
Oleh: Rhayana Satria dan Gede Agung Priambada
Kawasan pertanian yang masih tersisa di Sanur kini menghadapi ancaman serius dari sampah plastik. Di sekitar lahan pertanian tersebut terdapat jalur jogging yang ramai dikunjungi warga pada sore hari, baik untuk berlari, bersepeda, jalan santai, maupun sekadar duduk menikmati pemandangan sawah terakhir di Sanur Kauh. Namun, di balik aktivitas itu, kawasan ini menyimpan persoalan sampah yang belum terselesaikan.


Menurut petani setempat, Gusti Wayan Danu, sebagian sampah plastik di kawasan itu berasal dari aliran sungai dari hulu ke hilir. Sampah terbawa arus saat musim hujan atau ketika debit air sedang besar, lalu menumpuk saat musim kemarau tiba.
“Pada musim kering, sampah dari sungai berterbangan ke mana-mana, termasuk ke lahan pertanian,” ujar Danu.
Ia menjelaskan, sampah juga masuk ke saluran irigasi lahan. Sisa-sisa plastik berukuran kecil atau mikroplastik, menurutnya, turut memengaruhi hasil panen.

Selain kiriman dari hulu sungai, Danu menyebut sebagian sampah berasal dari pengunjung yang melintasi jalur jogging. Di sepanjang jalur tersebut terdapat area tempat duduk yang biasa digunakan pengunjung untuk bersantai.
“Setiap sore banyak orang yang datang ke jogging track ini. Mereka duduk sambil makan, tapi sampahnya tidak dibawa atau dibuang pada tempatnya, ditinggal begitu saja di sana,” katanya.
Danu juga menyebut ada warga yang membuang barang berukuran besar seperti springbed, sofa dan sampah lainnya langsung ke sungai, serta warga yang membuang sampah pada malam hari saat melintasi kawasan tersebut.



Petani dan warga setempat, menurut Danu, telah menempuh sejumlah langkah, termasuk menggunakan jasa pengangkutan sampah. Namun jasa tersebut tidak dapat mengangkut seluruh tumpukan sampah kiriman karena volumenya cukup besar. Edukasi dan imbauan kepada warga serta pengunjung juga sudah dilakukan, meski belum menyelesaikan akar masalah.

Saat musim kemarau, petani dan warga sempat menangani tumpukan sampah dengan cara membakarnya dalam jumlah kecil. Namun langkah ini mendapat protes dari warga sekitar yang terdampak asap, dan petani yang melakukan pembakaran menerima teguran dari dinas terkait.
“Kalau tidak diperbolehkan membakar sampah di sini, coba berikan solusi atau tindakan yang tepat mengenai masalah sampah ini. Kami para petani sudah lelah hanya mendapat teguran, sementara dari pemerintah hanya sekadar wacana,” kata Danu kepada pihak berwenang.

Ia berharap pemerintah memiliki solusi yang tegas dan bijak dalam menangani persoalan ini. “Saya yakin semua ini bisa berhasil jika ada kerja sama yang baik dari semua pihak. Setidaknya kita mulai dari diri kita sendiri dulu, kita juga harus memiliki kesadaran sendiri mengenai masalah sampah ini, karena kita yang terkena dampak dari sampah ini,” ujarnya.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga bersama Plastik Detox)










