Ada sebuah kalimat yang tersembunyi di tengah laporan ilmiah setebal 155 halaman, ditulis dalam bahasa Belanda abad ke-20, di antara angka-angka pengukuran suhu dan analisis kimia batuan. Tiga kata yang tiba-tiba keluar dari kerangka teknisnya: kembang api raksasa alam. Penulisnya adalah Dr. Charles Edward Stehn, seorang vulkanologis dari Dinas Pertambangan Hindia Belanda yang datang ke Bali bukan untuk berwisata, melainkan untuk membaca apa yang sedang dikatakan bumi kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Ia berhasil. Dan seratus tahun setelah malam yang mengubah sejarah Kintamani, laporan yang ia tinggalkan masih menyimpan hal-hal yang perlu kita dengar.
Tepat pada malam antara 2 dan 3 Agustus 1926, Gunung Batur membelah dirinya sendiri. Bukan dari kawah puncak yang selama ini dikenal, tapi dari sebuah sesar panjang yang tiba-tiba robek di lereng barat dayanya. Dari luka itu, di lebih dari dua puluh titik sekaligus, magma menembus keluar. Langit malam di atas Kintamani mendadak menjadi merah. Letusan Batur 1926 secara geologi merupakan erupsi efusif-eksplosif yang menghasilkan aliran lava luas dan material piroklastik yang menimbun permukiman lama di sekitar kaldera (Sutawidjaja, 2009). Desa Batur lama, dengan dua ribu jiwa dan pura-puranya yang sakral, terkubur dalam semalam. Peristiwa itulah yang kini dikenang sebagai rarud Batur, pengungsian besar yang bukan sekadar perpindahan fisik tetapi juga pergeseran kosmologi seluruh komunitas yang harus menempatkan dirinya kembali dalam hubungan dengan gunung yang baru saja menguji mereka.

Erupsi G. Batur dilihat dari Bukit Sampeanwani pada 8 Agustus 1926. (Sthen, 1926)
Telegram di Meja Bandung
Di kantor Dinas Vulkanologi di Bandung, subuh itu Stehn menerima telegram singkat yang isinya tidak banyak: Batur meletus, sesar terbuka, desa terancam, lava bergerak. Ia tidak membuang waktu. Sebagai vulkanologis senior yang memahami bahwa jam pertama setelah letusan adalah jam paling berharga untuk membaca karakter sebuah erupsi, ia segera mengepak peralatan lapangannya dan memulai perjalanan yang tidak mudah.
Tidak ada jalan langsung dari Bandung ke Batur di tahun 1926. Stehn harus naik kereta api ke Banjoewangi di ujung timur Jawa, menyeberangi Selat Bali, masuk ke pulau melalui Djembrana di pantai barat, lalu mendaki ke dataran tinggi Kintamani yang berdiri di atas 1.200 meter. Bersamanya adalah F. Ecoma Verstege, pengawas pertambangan kelas satu, serta dua mantri pemeta yang akan menjadi punggung operasional seluruh penelitian: Djathie Koesoemo dan Oemar Alie I. Jaringan pejabat kolonial digerakkan untuk memperlancar perjalanan mereka, termasuk J.C.H. Haar, Kontrolir Klungkung, yang turun langsung ke Batur sesaat setelah mendengar berita letusan dan tiba di sana pada tengah malam, ketika lava pijar telah menembus permukiman penduduk dan sebuah rumah di batas utara desa telah hangus terlahap.
Buku harian Haar itulah yang kelak menjadi sumber data tak tergantikan bagi Stehn untuk merekonstruksi hari-hari pertama letusan yang tidak sempat ia saksikan sendiri. Di sini terlihat sesuatu yang menarik tentang cara sains bekerja di lapangan: ia tidak pernah sepenuhnya individual. Ia selalu merupakan akumulasi dari banyak pasang mata yang mencatat di waktu dan tempat yang berbeda, lalu saling melengkapi.
Malam yang Hanya Bisa Didengar
Stehn tiba di Pasanggrahan Kintamani pada malam 7 Agustus 1926, setelah perjalanan yang menguras tenaga. Dari beranda tempat peristirahatan pemerintah itu, pada hari cerah, seluruh isi kaldera bisa terlihat sekaligus: Danau Batur di bawah, kerucut Batur di tengah, dinding kaldera yang melingkar di sekeliling. Tapi malam itu, Stehn tidak bisa melihat apa pun. Kabut tebal turun dan memotong jarak pandang menjadi beberapa meter. Gunung yang sedang meletus tepat di depannya tersembunyi sempurna di balik keputihan yang padat.
