
Bali tampaknya menjadi tempat berinvestasi yang menjanjikan. Pulau yang disebut-sebut pulau seribu pura, kini berubah menjadi pulau seribu vila. Pada tahun 2024 saja, Bali memiliki 3.582 akomodasi hotel nonbintang yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten/kota. Itu baru akomodasi hotel nonbintang, belum lagi akomodasi hotel berbintang yang harganya bisa mencapai belasan juta rupiah.
Selama satu dekade lebih, Kabupaten Badung memimpin dengan jumlah akomodasi hotel nonbintang terbanyak. Kemudian, disusul oleh Kabupaten Gianyar yang selalu menjadi nomor dua terbanyak. Data terakhir pada tahun 2024 menunjukkan sepertiga dari total akomodasi hotel nonbintang di Bali berlokasi di Kabupaten Badung. Angka akomodasi hotel nonbintang di Bali melonjak pada tahun 2017. Kemudian, jumlahnya turun lagi pada tahun 2021, seiring dengan menyebarnya kasus Covid-19 di Indonesia.
Kabupaten Badung juga memimpin dalam realisasi penanaman modal, baik itu penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing. Menariknya, realisasi penanaman modal asing di Bali jumlahnya dua kali lipat dari realisasi penanaman modal dalam negeri. Pada tahun 2024, realisasi penanaman modal dalam negeri di Provinsi Bali sejumlah Rp9 triliun, sedangkan realisasi penanaman modal asing di Provinsi Bali mencapai lebih dari Rp18 triliun.
Investasi di Bali begitu menggiurkan, terutama investasi properti. Pada Mei 2025, kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 600.000 jiwa, belum lagi jika ditambah dengan kedatangan wisatawan nusantara.
Magnitude Construction merupakan salah satu manajemen properti di Bali yang menawarkan investasi vila. Sejumlah vilanya berlokasi di Ubud, Kabupaten Gianyar. Dalam website resminya, perusahaan ini menawarkan sebuah vila dengan nilai investasi mencapai Rp8 miliar. Perkiraan pendapatan tahunannya mencapai Rp1 miliar.
Manajemen properti lain, Better Place, memperkirakan nilai investasi properti vila di Canggu senilai Rp8 miliar dengan pendapatan tahunan Rp454 juta. Dalam website resminya, terdapat empat pilihan area untuk mendirikan properti, yaitu Canggu, Seminyak, Uluwatu, dan Ubud. Dari empat area tersebut, pendapatan paling tinggi ada di Ubud.
Ubud menawarkan pesona lain dibandingkan Canggu, Seminyak, dan Uluwatu. Bukan panorama pantai yang ditawarkan, melainkan hamparan sawah. Akibatnya, banyak lahan sawah yang dialihfungsikan menjadi hotel dan vila.
Selama sepuluh tahun, dari tahun 2015 hingga tahun 2025, Ubud mengalami banyak perubahan. Pada tahun 2015, lahan hijau masih terlihat luas di satelit. Kini, lahan hijau semakin menyempit, semakin banyak hunian yang menggantikan lahan hijau.
Beberapa waktu lalu, dua properti di Kecamatan Ubud berhenti beroperasi karena berdiri di atas Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Dua kasus ini ditangani dalam waktu yang berdekatan. Hanya saja salah satu kasus ramai menjadi perbincangan, yaitu PARQ Ubud.
Ketika mengunjungi PARQ Ubud pada 11 Juni 2025, beberapa anak tampak berlarian. Ternyata sebuah lapangan kecil berdiri di sebelah bangunan yang menjulang tinggi. Beberapa pekerja proyek sibuk mengecat bangunan. Mereka tampaknya sedang bersiap mengganti PARQ Ubud menjadi Onyx Park Resort.
Dilansir dari Nusa Bali, Pemerintah Kabupaten Gianyar menutup PARQ Ubud pada 20 Januari 2025. Tiga hari setelah Polda Bali menetapkan Direktur PARQ Ubud Partners sebagai tersangka kasus alih fungsi Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Berkelanjutan (LP2B). Lima bulan setelahnya dilakukan pembongkaran struktur bangunan yang melanggar. Dalam hitungan hari, PARQ Ubud bersiap-siap berubah menjadi Onyx Park Resort setelah diakuisisi PT Gold Dragon Management.
