran irigasi dapat membantu menjaga irigasi. Selain itu, perlu dilakukan pengangkatan sampah dan sedimen secara berkala, membersihkan gulma dan rrumput liar yang tumbuh di pinggir atau dalam saluran, dan melakukan pengecekan secara berkala untuk mengecek kebocoran, kerusakan, atau penyumbatan pada sistem irigasi.

Selain itu, masyarakat atau kelompok subak dapat bekerja sama dalam melakukan aksi pembersihan saluran irigasi secara berkala. Kegiatan gotong royong membersihkan saluran air tidak hanya membantu menjaga kelancaran aliran air, tetapi juga dapat memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Pada akhirnya, menjaga kebersihan saluran irigasi merupakan langkah penting dalam mendukung keberlanjutan sektor pertanian. Irigasi seharusnya dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga, bukan sebagai tempat pembuangan sampah. Dengan menjaga irigasi tetap bersih, kita tidak hanya melindungi kualitas air, tetapi juga menjaga masa depan pertanian dan ketahanan pangan. Karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap saluran irigasi. Irigasi bukanlah tempat sampah, ia adalah sumber kehidupan bagi petani, tanaman dan keberlanjutan lingkungan.

Tags: irigasimikroplastikpencemaran airSubaksubak bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Eryka Saka

Eryka Saka

Related Posts

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Pencemaran Air Bertahun-tahun di Sekitar TPA Suwung, Siapa yang Bertanggung Jawab?

5 April 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Platform Digital untuk Tata Kelola Rantai Pasok Beras di Bali

Platform Digital untuk Tata Kelola Rantai Pasok Beras di Bali

14 November 2025
Transformasi Digital dan Jejak Ritual di Subak Kedisan Kaja

Transformasi Digital dan Jejak Ritual di Subak Kedisan Kaja

9 September 2025
Kenapa Makin Banyak Villa Berdiri di Lahan Sawah Dilindungi, Tidak Kantongi Izin?

Pulau Seribu Vila dengan Konflik yang Tak Berujung

29 July 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Sampah tak Terpilah, Subsidi Pupuk Organik bikin Jengah

Cara Leluhur Bali Memilah Sampah

21 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia