• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 26, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Oka Agastya by Oka Agastya
26 May 2026
in Kabar Baru, Lingkungan, Opini, Sosok
0
0

Photo dari tokoh Ida Pedanda Made Sidemen (SejarahBali.com)

Pada 10 September 2025, Tukad Badung meluap dan mengubur sebagian Denpasar di bawah air setinggi empat meter. Delapan belas orang meninggal. 120 titik banjir tersebar di dalam satu kota. Kerugian material awal mencapai Rp93,5 miliar. Pasar Kumbasari tenggelam. Jalan Sulawesi yang setiap hari sesak kendaraan berubah menjadi sungai.

Saya tidak akan memulai artikel ini dengan pertanyaan “siapa yang salah.” Pertanyaan itu penting, tapi sudah banyak yang menjawabnya drainase tersumbat sampah, alih fungsi lahan tidak terkendali, ruang terbuka hijau Denpasar yang tersisa kurang dari 20 persen dari standar ideal, subak yang semakin tergerus ekspansi beton.

Yang ingin saya tanyakan adalah sesuatu yang lebih ke hulu: dari mana sesungguhnya kerusakan itu berasal? Bukan secara teknis. Tetapi secara filosofis.

Dan jawaban itu, menariknya, ada di dalam sebuah lontar Bali yang ditulis jauh sebelum Denpasar menjadi kota.

Teks yang Ditulis di atas Daun

Geguritan Selampah Laku adalah karya otobiografi Ida Pedanda Made Sidemen (1858–1984), pendeta sekaligus sastrawan besar Bali abad ke-20 dari Griya Intaran Sanur. Dalam kajian I Gusti Ngurah Bagus dkk. yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1988), karya ini digambarkan sebagai teks yang secara konsisten menggunakan majas litotes merendahkan diri, menolak glorifikasi, selalu menempatkan diri dalam relasi yang lebih besar dari sekadar ego individual.

Salah satu bait yang paling sering dikutip:

“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin, guna dusun, ne kanggo ring desa-desa.”

Dalam terjemahan bebas: Tak punya tanah sawah, maka diriku sendiri yang akan kutanami; dengan pengetahuan sederhana yang berguna di desa-desa.

Secara stilistika, kajian Ardiyasa dalam Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya (STAHN Mpu Kuturan, 2019) mencatat bahwa bait ini memancarkan “nada filosofis yang muncul dari falsafah hidup penyairnya” sebuah teks yang bukan sekadar narasi perjalanan, tapi sebuah manifesto cara hidup.

Tapi saya ingin membacanya dengan cara yang berbeda hari ini sebagai sebuah pemikiran filosofis terkait lingkungan yang belum ditafsir.

Ketika Pengetahuan Menjembatani Berbagai Filsuf

Pada tahun 1973, filsuf Norwegia Arne Næss mempublikasikan makalah yang kemudian mengubah lanskap pemikiran lingkungan dunia: “The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement.” Næss membedakan dua posisi: ekologi dangkal (shallow ecology) yang hanya melindungi alam demi kepentingan manusia, dan ekologi dalam (deep ecology) yang mengakui nilai intrinsik semua kehidupan, terlepas dari kegunaannya bagi manusia.

Inti dari ekologi dalam Næss adalah konsep Self-realization bukan dalam pengertian psikologi pop, tapi dalam pengertian yang jauh lebih radikal: bahwa realisasi diri yang sejati hanya mungkin ketika seseorang memperluas batas “diri” (self) untuk mencakup alam semesta di sekitarnya. Seperti yang dicatat Encyclopædia Britannica, Næss berargumen bahwa “degradasi lingkungan kemungkinan besar disebabkan oleh konsepsi diri manusia yang telah salah didefinisikan sejak lama” bahwa ego yang berdiri sendiri, terpisah dari alam, adalah akar dari semua kerusakan ekologis.

Sekarang baca kembali bait Gerguritan Slampah Laku itu: karang awake tandurin. Tanami dirimu sendiri. Jadikan dirimu sebagai lahan yang digarap.

Di sini terjadi sesuatu yang menakjubkan secara intelektual: seorang pendeta Bali abad ke-19 dan seorang filsuf Norwegia abad ke-20, dari tradisi yang sama sekali berbeda, sampai pada intuisi yang sama. Bahwa perubahan ekologis yang nyata harus dimulai dari transformasi cara manusia memandang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan alam. Bukan dari regulasi, bukan dari teknologi, tapi dari dalam.

Næss menyebut ini ecosophy kebijaksanaan ekologis. Ida Pedanda Made Sidemen mengukir visi yang serupa di atas daun lontar, dengan bahasa Bali kuno, ratusan tahun lebih awal.