Yang tersisa hanya suara. Stehn mencatatnya: “gemuruh erupsi yang dahsyat, diperkuat oleh beberapa letusan keras, memberikan gambaran tentang kebesaran pemandangan tersebut.” Ledakan-ledakan itu cukup kuat untuk membuat pintu dan jendela bergetar di Singaraja, kota pantai 37 kilometer jauhnya. Di balik kabut yang sama, di bawah getaran yang sama, masyarakat Batur lama sedang menghadapi kenyataan bahwa rumah mereka sedang ditelan.
“Stehn adalah peneliti yang kompasnya menyimpang karena magnetit dalam lava, yang harus mengukur suhu lava sambil menahan pirometer di permukaan batuan yang masih bergerak. Kesederhanaan alat, keberanian metode.”
Keesokan paginya, ketika kabut akhirnya memudar, Stehn turun ke kaldera bersama Kontrolir Haar. Di sanalah penelitian sesungguhnya dimulai, bukan di meja, bukan dengan telegram, melainkan dengan kaki yang berpijak di atas lava yang masih mengeluarkan panas, dengan pensil yang bergerak cepat di atas kertas sketsa. Pada titik terdekat, timnya mendirikan bivak 150 meter dari mulut kawah yang sedang aktif. Di sana, di antara asap belerang dan suara bumi yang mendesis, Stehn mengukur, mencatat, dan sesekali merasakan tanah bergetar di bawah telapak kakinya.

Titik-titik erupsi 1926 dilihat dari Kawah Gunung Batur III (Sthen, 1926).
Geologi yang Tersimpan dalam Kaldera
Salah satu kontribusi terbesar laporan Stehn bukan hanya rekonstruksi letusan 1926, tetapi penjelasan pertama yang komprehensif tentang struktur geologi Kompleks Batur secara keseluruhan. Yang ia temukan adalah arsitektur yang tidak biasa: dua kaldera bersarang, satu di dalam yang lain, seperti mangkuk yang bertumpuk. Kaldera terluar, yang oleh para geolog Belanda dinamai Ketel Molengraaff, membentang sepanjang 13,8 kilometer pada sumbu terpanjangnya. Stehn mencatatnya sebagai “salah satu kaldera tertutup terbesar di bumi.” Di dalamnya bersarang kaldera kedua yang lebih muda dan lebih dalam, berdiameter sekitar tujuh kilometer, yang di lantainya kini berdiri Gunung Batur yang terus tumbuh, dan di salah satu sudutnya tergenang Danau Batur dengan kedalaman hampir 91 meter.
Di bawah tanah yang sama, Verstege, rekan Stehn yang melanjutkan penelitian di bulan September ketika Stehn sudah kembali ke Bandung, menemukan sesuatu yang tidak disangka: suatu pagi ia berjalan di atas medan lava dan tanah di bawah kakinya berbunyi berongga. Ia menggali, dan menemukan jaringan terowongan yang dibuat oleh lava itu sendiri saat mengalir dan membeku dari luar ke dalam, sementara bagian dalamnya yang masih cair terus mengalir dan meninggalkan lorong kosong. Di dinding terowongan itu, kristal-kristal tumbuh dari gas yang merembes, dan roset magnetit menempel seperti bunga yang membatu. Seorang mineralogis dari tim, Ir. Benschop Koolhoven, kemudian menganalisinya di bawah mikroskop dan menemukan bahwa kristal-kristal itu adalah magnetit bercampur rutil, terbentuk di suhu dan tekanan yang hanya bisa dicapai di perut bumi.
Yang Tidak Tercatat, yang Tidak Boleh Dilupakan
Membaca laporan Stehn hari ini berarti berhadapan juga dengan ketidakhadirannya yang paling mencolok: suara orang-orang Batur itu sendiri. Mereka hadir dalam laporan sebagai “penduduk desa Batur lama,” “penduduk tua Kedisan,” sumber informasi tentang letusan 1888 yang tidak ada dalam arsip mana pun. Pengetahuan lisan mereka diterima Stehn sebagai data yang valid, sesuatu yang tidak selalu lazim di kalangan peneliti kolonial masanya. Tapi nama mereka tidak tercatat. Cara mereka memahami gunung itu, dalam kerangka kosmologi yang menempatkan Batur sebagai tempat bersemayamnya Dewi Danu, pelindung seluruh sistem irigasi subak Bali, tidak mendapatkan ruang dalam laporan ilmiah yang berorientasi pada data terukur.
