Pagi itu langit tampak mendung. Gerimis tipis menemani perjalanan saya menuju Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar. Dengan udara yang dingin, tepat pukul 8 pagi saya mengikuti lokasi Petani Kedisan Mandiri. Sempat bingung karena tak ada papan penanda, beruntung ada ibu-ibu di sekitar yang membantu. Kebetulan kami menuju lokasi yang sama, tak jauh dari Puri Agung Kedisan.
Saya tiba dan disambut oleh I Putu Yoga Wibawa, pekaseh Subak Kedisan Kaja sekaligus pengelola Kelompok Petani Kedisan Mandiri. Rumah dengan pekarangan khas Bali yang sederhana namun nyaman, seperti bertamu ke rumah saudara. Ia menjelaskan luas lahan Subak yang mencapai 22,8 hektar, dengan sekitar 4 hektar di antaranya digarap menggunakan sistem pertanian organik.

Subak Kedisan Kaja menjadi salah satu bagian dari proyek inovasi WRI Indonesia bersama KONEKSI. Program ini berfokus pada pengembangan platform digital untuk tata kelola pangan. Rizky Firmansyah, Lead Engineering Datalab WRI Indonesia, menjelaskan bagaimana inisiatif ini lahir dari kondisi data pertanian di Bali yang masih belum terintegrasi. “Kami melihat sebenarnya di Bali banyak data-data yang kurang terintegrasi ketika melakukan pendekatan dengan pemerintah di Bali atau beberapa dinas terkait. Akhirnya kami melakukan beberapa riset dari hulu tentang sosial kultural, seperti pemetaan tentang kalender tanam,” ujarnya.
Dari hasil diskusi kelompok terarah bersama para petani, dibentuk Sapatani, sebuah platform berbasis WhatsApp bot yang bisa diakses secara gratis. Melalui Sapatani, petani dapat memperoleh informasi tentang subak, harga pasar, hingga kalender musim tanam dan panen. Platform ini masih dalam tahap uji coba hingga akhir 2025, dengan harapan dapat menjadi jembatan pengetahuan baru bagi petani Kedisan.
Informasi yang disajikan tidak hanya pada aspek teknis, melainkan juga menyingkap lapisan sosial dan budaya yang melekat dalam sistem subak. Mutiara Kurniasari selaku Social Equity Analyst WRI Indonesia menyoroti peran perempuan yang begitu kuat dalam ritual pertanian. “Kami mendapatkan ada banyak sekali ritual yang perlu dilakukan di Subak dalam satu musim tanam. Ada sekitar 15 ritual yang dilakukan dalam satu musim tanam dan semuanya dilakukan oleh ibu-ibu. Sayangnya kerja-kerja domestik ini, kerja-kerja ritual ini belum banyak dicatat dan belum banyak yang tahu,” jelasnya.