Selampah Laku dan Filosofi Reciprocity

Dari benua yang berbeda, Robin Wall Kimmerer ahli botani sekaligus anggota Potawatomi Nation menawarkan lensa lain yang relevan. Dalam Braiding Sweetgrass: Indigenous Wisdom, Scientific Knowledge and the Teachings of Plants (2013), Kimmerer berargumen bahwa peradaban industri modern mengidap apa yang ia sebut “extractive mindset” cara pandang yang menempatkan alam semata sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi, bukan sebagai relasi yang harus dijaga.

Kimmerer menulis bahwa “kebangkitan kesadaran ekologis membutuhkan pengakuan dan perayaan hubungan timbal balik kita dengan dunia kehidupan lainnya.” Bagi suku Potawatomi, tanah bukan properti. Ia adalah saudara, guru, pemberi hadiah dan sebagaimana setiap relasi yang sehat, ia mensyaratkan reciprocity: timbal balik, bukan ekstraksi sepihak.

Kembali ke Gerguritan Slampah Laku. Tandurin menanam bukan sekadar metafora produktivitas diri. Dalam konteks agraris Bali, menanam adalah tindakan yang mengandung dimensi timbal balik yang dalam: kamu memberi benih, tanah memberi hasil; kamu merawat, alam merespons. Ia adalah relasi, bukan transaksi.

Dan inilah yang hilang dari hubungan manusia dengan Tukad Badung, dengan sawah-sawah yang dikonversi, dengan got yang dijejali sampah: dimensi reciprocity itu. Kita mengambil dari tanah dan sungai, tapi tidak memberi kembali. Kita membangun di atas sempadan sungai, tapi tidak merasa bertanggung jawab atas banjir yang menelan tetangga di hilir.

Notonagoro dan Nilai yang Terlupakan

Penelitian tesis di Universitas Gadjah Mada (2021) yang membedah Gerguritan Slampah Laku melalui teori filsafat nilai Notonagoro menemukan sesuatu yang penting: bahwa di era milenial, manusia mengalami “disorientasi nilai-nilai kemanusiaan akibat pemenuhan wacana ideal modernisme, seakan nilai kemanusiaan direduksi dalam kepentingan yang bersifat ekonomi deterministik.”

Notonagoro membagi nilai menjadi tiga: nilai material (kebendaan), nilai vital (kegunaan hidup), dan nilai kerohanian (kebenaran, keindahan, moral, religius). Modernisme, argumentasi tesis itu, telah secara sistematis mendevaluasi nilai kerohanian dan vital demi nilai material semata.

Inilah yang menjelaskan paradoks banjir Denpasar 2025: secara material, pembangunan Denpasar adalah kisah sukses ekonomi tumbuh, properti bernilai tinggi, infrastruktur modern. Tapi secara vital dan kerohanian, kota ini sedang mengorbankan hubungan fundamentalnya dengan air, tanah, dan ekosistem yang menopangnya. Dan ketika Tukad Badung meluap, tagihan dari disorientasi nilai itu datang sekaligus, dalam satu malam.

Gerguritan Slampah Laku, dalam pembacaan ini, adalah koreksi terhadap reduksionisme nilai itu. Ia menegaskan bahwa karang awak diri yang sesungguhnya tidak bisa direduksi menjadi sekadar aktor ekonomi. Ia adalah mahluk yang hidup dalam relasi: dengan tanah, dengan air, dengan komunitas, dengan alam semesta.

Palemahan: Titik Temu Gerguritan Slampah Laku dan Tri Hita Karana

Filosofi Gerguritan Slampah Laku tidak berdiri sendiri dalam ekosistem kearifan Bali. Ia berdialog erat dengan Tri Hita Karana konsep keseimbangan tiga relasi: manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

Sebuah makalah yang dipresentasikan di Universitas Gadjah Mada (2025) dan diterbitkan dalam International Journal of Arts, Humanities and Social Studies menempatkan Tri Hita Karana sebagai kerangka yang relevan secara global untuk pembangunan komunitas yang berkelanjutan setara dengan konsep Buen Vivir dari Amerika Latin atau Ubuntu dari Afrika. Dalam kajian ini, palemahan bukan sekadar aspek estetika atau ritual, tapi merupakan dimensi etis yang aktif: bagaimana manusia mengelola relasi dengan alam secara bertanggung jawab.

Gerguritan Slampah Laku, dalam konteks ini, dapat dibaca sebagai elaborasi personal dari palemahan itu. Jika Tri Hita Karana adalah arsitektur kosmologis Bali tentang relasi manusia-alam, maka Gerguritan Slampah Laku adalah arsitektur batinnya panduan tentang bagaimana seseorang merasakan dan menghidupi relasi itu dari dalam diri, bukan sekadar mematuhi norma dari luar.

Dan di sinilah relevansinya dengan bencana. Penelitian di Journal of Law, Environmental and Justice (2025) tentang penerapan Tri Hita Karana dalam pencegahan kejahatan lingkungan menemukan bahwa “penegakan hukum konvensional sering mengalami keterbatasan dalam memastikan kepatuhan dan mendorong keadilan ekologis, terutama ketika partisipasi komunitas lemah.” Artinya: regulasi tanpa transformasi nilai batin tidak cukup. Inilah persis argumen yang dibangun Gerguritan Slampah Laku bahwa perubahan harus dimulai dari karang awak.

