Dalam beberapa tahun terakhir, Bali semakin sering mengalami banjir besar, terutama saat musim hujan dan ketika siklon tropis terbentuk di wilayah selatan Indonesia. Perubahan iklim membuat cuaca makin tidak menentu: hujan ekstrem terjadi lebih sering, angin kuat meningkat, dan laut yang menghangat memperkuat potensi terbentuknya sistem siklon. Kombinasi ini menyebabkan curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat, membuat sungai meluap, saluran tersumbat, dan kawasan dataran rendah cepat tergenang. Banjir tidak hanya merusak rumah, infrastruktur, dan kendaraan, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan, isolasi wilayah, hingga korban jiwa.

Photo oleh ANTARA (https://www.antarafoto.com/id/view/2620301/banjir-di-bali)
Beberapa daerah di Bali seperti Denpasar, Tabanan, Jembrana, Gianyar, Karangsem dan Buleleng termasuk kawasan yang rentan karena pertumbuhan kota yang cepat, penyempitan ruang hijau, pendangkalan sungai, serta pembangunan yang tidak selalu mempertimbangkan fungsi drainase. Ketika hujan ekstrem datang berbarengan dengan air pasang atau peningkatan tinggi gelombang, banjir pun menjadi semakin sulit dihindari. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana memitigasi dan merespons banjir dengan cara yang aman dan cepat.

1. Pantau informasi cuaca dan peringatan dini
Keselamatan selalu dimulai dari informasi. Gunakan sumber resmi seperti BMKG, BPBD, dan kanal pemerintah daerah. Jika peringatan cuaca ekstrem, potensi siklon, atau hujan lebat dikeluarkan, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal di dekat sungai, pesisir, atau dataran rendah.
2. Kenali risiko lingkungan sekitar
Masyarakat perlu tahu apakah rumahnya berada di zona rawan banjir, dekat sungai yang sering meluap, atau berada di jalur aliran air. Jika rumah pernah tergenang sebelumnya, kemungkinan besar kondisi itu dapat terulang. Kenali pula titik evakuasi terdekat, jalur aman, dan tempat yang dapat dijadikan lokasi berkumpul.

3. Perkuat rumah dan lakukan adaptasi sederhana
Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti menaikkan perabot penting, melindungi peralatan elektronik, memasang papan penghalang di pintu, membersihkan selokan secara rutin, dan memastikan saluran air tidak tersumbat. Adaptasi kecil ini bisa mengurangi kerugian ketika banjir datang.
4. Siapkan tas siaga
Tas siaga atau emergency kit sangat penting dalam situasi darurat. Isi tas dengan dokumen penting (dalam plastik kedap air), air minum, makanan instan, obat-obatan, senter, baterai cadangan, pakaian, dan charger ponsel. Letakkan di tempat yang mudah dijangkau.
5. Ketika banjir mulai masuk, utamakan keselamatan
Matikan listrik untuk mencegah korsleting. Hindari berjalan di air yang deras, jangan menyentuh kabel atau benda listrik, dan segera pindah ke tempat yang lebih tinggi. Jika diminta mengungsi oleh petugas, patuhi instruksi secepat mungkin.

6. Gunakan kendaraan dengan sangat hati-hati
Banyak kecelakaan banjir terjadi karena pengendara tetap memaksa melewati genangan. Air setinggi 30–50 cm sudah cukup untuk membuat mobil mogok atau hanyut. Prioritaskan keselamatan, bukan kecepatan untuk sampai tujuan.
7. Setelah banjir surut, waspadai risiko lanjutan
Air banjir biasanya membawa lumpur, bakteri, dan sampah. Bersihkan rumah dengan sarung tangan dan masker, rebus air minum, dan buang makanan yang terkontaminasi. Waspadai pula kerusakan bangunan seperti retakan atau kabel listrik basah.
Banjir adalah bagian dari risiko hidup di tengah iklim yang terus berubah. Namun, dengan pengetahuan yang tepat, kesiapsiagaan, dan kesadaran kolektif, masyarakat Bali dapat mengurangi dampaknya. Adaptasi dan kewaspadaan adalah kunci: kita mungkin tidak bisa menghentikan hujan deras atau siklon tropis, tetapi kita bisa mempersiapkan diri untuk tetap selamat dan menjaga satu sama lain.
aafikotasarni.org sangkarbet