Ritual ini mencakup seluruh siklus, mulai dari memohon air irigasi, menanam benih, merawat padi, hingga menyimpan hasil panen. Melalui Sapatani, saya menemukan daftar rangkuman 16 ritual yang dijalankan di Subak Kedisan Kaja, yakni sebagai berikut:
- Muat Emping dan Mapag Toya Wali: dilakukan sebelum mulai turun ke sawah, untuk menjemput air dari sumbernya, memohon agar irigasi cukup.
- Upakara Ngurit: segera setelah benih disemai, memohon agar bibit tumbuh baik.
- Upakara Ngabut Bulih: memohon izin kepada Ibu Pertiwi sebelum pindah tanam, saat bibit berumur 14 hari.
- Nuasen (mulai tanam): upacara sebelum menanam benih di sawah, memohon kelancaran proses penanaman.
- Banten Tulung/Mulanan: dilaksanakan ketika padi berumur 7 hari, sebagai energi awal pertumbuhan.
- Mubuhin: setelah padi berumur 12 hari.
- Wali Ngelebar Tirta: memohon air suci dari tujuh pura yang dipercaya Subak Kedisan Kaja, untuk perlindungan dari hama dan penyakit.
- Wali Nyungsung: setelah padi berumur 60 hari.
- Mabiyukukung: setelah padi berumur sekitar dua bulan (75 hari).
- Ngusaba: saat menjelang panen, memohon agar hasil panen berhasil dengan baik.
- Banten Manyi: dilaksanakan pada saat panen, agar proses berjalan lancar.
- Mendak Nini: dilakukan setahun sekali, melambangkan kesuburan serta penyatuan purusa dan pradana.
- Mantenin: setelah padi disimpan, sebagai ungkapan syukur karena padi dapat tersimpan dengan baik.
- Ngerasakin/Lungsuran Bakti: ungkapan syukur setelah panen dan persiapan musim tanam berikutnya.
- Wali Meprani: dilakukan setiap bulan pada hari Rabu Wage, sebagai pengingat kebesaran Tuhan sekaligus pergantian juru arah.
- Ngerestiti/Nangluk Merana: dilaksanakan jika padi terserang penyakit, memohon agar hama dan penyakit tidak merusak tanaman.
Sebelum menuju Subak, kami melewati kebun permakultur yang dikelola di pekarangan rumah Yoga. Ada berbagai sayur dan buah, juga ternak sapi yang menghasilkan kompos organik.


Yoga pun lanjut menjelaskan praktik pertanian organik berkelanjutan meliputi penggunaan kompos, pupuk cair organik, dan sistem pengelolaan air tradisional seperti temuku dan payal. Prinsipnya ia sebut ‘bangun bagi air,’ bagi secara adil kepada seluruh anggota subak.


“Jadi dari luasan lahan yang 22 hektar itu ada 16 bagian yang kita bagi secara merata bersama 8 tempek. Itu kita bagi berarti rata-rata 2 tempek dapat 1,5 sampai 2 bagian. Setelah sampai di tempek itu kita bagi lagi bersama anggota Subak semuanya secara adil,” jelasnya sambil menunjukkan kompos organik dan tanaman enceng gondok yang digunakan sebagai samu kundan. Akar enceng gondok berfungsi sebagai filter alami sebelum air masuk ke lahan. Ada juga tali kunda, selokan yang berfungsi sebagai pembatas dengan lahan bagian atas sehingga intensitas air tetap terjaga sesuai kebutuhan.
Petani di Subak Kedisan Kaja tidak menggunakan pestisida sintetis atau kimia. Yoga juga membahas peran ritual tradisional dalam praktik pertanian mereka dan penggunaan metode pengendalian hama alami, sehingga keanekaragaman hayati terjaga. “Makanya kunang-kunang, biota sawah sekarang sudah bermunculan lagi di sawah. Dengan pemakaian kompos, pupuk organik cair, itu semua sudah mengembalikan biota sawah yang sempat sudah hilang di Desa Kedisan,” jelasnya.
Rata-rata hasil panen dikonsumsi untuk masing-masing keluarga petani. Uniknya, setiap hasil panen di Desa Kedisan tidak bisa langsung dikonsumsi atau dijual sebelum melewati rangkaian upacara tradisional. Bagi masyarakat, beras bukan hanya sumber pangan melainkan menjadi bagian dari ikatan sosial, seperti urunan pada upacara kematian atau perayaan keagamaan.
Menyusuri Subak Kedisan Kaja, saya melihat bagaimana transformasi digital melalui platform juga perlu berjalan seiring dengan fondasi tradisi dan kearifan lokal. Fitur seperti akses informasi harga, kalender tanam, hingga pencatatan ritual subak menjadi penting agar bersifat aksesibel, khususnya bagi petani perempuan dan kelompok usia lanjut yang terlibat langsung dalam aktivitas Subak.
Chatbot Sapatani dapat diakses di sini.
https://www.english.focaravajuce.org/ kampungbet legianbet