Hal yang sama terjadi pada Green Flow Villas di Jalan Raya Sayan. Hanya saja proses hukum masih berlangsung. Selain berdiri di atas LSD dan LP2B, vila ini juga melanggar kawasan suci pura. Selengkapnya tentang Green Flow Villas dapat dibaca di sini.
Selain alih fungsi lahan, masifnya pembangunan vila yang tidak memperhatikan ligkungan juga menimbulkan konflik dengan masyarakat. Pada tahun 2023, pihak Green Flow Villas sempat terlibat konflik dengan masyarakat sekitar karena penggunaan jalan di area Pura Masceti tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
I Gusti Ngurah Gede selaku Ketua Pekaseh mengaku menjadi korban saat itu. Pasalnya, ia yang menandatangani perjanjian dengan pihak Green Flow Villas. Ia mengaku bahwa luas penggunaan jalan yang tertuang dalam kertas tidak sesuai dengan realisasinya. “Sesuai dengan keterangan pihak Green Flow niki, cuma dia ngontrak dangin pura bedik (sedikit), cuma 6 are untuk membangun rumah pribadi. Makanya kita berikan hak guna jalan,” terangnya. Lain di kertas, lain di lapangan, pembangunan yang dilakukan ternyata ditujukan sebagai vila.
Konflik antara investor dengan masyarakat juga dialami oleh Nengah Suwarya, Pekaseh Subak Uma Desa, Canggu. Ia menjelaskan bahwa saluran irigasi di Subak Uma Desa terhalang akibat pembangunan. Ini tidak hanya terjadi sekali, tetapi berkali-kali.
Seperti halnya Ubud, Canggu menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Investor pun berbondong-bondong menyewakan properti hunian di area tersebut. Dalam lima tahun terakhir, lahan hijau semakin menyempit, digantikan bangunan dengan nilai yang lebih menjanjikan.
Dampak lain yang perlahan terlihat akibat masifnya pembangunan akomodasi pariwisata di Bali adalah krisis air bersih. Di sebuah kawasan yang semakin berkembang menjadi kawasan pariwisata, tepatnya di Kintamani, ternyata menunjukkan sisi lain yang jarang terekspos.
Sebuah video berjudul Danau Batur: Mata Air Pulau Dewata karya Anak Agung Istri Mahisa menunjukkan kondisi Danau Batur yang tercemar akibat pembuangan air bekas pakai oleh pihak vila.
Selama pembuatan video tersebut, Mahisa menemukan bahwa sejumlah vila di Kintamani berdiri di daerah resapan air. Lebih parahnya, beberapa vila tidak mempersiapkan pembuangan limbah kolam renang. “Rata-rata justru menggunakan saluran terbuka, sehingga bekas air kolam tersebut ke Danau Batur itu sendiri,” tulis Mahisa dalam pesan singkat ketika dihubungi.
Rata-rata kolam renang memiliki kapasitas antara 30.000 – 50.000 liter. Mahisa menjelaskan bahwa memang air kolam tidak diganti setiap hari. Namun, penggunaannya akan meningkat drastis jika sistem sirkulasi dan filter kolam tidak optimal. Selain kolam, air di sana juga digunakan untuk keperluan lain, seperti dapur, laundry, mandi, dan kebutuhan lainnya. Jumlah air yang cukup banyak ini lebih dari cukup untuk mencemari Danau Batur.
Dilansir dari Pusat Pengendalian Pembangunan, Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang menjadi tumpuan utama sebagai cadangan air untuk Bali. Selain itu, danau ini juga memiliki fungsi ekologi dan kaya dengan keanekaragaman hayati. Ketika danau yang menjadi sumber kehidupan tercemar, lantas apa yang akan terjadi di masa depan?
kampungbet kampungbet









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