Ketika ruang berubah karena letusan, masyarakat tidak hanya kehilangan tempat tinggal tetapi juga harus menempatkan dirinya kembali dalam hubungan dengan gunung, antara kaja dan segara, dalam kosmologi yang tidak netral. Dan ketika pemerintah kolonial menyarankan relokasi ke dataran lebih rendah setelah 1926, masyarakat menolak. Mereka memilih membangun ulang di lereng yang sama. Gunung itu bukan sekadar bahaya geologi. Ia adalah identitas.

Meru Pura Ulundanu Batur dikelilingi aliran lava tahun 1849, 1905, dan 1926 (Sthen, 1926).
Satu Abad, Satu Pertanyaan
Seratus tahun setelah Stehn berdiri di tepi kaldera dengan kompas yang menyimpang dan pirometer sederhana di tangannya, Gunung Batur belum selesai berbicara. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Earth, Planets and Space (2026) mengkonfirmasi bahwa letusan Penoleken sekitar 5.200 tahun lalu adalah letusan bertipe Plinian, lima kali lebih besar dari letusan Gunung Agung 1963, dengan total volume material mencapai 3,1 hingga 5,2 kilometer kubik. Batur adalah sistem vulkanik yang masih aktif, masih tumbuh, dan masih menyimpan skenario-skenario yang belum pernah kita alami dalam memori kolektif yang hidup.
Yang menjadi pertanyaan seratus tahun setelah rarud adalah ini: apakah kita sudah cukup serius membaca warisan yang Stehn tinggalkan? Laporan Batur te Bali en zijne Uitbarsting in 1926 (Vulkanologische en Seismologische Mededeelingen No. 9, 1928) adalah dokumen ilmiah paling komprehensif tentang Batur yang pernah ada, ditulis dalam bahasa Belanda abad ke-20, tersimpan di arsip digital yang jarang disentuh. Peristiwa 1926 tidak berhenti pada dampak fisik. Ia meninggalkan memori kolektif bencana, ingatan bersama yang diwariskan lintas generasi melalui cerita, ritual, dan praktik hidup. Memori itu, dalam bahasa ilmu kebencanaan, adalah aset mitigasi yang paling murah dan paling tahan lama yang dimiliki komunitas Kintamani.
Stehn datang untuk mendengarkan gunung. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita juga sedang mendengarkan, bukan hanya guncangan dan gemuruhnya, tapi juga semua catatan yang sudah ditinggalkan untuk kita, oleh seorang lelaki yang pernah berdiri 150 meter dari kawah yang sedang murka, dan memilih untuk mencatat alih-alih berlari.
Referensi
- Stehn, Ch. E. (1928). Batur te Bali en zijne Uitbarsting in 1926. Vulkanologische en Seismologische Mededeelingen No. 9. Dienst van den Mijnbouw in Nederlandsch-Indië, Bandung.
- Sutawidjaja, I.S. (2009). Erupsi Gunung Batur 1926 dan karakteristik aliran lavanya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung.
- Suhendro, I., dkk. (2026). Reconstruction and Dynamics of the ~5,200 cal BP Penoleken Pumice Andesitic–Dacitic Plinian Eruption of the Batur Volcanic Field, Bali, Indonesia. Earth, Planets and Space. https://doi.org/10.1186/s40623-026-02395-x
- Halbwachs, M. (1992). On Collective Memory. University of Chicago Press.
- Assmann, J. (2011). Cultural Memory and Early Civilization. Cambridge University Press.
- Batur2026.com. 100 Tahun Rarud Batur: Momentum peringatan dan dokumentasi sejarah komunitas adat Batur. https://batur2026.com
- Bale Bengong (2026). Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan. https://balebengong.id
- Mongabay Indonesia (2024). Gunung Batur: Surga Wisata yang Mengajarkan Kesiapsiagaan Bencana. https://mongabay.co.id