Apa yang Sebenarnya Kita Tanami?

Banjir Denpasar 2025 adalah cermin. Dan cermin itu memperlihatkan bukan hanya got yang tersumbat atau drainase yang tidak memadai. Ia memperlihatkan karang awak kolektif sebuah kota yang selama puluhan tahun ditanami nilai-nilai yang salah: bahwa pertumbuhan ekonomi lebih penting dari ruang resapan air, bahwa sawah adalah lahan tidur yang menunggu untuk dikonversi, bahwa sungai adalah fasilitas umum yang bebas dijadikan tempat membuang apa yang tidak kita mau.

Næss menyebut ini sebagai kegagalan untuk memahami keterhubungan diri dengan alam ketika ego yang terisolasi membuat keputusan tanpa merasakan dirinya sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Kimmerer menyebutnya extractive mindset. Notonagoro menyebutnya disorientasi nilai. Ida Pedanda Made Sidemen, dengan bahasa yang jauh lebih indah, menyebutnya karang awak yang tidak ditanami.

Semua diagnosis itu menunjuk ke arah yang sama.

Menanami Ulang

Lalu apa yang bisa dilakukan? Saya tidak datang dengan resep kebijakan. Yang ingin saya tawarkan adalah sebuah kerangka membaca bahwa sebelum kita membangun sistem peringatan dini yang lebih canggih, menormalisasi sungai, atau merevisi RTRW, ada pekerjaan yang lebih mendasar: memulihkan cara masyarakat Bali memandang dirinya dalam relasinya dengan air, tanah, dan ekosistem kota.

Dalam bahasa Gerguritan Slampah Laku: menanami kembali karang awak.

Ini bukan pekerjaan romantisasi masa lalu. Kimmerer sendiri mengingatkan bahwa pengetahuan adat dan sains barat bukan dua hal yang saling bertentangan keduanya adalah cara mengetahui yang bisa saling memperkuat. Hal yang sama berlaku di sini: filosofi Gerguritan Slampah Laku dan Tri Hita Karana bukan pengganti sistem drainase atau tata ruang yang baik. Tapi tanpa transformasi nilai yang mereka tawarkan, sistem drainase terbaik pun akan kembali tersumbat sampah karena akar masalahnya belum disentuh.

Institusi yang paling mungkin menjadi kanal transformasi itu sudah ada: desa adat dengan awig-awignya, banjar dengan solidaritas kerjanya, pasraman dan sekolah-sekolah yang masih mengajarkan sastra Bali. Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa lembaga-lembaga ini bukan sekadar penjaga tradisi mereka adalah agen perubahan mindset yang paling efektif yang dimiliki Bali.

Guna dusun, ne kanggo ring desa-desa. Pengetahuan sederhana yang bermanfaat di desa-desa.

Ida Pedanda Made Sidemen tidak sedang bersyair tentang kerendahan hati. Ia sedang bicara tentang kebijaksanaan yang berakar dan berakar itu selalu dimulai dari dalam.

Tukad Badung sudah surut. Denpasar sudah kering. Tapi musim hujan berikutnya akan datang, dan ia akan kembali bertanya hal yang sama: sudahkah karang awak kita secara individual maupun kolektif ditanami dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kalkulasi keuntungan jangka pendek?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak ada di perda, tidak ada di proyek normalisasi sungai, tidak ada di aplikasi peringatan dini. Ia ada seperti yang sudah diketahui sejak lama di dalam diri kita masing-masing.

Referensi

Ardiyasa (2019). Geguritan Salampah Laku dalam Pandangan Stilistika. Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya, STAHN Mpu Kuturan.

I Gusti Ngurah Bagus dkk. (1988). Analisis dan Kajian Geguritan Salampah Laku Karya Ida Padanda Made Sidemen. Jakarta: Depdikbud.

Næss, A. (1973). The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement: A Summary. Inquiry, 16(1–4).

Kimmerer, R.W. (2013). Braiding Sweetgrass: Indigenous Wisdom, Scientific Knowledge and the Teachings of Plants. Milkweed Editions.

Tesis UGM (2021). Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen dalam Perspektif Filsafat Nilai Notonagoro.

Chiang et al. (2025). Reimagining Sustainability: The Philosophy of Tri Hita Karana as a Framework for Integrated Community Development in Bali and Beyond. IJAHSS.

Tags: BaliDenpasarfilsafat lingkungangeguritan selampah lakuLingkunganSosialSosoktri hita karana
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Oka Agastya

Oka Agastya

Seorang pencerita bumi dan praktisi manajemen bencana

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Aksi Tolak Terminal LNG ke DPRD Bali 

Antisipasi Risiko Proyek Energi Gas di Bali

26 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

Memahami Zona Risiko Bencana dengan Data Spasial

25 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia